Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.188.SEDIH


__ADS_3

Bima melangkah dengan tergesa-gesa dan langsung menemui sang pimpinan penjara yang ada di tempat itu, tanpa basa basi Bima langsung menyampaikan maksud dari kedatangan nya.


"Apa pak Bima yakin dengan keputusan yang pak Bima katakan," Tanya sang pimpinan penjara.


"Saya, yakin pak!" saya mencabut semua tuntutan saya dan saya meminta hari ini juga kebebasan dari gadis itu di urus."


"Baik, pak!"apakah pak Bima tidak Ingin menemui gadis itu?"


"Boleh, dimana saya bisa menemuinya."


"Mari pak, saya antar."


Bima menggakui langkah kaki dari orang yang menunjukkan dimana dia bisa bertemu dengan Arina.


"Pak silakan di tunggu, sebentar lagi dia akan datang,"


"Baik; trimakasih."


Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, seolah sedang mencoba melepaskan beban berat yang ada di dalam pikiran nya.


Dari balik jendela yang mengarah keluar ruangan Bima dapat melihat mobil yang dia parkir dimana di dalam terdapat istrinya yang sedang menunggu.


Sementara seorang gadis bertanya.


"Siapa yang datang menjengukku pak?"

__ADS_1


"Orang yang telah membebaskan Nona tentunya."


"Oh...apa boleh aku minta tidak usah menemuinya?


"tentu saja tidak bisa, Nona harus menemuinya dan berterima kasih lah padanya." Ujar sang penjaga agar Arina menemui orang itu, dengan tersenyum kecut Arina terpaksa melangkah menemui orang yang telah menunggu nya.


"Mau apa lagi sih Arya ini, aku sebenarnya malas jika harus bertemu dengan nya tapi mau bagaimana lagi, dia membebaskan ku sungguh Arya benar benar suami yang baik aku semakin di buat malu oleh nya andai bisa aku ingin lari saja."gumam Karina dalam hati


sampai di depan pintu Arina yang ingin menemui laki-laki yang telah membebaskan dirinya yang Arina anggap dia adalah Arya suaminya, Arina berdiri dengan tertegun seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Arina mengerjap-ngerjapkan dan mengusap kedua bola matanya dengan punggung tangan.


"apa aku tidak salah lihat itu sih bukan Arya Kalau tidak salah laki-laki itu adalah Bima, mana mungkin Bima ke sini ada-ada saja mana mungkin juga dia membebaskanku lalu kenapa penjaga tadi mengatakan bahwa laki-laki yang menungguku itu yang membebaskan ku, aku tidak tahu mana yang benar,"dengan langkah hati-hati Arina mendekati pintu dimana,, sosok laki-laki itu berdiri dengan membelakangi pandangan matanya menatap tajam ke luar jendela yang mana Karina pun mengikuti pandangan mata dari laki-laki itu dan terlihatlah diluar jendela beberapa mobil yang sedang terparkir, langkah suara kaki Arina yang sedikit keras membuat Bima yang memandang ke arah jendela menoleh seketika.


Arina menelan ludahnya dengan kasar ketika Bima membalikan badan, dugaannya ternyata benar, laki-laki yang berdiri di hadapannya itu bukan Arya melainkan Bima. lidah terasa kelu bibir terasa tercekat dan pandangan matanya begitu tajam seolah tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.


lagi lagi, Arina menelan ludahnya dengan kasar dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sosok laki-laki yang berdiri dan menunggu kedatangannya untuk masuk Arina bermonolog sendiri dalam hati pikirannya begitu kacau dan kalut.


" Semoga saja Bima tidak mengenaliku." desis Arina dalam hati yang berusaha menyembunyi kan kekalutan yang ada dan tiba-tiba hadir di dalam hatinya.


