Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.196 KECEWA


__ADS_3

Pagi yang indah pun kembali terlewati dengan manis, Bima yang pengertian dan penyayang tidak meminta lebih pada istri nya, Bima hanya memberikan sedikit ciuman dan sentuhan halus sedikit sebelum menutup kamar mandi dan membiarkan sang istri mandi dengan bebas tanpa ada gangguan dari nya.


Bagaikan seorang satpam Bima mondar mandir di depan kamar mandi. Seila yang hanya membutuhkan waktu 25 menit sudah menyelesaikan ritual mandi nya dan perlahan-lahan mulai membuka pintu kamar mandi, Bima yang mendengar suara pintu terbuka buru-buru mendekati sang istri dan hendak mengendong Seila, Namun niatnya dia urungkan ketika melihat tangan Seila diarahkan ke depan dengan lima jari terbuka yang mana hal itu sebagai tanda larangan agar Bima menghentikan langkah nya.


Bima yang tidak mengerti maksud dari istrinya menaikan satu alisnya, sebagai tanda suatu pertanyaan.


"Jangan sentuh aku kak?"


"Memangnya kenapa? bukankah kamu, maksud ku jalanmu masih sedikit sakit, lalu kenapa melarangku untuk membantumu, aku yang sudah membuat dirimu begitu dan aku yang akan bertanggungjawab untuk semuanya.


"Hei, Kak, kalau kamu menyentuh ku, bagaimana aku bisa melakukan Sholat subuh, wudhu ku bisa batal." sunguut Seila kesal karena Bima tidak memahaminya.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati sayang,"


"Haisss, kak Bima lebay," seru Seila yang kemudian berjalan ke tempat Sholat yang ada di dalam kamar.


Bima tidak memperdulikan cercaan sang istri, baginya Seila sudah bisa menerima cinta dan dirinnya itu sudah membuat Bima bahagia, terlebih sudah bisa menanam benih di rahim orang yang sanga dia cintai.


Bima merasa tidak sabar menunggu hari bahagia di mana Seila positif mengandung anak dari darah dagingnya.


Tak lama kemudian Seila keluar dari dalam kamar tempat untuk sholat, melihat sang istri keluar buru-buru Bima mendekati dan mengulum senyum padanya.


"Besok kita pulang ya, aku akan ijin pada ibu biar di ijinkan."


"Kenapa buru-buru kak sini Napa? apa kak Bima bosan jika tinggal di Rumah yang tidak terlalu besar ini."


"Bosan gimana, tentu saja tidak di mana ada kamu aku akan sangat betah dan krasan."


Seila hanya memanyunkan bibirnya menuju pintu. Melihat Seila hendak ke luar kamar buru-buru Bima mencegah nya dengan mencengkram tangan istrinya.

__ADS_1


"Seila, kau mau ke mana?"


"Ke luar lah, masak mau di kamar terus, lepaskan kak, ngapain sih pegang-pegang."


"Yakin, kamu ngak papa, apa sudah tidak sakit lagi."


Mendengar perkataan Bima yang menggingat kan kejadian malam panas mereka membuat Selai membulatkan kedua bola matanya.


"Apaan, sih,"Sungut Seila sambil melepaskan gengaman tangan Bima.


Bima meneguk ludahnya melihat sikap Seila yang selalu dingin padanya sikap yang sama ketika dia masih belum hilang ingatan, Seila yang hilang ingatan yang namanya berubah menjadi Ningsih dia sangat baik dan penurut tidak seperti dirinya saat ini.


Sementara di tempat lain di sebuah hotel termewah di kota X tampak seorang gadis sedang menangis meratapi nasibnya di bawah guyuran air shower.


Air mata tak henti hentinya mengalir sama seperti air shower yang terus mengeluarkan air dari dalam nya.


"Kenapa aku begitu bodoh dan laki-laki brengsek itu mengapa dia harus datang ke kamar dan merenggut semuanya." desis Nafa sanbil terus menyiram tubunya di bawah deras air shower..


"Rupanya calon istriku masih perawan, ini bagus artinya dia gadis baik-baik," gumam sang pemuda dengan menggulum senyum.


Nafa yang sudah menyelesaikan ritual mandi akhirnya keluar juga, melihat calon istri keluar dengan rambut basah pemuda itupun meneguk ludahnya dengan susah payah.


"Cantik, sekali kau benar-benar mempesona," lirih Sang pemuda yang matanya terus mengekor gerak gerik calon suaminya.


Merasa di perhatikan dan di tatap terus akhirnya Nafa menghentikan langkah kakinya.


"Apa ?" kenapa melihat seperti itu apa belum puas kau menghancurkan hidup ku."Sungut Nafa berapi-api, sangat terlihat jelas masih ada api kemarahan di mata biru nya.


Lagi-lagi pemuda itu meneguk ludahnya.

__ADS_1


"Kenapa kau marah-marah, bukankah semua atas persetujuan mu!"


"Apa?" dengar Agam aku tidak pernah meminta dan setuju berhubungan denganmu, kau benar-benar brengsek."


Agam Tersenyum sinis sambil berdecak.


"Apa, maksudmu, hah apa kau mau membatalkan pernikahan kita?"


"Ya, karena aku tidak sudih menjadi istrimu."


"Pok


"Pok


"Pok.


Agam bertepuk tangan Mendengar semua ucapan dari Nafa Gadis yang telah di jodohkan Ayahnya kepada nya.


"Bagus...!kau pikir aku rugi, aku sudah merasakan dan menikmati tubuh mu jadi jika kau mau membatalkan karena kau tidak mencintai ku, siapa takut, baik aku trima toh aku sudah mendapatkan nya trimakasih atas kenikmatan yang kau berikan padaku,"seru Agam sambil berlalu dan hendak melangkah keluar pintu.


"Dasar laki-laki brengsek,"teriak Nafa sanbil melempar kan bantal ke arah Agam.


"Buugh....! bantal berwarna putih bersih itupun melayang menggenai punggung Agam, suaranya memang sedikit berat akan tetapi rasanya tidak ada hanya seperti kapas yang jatuh.


Agam Tersenyum sinis, kemudian menggeluarkan dompet dan melemparkannya sebuah kartu yang sudah pasti di dalam kartu itu akan ada banyak nilai rupiah nya.


"Nih, untuk pelayanan mu semalam, kurasa itu lebih dari cukup untuk membayar keperawatan mu," Sungut Agam Yang kemudian membuka pintu dan keluar kamar dengan menutup kasar dan kasar pintu nya.


"Hei ..! kau...?"

__ADS_1


sia-sia sudah teriakan Nafa karena Agam sudah pergi jauh.


__ADS_2