Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.122.DEBARAN YANG ANEH


__ADS_3

Mendengar si kecil Vira menangis Bima dan Bik Inah segera berlari keluar.


"Ada apa? kok Vira menangis."


"Ngak, tau mas, mungkin belum terbiasa dengan ku,"ucap Seila memberikan penjelasan.


"Ya, sudah, ngak papa, Bik Inah tolong jaga Vira aku mau bawa Seila ke kamar dulu."


"Baik, Den!


"Ayo, Sayang!


Mendengar panggilan sayang dari Bima jantung Seila seakan berdetak lebih cepat ada rasa bahagia yang diam diam bermekaran di dalam hatinya.


"Sikap Bima, seromantis ini, aku benar benar senang tidak rugi aku menghabiskan puluhan juta demi mendapatkan nya," Gumam Seila dalam hati.


"Ayo! kok masih bengong di situ?"


Suara teguran Bima membuat Seila tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya mas."


Dengan cepat Seila menggikuti langkah Bima, ketika pintu kamar di buka tanpa sadar Seila mengeluarkan kalimat kagumnya.


"Wah, luas sekali kamar ini, penataan dekorasi nya juga sangat bagus."


Bima yang mendengar suara pujian untuk kamar mereka sontak menoleh ke belakang dan mengkerutkan dahinya, yang kemudian membuat Bima terkekeh.


"Kamu, aneh sayang, sprti orang baru tau kamar kita saja."


Ucapan Bima yang sungguh tepat membuat Seila menelan ludahnya dengan kasar.


"Kenapa aku bodoh sekali memuji kamar yang memang baru pertama ku lihat, untung Bima ngak tau,"grutunya dalam hati.


"Kamu, istirahat dulu, pasti belum makan aku mau bikinkan makanan kesukaan mu, tunggu dan kalau merasa gerah kau mandi juga dulu, sebentar aku tinggal ya."


"Iya, Mas!"


Setelah Bima keluar kamar Seila segera menutup dan mengunci kamar itu.


"Akhirnya, aku berada di rumah ini juga, dan akhirnya aku bisa menjadi istri Bima, yes..! ternyata bisa hidup dan bersama dengan orang yang kita cintai itu indah serasa melayang layang hatiku, terlebih sikap Bima yang sangat Romantis dan perhatian, sungguh kebahagiaan yang tak bisa ku lukiskan dengan kata kata, kira kira Seila beneran sudah mati apa belum ya? kalau sudah maafkan aku Seila sayang, bukankah semua halal dalam cinta, salah sendiri di suruh mundur dan menggalah tidak mau, itu akibat dari kesombongan mu, kalaupun kau masih hidup kau tak kan bisa lagi memiliki Bima, karena Bima kini akan menjadi milikku untuk selamanya, aku harus cepat mandi dan dandan yang cantik agar Bima semakin terpesona dengan ku."


Dua puluh menit ritual mandi pun selesai, dengan cepat Seila membuka kamar yang tadinya di kunci dengan riasan wajah bak primadona Seila merias wajahnya, tak lama kemudian Bima datang dengan membawa nampan berisi makanan.


"Sayang, ini makanannya sudah siap, spesial masakan aku sendiri, Nasi goreng dengan jus alpukat kesukaanmu."


"Trimakasih, mas!"


Ketika Seila berbalik dan berjalan mendekat, Bima melongo melihat wajah Seila, merasa di pandang Bima dengan tatapan mata seperti orang terkejut Seila menunduk merasa bahagia pasti riasan wajahnya telah membuat Bima terpesona, batin Seila dalam hati.


"Sayang, kamu mau ke kondangan mana?"


Pertanyaan Bima membuat Seila yang tadinya menunduk menjadi mendongak dan menatap wajah Bima.


"Kok, mas Bima, bertanya begitu."


Bima tidak menjawab tapi justru terkekeh.


"Riasan kamu seperti lenong, sayang."


Mendengar ledekan Bina Seila membulatkan kedua bola matanya.


"Kok, aku di anggap seperti lenong sih, mas?"

__ADS_1


"habis lucu, sejak kapan kamu suka meke up setebal gunung begitu."ucap Bima sambil terkekeh.


Wajah Seila yang tadinya ceria tiba tiba cemberut dan masam.


"Memangnya kalau mau dandan cantik buat Suami tidak boleh, begitu."


"Buat, aku!"Bima menunjuk ke dadanya.


"Tentu saja, buat kamu mas, mau buat siapa lagi." ucap Seila sambil cemberut.


Bima mendekati istrinya dan mengecup lembut kening Seila, membuat jantung Seila kembali berdetak dengan sangat cepat.


"Tidak perlu dandan cantik pun kamu sudah cantik bagiku, jadi ngak perlu dandan seperti lenong begini, seadanya saja."


Seila menatap haru suaminya di peluknya dengan erat tubuh Bima.


"Aku sangat bahagia, sekali, seandainya saja ucap mu itu, untukku, Mas,"gumam Seila dalam hati.


Bima merenggangkan pelukan Seila.


"Sudah, ayo, sekarang makan Nasi goreng buatanku,"


"Mas!"


"Hm."


"Aku, tidak mau jus alpukat ini."