"Kenapa kau masih berdiri di situ masuklah"Seru Bima pada Arina yang mau tidak mau karena terpaksa masuk, meskipun hatinya begitu kalut dan was-was perasaan Arina mengatakan Bima sudah mengenalinya akan tetapi Arina berharap bawa apa yang jadi perasaannya itu adalah salah, dimana Bima tidak pernah mengetahui bahwa yang telah mencelakakan istrinya adalah dirinya mantan kekasihnya biarlah Bima berfikir orang lain yang telah mencelakakan istrinya, karena Arina tidak akan sanggup jika laki-laki tampan yang berdiri dihadapannya itu menggenali dirinya.


"Apa yang kau pikirkan, Apakah sekarang kamu sudah mengetahui dan mengerti jika aku sudah mengetahui siapa dirimu." tanya Bima pada Arina.


Lagi-lagi Arina menelan ludahnya dengan kasar.


"Kenapa kau masih diam saja apa yang kau pikirkan tanya Bima pada Arina, yang langsung mendekati hingga jarak diantara mereka tinggal beberapa meter.

__ADS_1


"maaf aku tidak mengerti apa maksudmu jawab Arina pura-pura tidak tahu.


mendapati sikap Arina yang sedikit berbeda, seperti orang yang sedang bingung Bima tersenyum lirik kepadanya duduklah Karina hari ini kamu boleh bebas melakukan apa saja yang kau mau tapi sungguh aku tak pernah menyangka jika yang mencelakakan istriku adalah kamu," ucap Bima mantap membuat jantung dan hati Arina seakan-akan di robohkan dengan begitu saja.


"A-apa maksudmu, aku tidak mengerti" Arina berkata dengan sedikit gugup keringat dingin mulai membasahi pelipis nya.


"Kenapa kau masih mau menyangkal, Arina.


Bima tersenyum sinis sebelum melanjutkan ucapannya." Hari ini kau bebas aku sudah mencabut semua tuntutan ku dan kau tau siapa yang meminta kebebasan dirimu? dia adalah Seila orang yang telah dengan sengaja kau celaka kan, Aku tidak tahu kenapa kau begitu tega kepada Seila, apa kau pikir dengan merubah wajah mu aku bisa mencintai mu? tidak, cinta tak bisa di paksa Arina dan aku tidak menyangka sama sekali jika pelakunya adalah dirimu dan diriku tak menyangka jika kau benar-benar sangat tega, pesanku Aku tak mau lagi bertemu ataupun mendengar tentang dirimu lagi aku sangat kecewa dengan mu, hari, kau bebas Arina" ujar Bima yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Arina yang tertegun tak percaya.


"Bima tunggu!seru Arina yang kemudian menahan kepergian Bima jangan pergi."


Merasa ada yang memegang tangannya Bima menoleh dan dengan gerakan cepat mengibaskan tangan, Arina.


"Jangan sentuh aku, sudah ku cabut semua tuntutan ku pergi lah lakukan apapun yang kamu suka ingat jangan mengangguku lagi."


Setelah mengguncapkan itu Bima langsung pergi.


"Bima . tunggu! aku tau aku sudah menyakiti mu, maaf kan aku," seru Arina yang masih mencoba untuk memegang tangan Bima namun lagi lagi Bima menghindari bahkan dengan sangat cepat Bima menggangkat tangan nya ke atas.


"Jangan sentuh Aku, sudah ku bilang aku tidak mau lagi berurusan dengan mu "Bima mengucapkan itu seraya kakinya melangkah menjauh pergi, Arina hanya bisa menatap kepergian Bima dengan tatapan mata sayu hatinya begitu hancur dan tak pernah Arina sangka jika rasaanya sangat sakit di benci orang yang kita sayangi.


"Bima maafkan aku, aku tidak bisa jika kau membenciku," lirih Arina yang mulai jatuh terduduk lemas menatap kepergian Bima yang tanpa di sadari Arina ada sepasang mata yang mendengar dan melihat semua nya.


.

__ADS_1


__ADS_2