Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.146.KUA MiMPI


__ADS_3

Hendrato melongo melihat tingkah Ningsih yang ikut buru buru makannya seolah olah tidak nyaman jika duduk berdua dengan nya apakah Ningsih memiliki rasa suka kepada Bima? tidak tidak itu tidak mungkin akulah cinta pertama nya dan sudah pasti akulah yang ada di dalam hatinya bukan Bima bukankah Bima hanya orang kedua yang masuk ke dalam kehidupan nya terlebih ingatan nya hilang."Gumam Hendrato dalam hati.


Ningsih segera melangkah menuju ke dalam mobil dan langsung duduk di barisan belakang. Bima yang melihat Ningsih datang mengkrucutkan dahinya.


"Kok, cepat! makannya," sapa Bima


"Memang, kenapa, masalah buat kamu?"sungut NIngsih kesal.


Bima semakin melotot melihat sikap jutek Ningsih.


"Ngak ada masalah dengan ku yang ada justru bermasalah dengan hatimu, kamu ingin selalu dekat dan berduaan dengan ku kan, makanya makannya cepat cepat."ledek Bima.


Ningsih yang merasa kesal segera turun dari mobil belakang dan dengan cepat membuka pintu mobil depan dan masuk kemudian menarik keras lengan Bima dan mendekatkan wajah Bima hingga menghadap nya.


"Apa kamu Bilang pak?"hatiku bermasalah, maksud Bapak apa?"


Ditarik dengan keadaan wajah semakin dekat menatap wajah Ningsih membut jantung Bima berpacu lebih cepat dari biasanya wajah Ningsih yang mendongak keatas dan tarikan Ningsih pada wajah Bima yang Terpaksa harus menatap leher jenjang Ningsih membuat Bima menelan ludahnya dengan kasar seakan akan kerongkongan nya terasa kering.


Dengan tatapan sayu yang karena mulai merasakan hawa panas karena aliran darah seolah seperti tersengat listrik dari dalam jiwanya membuat Bima berkata dengan sangat lirih.


"Lepaskan, tanganmu jangan memulai."


"Apa, memulai? memulai apa? bukankah kamu pak Bima yang memulai sehingga membuat ku emosi.


"Seila.. cukup!" hentikan, aku tidak bisa menahan lagi jika kamu terus begini."


"Apa? Seila! oh aku tau bapak menciumku juga karena Bapak lagi merindukan Seila istri Bapak karena istri Bapak tidak di rumah jadi semua di lampiaskan padaku begitu?"


Bima diam tidak menanggapi celoteh Ningsih hatinya sibuk mengatur gairah yang mulai menyusup ke dalam jiwa nya.


"Kenapa diam saja, jawab."suara Ningsih yang mengelegar bagaikan petir membuat Bima tak bisa berfikir fokus bagaimana tidak seperti petir wajah sudah sangat dekat eh bicara masih juga dengan berteriak Al hasil tanpa berfikir Bima menjawab.


"Iya."


Jawaban Bima bagaikan jarum suntik yang menancap di seluruh tubuh Ningsih.


",Apa? iya! kurang ajar sekali sih jadi kamu mencium ku tapi pikiran mu ke istrimu dasar play boy cap kadal." Teriak Ningsih sambil memukul mukul dada Bidang Bima sementara Bima yang mendapat kan pukulan dengan cepat menangkap tangan Ningsih tapi gagal tangan itu sangat terlatih dalam memukul dan menghindari tangkapan tangan lawan.


"Kenapa, memukul ku?"


"Kenapa, juga masih bertanya, kamu manusia tak punya perasaan."Sungut Ningsih kesal.


"Dengar, aku melakukan itu bukan karena aku membayangkan sedang bersama istriku tapi karena aku menganggapmu seperti istriku." ucap Bima lirih bahkan seperti tak terdengar.


"Apa itu artinya Bapak...

__ADS_1


"Iya, aku mencintai mu."


Ningsih menghentikan amarah dan pukulan nya ditatapnya wajah Bima lekat lekat seolah mencari kebenaran.


"Apa, yang Bapak katakan?"


"Tidak ada penggulangan berita kalau tidak dengar ya sudah," ucap Bima cuek, membuat Ningsih memukul kecil bahu Bima dan menyandarkan kepalanya pada bahu Bima untuk beberapa detik lamanya. Sedangkan Bima tersenyum dan mengusap lembut kepala Ningsih yang kemudian mendaratkan kecupan kening nya.


Dengan wajah merah merona Ningsih tersenyum dengan sedikit keberanian Ningsih mendekatkan wajahnya pada Bima dan...


