Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.48.SULIT UNTUK MOVE ON.


__ADS_3

Tanpa ampun lagi, mahkluk kelelawar itu


menyerang Bima.Dengan gerakan berkelit dan


bersalto Bima menghindari cengraman dan serangan mahkluk kelelawar.


Bondet yang sudah terlepas dari bahaya segera membantu Bima, dengan melempari mahkluk


kelelawar itu dengan batu yang berserakan di dalam goa.


Karena lemparan batu dari Bondet yang bertubi tubi membuat mahkluk kelelawar itupun tidak


fokus dengan serangannya, disaat mahkluk kelelawar lengah tidak menyerang Bima sibuk


dengan melindungi dirinya yang mendapat


serangan lemparan batu.


Dengan cepat Bima melompat dan menggambil tali yang tadinya di buat untuk menggikat Nafa saat di baringkan di Altar.


Dengan kecepatan kilat Bima memutar mutar tali itu ke udara, kemudian melompat dengan


mengayunkan tali ke arah mahkluk kelelawar,


karena mahkluk kelelawar itu lagi fokus dengan


menghindari batu batu kecil yang di lemparkan


oleh Bondet, maka mahluk kelelawar tidak dapat mengelak dari serangan Bima yang


mengayunkan tali untuk menjerat tubuhnya.


Seketika terdengar suara dari mulut mahkluk


kelelawar, mungkin itulah yang di namakan, jeritan, atau pekikan.


Tubuh kelelawar yang terkena lilitan tali jatuh


terpental ke tanah.


Dengan cepat Bima segera menggikat kuat kuat mahkluk kelelawar itu.


****


Nafa yang berlari keluar sudah mencapai ujung goa, hatinya senang, karena bisa terbebas dari


mahkluk yang menyeramkan itu.


Matanya yang indah, nanar menatap cahaya


sinar di depan nya, meskipun ada sedikit rasa


cemas yang melanda hatinya karena dia tidak


tau bagaimana keadaan Bima dan Bondet di


dalam goa, mampukah mereka meringkus dan melumpuhkan mahkluk kelelawar itu, ataukah justru mereka tertangkap.


Dalam hatinya, Nafa bertekad akan mencari bantuan penduduk sekitar yang ada di tempat


itu, namun ketika ia sudah berada di luar goa


matanya nanar melihat empat orang laki laki


yang selalu menjaganya di goa, agar tidak


kabur, sedang menyerang seorang wanita


cantik yang tak lain adalah Seila.


Wanita cantik itu seperti nya sedang terdesak


dan Nafa masih diam tak bergeming untuk


membantu nya.


pikiran kotornya mulai bicara dan menampakkan keegoisan nya, andai Seila mati,


pastilah Bima bisa menjadi miliknya, diam diam


Nafa hanya memperhatikan dari jauh dan cuma


menjadi penonton.


Ini adalah kesempatan emas, dimana dia tidak


perlu bersusah payah untuk menyingkirkan


Seila, karena para laki laki itu sudah mewakili


keinginannya.

__ADS_1


Memang sangat terlihat jahat dan tak berperasaan Namun semua halal dalam cinta.


Dengan senyum mengembang di bibir Nafa


duduk di balik batu besar dimana dia bisa


menggamati pertarungan.


"Cukup hebat juga wanita itu, dia sudah terdesak namun tetap mampu bertahan, Kak


Bima benar benar melatih kemampuan karate


Seila dengan bagus, buktinya sudah lama


namun belum juga tumbang, itu wanita aku


harus bersabar menunggu,"Gumam Nafa


dalam hati.


Ketika Netra Nafa melihat Seila terjatuh, sontak


hatinya berteriak.


"Yes, bagus, ayo cepat kalian lumpuhkan Seila,


cepat berikan pukulan agar dia tidak memiliki


kesempatan untuk menghindar."


teriak Nafa dalam hati di balik batu besar


tempat nya bersembunyi yang mengintai jalannya pertarungan antara Seila dan empat


orang laki-laki preman.


