Kabut Cinta

Kabut Cinta
8. Harapan Dan Doa


__ADS_3

Laras masuk ke dalam kamar, suara bising di dapur di mana barang-barang dibanting terdengar hingga kamar Laras di lantai atas,


Angga di dalam kamar begitu melihat Mamanya masuk langsung berlari menyambut, ia tampak sedang menangis,


"Ayok Angga, ikut Mama saja ya,"


Kata Laras,


Angga tak menjawab, tapi ia hanya mengangguk saja,


Laras mengambil tas pakaian di atas lemari, dimasukkannya beberapa pakaian Angga dan juga pakaiannya tanpa menatanya, asal masuk saja lalu resletingnya ditutup,


Laras menggandeng Angga keluar dari kamar, setelah itu mengangkatnya untuk ia gendong,


Tangannya menenteng tas pakaian,


Langkah Laras cukup tergesa-gesa karena ia tak mau lagi nantinya akan ada acara ragu-ragu yang akhirnya ia akan kembali terkurung di sana,


Cukup!


Sudah cukup ia menjadi perempuan bucin yang lemah,


Setelah seharian ia bicara dengan Arin, maka kini Laras merasa seolah memiliki energi lebih untuk berusaha membelokkan kemudi kehidupannya,


Laras berjalan menuju pintu utama, dan keluar tanpa berniat bicara lagi dengan Yoga,


Perempuan itu tampak sekali telah bulat niatnya untuk bisa lepas dari hubungan beracunnya dengan Yoga dan Ibunya,


Rumah tangga ini sudah tidak ada yang bisa dipertahankan, kenapa aku harus tetap berada di sini? Batin Laras sambil keluar dari halaman rumah mertuanya,


Laras yang menggendong Angga baru saja keluar melewati pagar rumah tatkala sebuah taksi berhenti dan tampak Ibu mertuanya turun, ia menatap Laras yang menggendong Angga sambil menenteng tas pakaian,


"Mau ke mana kamu?!"


Tanya Ibu mertua Laras sembari mendelik,


Laras sudah tak mau menjawab, ia juga sudah terlalu muak dengan Ibu mertuanya itu,


Meskipun Laras tetap merasa ia banyak berhutang juga padanya, tapi semua perlakuan dan kata-katanya yang sering menusuk hati membuat Laras seolah tak bisa menganggap Ibu mertuanya itu adalah Ibu mertua yang baik,


Laras yang melihat taksi yang mengantar mertuanya pun kemudian malah cepat naik ke taksi bersama Angga,

__ADS_1


Merasa diabaikan, tentu saja sang Ibu mertua langsung bertambah naik pitam,


"Heh, ditanya bukannya jawab malah pergi begitu saja!!"


Bentak Ibu mertua Laras lagi,


Tapi Laras tak mau dengar, ia lebih memilih mengatakan tujuannya kepada pak supir taksi untuk diantar ke rumah makan milik Arin,


Supir Taksi pun mengangguk karena pastinya rumah makan milik Arin memang cukup terkenal, hingga tak heran jika mayoritas penduduk kota itu tahu tempat usaha Arin,


"Menantu tidak tahu diri!"


Maki Ibu mertua Laras saat taksi berlalu membawa menantu dan cucunya,


Ibu mertua Laras lantas masuk ke rumahnya dengan langkah lebar dan keras,


"Ga... Yogaaaa!"


Panggil sang Ibu, namun saat ia mendengar suara gaduh di dapur, Ibu mertua Laras pun langsung membawa langkahnya ke arah dapur,


"Ga... Yogaaa..."


Panggil Ibu mertua Laras lagi,


"Astaga!"


Ibu mertua Laras benar-benar tak menyangka akan melihat semua kekacauan yang terjadi di dalam rumahnya saat ini,


Meja kursi makan, alat makan, alat masak, bahkan hingga semua bahan masakan di dapur sudah macam kapal pecah,


"Yoga... Apa-apaan iniiiii..."


Ibu mertua Laras histeris melihat semuanya,


Sementara itu, di dalam taksi Laras terlihat menelfon Arin,


Ia meminta ijin pada sahabatnya itu agar hari ini menumpang tinggal, nanti urusan besok akan Laras pikirkan lagi setelah berada di sana,


"Oh, ya Ras, ke sini saja, tidak apa,"


Kata Arin baik,

__ADS_1


Laras tampak benar-benar lega, sungguh satu keberkahan ia bisa terpikirkan seorang Arin hari ini, padahal sekian tahun lamanya mereka tak pernah bertemu bahkan seperti sudah saling melupakan,


Sekitar dua puluh menit, akhirnya taksi memasuki area parkir tempat makan Arin yang terlihat luas dan bagus,


Setelah taksi kemudian akhirnya berhenti dan Laras membayar sesuai argo, Laras pun mengusap kepala sang anak sambil bicara,


"Turun ya nak,"


Kata Laras pada Angga,


Angga menatap Mamanya sejenak, lalu menatap bangunan rumah makan dari kaca jendela taksi,


Laras membuka pintu taksi untuk turun lebih dulu, bersamaan dengan itu, seorang pelayan tergopoh dari samping rumah makan itu,


Pelayan laki-laki berusia sekitar sembilan belas tahunan itu lantas menghampiri Laras yang kini tengah membantu Angga keluar dari taksi,


"Kata Bu Arin biar saya bantu bawakan barang-barang Ibu,"


Kata si pelayan muda tersebut,


Laras tampak sekilas tersenyum, lalu...


"Hanya satu tas pakaian saja Mas, tidak apa bawa sendiri,"


Kata Laras tak enak,


"Oh tidak apa Bu, mari saya bawakan saja,"


Ujar si pelayan,


Laras pun akhirnya mengangguk saja, dan ia jadi bisa menggendong Angga lagi,


"Mari Bu, ikuti saya,"


Kata si pelayan itu pula, Laras pun mengangguk, meski sebelumnya ia menyempatkan diri menatap bangunan rumah makan Arin lebih dulu,


Laras menghela nafas,


"Aku harap, aku bisa sesukses Arin nantinya,"


Kata Laras sebagai harapan dan doa.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2