
Di ruang tamu Bima berusaha menampakkan wajah yang sangat ceria, di mana sesekali Bima bercanda dengan para Dokter undangan nya.
"Mas apa masih lama?" tanya Seila yang sudah mulai jenuh menunggu.
"Tidak sebentar lagi Seila pasti juga akan turun, kita tunggu sepuluh menit lagi."
waktu berjalan dengan begitu cepat sepuluh menit pun berlalu dan terlihat lah dari anak tangga wajah seorang gadis dengan laki-laki paruh baya.Mereka yang terlihat akrab membuat Seila yang sebenarnya Arina bertanya tanya.
"Kenapa mereka begitu dekat?" dan mengapa Seila tidak risih ya jalan berdampingan begitu, dasar Seila wanita murahan." Sungut Seila yang sebenarnya Arina kesal.
Bik Inah yang kebetulan juga ada di dalam ruang tamu, tersentak kaget ketika melihat laki-laki paruh baya berjalan dengan mesra dengan istri majikan nya.
"Pak Abidin..!"kapan datangnya dan ya kenapa sangat dekat sekali dengan istri kedua Den Bima,"tanya Bik Inah dalam hati.
"Mari Dok, kita mulai, kami sudah berkumpul di sini semuanya."
",Baik!" siapa yang lebih dulu kami periksa."tanya Dokter kemudian.
"Bagaimana kalau di mulai dari istri pertama ku Seila, tolong periksa dia dulu dok,"ucap Bima menawarkan yang sontak saja membuat Seila mendelik tak percaya.
"Kok, aku sih mas?"
"Alah, kamu sekarang atau nanti itu sama saja jadi lebih duluan juga tidak apa..apa."seru Bima menjelaskan.
Dengan terpaksa dan dengan sangat berat hati akhirnya Seila yang sebenarnya Arina mau di periksa lebih dulu. Dengan langkah kaki sedikit gemetar Seila masuk ke dalam ruangan atau kamar utama yang digunakan untuk memeriksa para pasien.
"Ayo, rileks mbak jangan tegang ." ucap sang Dokter memberi tau."
"Dok..!"kenapa mrnggambil darah saya?" bukankah suami saya sudah bilang, Dokter hanya memeriksa saya tapi ini kenapa dokter lancang menggambil darah saya." sungut Seila yang tak trima dirinya di permainkan dokter di depannya dengan rasa kesal dan marah Seila keluar dari dalam kamar yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan kepadanya.
Wajahnya yang cemberut dan muka nya yang masam sangat jelas terlihat dan sesampainya di dalam ruang tamu, Seila langsung mengadukan semua yang dia alami di dalam kamar pada Bima, dengan bergelayut manja Seila memegang tangan Bima dan berkata.
"Mas, dokter di dalam itu sudah berani berbuat kurang ajar padaku, cepat kamu tegur dia, karena dia tidak memeriksa ku tapi dia menggambil darahku."ucap Seila lantang yang membuat semua orang yang ada di situ Tersenyum sinis terutama Ayah Seila.
"Nak, Bima sekarang giliran ku kan?" tanya sang Ayah Seila pada Bima."
"Iya, Ayah!" silahkan." ucap Bima lembut.
Seila yang sebenarnya Arina melongo tak percaya dengan apa yang di ucapkan suami nya, bahkan Seila merasa dirinya mungkin lagi salah dengar.
__ADS_1
"Mas?kamu tadi memanggil apa pada laki-laki tua buaya itu?' tanya Seila ingin tau.
Wajah Bima yang tadinya biasa saja mulai kesal dengan sikap Seila yang di nilai sudah kurang ajar.
"Apa kau tak menggenali orang tua itu?"cibir Bima sinis.
Seila semakin di buat binggung oleh pertanyaan Bima.
"Bagaimana aku bisa menggenali orang itu mas? aku ketemu juga baru kali ini." ucap Seila.
Bima terkekeh mendengar ucapan Seila kemudian, mendekati Seila dan dengan lantang Bima bicara.
"Tentu...!" tentu saja kamu tidak akan menggenali orang tua itu, karena kamu bukan Seila istriku, jika kamu memang Seila istriku pasti tau kalau dia itu Bapaknya, bukan malah menghina menggatakan laki-laki buaya, dan ya kamu bukan di priksa tapi kamu memang di ambil darah stempel nya untuk melakukan Tes DNA....dan dua jam lagi hasil nya akan di berikan dan kamu bersiap siaplah meringkuk dalam penjara."
"Deg ..!"
Seila yang tadinya ceria dan sangat angkuh tiba-tiba terhuyung kebelakang seluruh persendian nya terasa tak bertenaga.
"Mas Bima, kau....
