Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.151.GUNDAH


__ADS_3

Di dalam mobil Bima terus mengumpat dan marah pada dirinya sendiri. Bima sangat hafal dengan sikap Ningsih apabila dia marah maka itu akan sangat lama dan tidak mudah untuk bisa meluluhkan hatinya butuh waktu untuk membuat amarah nya redah sedangkan sekarang ini Bima pun harus berjuang membuat Ningsih teringat kembali siapa dirinya ini sangat sulit dan berat, terlebih Ningsih sudah mengatakan benci padanya.


Bima yang kacau mengemudi kan mobil dengan cepat, tidak berapa lama Bima telah tiba di depan Rumah nya, tanpa bicara dengan siapapun Bima langsung masuk ke dalam kamar. Seila yang kebetulan berada di ruang tamu menatap dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Rupanya, Ningsih sudah mulai mendengar kan printah ku." desis Seila dalam hati.


Bima yang kesal membuka pintu kamarnya dan melempar apa saja yang ada di sana untuk melampiaskan kekesalannya. Seila yang penasaran dengan Bima segera Naik ke kamar atas di mana Bima sedang melampiaskan kekesalannya.


"Kenapa marah marah mas Bima?"


Mendengar ada yang bicara dengan nya Bima langsung menoleh dan menatap Seila dengan tatapan tajam.


"Mau, apa kau ke sini?"


"Lho, aku kan istrimu, jadi tidak ada masalah aku kesini."


"Istri..?" istri apa dan Sejak kapan aku menikahi mu."


"Aku tidak perduli, yang penting aku ingin berada di sini."


"Pergi..!" atau ku paksa kau keluar kamar ini."


"Ya..!iya..pelit amat sih."keluh Seila sambil ngeloyor pergi.


Setelah Seila keluar dari kamar Bima segera mengunci kamarnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dua puluh menit sudah Bima menyelesaikan Ritual mandinya, setelah menganti pakaian Bima merebahkan dirinya di atas ranjang.


Ingin rasanya Bima bisa memejamkan mata dan cepat tidur tapi faktanya hatinya masih begitu resah dan kacau, hati dan pikiran nya masih tertuju pada Ningsih yang masih marah dan kesal karena ulahnya.


Bima mulai menggambil ponsel miliknya dan mulai mengetik sebuah pesan untuk Ningsih.


"Selamat malam...apa kau sudah tidur?" tolong jangan marah padaku aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh aku merasa menyesal.


Surat pertama Bima kirimkan.


Bima menunggu balasan pesan yang dia kirim tapi sampai tiga puluh menit balasan itupun tak kunjung datang akhirnya Bima menuliskan kembali sebuah pesan.

__ADS_1


"Apakah kau bisa tidur setelah mengabaikan ku?"


Kembali isi pesan kedua Bima kirim dan lagi lagi tak ada balasan meskipun sudah ada tanda terbaca.


Dengan kesal Bima membuang ponsel hapenya ke samping ranjang dan berusaha memejamkan matanya yang sulit untuk di ajak tidur.


Dua hari sudah Bima tak bisa bersama Ningsih karena Ningsih tak mau sedikit pun bertemu dengan nya, hatinya perih gundah dan sedih wajah muram sangat terlihat jelas di sana Seila yang ingin bicara dengan Bima pun kesulitan Bima tak sedikit pun mau menatapnya Seila memang ingin Ningsih dan Bima jauh tapi tidak dengan sikap yang acuh dan dingin pula padanya hal ini membuat Seila mencari cara bagaimana dia bisa menahklukan hati Bima Seila tidak bisa kalau harus jauh apalagi satu atap tapi di diamkan itu sangat menyiksa dan menyakinkan.


Seila yang tidak pernah dekat dengan Vira tiba-tiba hari itu mendekati Bik inah.


"Bik, kamu sedang sibuk kan?"


"Eh, Non Seila! iya Non ini mau menyiapkan makan ada apa Non?"


"Apa Vira masih tidur?'


"Tidak,Non! dia masih bermain di box tempat tidur nya dengan mainan."


"Pinter sekali, dia tidak rewel."


"Aku bawa Vira ya Bik, aku ajak main bersama papanya."


"Oh, ya Non, silahkan."


Seila langsung masuk ke dalam kamar Vira setelah mendapat kan ijin dari Bik Inah.


