
Sungguh tak menyangka jika hari ini, Kalista bisa makan berduaan dengan pujaan hatinya yang sudah lama diam diam dia sukai. Meskipun tidak banyak yang mereka bicarakan
dalam acara makan, yang mereka lakukan bersama. Namun hati Kalista sudah bahagia.
Setelah menyelesaikan makan Arya segera mengantar Kalista pulang, ini bukan kali pertama kalista ikut pulang bareng si boss pujaan, tapi sudah beberapa kali, karena arah kantor dan tempat tinggal Kalista sejalan dengan arah Rumah Arya, sehingga mobil Arya selalu melewati Rumah nya bahkan tak jarang terkadang Arya mau menunggu Kalista untuk berangkat bersama nya, Arya merasa kasian jika Kalista harus membuang buang uang untuk bayar mobil angkutan, untuk itu Arya sering memberikan nya tumpangan, kebaikan yang Arya berikan mrmbuat Kalista berharap lebih, meski pada akhirnya Kalista harus menelan kekecewaan karena boss yang dia sukai telah memilih gadis lain untuk pendamping hidupnya.
"Kalista!" kita sudah sampai,"
"Oh, iya pak! trimakasih,"
Kalista segera membuka pintu mobil dan keluar.
"Bapak, tidak mampir dulu?" tanya kalista lembut.
"Lain kali saja,"
"Ya, sudah, trimakasih pak!"
Arya mengangguk sambil menutup kembali kaca mobil, kemudian melajukan mobilnya, satu jam kemudian Arya sudah tiba di depan rumah mewahnya. Cahaya lampu rumah sudah menyala tapi Arya tak melihat Arina ada di ruang tamu menunggu dan menyambut kedatangan nya, Arya menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, tak pernah dia bayangkan menikah dengan gadis pilihan hatinya sendiri lebih sering makan hati dan bikin kesal, impian bahagia nya sirna entah kemana. Tidak menemukan Arina di ruang tamu bergegas Arya pergi ke kamarnya dan benar saja Arina ada di sana.
"Arina, kau di sini?" kenapa tidak menyambut dan menunggu kepulangan ku," tanya Arya protes dengan sikap Arina yang tak seperti istri orang pada umumnya, yang selalu setia menyambut kedatangan suami pulang dari kerja.
"Apa itu penting!"
"Tentu saja penting, suami pulang capek capek istri seharusnya menyambut agar capek yang di rasakan suami bisa sedikit berkurang,"
Mendengar perkataan Arya, Arina, hanya menyunggingkan senyuman sinis.
"Bukankah kau sudah tau alasannya, kenapa lagi kau harus protes, bukankah katamu tidak masalah dengan apapun sikapku,"
Arya menelan ludahnya dengan kasar, memang benar pernikahan ini terjadi karena keinginannya, bukan atas dasar suka rela dari Arina dan memang mungkin harus lebih bersabar dan memberikan sedikit waktu pada Arina agar bisa lebih menghargai nya.
"Tapi, setidaknya hargailah aku sedikit saja sebagai suami," keluh Arya.yang kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arina memijit keningnya yang terasa pusing, jika aku bersikap dingin dan acuh pada Arya lalu bagaimana bisa mendapatkan uang sepuluh juta, mau tidak mau harus bersikap manis jika ingin mendapatkan ikan besar," Gumam Arina.
Melihat Arya sudah keluar dari dalam kamar mandi, segera Arina mendekati suaminya, menyiapkan baju ganti dan dengan telaten membantu Arya mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut. Arya sedikit heran melihat sikap Arina yang tiba-tiba berubah sebanyak seratus delapan puluh derajat dari satu jam terakhir.
__ADS_1
"Nah, begitu dong, jadi istri tuh harus nurut sama suami," ucap Arya.
Setelah membantu Arya, mengeringkan rambutnya yang basah kini Arina duduk di depan Arya dengan tatapan wajah yang serius.
"Arya!" aku butuh uang, berikan aku uang ya?"
"Tentu saja, tapi kenapa minta lagi, sepertinya Minggu kemarin baru aku kasih 3 juta masak sudah habis, padahal ini baru hari Selasa masak tiga hari sudah habis,"
"Sebenarnya ngak habis cuma kurang,"
"Kurang?" memangnya mau minta berapa,"
"10 juta,"
"Apa?" sepuluh juta!" lha buat apa uang sebanyak itu?"