"Kenapa...?" bukankah kau sering menertawakan ku karena aku tidak bisa menggusir mu dari rumah ku? aku diam, aku menggalah bukan berarti aku trima semua perbuatan mu, tunggu saja apa yang akan terjadi padamu, silahkan berdoa hasil tes DNA kamu kliru, dan inilah caraku memberikan keadilan pada istriku yang sudah kau rampas haknya kau paham, kau pikir dengan merubah wajahmu aku akan menerima mu dan mencampakkan istriku, kamu salah aku sangat mencintai istriku dan tak kan kubiarkan rumah tangga ku hancur karena ulahmu, dan ya, jika kau ingin lari itu percuma di luar juga sudah datang pihak kepolisian."seru Bima sanbil menngibas kan tangan Seila yang sebenarnya Arina hingga membuat tubuh Seila yang sebenarnya Arina terjatuh di lantai.
"Pantas saja Pak Abidin begitu dekat dengan wanita yang ada di sampingnya itu, ternyata itu Non Seila, Bik Inah tak menyangka jika wajah dari Istri majikan nya telah berubah.
"Non Seila?' ini Bibik Non, maafkan Bibik yang tak menggenali Non Seila." ucap Bik inah lirih.
Sedangkan Seila menatap Bik Inah dengan mata berkaca-kaca.
"Wajah Seila sudah jelek Bik?"
"Tidak.... Non Seila tidak jelek, kalau Non Seila jelek mana mungkin Den Bima masih ingat dan mau pada Non Seila." jawab Bik Inah menyakinkan.
Membuat senyum Seila yang tadinya hilang mulai mengembang dan Bima menatap Seila dengan tatapan penuh kerinduan, Seila yang ditatap memilih membuang muka suka dan bahagia sebenarnya tapi gengsi dan malu masih lebih mendominani hatinya.
Acara pemeriksaan tes DNA pun usai, Seila yang sebenarnya Arina sudah melakukan tes begitu juga Ayah Seila dan Seila sendiri dan dalam jangka waktu yang sangat singkat hasil tes DNA pun sudah bisa di dapat.
Tubuh Seila yang sebenarnya Arina bergetar hebat wajah nya pucat dan tanpa pikir panjang Seila pun berniat kabur dari tempat itu, melalui pintu belakang tapi dengan cepat Bima menyambar tangan Seila yang hendak berlari.
"Kau mau kemana?'kau tidak akan bisa kabur dari sini dan ini adalah saatnya kau membayar semua perbuatan mu pada kami."geram Bima keras.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku, kau tidak bisa menangkap ku, aku tidak mau masuk penjara lepaskan aku." teriak Seila meronta-ronta dalam cengkeraman tangan Bima.
"Bawa dia, pak !"seru Bima pada beberapa anggota kepolisian yang sudah datang memenuhi panggilan Bima.
"Bima ..!" kamu tidak bisa berbuat seperti ini padaku...? lepaskan aku aku tidak mau jangan bawa aku."Teriak Seila yang masih meronta ronta dalam gengaman pak polisi.
"Silahkan, keluhan mu kau ucapkan di kantor kepolisan, Nona mari ikut kami."ucap salah satu anggota polisi.
"Tidak ...!" lepaskan aku...Bima aku akan balas perbuatan mu , ingat aku akan hancurkan semua nya, jika aku tidak bahagia maka kamu pun tak kan ku biarkan bahagia, ingat aku akan hancurkan semua nya." teriak Seila yang sebenarnya Arina.
Mobil kepolisian pun akhirnya membawa Seila menjauh dari rumah Bima, di dalam mobil Seila tak henti hentinya meruntuki kesialan dan kebodohannya.
"Jadi ini tujuan Bima sebenarnya menghalangi ku berlibur pergi ke luar negeri dia sudah merencanakan ingin membawa ku ke jalur hukum, sial ingin kabur dari Arya kini justru terperangkap dalam jebakan Bima, sekarang aku harus apa aku tidak mau membusuk di dalam penjara, aku harus bagaimana?" keluh Seila sambil menanggis di sepanjang perjalanan ke kantor polisi.
Sementara di rumah Bima, Suasana haru menyelimuti keluarga itu.
Bima mendapatkan ucapan selamat dari Bapak mertua dan Bibik kesayangan.
"Kamu luar biasa, aku bangga padamu Nak?" ucap Ayah Bima sambil menepuk pundak Bima.
"Trimakasih, Ayah!'
"Tuh, samperin tuh istrimu yang masih mayun saja itu."
Bima terkekeh dan membalikkan badan menatap wajah istrinya.
"Sayang...!' kau tidak mau mengguncapkan selamat padaku?"tanya Bima sambil merentangkan kedua tangannya berharap bagaikan adegan adegan film India yang pastinya sang kekasih datang menghambur dalam pelukan nya.
Tanpa bicara apapun Seila langsung kabur berlari menaiki tangga kamarnya.
"Ayah....!" kok ngak seperti adegan adegan film India sih!"
"Ha .ha...ha ..! mungkin istrimu maunya adegan mesranya di dalam kamar barang kali."
"Yaa,ngak ada penonton nya dong Ayah."
"Sudah, sana kejar dan bujuk istri mu masak nanganin satu istri saja ngak bisa."Ledek sang Ayah membuat wajah Bima merah merona.
"Tentu saja Bisa lihat saja nanti."ucap Bima sambil berlari menaiki tangga menuju ke dalam kamar nya.
__ADS_1