
Entah kenapa tiba-tiba kepalaku serasa
berputar putar, pandangan ku pun mulai
sedikit kabur.
"Pergilah, jangan buat permainan, kepala
ku pusing," Ucapku sambil memegang
kepala yang tiba tiba berdenyut.
"Apa serius, aku tidak main main, aku mau
menikahimu,"Ucap Bima untuk kesekian
kalinya.
"Kamu sudah ngak waras, apa kamu
tidak bisa mendengar aku sudah bilang
aku bukan gadis lagi, aku sudah tidak perawan
lagi, jadi pergilah," Teriak ku keras sampai
sang Ayah mendekati kami.
"Ada, apa?" Tanya Ayah cemas melihat
aku berteriak histeris.
Ayah menatap Bima dengan tatapan
penuh pertanyaan.
"Maaf, nak Bima ..!"putriku sangat kasar dan
keras kepala, mungkin dia belum bisa
menerima kalau Nak Bima menolak nya,
maaf kan kami Nak,"Ucap sang Ayah kala
itu.
Dia tidak mengerti kenapa aku berteriak
Ayah mengira karena Bima menolak
menikahi putrinya.
"Saya, mau menjadi kan putri Bapak sebagai
istri saya...!"saya mau menikahinya,"Ucap
Bima tegas.
"Dia, gila ,Ayah..,! jangan dengarkan ocehannya
dia belum bisa berfikir dengan benar,"
Sahutku menyadarkan keinginan Ayah hanya
sebuah mimpi belaka.
"Putriku, benar, Nak Bima !' mungkin lagi
terbawa perasaan pada kami sehingga tidak
bisa berfikir dengan benar,"
"Apakah salah, jika saya mau menikahinya?"
Apakah tidak boleh saya menjadi kan dia
sebagai istri,"
"Tapi, Nak Bima, kamu pasti akan kecewa
dan kamu tidak akan bahagia mendapatkan
gadis sisa orang."
"Cinta adanya dalam hati, aku mencintai
putri Bapak, jadi silahkan Bapak tentukan
hari dan tanggal pernikahan kami, aku
siap menikahinya."
"Apa, Nak Bima serius,"
"Tentu saja, saya serius, jika Ingin bukti
hari ini di suruh menikahinya aku juga
siap dan bersedia."Ucap Bima menjelaskan.
"Dasar orang aneh," Sunggut ku sambil
ngloyor masuk meninggalkan Bima dan
Ayah.
__ADS_1
Dari kejauhan ku lihat Ayah begitu haru
hingga dia memeluk Bima.
pelukan yang membuat ku muak dan
serasa mau muntah.
Hari berganti waktupun berlalu Acara
akad Nikah pun tiba semua berjalan
dengan meriah senyum tersungging
dari kedua orang tua ku begitu juga
dengan Bima.
Setelah Resmi menjadi istrinya pun sikapku
tidak berubah, segalanya harus menggikuti
aturan ku, Bima cukup kaya sehingga
kami sudah memiliki rumah sendiri setelah
menikah, sikapnya yang manis membuat ku
semakin muak dan marah padanya.
Cinta, tidak ada cinta cinta yang ada Bima
menikahiku itu karena rasa kasian tidak ada
cinta, apa gombal gombal begitu.
Tanpa merasa berdosa kewajiban sebagai seorang istripun tidak pernah ku berikan.
hidup serumah satu atap tapi tidak pernah
bersama dalam satu ranjang.
Bima tidak pernah komplin dengan sikap
dan aturan ku. Sampai pada suatu hari datang
lah teman dekatku dengan penuh linangan
air mata sambil di tangannya mendekap
seorang bayi yang masih merah.
Kala itu dia bercerita jika tidak menaruh
bunuh karena sang Ayah terlilit hutang
dan hutang itu bisa di anggap lunas jika
Dia menyerahkan anaknya untuk di jadikan
istri ke empat nya dengan syarat tidak boleh
membawa anaknya.
Tidak tega membawa sang anak kepantai
Asuhan maka dia membawa nya ke pada
Seila dengan harapan mau menjadi kan
anaknya seperti anaknya sendiri.
Tanpa menunggu persetujuan Bima sebagai
sang Suami, Seila langsung menerima dan
jadilah Seila seorang ibu dari anak sahabat
nya.
Bima yang berhati lembut ternyata tidak
keberatan dengan itu, dia juga dengan ihklas
menerima dan mau menjadi kan anak dari
sahabat nya Seila jadilah dia juga Ayah
dari bayi sahabat nya Seila.
"Cetok..!"
Sebuah Bunyi jari tangan yang sengaja di
bunyikan di depan Seila membuat Seila
tersentak kaget dari lamunannya.
"Di mintai kiss, kok malah melamun, ada
apa ?" kalau ngak ihklas ngak boleh bilang
saja jangan melamun begitu," Ucap Bima
membuyarkan lamunan nya.
__ADS_1
"Apa..!tadi ngomong apa?"
"Tuh, kan, ngak tau juga apa yang ku bicara
kan, minta kiss boleh ngak?"
Ucap Bima mengulang pertanyaan.
Dengan sedikit malu malu meskipun
sesungguhnya juga mau Seila mengagguk.
Melihat istri kesayangan nya gugup Bima
tersenyum dalam hati, bikin gemes saja
ini istri,"Gumam Bima dalam hati.
Bima mendekat kan wajahnya sedikit terangkat ke Seila.
"Cup," Bima mengecup kening Seila.
"Ayo, kita turun di sana ada warung kopi
kita makan dulu, kiss bibirnya buat nanti
malam saja di ranjang kita,"Ucap Bima
mengoda dia paling suka membuat
Seila salah tingkah.
"Masak masih bersambung sampai
nanti malam sih?"Tanya Seila komplin.
Bima terkekeh.
"Tentu saja, masih bersambung, orang
buat cerita novel juga masih bersambung
kok,"Jawab Bima dengan senyum nakal mengembang di bibirnya.
Seila yang merasa greget dengan ulah
suaminya di pukul nya dada bidang Bima.
Dengan cepat Bima menangkap tangan
putih halus itu dengan sekali tarikan
tubuh Seila sudah merapat dekat dengan
tubuh Bima, hembusan nafas mereka
sudah saling menyapu wajah masing
Masing.
Gejolak rasa dalam jiwa mulai merangkak
naik di atas permukaan hati yang terbawa
arus gairah, perlahan lahan Bima mulai
menurunkan wajahnya, dengan lembut
Bima mengecup bibir tipis milik Seila
dan memainkan nya sejenak dengan
penuh kelembutan, membuat seluruh
tubuh Seila menjadi panas dingin di
buatnya untuk beberapa detik lamanya
Bima asik dengan nenyesap bibir kenyal
istrinya.
Kali ini Seila tidak menolak apa yang di
lakukan suaminya, untuk beberapa detik
kedua nya larut dalam kobaran cinta
sebelum kemudian Bima mengakhiri nya.
Bima melepaskannya sambil tersenyum
penuh dengan kepu*san.
"Trimakasih sayang, ayo kita turun," Ajak
Bima kepada Seila.
Bima membuka pintu mobil dan meraih
tangan istrinya membantu nya turun dari
mobil, kemudian keduanya berjalan
menuju warung kecil di pinggir jalan.
__ADS_1