Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.102.MEMAKAI BAJU PILIHAN BIMA.


__ADS_3

Dari hari ke hari kemesraan Bima dan Seila kian bertambah, sampai di rumah Bima belum juga melepaskan pelukan tangannya dari pinggang ramping milik Seila, begitu juga sebaliknya Seila tak lagi melarang apa yang Bima lakukan benih benih cinta mulai tumbuh di antara kedua nya. Sebagai CCTV dadakan Bik Inah sering skip pasalnya Bik Inah tidak mau ikut terbawa arus baper yang bisa bisa membuat nya jadi puber ke dua lebih lebih tetangga depan rumah yang sama sama berusia senja lagi jomblo kuwadrat memiliki tingkah pola yang aneh ada ada saja yang dia lakukan hanya untuk bisa mengaggu Bik Inah, yang pinjam sabit lah, yang tanya sayur lah, bantuin Bik Inah momong Vira pokoknya macam macam terkadang bikin jengah Bik Inah.


Setelah semua persiapan siap, Bima segera menenteng tas hitamnya menuruni anak tangga, wajahnya yang sudah segar sedikit celingukan ke kanan dan kiri mencari kunci motor yang tidak ada di tempat biasanya.


"Bik Inah..!"


"Iya, Den Bima, ada apa?" ucap seorang wanita paruh baya yang masih menyisahkan kecantikan yang tidak pudar di terjang waktu, dengan tergoppoh-goppoh menghampiri Bima.


"Ada apa, Den!" kok teriak teriak begitu.'tanya. Bik Inah.


"lihat kunci motorku tidak Bik?"


"Oh, tidak, Den,"


"Di mana, ya? biasanya kan ada di sini,"


"Di simpan Non Seila barangkali Den,"


"Ah, tidak mungkin Bik, Seila tidak suka dengan motor,"


"Lalu sekarang bagaimana?"


"Bantu, aku mencari Bik, siapa tau jatuh,"


"Oh, baik Den,"


Bima dan Bik Inah segera mencari keberadaan kunci yang terkadang Bima dan Bik Inah sama sama berjalan membukuk dan berjongkok melihat lihat siapa tau kunci itu jatuh di bawah kursi atau pun kaca pot kramik. Tanpa mereka sadari sepasang mata melihat tingkah laku mereka dengan seyum tersungging di bibir, seyum yang biasa saja tiba-tiba menjadi keras,


Seila kelepasan tertawa dengan keras ketika melihat kepala Bima terjadug meja. Mendengar ada suara yang menertawakan nya Bima segera menoleh ke sumber suara, hati Bima berdesir hebat, ketika tatapan matanya melihat


baju yang di kenakan Seila begitu mengoda pasalnya baju bermotif sedikit terbuka memperlihatkan kulit putihnya muda terekspos siapa saja yang melihat, dengan cepat Bima naik ke kamar di mana Seiila berdiri di atas tangga.

__ADS_1


"Sayang..!" kenapa pakai baju ini, ganti bajunya,"


"Kenapa kak?bajunya bagus, nyaman kalau di pakai jalan Jalan," ucap Seila membantah.


"pokoknya, ganti, tunggu, biar aku yang pilih,"bergegas Bima membuka lemari pakaian dengan telaten Bima mencari pakaian yang tepat untuk Seila.


"Nah, ini dia, ini cocok untuk kamu sayang,"


Seila mengeryitkan dahi dan matanya tak percaya dengan pilihan baju yang Bima berikan.


"Kak Bima..!" yang benar saja, masak aku di suruh pakai baju beginian, ini kan ngak nyaman kak, sulit, bergerak, apalagi cuaca panas begini bikin gerah, ngak mau,"


"Seila..!"nurut apa kata suami ya, jangan bandel,"


"issh, memangnya aku anak kecil, kalau soal baju aku ngak mau nurut, gerah kak, ini saja pasti di luar juga gerah karena cuaca panas," ucap Seila sambil mengangkat baju bawahnya yang sedikit panjang ke atas, sehingga memperlihatkan paha putih halus, membuat Bima menelan ludahnya dengan kasar.


"Astagfirullahaladhim, Sayang..!" jangan tinggi tinggi mengangkatnya, bikin Ade kecilku bangun ini,"


"Apaan, sih kak Mesum amat," jawab Seila terkekeh.


leher jenjang milik Seila, mula mula di kecup nya dengan lembut, tapi beberapa detik kemudian Seila merintih kesakitan, ketika Bima mulai memberikan kecupan dengan disertai gigitan kecil yang sedikit liar.


