
Yoga di jalan tampak menyempatkan diri mencari toko kue terlebih dahulu untuk membeli oleh-oleh,
Uang hasil menjual jam tangan mahalnya dua hari lalu kini tinggal tersisa tak seberapa setelah ia hampir semua habiskan untuk mabuk saat Laras baru pergi dari rumah,
Setelah membeli kue dan makanan lain yang dirasa pantas untuk dibawa ke rumah mertuanya, Yoga pun cepat melanjutkan perjalanannya,
Besar harapannya untuk bisa bertemu dengan mertuanya dan akhirnya bisa kembali bersama isteri dan anaknya.
Ah entahlah, sejak pulang dari sekolah Angga dan sempat ribut besar dengan Laras dalam keadaan sadar dan tidak, lalu akhirnya ia bertemu pak supir taksi, mendengarkan banyak cerita darinya, mendengarkan pandangan pak supir taksi akan arti keluarga baginya, perlahan-lahan hati Yoga pun mulai seperti tersentuh, terbuka dan kemudian tersadar,
"Laras, beri aku kesempatan kedua, kumohon,"
Gumam Yoga lirih dengan mata yang berkaca-kaca karena hatinya merasakan kesedihan dan juga ketakutan akan kehilangan keluarga kecil yang ia miliki selama ini dan telah ia sia-siakan.
Yoga terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup kencang, hingga di sebuah perempatan jalan yang tak jauh lagi dari rumah mertuanya, tiba-tiba saja saat ia akan menyalip sebuah mobil lain karena tidak ingin bertemu lampu merah, tiba-tiba...
Brak!
Duar...
Duar...
Sebuah bus metromini tiba-tiba ngeloyor dari arah kanan dan masuk begitu saja ke tengah, menabrak pembatas trotoar yang membuat sebuah mobil pick up dari arah berlawanan mencoba menghindar hingga supir harus banting setir ke arah jalan di mana Yoga tengah mengemudikan mobilnya,
Yoga yang matanya berkaca-kaca hingga tak melihat jalan dengan jelas pun akhirnya beradu depan dengan pick up, tabrakan itu begitu keras karena sama-sama kencang, membuat mobil Yoga terpental dan sempat menabrak trotoar lalu guling ke jalan,
Sementara pick up yang bertabrakan dengan mobil Yoga ngeloyor menabrak beberapa mobil lain,
Kecelakaan yang terjadi hanya beberapa detik itupun menjadi kecelakaan beruntun yang cukup banyak memakan korban dalam sekejap,
Orang-orang berbondong-bondong berdatangan memberi pertolongan, ada pula orang-orang yang tidak berhati malah sibuk mengambil video dan mengambil foto-foto saja tanpa melakukan pertolongan apapun pada para korban yang masih ada kemungkinan selamat,
Suasana di sekitar kejadian dalam sekejap begitu kacau dan begitu dramatis, suara tangis dan minta tolong para korban yang masih selamat tapi terluka terdengar menyayat di antara suara berisik orang-orang yang berada di sana untuk menolong,
"Telfon polisi, telfon rumah sakit,"
Suara-suara orang yang datang untuk memberi pertolongan terdengar panik,
"To... long a... aku... to... long... a... aku... ma... sih... ingi... n hi... dup,"
Yoga sempat bicara dengan kepala yang sudah penuh darah, tubuhnya terjepit dalam posisi mobil terguling,
Sakit yang dirasakannya sungguh telah sampai di puncaknya, namun yang terasa bagi Yoga adalah sakit di dalam hatinya,
Sakit karena membayangkan ia tak akan bisa selamat dan tak ada kesempatan untuknya meminta maaf pada Laras dan Angga, tak ada kesempatan baginya untuk memperbaiki diri sebagai suami maupun ayah bagi anaknya.
Gelap...
Sesak...
Tiba-tiba saja semua dirasakan Yoga, seiring dengan itu seluruh tubuhnya bergetar seperti ada yang harus keluar,
Darah di mana-mana, rasa sakit semakin terasa berkali-kali lipat,
Hingga...
Semua tak tampak lagi.
__ADS_1
Semua tak bisa ia rasakan lagi.
...****************...
"Ya, sekian untuk hari ini semuanya, terimakasih kerjasamanya, minggu depan ada tanggal merah, kita tutup satu hari dan kita isi dengan jalan-jalan keluar kota, oke?"
