
"Katanya kamu tidak masuk kerja dua hari Tem, kenapa sekarang sudah rapi?"
Tanya Ibu yang melihat Temmi tampak memakai kemeja rapi,
"Aku akan pergi ke tempat Hendrawan, Bu, ada yang harus aku bicarakan dengannya,"
Jawab Temmi,
Ibu yang baru selesai memasak untuk makan pagi mereka yang kesiangan itupun menghampiri Temmi yang kini duduk di kursi meja makan sambil mulai sibuk memakai sepatu,
"Makanlah dulu, nanti masuk angin,"
Kata Ibu,
"Barusan teh nya sudah Temmi minum Bu, makannya nanti saja, pulang dari tempat Hendrawan,"
Temmi tampak kemudian berdiri lalu menyalami sang Ibu,
Saat menyalami tangan Ibunya, Temmi melihat tangan perempuan yang telah melahirkannya itu terlihat banyak sekali goresan pisau di jari,
Temmi menatap sang Ibu sejenak sambil kemudian menggenggam tangan Ibunya,
"Tampaknya kembali ke dapur setelah bertahun-tahun cukup sulit ya Bu,"
Ujar Temmi pula,
Ibu yang mendengar kata-kata Temmi terlihat hanya bisa tersenyum tipis saja, ia tahu jika Temmi sedang berusaha mengingatkan betapa beberapa tahun ini Ibu hidup sangat enak,
Pagi bangun sudah ada sarapan, rumah sudah bersih dan rapi, bahkan cucian sudah dijemur dan bunga-bunga di depan pun terawat dengan baik,
Sekian tahun, tak perlu memiliki asisten rumah tangga namun semua pekerjaan rumah selesai dengan baik,
Belum lagi Ibu juga tak perlu mengeluarkan biaya untuk menggaji, tentu itu adalah hal yang selama ini Ibu tak pernah sadari betul,
"Temmi bantu obati lukanya Bu, mana kotak obatnya?"
Temmi celingak-celinguk,
Dulu kotak obat selalu diletakkan di ruang keluarga yang bersebelahan dengan ruang makan, tapi tampaknya sudah dipindahkan, mungkin oleh Mbak Laras,
"Sudah, tidak apa-apa, Ibu bisa obati sendiri nanti, kalau kamu ada janji temu penting, tidak apa pergi sekarang saja,"
Kata Ibu seraya melepaskan tangannya yang jarinya penuh luka oleh pisau,
Temmi memeluk Ibunya sejenak,
"Belum terlambat jika Ibu nantinya bertemu Mbak Laras lagi dan meminta maaf,"
Bisik Temmi,
Ibu tampak hanya terdiam, tak bereaksi apapun, hanya dadanya saja yang terasa bergemuruh karena mengingat semua tentang Laras,
Laras, gadis itu, yang tiba-tiba saja masuk dalam keluarganya beberapa tahun silam, yang di mana keinginannya untuk menjodohkan Yoga dengan anak seorang teman suaminya yang saat itu berkerja di salah satu perusahaan milik negara akhirnya berantakan,
Kecewa hati Ibu ketika Yoga memutuskan memilih gadis dari keluarga sederhana yang di mana kedua orangtuanya tak memiliki kedudukan apapun,
__ADS_1
Hari-hari setelah Yoga menikahi Laras juga adalah hari yang paling berat dalam hidup Ibu,
Ia bukan hanya sering mendapat sindiran dan cibiran meremehkan dari keluarga besarnya karena dianggap hanya bisa berbesan dengan orang biasa saja,
Sementara, kebanyakan dari mereka selalu mendapatkan menantu yang dari keluarga terpandang dan sukses, yang untuk diceritakan pun keistimewaan mereka seolah tak ada habis-habisnya,
Ibu menghela nafas, ia begitu membenci Laras karena ia adalah sebuah kegagalan yang seolah bisa selalu ia lihat, dan tentu itu sangat menyebalkan,
Tapi...
Kini...
"Temmi pergi dulu Bu, nanti barangkali Husin datang membawa pakaian-pakaian Temmi, suruh saja sekalian dia bantu membereskan pakaianku ke kamar ya Bu,"
Ujar Temmi,
Ibu pun mengangguk mengiyakan,
"Ya, pergilah, hati-hati,"
Kata Ibu,
Temmi tersenyum, lalu ia pun berjalan menuju pintu keluar yang terhubung ke garasi untuk mengambil mobil.
