
Arina tidak mengerti apa yang dilakukan Arya sehingga dia mengajaknya pergi ke restoran padahal di rumah sudah makan, ingin bertanya tapi serasa tidak enak hati akhirnya Arina hanya diam dan mengikuti langkah dari Arya yang membawanya masuk ke dalam sebuah restoran.
"Kita duduk di sini saja kamu mau pesan makan apa?" tanya Arya pada Arina.
sontak saja pertanyaan Arya membuat Arina sedikit terkejut pasalnya Arina sudah makan dan mengapa sekarang diajak ke restoran untuk makan kembali.
"bukankah kita sudah makan Kenapa kita ke sini untuk makan lagi," tanya Arina pada Arya yang mana pertanyaan Arina membuat Arya tersenyum.
"Kapan kamu makan Aku tadi melihat kamu tidak makan kamu hanya mengaduk-aduk nasi dan hanya menyuapkan beberapa sendok lalu kamu pergi Apakah itu yang namanya makan," tanya Arya pada Arina.
Satu perkataan yang membuat Arina sedikit terkejut akan tetapi hatinya serasa bahagia karena ternyata Arya diam-diam memperhatikan dirinya itu artinya masih ada harapan Arya masih mencintainya.
"Tapi aku sudah kenyang lebih baik tidak usah Bukankah kamu harus cepat pergi ke kantor nanti kamu akan terlambat loh Ayo kita pergi saja," ajak Arina pada Arya.
Arya terkekeh mendengar perkataan dari istrinya Arina.
"Sudahlah tidak perlu membuat alasan yang lain, Ayo kita makan kalau kamu tidak mau memesan makanan kesukaanmu biar Aku yang akan pesankan, aku juga tahu apa yang membuatmu suka," ucap Arya pada Arina, membuat Arina tersenyum kecut.
Hatinya yang keras dan beku lambat laun kini mulai terbuka, mulai bisa menerima jika orang yang ada di depannya adalah suaminya.
Arina merutuki kebodohan nya karena selama ini telah menyia-nyiakan cinta dan ketulusan Arya demi mengejar cinta Bima yang mana semua hanya sia-sia belaka.
"Arya datang dengan membawa beberapa pesanan makanan yang telah dia pesan, padahal sebenarnya Arya tidak perlu repot-repot untuk membawa makanan itu sendiri Karena ada pelayan tapi Arya melakukannya demi melayani sang istri.
__ADS_1
"Ayo kita makan," ajak Arya pada Arina.
Arina mengeryitkan dahinya menatap tajam pada Arya, Bagaimana mungkin Arya bisa makan lagi sedangkan baru saja dia makan nasi goreng buatan Novi di Rumah.
"Apa kamu nggak salah pesan makanan, banyak sekali pesanan mu,, bukankah tadi kamu sudah makan nasi goreng di Rumah kenapa sekarang pesan makanan lagi apa mungkin kamu masih lapar," tanya Arina pada Arya.
Arya tersenyum menanggapi pertanyaan dari Arina istrinya.
"Tentu saja aku sudah kenyang tapi karena Aku ingin menemani istriku untuk makan maka aku merasa masih sangat lapar,"sudah Ayo kita makan." Ajak Arya pada Arina.
Di tempat yang berbeda disebuah ruangan dan rumah yang cukup jauh dari perkotaan tampak seorang pemuda sedang terikat kuat pada kursi
semenjak dua malam yang lalu dia sudah menjadi pesakitan di rumah itu, yang mana tubuhnya terikat kuat sedangkan diriinya tidak memiliki kebebasan apapun.
"Apa kamu mau tahu kesalahanmu Jika kamu ingin tahu coba katanya pada Kak Bima bertanyalah padanya biar kamu tahu apa kesalahanmu seharusnya kamu itu sudah tahu kenapa kamu berada di tempat ini kenapa kamu kami tawan di sini dan jika kamu tidak tahu itu adalah kebodohanmu," sinis Bondet yang mana langsung pergi meninggalkan tempat itu keluar ke ruang tamu dan memanggil Bima untuk masuk ke dalam," Kak Bima orang di dalam sana sangat cerewet sekali pusing kepalaku kak Bima saja yang atur biar aku berjaga disini,"Bondet segera mendudukkan bokongnya dengan berselonjor kaki meraih satu batang rokok dan menghisaapnya dengan santai.
Sementara Bima hanya tersenyum simpul mendengar pengaduan dan celoteh dari Bondet anak buahnya bisa dikatakan muridnya Karena Bondet juga salah satu murid karate yang ada di bawah naungan Bima, selain itu Bondet juga menjadi salah satu karyawan Bima di satu perusahaan dagang miliknya.
"Baiklah kamu tunggu disini," seru Bima pada Bondet.
melihat kedatangan Bima laki-laki itu menatap dengan tajam kemudian berteriak dengan sangat keras dan lantang.
"Woi, lepaskan Aku, Jangan hanya menjadi seorang pengecut dengan mengikatku, kalau berani ayo kita bertarung!"seru laki-laki yang terikat dengan lantang.
__ADS_1
Bima tersenyum miring Mendengar semua celoteh dari tawanannya.
"Katakan padaku dimana markas Boss mu berada?"
"Apa, ha-ha-ha jangan mimpi Aku tidak akan memberitahu kan nya ,"
"Oh, ya apa kau yakin,"
"Tentu saja,"
Dengan tenang Bima melangkah.
"Katakan sekali lagi,"
Laki-laki yang terikat tidak bisa berkata apa-apa mana kala melihat pistol yang ada di tangan Bima, laki-laki itu sangat khawatir jika Bima tiba-tiba menembakkan pistol padanya.
"Aku,_
"Dooorr!" sebuah tembakan tepat disamping kaki laki-laki yang terikat menbuat tubuh laki-laki itu semakin bergetar ketakutan, Bahkan Bondet yang berada di Ruang tamu ikut terperanjat kaget sehingga dengan cepat melompat dari duduknya dan berlari masuk kedalam Ruangan dimana tempat Tawanan disekaap.
Ketika sampai di dalam Bondet menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
"Kak Bima aku pikir apa bikin kaget dan jantungan saja." ucap Bondet yang mana langsung berjalan mendekati tawanan mereka.
__ADS_1