"Ayo, sayang ikut mama menemui papa."


Seila segera menggendong Vira masuk ke dalam kamar atas di mana Bima ada di sana tapi sayangnya kamar atas kini sering kali di kunci sehingga Seila selalu kesulitan masuk ke dalam kamarnya.


"Papa Bima! bukain pintu dong Dede Vira mau masuk nih!".


Untuk sesaat tidak ada jawaban apapun dari dalam hal itu membuat Seila gusar dengan keras di ketuk nya pintu kamar Bima.


"Tok...Tok....Tok...!"

__ADS_1


Bima yang dalam mode melamun menatap arah pintu yang di ketuk tapi tak berniat membuka nya. Karena tidak mendapat kan jawaban juga pintu tidak di buka akhirnya Seila memilih berteriak sangat kencang.


"Mas...!" buka pintunya, Vira mencari mu jadi papa kok tidak ingat anak sih." Sungut Seila kesal dalam teriakannya.


Teriakan Seila yang keras sempat membuat Bima mengeryitkan dahinya perlahan lahan di buka nya pintu kamar tampaklah oleh Bima Seila sedang menggendong Vira tanpa basa basi dengan cepat Bima meraih Vira dari tangan Seila, hati Seila tersenyum senang begitu juga Vira saat di gendong Bima tidak rewel, tapi sejurus kemudian mata Seila mendelik dengan lebar ketika pintu kamar kembali di tutup dan di kunci dari dalam.


"Brak." pintu kembali di tutup.


"Sial..!" kenapa di kunci lagi sih, percuma dong aku susah payah ingin masuk dan bertemu Mas Bima dengan menggunakan Vira eh, Vira nya doang yang di ambil aku di cuekin." Grutu Seila kesal sambil mondar mandir tak karuan.


"Bukan seperti ini yang ku mau..! kalau begini terus bisa bisa Bima Lebih jauh dari ku, aku tidak mau itu, sekarang apa yang harus aku lakukan ya!"


Seila masih mondar mandir tak karuan hatinya kacau pikiran nya juga ikut kacau.


Sementara Bima di dalam kamar bermain dengan Vira hatinya yang sedih sedikit bisa terobati dan terhibur dengan adanya Vira yang lucu, bahkan hari ini Bima berniat menggajak Vira untuk bermain di luar.


Sementara Ningsih sedang menunggu kedatangan Hendrato yang berjanji akan mengajaknya keluar hari ini. Tak menunggu lama mobil yang di tunggu pun telah tiba.


"Sudah, lama menunggu Ning..?"


"Ngak, kok baru saja."


"Ok, hari ini kita berjalan jalan mencari hiburan kau mau?"


Ningsih tidak menjawab dia hanya mengagguk saja sebagai Jawaban, sejak kejadian yang menyebalkan bersama Bima Ningsih mulai bersikap terbuka dan lebih perhatian kepada Hendrato apapun ajakan Hendrato tak pernah dia tolak semua dia ikuti, meskipun kalau harus jujur ini sangat sakit dan menyakitkan di mana dia harus menjauh dari orang yang dia sukai, bukan salah Bima jika waktu itu Bima emosi dan menamparnya karena dirinya berkali kali mengeluarkan kata kata yang menyakitkan hati Bima, Di dalam mobil Ningsih memilih mengalihkan pandangan matanya ke jalan sesekali bibir nya tersenyum kecut menggingat betapa sakitnya harus jauh dan menjauh dari Bima, tamparan itu tidak sakit yang sakit itu di katakan sebagai wanita murahan yang merampas dan merayu suami orang.


Hendrato yang mengemudikan mobil melirik gadis yang duduk di samping nya tapi diam saja bahkan lebih memilih melihat jalanan dari pada ngobrol mesra dengan nya, tiba-tiba hati Hendrato serasa sesak dan sakit.


"Apakah Ningsih sudah benar-benar tidak mencintai nya lagi, apakah rasa cinta itu benar-benar sudah pergi." berkali-kali pertanyaan itu berputar dan menari nari di alam pikiran nya.


"Ning..!" apakah aku boleh bertanya sesuatu."


Ningsih menoleh dan tersenyum.


"Tentu, saja apa yang Ingin kau tanyakan."

__ADS_1


__ADS_2