
Tanpa ampun lagi, mahkluk kelelawar itu
menyerang Bima.Dengan gerakan berkelit dan
bersalto Bima menghindari cengraman dan serangan mahkluk kelelawar.
Bondet yang sudah terlepas dari bahaya segera membantu Bima, dengan melempari mahkluk
kelelawar itu dengan batu yang berserakan di dalam goa.
Karena lemparan batu dari Bondet yang bertubi tubi membuat mahkluk kelelawar itupun tidak
fokus dengan serangannya, disaat mahkluk kelelawar lengah tidak menyerang Bima sibuk
dengan melindungi dirinya yang mendapat
serangan lemparan batu.
Dengan cepat Bima melompat dan menggambil tali yang tadinya di buat untuk menggikat Nafa saat di baringkan di Altar.
Dengan kecepatan kilat Bima memutar mutar tali itu ke udara, kemudian melompat dengan
mengayunkan tali ke arah mahkluk kelelawar,
karena mahkluk kelelawar itu lagi fokus dengan
menghindari batu batu kecil yang di lemparkan
oleh Bondet, maka mahluk kelelawar tidak dapat mengelak dari serangan Bima yang
mengayunkan tali untuk menjerat tubuhnya.
Seketika terdengar suara dari mulut mahkluk
kelelawar, mungkin itulah yang di namakan, jeritan, atau pekikan.
Tubuh kelelawar yang terkena lilitan tali jatuh
terpental ke tanah.
Dengan cepat Bima segera menggikat kuat kuat mahkluk kelelawar itu.
****
Nafa yang berlari keluar sudah mencapai ujung goa, hatinya senang, karena bisa terbebas dari
mahkluk yang menyeramkan itu.
Matanya yang indah, nanar menatap cahaya
sinar di depan nya, meskipun ada sedikit rasa
cemas yang melanda hatinya karena dia tidak
tau bagaimana keadaan Bima dan Bondet di
dalam goa, mampukah mereka meringkus dan melumpuhkan mahkluk kelelawar itu, ataukah justru mereka tertangkap.
Dalam hatinya, Nafa bertekad akan mencari bantuan penduduk sekitar yang ada di tempat
itu, namun ketika ia sudah berada di luar goa
matanya nanar melihat empat orang laki laki
yang selalu menjaganya di goa, agar tidak
kabur, sedang menyerang seorang wanita
cantik yang tak lain adalah Seila.
Wanita cantik itu seperti nya sedang terdesak
dan Nafa masih diam tak bergeming untuk
membantu nya.
pikiran kotornya mulai bicara dan menampakkan keegoisan nya, andai Seila mati,
pastilah Bima bisa menjadi miliknya, diam diam
Nafa hanya memperhatikan dari jauh dan cuma
menjadi penonton.
Ini adalah kesempatan emas, dimana dia tidak
perlu bersusah payah untuk menyingkirkan
Seila, karena para laki laki itu sudah mewakili
keinginannya.
__ADS_1
Memang sangat terlihat jahat dan tak berperasaan Namun semua halal dalam cinta.
Dengan senyum mengembang di bibir Nafa
duduk di balik batu besar dimana dia bisa
menggamati pertarungan.
"Cukup hebat juga wanita itu, dia sudah terdesak namun tetap mampu bertahan, Kak
Bima benar benar melatih kemampuan karate
Seila dengan bagus, buktinya sudah lama
namun belum juga tumbang, itu wanita aku
harus bersabar menunggu,"Gumam Nafa
dalam hati.
Ketika Netra Nafa melihat Seila terjatuh, sontak
hatinya berteriak.
"Yes, bagus, ayo cepat kalian lumpuhkan Seila,
cepat berikan pukulan agar dia tidak memiliki
kesempatan untuk menghindar."
teriak Nafa dalam hati di balik batu besar
tempat nya bersembunyi yang mengintai jalannya pertarungan antara Seila dan empat
orang laki-laki preman.
