Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.67.MASIH BERSAMBUNG


__ADS_3

Entah kenapa tiba-tiba kepalaku serasa


berputar putar, pandangan ku pun mulai


sedikit kabur.


"Pergilah, jangan buat permainan, kepala


ku pusing," Ucapku sambil memegang


kepala yang tiba tiba berdenyut.


"Apa serius, aku tidak main main, aku mau


menikahimu,"Ucap Bima untuk kesekian


kalinya.


"Kamu sudah ngak waras, apa kamu


tidak bisa mendengar aku sudah bilang


aku bukan gadis lagi, aku sudah tidak perawan


lagi, jadi pergilah," Teriak ku keras sampai


sang Ayah mendekati kami.


"Ada, apa?" Tanya Ayah cemas melihat


aku berteriak histeris.


Ayah menatap Bima dengan tatapan


penuh pertanyaan.


"Maaf, nak Bima ..!"putriku sangat kasar dan


keras kepala, mungkin dia belum bisa


menerima kalau Nak Bima menolak nya,


maaf kan kami Nak,"Ucap sang Ayah kala


itu.


Dia tidak mengerti kenapa aku berteriak


Ayah mengira karena Bima menolak


menikahi putrinya.


"Saya, mau menjadi kan putri Bapak sebagai


istri saya...!"saya mau menikahinya,"Ucap


Bima tegas.


"Dia, gila ,Ayah..,! jangan dengarkan ocehannya


dia belum bisa berfikir dengan benar,"


Sahutku menyadarkan keinginan Ayah hanya


sebuah mimpi belaka.


"Putriku, benar, Nak Bima !' mungkin lagi


terbawa perasaan pada kami sehingga tidak


bisa berfikir dengan benar,"


"Apakah salah, jika saya mau menikahinya?"


Apakah tidak boleh saya menjadi kan dia


sebagai istri,"


"Tapi, Nak Bima, kamu pasti akan kecewa


dan kamu tidak akan bahagia mendapatkan


gadis sisa orang."


"Cinta adanya dalam hati, aku mencintai


putri Bapak, jadi silahkan Bapak tentukan


hari dan tanggal pernikahan kami, aku


siap menikahinya."


"Apa, Nak Bima serius,"


"Tentu saja, saya serius, jika Ingin bukti


hari ini di suruh menikahinya aku juga


siap dan bersedia."Ucap Bima menjelaskan.


"Dasar orang aneh," Sunggut ku sambil


ngloyor masuk meninggalkan Bima dan


Ayah.

__ADS_1


Dari kejauhan ku lihat Ayah begitu haru


hingga dia memeluk Bima.


pelukan yang membuat ku muak dan


serasa mau muntah.


Hari berganti waktupun berlalu Acara


akad Nikah pun tiba semua berjalan


dengan meriah senyum tersungging


dari kedua orang tua ku begitu juga


dengan Bima.


Setelah Resmi menjadi istrinya pun sikapku


tidak berubah, segalanya harus menggikuti


aturan ku, Bima cukup kaya sehingga


kami sudah memiliki rumah sendiri setelah


menikah, sikapnya yang manis membuat ku


semakin muak dan marah padanya.


Cinta, tidak ada cinta cinta yang ada Bima


menikahiku itu karena rasa kasian tidak ada


cinta, apa gombal gombal begitu.


Tanpa merasa berdosa kewajiban sebagai seorang istripun tidak pernah ku berikan.


hidup serumah satu atap tapi tidak pernah


bersama dalam satu ranjang.


Bima tidak pernah komplin dengan sikap


dan aturan ku. Sampai pada suatu hari datang


lah teman dekatku dengan penuh linangan


air mata sambil di tangannya mendekap


seorang bayi yang masih merah.


Kala itu dia bercerita jika tidak menaruh


bunuh karena sang Ayah terlilit hutang


dan hutang itu bisa di anggap lunas jika


Dia menyerahkan anaknya untuk di jadikan


istri ke empat nya dengan syarat tidak boleh


membawa anaknya.


Tidak tega membawa sang anak kepantai


Asuhan maka dia membawa nya ke pada


Seila dengan harapan mau menjadi kan


anaknya seperti anaknya sendiri.


Tanpa menunggu persetujuan Bima sebagai


sang Suami, Seila langsung menerima dan


jadilah Seila seorang ibu dari anak sahabat


nya.


Bima yang berhati lembut ternyata tidak


keberatan dengan itu, dia juga dengan ihklas


menerima dan mau menjadi kan anak dari


sahabat nya Seila jadilah dia juga Ayah


dari bayi sahabat nya Seila.


"Cetok..!"


Sebuah Bunyi jari tangan yang sengaja di


bunyikan di depan Seila membuat Seila


tersentak kaget dari lamunannya.


"Di mintai kiss, kok malah melamun, ada


apa ?" kalau ngak ihklas ngak boleh bilang


saja jangan melamun begitu," Ucap Bima


membuyarkan lamunan nya.

__ADS_1


"Apa..!tadi ngomong apa?"


"Tuh, kan, ngak tau juga apa yang ku bicara


kan, minta kiss boleh ngak?"


Ucap Bima mengulang pertanyaan.


Dengan sedikit malu malu meskipun


sesungguhnya juga mau Seila mengagguk.


Melihat istri kesayangan nya gugup Bima


tersenyum dalam hati, bikin gemes saja


ini istri,"Gumam Bima dalam hati.


Bima mendekat kan wajahnya sedikit terangkat ke Seila.


"Cup," Bima mengecup kening Seila.


"Ayo, kita turun di sana ada warung kopi


kita makan dulu, kiss bibirnya buat nanti


malam saja di ranjang kita,"Ucap Bima


mengoda dia paling suka membuat


Seila salah tingkah.


"Masak masih bersambung sampai


nanti malam sih?"Tanya Seila komplin.


Bima terkekeh.


"Tentu saja, masih bersambung, orang


buat cerita novel juga masih bersambung


kok,"Jawab Bima dengan senyum nakal mengembang di bibirnya.


Seila yang merasa greget dengan ulah


suaminya di pukul nya dada bidang Bima.


Dengan cepat Bima menangkap tangan


putih halus itu dengan sekali tarikan


tubuh Seila sudah merapat dekat dengan


tubuh Bima, hembusan nafas mereka


sudah saling menyapu wajah masing


Masing.


Gejolak rasa dalam jiwa mulai merangkak


naik di atas permukaan hati yang terbawa


arus gairah, perlahan lahan Bima mulai


menurunkan wajahnya, dengan lembut


Bima mengecup bibir tipis milik Seila


dan memainkan nya sejenak dengan


penuh kelembutan, membuat seluruh


tubuh Seila menjadi panas dingin di


buatnya untuk beberapa detik lamanya


Bima asik dengan nenyesap bibir kenyal


istrinya.


Kali ini Seila tidak menolak apa yang di


lakukan suaminya, untuk beberapa detik


kedua nya larut dalam kobaran cinta


sebelum kemudian Bima mengakhiri nya.


Bima melepaskannya sambil tersenyum


penuh dengan kepu*san.


"Trimakasih sayang, ayo kita turun," Ajak


Bima kepada Seila.


Bima membuka pintu mobil dan meraih


tangan istrinya membantu nya turun dari


mobil, kemudian keduanya berjalan


menuju warung kecil di pinggir jalan.

__ADS_1


__ADS_2