
Ningsih melangkah dengan hati berbunga bunga, rasaanya tak percaya Bima mau menggakui perasaan nya, andai saja telpon itu tidak mengaggu nya pasti lah bisa lebih lama bisa berada di dekat Bima. Ningsih yang berjalan dengan melamun hampir saja menabrak orang di depannya seandainya orang di depannya tidak menegurnya.
"Non...! sudah mau pergi."
Ningsih yang tadinya dalam mode melamun langsung mendongak dan segera tersenyum ketika tau siapa yang ada di depannya Ningsih segera tersenyum.
"Bibik..!iya ini mau pulang."
"Non, siapa namanya?" Non hebat bisa buat Non Vira diam padahal Non Vira tidak bisa di ajak sembarangan orang sedikit saja pasti nanggis tapi dengan Non sungguh aneh di ajak mau di gendong juga mau "
"Namaku , Ningsih Bik."
"Oh, Non Ningsih."
"Ya, sudah Bik, aku sudah di tunggu, aku pergi dulu ya Bik."
Bik Inah akhirnya mengagguk mempersilahkan Ningsih pergi.
Di ujung tempat permainan Hendrato telah menunggu kedatangan Ningsih, melihat Ningsih muncul wajah nya langsung berseri.
"Apakah kamu habis mengantar anak kecil tadi itu."
"Iya, aku habis membawanya ke tempat ayahnya."
"Apakah Ayahnya sangat hitam dan kriting seperti wajah anak kecil itu." tanya Hendrato penasaran.
"Ayahnya.... Ningsih mengantung ucapannya dia tidak langsung menjawab pertanyaan Hendrato karena sebenarnya Ningsih juga binggung kenapa wajah anak itu hitam sekali padahal Ayahnya sangat tampan...hufff ..! menggingat wajah Ayahnya mengenang kala Ayah anak itu mencium nya rasanya hati bagaikan melayang layang bahkan terlintas sebuah angan seandainya nanti yang duduk di pelaminan adalah Ayah dari anak itu pasti lah kebahagiaan ku berlipat ganda."
"Hello...!di tanya bukannya menjawab malah asik melamun."
Dengan tersipu malu Ningsih melempar kan sebuah senyum.
"Tadi mas bertanya apa? maaf aku lupa."
"Aku tadi bertanya apakah Ayahnya juga berkulit hitam."
"Oh, itu! tidak mas kulit nya biasa saja."
"Wah aneh ya, mungkin istrinya yang berkulit hitam."
"Istrinya malah cantik mas kulit nya putih bersih."
"Wah, aneh ya, kenapa Wajah anaknya berbeda sekali, ya sudahlah ayo kita pulang."
__ADS_1
Hendrato membawa Ningsih pulang ke rumah nya setelah seharian berada di luar rumah untuk menghabiskan waktu berdua.
Malam sepi dengan udara dingin terdengar sayup sayup, suara jangkrik yang bernyanyi Ningsih yang tak bisa memejamkan mata hanya bergulang guling, hadap kanan hadap kiri kemudian duduk lalu tidur lagi, entah kenapa hari ini dia merasa hatinya tidak tenang dan tidak bisa tidur berusaha memejamkan mata tapi terasa susah tinggal lima hari lagi hari pernikahan nya dengan Hendrato akan di langsung kan, akan tetapi sampai detik ini rasa cinta pada Hendrato masih belum ada. Ningsih bangkit dari duduknya dan menatap nanar benda pipih yang terletak di atas narkas nya, entah mengapa ingin rasanya menghubungi mantan Boss nya tapi dia binggung menghubungi malam malam alasannya apa."
Ningsih menggigit Saliva nya antara malu dan ingin di ambilnya benda pipih itu tapi sedetik kemudian Ningsih menaruhnya kembali,cepat cepat Ningsih naik ke atas ranjang dan menarik selimut nya hingga menutupi kepala.
"Aku harus bisa menahan diri tidak boleh aku menghubungi nya lebih dulu, mau di taruh di mana muka ini, Aaaa... kenapa rindu itu menyiksa Oh Tuhan cepat datang kanlah pagi biar aku tak tersiksa begini."Keluh Ningsih.
"Tok...tok..tok...!"apa kamu sudah tidur Nak?"
"Ibu kenapa malam..malam begini mengetuk pintu ada apa? Belum....Bu..!"jawab Ningsih cepat.
"Apa ibu boleh masuk Nak?"