Arin yang seperti biasa sebelum mengakhiri kegiatan di tempat usahanya selalu menyempatkan diri mengajak anak-anak buahnya bicara meski hanya menyampaikan rasa terimakasih kini terlihat menyunggingkan senyuman,
Anak-anak buahnya pun tentu saja juga melakukan hal yang sama,
Mereka yang selalu merasa dimanusiakan bekerja di tempat Arin memang sangat menghargai keberadaan Arin sebagai atasan,
Berbeda saat tempat usaha itu dikelola pemilik sebelumnya yang notabene masih saudara Arin juga, kali ini pengelolaan tempat usaha itu berjalan jauh lebih baik karena Arin mengajak semuanya bekerjasama, lelah sama-sama dan menikmati hasil lebih sama-sama,
Jika tempat usaha ramai sekali dengan pendapatan bersih lebih dari biasanya, maka Arin akan membagikan bonus pada hari itu pada anak-anak buahnya sebagai bentuk apresiasi terhadap kinerja mereka,
Hal itu pun nyatanya membuat para anak buah Arin jadi semakin bersemangat dan mereka pun setiap kali tempat makan milik Arin itu ramai, mereka akan dengan senang hati memberikan pelayanan yang baik,
"Untuk tujuannya, silahkan kalian yang tentukan, nanti aku akan ikut saja ke mana yang kalian inginkan, boleh ke Jogja, boleh ke Surakarta, atau ke mana pun boleh, selama itu tidak perlu memakan waktu sampai lebih dari dua hari,"
Kata Arin pula,
Semua tentu saja menyambut dengan senang,
Arin menatap satu persatu anak buahnya yang wajahnya kini terlihat berseri-seri karena suka cita yang mereka rasakan,
Hingga kemudian Arin akhirnya sampai memandang Laras yang duduk paling sudut, wajahnya tak sebahagia yang lain, namun Arin tentu saja bisa memahami dan mengerti,
"Baiklah, karena hari sudah larut, kalian pasti juga sudah lelah dan ingin cepat istirahat, silahkan pulang, hati-hati di jalan,"
Kata Arin pada anak-anak buahnya,
"Kiki, pulang lewat mana?"
Tanya Mbak Lastri saat mereka mulai membubarkan diri,
"Lewat jalan Pangeran Diponegoro Mbak, soalnya jalan yang biasa ditutup,"
Jawab Kiki, yang lantas membuat semua jadi kepo, termasuk juga Arin dan Laras yang memandangi Kiki serta yang lain sedang berjalan sambil mengobrol menuju dapur,
"Kenapa sih?"
Tanya Hasmi,
"Kecelakaan beruntun, kabarnya yang meninggal sampai sebelas orang dan yang kritis enam orang,"
Jawab Kiki,
"Kecelakaan beruntun, kapan Ki?"
Arin pun jadi tak mau ketinggalan berita, secara ia juga setelah ini harus pulang dan ia belum tahu sama sekali berita itu karena terlalu sibuk di tempat usahanya sejak pulang mengantar Laras ke tempat pengacara Hendrawan,
Kiki yang mendengar atasannya ikut bertanya akhirnya terpaksa menghentikan langkahnya untuk menjawab pertanyaan Arin,
"Tadi siang Bu, saya juga baru baca wa dari adik, kasih kabar kalau lebih baik pulang lewat jalan Diponegoro, karena tadi dia pulang dari tempat kerjanya di sana masih macet,"
Ujar Kiki sembari menghadap ke arah Arin,
__ADS_1
"Di mana lokasinya?"
Tanya Laras pula, ikut bertanya,
"Sekitar perempatan lampu merah yang dekat bekas supermarket yang bangkrut,"
Kata Kiki,
Mendengar bekas supermarket yang bangkrut, tentu saja Laras dan Arin langsung berpandangan,
Laras bahkan sampai berdiri dari duduknya,
"Sungguh? Di tempat itu lokasinya?"
Tanya Laras memastikan,
Kiki mengangguk, ia lalu meraih hp nya,
"Sepertinya berita sudah turun di TV dan juga media online, Mbak Laras coba cek langsung saja,"
Kata Kiki,
Laras menoleh ke arah Arin,
"Itu dekat rumah orangtuaku kan Rin, aku khawatir, bagaimana jika mereka jadi korban,"
Suara Laras langsung tergetar, Arin pun cepat mencoba menenangkan Laras,
"Kita telfon orangtuamu dulu, semoga mereka tidak apa-apa, jangan berpikir buruk dulu Ras,"
Arin tampak mengeluarkan ponselnya pula dari tas selempang yang ia pakai,
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba suara Angga terdengar memanggil dari lantai atas,
"Mama... Mama..."
Laras yang mendengar suara Angga pun segera menyahut,
"Ya sayang, Mama di sini,"
Kata Laras,
Sambil bicara, ia pun berjalan tergesa-gesa menuju anak tangga untuk naik ke lantai atas,
Arin pun menyusul pula,
"Mama... Ada telfon dari Paman Temmi,"
Kata Angga begitu Laras sampai di lantai dua dan dilihatnya Angga yang sudah hampir turun itu mengulurkan hp di tangannya,
Laras menatap Angga dengan ragu,
"Paman nangis,"
Kata Angga pula,
Laras pun meraih hp dari tangan sang anak, dan...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...