"Cup..!" satu kecupan balasan mendarat di pipi kiri Bima membuat nya mendelik seketika Karena tidak menyangka akan mendapatkan balasan.


"Aku juga mencintaimu Pak," ucap Ningsih yang kemudian buru buru keluar dari mobil depan dan kembali duduk di mobil belakang, Bima membenarkan kaca sepion mobil dalam tepat mengarah kepada wajah NIngsih yang saat itu juga menatapnya , Bima memberikan kecupan kiss jarak jauh yang di arahkan pada kaca membuat wajah Ningsih semakin merah merona.


"Cinta benar benar indah dan membuat ku gila, aku sudah tau jika pak Bima telah beristri tapi entah mengapa aku tidak perduli kan itu Ningsih menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di kursi dengan memejamkan mata.


"Jangan berfikir yang tidak tidak , kalau mau tidur langsung tidur tidak perlu memikirkan apa-apa?'


"Ya," jawab Ningsih malas tapi di dalam hatinya dia berkata, mana bisa ngak mikir ya pasti mikir lah, iya situ ngak mikir Karena laki-laki suka selingkuh, aku Bagaimana ? dalam gelisah.


"Sial gara-gara ke kamar kecil mereka ku tinggalkan berdua semoga tidak terjadi apa apa pada mereka dan smoga mas Bima tidak mengambil kesempatan untuk bicara pada Ningsih Kalau dia adalah suaminya."


Dengan sedikit berlari Hendrato kembali menuju mobil Bima dari kejauhan terlihat Bima di depan dan Ningsih di belakang dengan kepala di sandaran pada kursi, Hendrato menarik nafas lega, Ningsih dan Bima tidak melakukan hal yang mencurigakan, diam diam Hendrato menyunging kan sebuah senyuman.


"Tidak apa-apa?'


wajah cantik Ningsih segera membuka matanya ketika Hendrato sudah duduk di sampingnya.


"Sini, Ningsih..!", sandarkan kepala mu di sini biar tidur nyenyak.


"Tidak, usah, aku sudah tidak ngantuk kok.'


"Tidak apa-apa, masak sama calon suami masih malu."


Ningsih menatap kaca spion yang ada di depannya ingin melihat reaksi Bima sedangkan Bima berpura-pura tidak mengetahui.


"Ya, sudah ayo mas jalan kita pulang."


Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang pertama tama yang di antar kan pulang adalah Ningsih kemudian Hendrato baru kemudian Bima pulang ke rumah nya.


Di perjalanan pulang Bima sengaja menghentikan mobilnya dan melakukan panggilan telepon. Mendengar Bunyi nada suara di dalam hapenya segera Ningsih mengangkatnya, wajahnya langsung menyunging kan sebuah senyuman.


"Halo..!


"Halo..Kamu sedang apa?"

__ADS_1


"Mau, mandi?"kenapa menelpon ku."


"Cuma ingin mendengar suaramu?"


"Apaan, sih pak! bukan kah tadi kita barusan bertemu."


Bima tersenyum.


"Iya, sih! tapi selalu kangen boleh kan?"


Ningsih mengerucutkan bibirnya yang bisa dengan jelas terlihat oleh Bima di depan layar hapenya.


"Bibirnya jangan di kerucutkan begitu, bikin gemes entar kalau dekat habis lho."


"Ngak takut."


"Besok tunggu aku di rumah ya aku akan datang."


"Tapi, pak! Nanti Bapak tidak suka dengan Pak Bima bagaimana?"


"Memanggil, pak resmi amat ganti dong kan kita pacaran, gimana?"


"Pacaran, mau di bawa ke mana? Bapak sudah beristri sedangkan aku sebentar lagi juga bersuami."


"Ku bawa Ke KUA lah."


"KUA, mimpi ya, pak!" sudahlah aku mau mandi gerah nih."


"Ya, sudah mandi sana tapi kiss dulu."


"Apaan, sih pak! lebay ah,"


"kalau ngak mau ya sudah, tidak kumatikan."


Dengan malas Ningsih akhirnya memberikan


kiss jarak jauh juga.


"Emmuaaaaahh." tanpa menunggu apa-apa langsung Ningsih matikan rasanya sangat malu meskipun entah kenapa hatinya mau, tak lama kemudian terdengar bunyi satu pesan masuk


isi pesan


"Trimakasih, sayang Emuuuuuaahh." Ningsih tersenyum membaca isi pesan itu hatinya berbunga-bunga.


"Biar ku nikmati kebahagiaan ini meskipun mungkin hanya kurang dari dua Minggu setidaknya aku bisa merasakan indahnya cinta sebelum akhirnya aku menjadi istri orang dan pak Bima tetap bersama dengan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2