"Lho bukannya, ini minuman yang paling kamu suka."


"Iya, itu dulu, tapi sekarang tidak lagi, karena aku ngak mau kalau minum jus Alpukat bikin gemuk."


"Oh, takut, gemuk, ya sudah biar ku minum sendiri."


"Mas!"


"Nanti malam makan di luar ya, aku mau lihat lihat kota ini juga."


"iya, boleh!


Mendengar jawaban Bima Seila segera melingkar kan tangannya pada leher Bima dan


"Cup"


Seila mendaratkan kecupan nya di bibir Bima yang membuat Bima mendelik tak percaya Seila mau memberikan ciuman tanpa di minta.


******


Dokter Irawan dan Hendrato yang sudah memasuki kamar pasien segera melakukan pembukaan perban.


"Nona, kita buka perbannya ya?"


"iya, Dok!


Dengan berhati hati Hendrato dan Dokter Irawan membuka perban pasien yang bernama Ningsih, setelah semua perban terlepas Dokter Irawan memberikan cermin untuk nya.


" lihatlah, ini wajah Nona?"


"Cantik, Dok."


"Apa Nona suka,"


"Iya, aku suka, meskipun katanya dulu wajahku tidak begitu."

__ADS_1


"Apa, Nona ingat dulu wajah Nona seperti apa?


"Tidak, aku tidak ingat apa-apa, Dokter tau dulu wajahku seperti apa?"


"Kami, juga tidak tau Nona, saat Nona di bawa ke sini, wajah Nona 90 persen rusak dan tidak dapat dinkenali."


"Ok, baik lah, Karena perbannya sudah di buka dan Nona sudah sehat mungkin tiga hari lagi boleh pulang."


"Trimakasih, Dok."


"Pak, Hendrato tolong ya tulis semua data kesehatan Nona Ningsih agar bisa secepatnya segera pulang."


"Baik, Dok!


Ketika pak Dokter Irawan sudah keluar dan kini tinggallah Ningsih bersama dengan Hendrato yang membantu pekerjaan Dokter Irawan.


"Pak, Hendrato bisakah keluar sebentar."


"Memangnya, kenapa?"


Dengan malu malu dan menunduk Ningsih berkata.


"Ini, pak, saya mau..! itu."


"Apa? tanya Hendrato penasaran.


"Resleting belakang saya terbuka, saya mau menaikkan nya."


"Oh, itu, sini aku bantu."


"Ja-jangan."


"Ngak, usah malu nanti aku buang muka biar tidak melihat kulit mu,"


"Tapi, pak!


"Memangnya, Ningsih bisa sendiri, kalau bisa ya sudah, silahkan."


Hendrato pergi membelakangi Ningsih yang sibuk menaikkan Resleting baju belakangnya yang terbuka, karena keteledoran dari sang perawat yang lupa karena buru buru karena dapat tugas tambahan jadinya lupa tidak menaikkan resleting Ningsih saat membantu berganti baju.


Merasa sedikit kesusahan Ningsih dengan malu malu memanggil dan meminta bantuan dari Hendrato.


"Pak, Hen! Tolong saya tidak bisa?"


"Tuh, apa ku bilang kan tangan kamu juga masih lemah."


Hendrato berjalan mendekati Ningsih, entah mengapa semakin dekat dengan Ningsih debar debar di dalam jantung berdetak dengan cepat entah kenapa pula tiba tiba sekujur tubuh bergetar dengan hebat ada rasa gugup yang tiba-tiba menyeruak ke dalam kalbunya.


Perasaan Aneh yang tak pernah dia rasakan ketika dekat dengan istrinya, tapi perasaan aneh itu pernah ada dan hadir ketika dia merenggut kesucian kekasihnya, bukan berniat ingin merampas mahkota seseorang akan tetapi kebodohan karena tak tau harus berbuat apa ketika melihat sang gadis pujaan hatinya berwajah membiru dan dingin seperti es sudah memberikan baju jaket agar sang kekasih tidak kedinginan hasilnya nihil tanpa pikir panjang terjadilah peristiwa itu kebodohan yang selalu menjadi penyesalan dalam hidupnya, akibatnya kini dia harus mendapatkan kebencian yang tak termaafkan dari sang kekasih yang sangat dia cintai.


Melihat Hendrato cuma berdiri mematung.


"Pak Hen, ayo, bantu saya, kok malah bengong."


"Oh, iya," jawab Hendrato gugup.


Dengan tangan bergetar Hendrato mulai menaikkan Resleting belakang Ningsih, akan tetapi ketika sampai pada leher ke bawah berjarak satu jengkal tangan Hendrato dengan cepat melangkah mundur menjauh dengan nafas tersengal segal seperti orang habis berlari atau seperti orang yang melihat hantu.


Melihat sikap Hendrato yang tiba-tiba mundur dan ngos-ngosan seperti habis berlari maraton, Ningsih mengerutkan keningnya.


"Ada apa, pak! kok seperti habis melihat hantu begitu."


"Ti-tidak, a-apa, aku boleh bertanya sesuatu."

__ADS_1


Ningsih mengagguk, memberikan jawaban pertanda dia tidak keberatan.


__ADS_2