"Kak, jangan!" sakit, malu kalau terlihat Wina, jangan di sini," desis Seila lirih melarang Bima meninggalkan bekas kecupan kepemilikan nya di leher jenjang Seila.


"Kau milikku, tidak ada yang boleh, menikmati mu selain aku, jadi pakai baju yang ku pilihkan untuk mu atau, aku berikan lebih banyak lagi kecupan," tanya Bima lembut membuat Seila tak bisa lagi menolak, Bima kalau bicara selalu menepati ucapannya bisa gawat jika seluruh lehernya penuh gambar cap stempel kepemilikan Bima, dengan suara bergetar karena menahan deru Jantung yang mulai menjalar naik, Seila tak lagi menolak permintaan Suaminya.


"Iya, aku mau memakainya, jangan di tanbah lagi kecupannya, aku malu di depan wina,"rengek Seila.


Bima tersenyum puas, akhirnya Seila mau juga menuruti apa yang di katakan nya, gigitan kecil sudah tak lagi Bima lakukan, tp ciuman buas nya masih belum usai sebelum bibir manis nan menggoda itu belum tersentuh untuk di nikmati nya, seakan sudah menjadi makanan empat sehat lima sempurna, karena Bima seakan akan tak memiliki rasa bosan. Semua akan berakhir setelah Bima merasa kenyang.


"ingat, pakai baju yang aku pilih itu, jangan sampai tidak, aku berangkat kerja dulu, salam untuk Wina ya,"

__ADS_1


Malas menjawab Seila hanya mengagguk.Bima melangkah pergi dari kamar dengan melambaikan tangan dan memberikan kiss jarak jauh untuk istri yang selalu menjadi candu nya.


Setelah Bima pergi, Seila menghela nafas lega, bisa lepas dari si Suami yang sangat usil dan jahil akhir akhir ini, bibir tipis nya mengkrucut kesal karena harus memakai baju ala ibu ibu Arisan, tapi kalau tidak di pakai bisa kena komplin lagi, akhirnya mau tidak mau Seila memakai baju pilihan suaminya. Dengan langkah lesu tak bersemangat Seila menuruni tangga, Bik Inah yang sudah menemukan kunci motornya sudah membuat Bima cepat kabur keluar rumah.


Bik Inah yang melihat kehadiran Seila segera memberikan ucapan salam dengan santun, melihat tatapan Bik Inah Seila menjadi salting di buatnya.


"Jangan jangan Bik Inah menertawakan bajuku, kok menatap aneh begitu," Gumam Seila dalam hati.


"Selamat siang, Non Seila!"


"Siang, Bik, menurut Bik Inah gimana bajuku ini,"tanya Seila sambil memutar badannya.


"Bagus,Non Seila, terlihat anggun,"


"Masak baju begini bagus Bik?"


"Iya, Non Seila, terlihat anggun sekali,"


"Ah, Bik Inah, bohong itu,"


"Beneran Non, Bibik ngak bohong,"


"Vira, mana Bik, aku ingin mengendongnya sebentar,"


"Jangan, Non!"Non Vira belum pakai, pempes nanti Non Seila di ompolin,"


"Ngak, papa, Bik, aku kan mama nya, tapi ya sudahlah Kalau begitu, berangkat dulu ya Bik, titip Vira,"


"Iya, Non,"


Seila segera keluar rumah dan melajukan mobilnya ke taman indah kota di mana Seila dan Wina janji ketemuan karena Wina ingin makan seafood hari ini, hanya satu jam perjalanan Seila sudah sampai di tempat yang mereka janjikan, Seila segera memarkir mobilnya di tempat parkir, kemudian melangkah masuk ke dalam restoran, untuk beberapa saat Seila menyapu seluruh ruangan untuk mencari di mana Wina duduk, akhirnya mata indah Seila menatap sosok Wina ada di barisan belakang dekat dengan kaca dengan langkah cepat Seila menghampiri Wina.

__ADS_1


"Hai ..Win!" maaf telat apa kamu sudah lama menunggu ku?"


Mendengar ada yang menyapa Wina segera menengadahkan kepalanya, Wina bukannya menjawab pertanyaan Seila tapi dua justru Tertawa terbahak-bahak mrmbuat Seila mengkrucutkan bibir nya.


__ADS_2