Melihat lawannya terjatuh dengan segera
salah satu preman itu mengayun kan tendangan, Seila yang menyadari dirinya tak
mungkin menggelak lagi, menutup kedua matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi,
Namun pada detik yang bersamaan, ketika
tendangan itu hampir mengenai Seila, sebuah
pukulan bertubi-tubi datang dari arah belakang.
penduduk sekitar dan beberapa polisi,
melihat hal itu ke empat preman memilih
kabur melarikan diri, namun sebuah timah
panas yang di luncurkan ke udara membuat
mereka berhenti.
"Dor..,"
"Diam , di tempat, atau aku tembak kalian ?"
Suara lantang dari pak polisi berhasil membuat
nyali mereka ciut, mereka memilih berhenti
dari pada harus merasakan timah panas
melesat ke kulit mereka.
Ke empat preman itu menggangkat tangan mereka masing masing .
Iqbal mendekati Seila yang tubuhnya bergetar.
"Non, Seila, kau tidak apa apa ?"
Seila mengagguk dengan gerak refleks Seila
memeluk Iqbal.
"Trimakasih, sudah menyelamatkan ku, andai
kau tidak datang aku tidak tau, apa yang akan
terjadi padaku," Ucap Seila terisak.
"Maafkan, aku Non, aku sedikit terlambat, polisi itu, memberikan banyak pertanyaan, sehingga
waktu ku sedikit habis Hanya untuk menjawab
pertanyaan pertanyaan mereka."
__ADS_1
"Tidak apa apa, yang penting sekarang aku sudah baik baik saja."
Iqbal membantu Seila untuk duduk.
"Ayo, Non Seila duduk disini , dulu,"
"Tidak, Bal, kita harus masuk ke goa itu, aku
takut Bima tidak mampu melawan mahkluk kelelawar di dalam sana."
"Sudah, Non Seila, jangan khawatir kami yang
akan masuk ke dalam goa, Non Seila tunggu
disini,"
"Tapi, Bal...,"
"Sudahlah, Non Seila jangan bandel lagi, kalau
kak Bima tau, pasti juga akan marah kalau Non
Seila bandel dan keras kepala begini,"
"Baiklah, aku tunggu disini, cepat bantu Bima
di dalam goa sana,"
"Baik, Non."
Sementara Nafa yang ada di balik batu besar
mengeram kesal.
"Kenapa selamat, sih, jadi gagal deh, Desis Nafa dalam hati. Tidak ada pilihan lain sekarang, selain harus keluar dari tempat persembunyiannya, agar munculnya dia tidak
menimbulkan curiga, karena, sudah sejak tadi
ia disana , maka Nafa menunggu para polisi
dan teman temannya lengah dan tak melihat nya, ketika semua dirasa aman, Nafa Cepat cepat keluar dari tempat persbunyiannya.
Sambil berteriak-teriak, Nafa berlari ke arah
iqbal dan Seila.
"Tolong....! Tolong....! Tolong...!
"Kak Iqbal...! Kak Seila...! tolong kak Bima di dalam goa."
Mendengar ada sebuah teriakan dengan cepat
Seila dan iqbal menoleh ke sumber suara.
"Nafa...!"Ucap Seila dan Iqbal bersamaan.
Dengan sedikit kesulitan Seila berdiri dan menghampiri Nafa, dengan senyum penuh
keharuan tangan Seila menyentuh wajah Nafa
kemudian memeluknya dengan Erat.
"Syukurlah, jika kau baik baik saja,"
Nafa yang tidak menyangka akan mendapatkan
perlakuan seperti itu cuma mampu tersenyum
kecut, pasalnya dia tidak bisa move on
hatinya untuk bisa menerima wanita di depan
nya ini sebagai teman, hatinya tetap ingin
memberontak ingin menjauhkan dan menyingkirkan Seila dari kehidupan Bima.
"Ayo, duduk disini, kita tunggu Iqbal dan para
polisi masuk ke dalam sana."
Dengan senyum terpaksa Nafa pun mengagguk
dan menerima tawaran Seila.
"Iya,"
Sedangkan dalam hati Seila bergumam
"Aku sangat cemburu jika Suamiku dekat dengan gadis ini, Namum entah kenapa aku pun takut jika hal buruk terjadi pada gadis ini,
smoga Iqbal dan para polisi tidak terlambat
__ADS_1
memberikan bantuan kepada Bima dan Bondet.