Melihat lawannya terjatuh dengan segera


salah satu preman itu mengayun kan tendangan, Seila yang menyadari dirinya tak


mungkin menggelak lagi, menutup kedua matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi,


Namun pada detik yang bersamaan, ketika


tendangan itu hampir mengenai Seila, sebuah


pukulan bertubi-tubi datang dari arah belakang.


penduduk sekitar dan beberapa polisi,


melihat hal itu ke empat preman memilih


kabur melarikan diri, namun sebuah timah


panas yang di luncurkan ke udara membuat


mereka berhenti.


"Dor..,"


"Diam , di tempat, atau aku tembak kalian ?"


Suara lantang dari pak polisi berhasil membuat


nyali mereka ciut, mereka memilih berhenti


dari pada harus merasakan timah panas


melesat ke kulit mereka.


Ke empat preman itu menggangkat tangan mereka masing masing .


Iqbal mendekati Seila yang tubuhnya bergetar.


"Non, Seila, kau tidak apa apa ?"


Seila mengagguk dengan gerak refleks Seila


memeluk Iqbal.


"Trimakasih, sudah menyelamatkan ku, andai


kau tidak datang aku tidak tau, apa yang akan


terjadi padaku," Ucap Seila terisak.


"Maafkan, aku Non, aku sedikit terlambat, polisi itu, memberikan banyak pertanyaan, sehingga


waktu ku sedikit habis Hanya untuk menjawab


pertanyaan pertanyaan mereka."

__ADS_1


"Tidak apa apa, yang penting sekarang aku sudah baik baik saja."


Iqbal membantu Seila untuk duduk.


"Ayo, Non Seila duduk disini , dulu,"


"Tidak, Bal, kita harus masuk ke goa itu, aku


takut Bima tidak mampu melawan mahkluk kelelawar di dalam sana."


"Sudah, Non Seila, jangan khawatir kami yang


akan masuk ke dalam goa, Non Seila tunggu


disini,"


"Tapi, Bal...,"


"Sudahlah, Non Seila jangan bandel lagi, kalau


kak Bima tau, pasti juga akan marah kalau Non


Seila bandel dan keras kepala begini,"


"Baiklah, aku tunggu disini, cepat bantu Bima


di dalam goa sana,"


"Baik, Non."


Sementara Nafa yang ada di balik batu besar


mengeram kesal.


"Kenapa selamat, sih, jadi gagal deh, Desis Nafa dalam hati. Tidak ada pilihan lain sekarang, selain harus keluar dari tempat persembunyiannya, agar munculnya dia tidak


menimbulkan curiga, karena, sudah sejak tadi


ia disana , maka Nafa menunggu para polisi


dan teman temannya lengah dan tak melihat nya, ketika semua dirasa aman, Nafa Cepat cepat keluar dari tempat persbunyiannya.


Sambil berteriak-teriak, Nafa berlari ke arah


iqbal dan Seila.


"Tolong....! Tolong....! Tolong...!


"Kak Iqbal...! Kak Seila...! tolong kak Bima di dalam goa."


Mendengar ada sebuah teriakan dengan cepat


Seila dan iqbal menoleh ke sumber suara.


"Nafa...!"Ucap Seila dan Iqbal bersamaan.


Dengan sedikit kesulitan Seila berdiri dan menghampiri Nafa, dengan senyum penuh


keharuan tangan Seila menyentuh wajah Nafa


kemudian memeluknya dengan Erat.


"Syukurlah, jika kau baik baik saja,"


Nafa yang tidak menyangka akan mendapatkan


perlakuan seperti itu cuma mampu tersenyum


kecut, pasalnya dia tidak bisa move on


hatinya untuk bisa menerima wanita di depan


nya ini sebagai teman, hatinya tetap ingin


memberontak ingin menjauhkan dan menyingkirkan Seila dari kehidupan Bima.


"Ayo, duduk disini, kita tunggu Iqbal dan para


polisi masuk ke dalam sana."


Dengan senyum terpaksa Nafa pun mengagguk


dan menerima tawaran Seila.


"Iya,"


Sedangkan dalam hati Seila bergumam


"Aku sangat cemburu jika Suamiku dekat dengan gadis ini, Namum entah kenapa aku pun takut jika hal buruk terjadi pada gadis ini,


smoga Iqbal dan para polisi tidak terlambat

__ADS_1


memberikan bantuan kepada Bima dan Bondet.


__ADS_2