"Masuklah bu."
Ningsih bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke pintu dan di bukanya pintu itu.
"Ibu.! ada apa malam malam ke sini apa ada yang penting.'
Sang ibu pun mengagguk
"Ibu ,mau bicara dengan mu?"
"Wah.. sepertinya penting, katakan Bu aku siap mendengar nya."
Mendengar perkataan sang Ibu Ningsih tersenyum kecut.
"Ibu...adakah pilihan lain seandainya aku tidak mencintai mas Hendrato?"
"Tentu saja ada, kamu bisa mencari siapa yang kamu suka dan yang kamu nilai cocok dengan mu,"
"Jika orang yang ku sukai telah beristri bagaimana Bu?"
Perkataan Ningsih yang tak terduga membuat sang ibu mendelik.
"NIngsih...!"apa yang kamu bicarakan Nak?'
lagi-lagi Ningsih tersenyum kecut.
"Tidak ada cuma seandainya," kilah Ningsih menutupi rasa yang ada di dalam hatinya.
"Apakah Ningsih punya perasaan lebih dengan Nak Bima?"
__ADS_1
Pertanyaan sang Ibu yang benar benar tepat membuat Ningsih langsung menderita terbatuk secara mendadak.
"Uhuk..uhuk..!"
"Minum, Nduk apa kamu lagi sakit?"
"Tidak Bu!aku tidak apa-apa."
"Nduk..! ibu cuma mau bilang jika kamu mencintai orang yang telah beristri lebih baik kamu buang jauh jauh perasaan itu, kita tidak mau kan hidup kita di sakiti orang lain, maka jangan sampai kita menyakiti orang lain apa kamu mengerti Nduk?"
"Iya, Bu!"
"Ya, sudah beristirahat lah, ibu juga mau tidur."
"Bu ..!
"Apa, Nduk!"
"Apa ibu sangat menyukai dan mengharapkan mas Hendrato untuk menjadi suami saya,"
"Tentu saja Nduk, bapak dan ibumu ini sudah sangat suka dengan Nak Hendrato lagi pula Nak Hendrato adalah laki-laki yang baik jadi ibu dan bapak yakin kau akan bahagia bersama nya, sudah kamu tidur lagi, bukankah besok Nak Hendrato akan mengajakmu ke pesta temannya ayo, sekarang istirahat lah."
Ningsih tersenyum kecut sambil menggagguk.
Udara segar di pagi hari dengan secangkir kopi panas buatan calon mertua, memang rasanya sangat berbeda dan Nikmat itulah yang saat ini di rasakan Hendrato hatinya begitu berbunga bunga dan bahagia pernikahan nya dengan Ningsih tinggal menghitung hari dan sebentar lagi ikatan cinta lama mereka yang terpisah akan di satukan selamanya tak kan terpisah lagi hidup bahagia dengan anak anak tercintanya.
Ningsih yang baru selesai bersiap mengeryitkan dahinya ketiika melihat Hendrato
minum kopi sambil senyum senyum sendiri.
"Mas... kenapa senyum senyum dengan kopi buatan Ibu."
Sedikit gragap dan gugup mendengar perkataan Ningsih pasalnya dia tak menyadari jika kekonyolan nya ada yang melihat.
"Kopi buatan ibumu sangat enak?"
"Masak sih!'
"swerr...deh!"
"Kalau begitu aku mau juga mencoba,"ucap Ningsih seraya meraih kopi yang ada di tangan Hendrato, sontak saja membuat Hendrato mendelik tak percaya sejurus kemudian.
"Jangan..ini kan bekas ku, jangan minum bekasku," ucap Hendrrto canggung.
__ADS_1
"Kenapa...?" toh nanti semua yang kau miliki juga akan jadi milikku dan semuanya pasti akan berbagi dengan ku, kenapa cuma kopi tidak boleh."
Ningsih langsung meraih kopi dari tangan Hendrato dan meminumnya, sesuatu yang sesungguhnya sulit untuk di lakukan tapi Nasehat ibu, itu adalah benar jika memiliki rasa pada orang yang sudah beristri akan lebih baik jika semua di akhiri, dengan lebih dekat dan lebih perhatian pada calon suami, Ningsih berharap bisa cepat menghapus rasa yang ada di dalam hatinya kepada orang yang salah sesulit apapun Dia akan berusaha demi menjaga tidak akan ada satu perasaan yang terluka.