Sejenak Arina diam, dia lagi berfikir mencari alasan yang tepat.
"Untuk membantu temanku bayar uang kontrakan Rumah, karena kalau tidak bayar dia akan di usir dari Rumah itu,"ucap Arina berbohong.
Mendengar penjelasan Arina, Arya mangut mangut.
"Tidak!"aku mau membantunya dengan cuma cuma,"
Arya kembali menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Niat yang baik, aku bangga punya istri seperti mu, baiklah besok aku kasih uang itu,"
"Benarkah, trimakasih,Arya,"
"kenapa ngak panggil aku mas, masak sama suami panggilnya begitu,"
"trimakasih, mas Arya,"
"Nah, gitu dong,"
Esok harinya, Arina sudah mendapatkan uang sepuluh juta dari Arya, setelah Arya berangkat ke kantor dengan cepat Arina menelpon sahabat nya Novi.
__ADS_1
Kring..!"kring.. !"
"Halo!"
"Halo, Nov, aku sudah dapatkan uangnya, kamu telpon kan detektif itu ya, yang ada kabar setelah tiga hari, biar ngak habis uangku,"
"Ok, siap,"
"Ya, sudah, makasih ya, Nov!"kamu teman terbaikku,"
Tak lama kemudian sambungan telpon di matikan.
"Aku akan segera tau, siapa istrinya Bima, berani sekali dia merampas kekasih ku, awas saja, ku bikin perkedel kamu nanti," Gumam Arina geram dalam hati.
*****
Bik Inah yang sedang bersih bersih terlihat ceria dengan senyum mengembang di bibir, wajahnya yang sudah paruh baya masih menampakkan sedikit sisa sisa kecantikan alaminya, keceriaan Bik Inah bukan tanpa alasan pasalnya, pasal 33 anak asuh kesayangan nya lagi berbahagia bagaikan pengatin yang baru saja menikah, berani loss tanpa skip menggumbar kemesraan di depan mata, tak tanggung tanggung bikin Bik Inah sering kabur ke dapur demi tidak ingin mengganggu kebahagiaan mereka.
"Akhirnya, Den Bima, bisa juga meluluhkan hati Non Seila yang terkadang ingin sekali Bik Inah
remet remet biar jadi rempeyek, karena sikap Non Seila yang sering melewati batas," Gumam Bik Inah dalam hati.
Bima dan Seila yang lagi duduk bersantai di ruang tamu di mana sesekali Bima mendarat kan kecupan pada istrinya tak sengaja menangkap bayangan Bik Inah dari balik kelambu membuat Bima menghentikan keromantisan nya.
"Bik Inah, sini!"
Bik Inah yang tidak menyangka di panggil dan ketahuan lagi mengintip dengan sedikit ragu-ragu akhirnya keluar dan berjalan menuju ke ruang tamu di mana Bima dan Seila lagi bermesraan.
"Bik Inah, lagi ngapain di situ?" tanya Bima.
Binggung mau memberikan jawaban apa Bik Inah hanya tersenyum.
"Hayo, tadi Bik Inah ngintip ya?" cletuk Seila, pertanyaan yang benar benar jos bikin wajah tua Bik Inah bersemu merah karena sedikit malu habis ketahuan.
"Sudah, jangan tegang begitu, Bik!" malam nanti kita makan di luar jadi Bik Inah ngak usah masak untuk makan malam, sekalian bawa Vira ya Bik?"
" Kok, bawa Non Vira, Nanti mengganggu Non Seila dan Den Bima lebih baik saya dan Non Vira di Rumah saja,"
__ADS_1
"Lho, mengaggu gimana, kalian itu keluargaku jadi Nanti kita kumpul makan bersama, iya kan kak Bima?"tanya Seila pada Bima.
Satu pertanyaan yang bikin Bima gelagapan juga, pasalnya Bima belum puas berduaan, Seila sudah bawa orang Rumah, jadi pending lagi kemesraan nya, yang akhirnya mau tidak mau Bima pun mengagguk setuju.