...****************...
Arin dan Laras tampak duduk di sebuah ruangan yang dominan warna hitam dan abu-abu,
Ruangan yang rapi dan bersih itu terlihat sangat nyaman,
Kata seorang staf perempuan sambil meletakkan dua cangkir teh yang mengepul wangi melati, aroma khas teh Tegal pastinya, karena konon Pengacara Hendrawan ini adalah kelahiran Tegal,
"Ya, kami akan menunggu, terimakasih Mbak,"
Kata Arin,
Staf perempuan itu tersenyum ramah, lalu membungkuk pamit meninggalkan ruangan,
Laras sendiri lebih sibuk menikmati suasana ruangan sang pengacara, terutama foto besar yang di gantung di ruangan itu,
Foto pengantin sang pengacara yang begitu elegan, yang tampaknya begitu bangga ia letakkan di sana,
Laras menghela nafas,
Sungguh beruntung perempuan yang dinikahi pria yang sukses dan baik, apalagi ditambah perempuan itu juga dibanggakannya hingga ingin diperlihatkan pada seluruh dunia jika dia adalah milik pria itu,
Ya, tentu dia adalah perempuan yang tidak biasa, perempuan yang sangat istimewa, perempuan yang tidak mungkin seperti Laras, yang hanya diterima dalam keluarga suaminya sebagai keset saja,
Laras sejenak merasa dadanya jadi sakit lagi, sisi hatinya jadi tercabik lagi,
Tapi...
"Dia sudah meninggal, tapi masih diletakkan di sana, pasti Pengacara Hendrawan ini sangat mencintai sosok mendiang isterinya,"
Lirih Arin tiba-tiba,
__ADS_1
Laras menoleh ke arah Arin di sampingnya,
"Siapa Rin yang meninggal?"
Tanya Laras,
Arin menoleh ke arah Laras sejenak, lalu kembali menatap foto yang ada di dinding depan mereka duduk,
"Isteri pengacara Hendrawan, aku dengar dia adalah salah satu korban kecelakaan pesawat setahun lalu yang tidak ditemukan Ras,"
Laras yang mendengarnya tampak terkesiap, ia menatap foto pengantin pengacara Hendrawan lagi,
"Pasti sangat berat melepaskan orang yang kita cintai sementara nasibnya tak jelas,"
Kata Arin,
Laras mengangguk,
Ya, tentu saja, jangankan melepaskan mereka yang membuat bahagia, kadang yang jelas-jelas tak membuat bahagia saja banyak orang tak mampu dan malah lebih tetap memilih terjebak dalam hubungan beracun hingga akhir hayatnya.
Arin kemudian meraih cangkir teh yang aroma melatinya tercium begitu segar, perempuan itu menghirup dalam-dalam aroma teh dari cangkir yang mengepul panas,
"Minum teh nya Ras, teh Tegal ini, aromanya khas sekali,"
Kata Arin,
Laras mengangguk,
"Ya, Mas Yoga dulu waktu kerja sering mendapatkan teh ini sebagai oleh-oleh dari teman kerjanya yang orang Slawi,"
Ujar Laras,
Arin mengangguk,
Laras pun mengulurkan tangannya untuk meraih cangkir teh bagiannya, yang bersamaan dengan itu tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu,
Arin dan Laras pun seketika menoleh ke arah pintu ruangan Pengacara Hendrawan, yang di mana tampak staf perempuan yang tadi kembali muncul, lalu tampak ia membungkuk dengan santun,
Laras dan Arin mengangguk bersamaan, lalu staf perempuan itu seolah bicara dengan seseorang di depan ruangan,
Tak lama pintu dibuka lebar, staf perempuan mempersilahkan seseorang di depan ruangan itu untuk masuk ke dalam,
Dan...
Laras tampak berdiri,
Tampak ia terkejut begitu melihat siapa yang datang,
Tak berbeda dengan orang yang kini berdiri di ambang pintu ruangan Hendrawan, sosok itupun sama terkejutnya melihat Laras ada di sana.
"Ba... Bagaimana bisa?"
Gumam Laras seolah tak percaya.
...****************...
__ADS_1