Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.66. PUCUK DI CINTA ULAMPUN TIBA


__ADS_3

Perlahan lahan Seila menengadahkan


kepalanya, meskipun sedikit gugup dan


kikuk, Seila mulai menatap wajah Bima.


Semenjak hatinya memiliki rasa lebih pada


laki laki di sampingnya ini, semenjak itu pula


Seila sering di buat salah tingkah.Angan


nya mulai melayang ke masa silam.


Pernikahan mereka sudah mencapai dua


tahun, namun penyatuan hati mereka baru


di mulai dalam beberapa bulan terakhir,


semua tidak lah mudah bagi Seila yang


awal mula tidak pernah memiliki rasa


cinta sedikit pun pada Bima, kehadiran


Bima dalam kehidupan nya dia anggap


hanya sebagai suatu perwujudan rasa


kasian, dari sebuah permainan takdir


pahit yang telah menimpa dirinya kala


itu, dimana dia sedang terpuruk jatuh


dalam kenistaan permainan cinta dunia


dimana orang yang telah merengut


kehormatan nya justru meninggalkan


nya tanpa perduli dengan nya.


Sebagai seorang putri kepala desa yang


sangat di hormati oleh warganya tentulah


keadaan Seila merupakan suatu Aib, yang


sangat mencoreng nama baik keluarga.


Suatu hal yang menguntungkan bagi Seila


dia terlahir menjadi seorang gadis yang


cantik, bahkan bisa di sebut bunga desa


banyak sekali pria yang tertarik dan tergila


gila padanya kala itu.


Namun Seila tetaplah gadis desa yang


memiliki perasaan yang sama seperti gadis


gadis desa pada umumnya, dia lebih tertarik


pada pemuda kota, maka berlabuh lah


hatinya pada pemuda kota.


Lagi lagi harapan tak seindah kenyataan


mimpinya, cintanya, harus berakhir dalam


sebuah penghianatan, di mana sang kekasih


memilih menerima di jodhokan dengan gadis


lain, sedangkan kala itu kehormatan nya


telah terenggut.


Apa yang dialami Seila tidak membuat


sang Ayah murka, seorang Ayah yang sangat


mencintai Anaknya rela melakukan apa saja


demi menjaga agar putri tunggal nya tidak


lebih terpuruk jatuh.


Dibuatlah sebuah pengumuman siapa yang


bersedia menjadi menantunya.


banyak sekali para pemuda desa yang datang


melamar namun tak satupun Ayahnya trima


dan semua yang datang juga di berikan


penjelasan bahwa putrinya sudah tiada


suci lagi, ada yang tiba tiba pergi mundur


dari lamaran ada yang tetap maju melamar.


Namun semua di tolak sang Ayah entah


dengan alasan apa kala itu hati Seila sudah


lega, karena tidak ada satu pemuda pun


yang menarik hati sang Ayah sehingga


Seila bebas dari kata di nikahkan.


Seila berfikir akan pergi jauh dari desa itu


dia akan menjalani sisa hidupnya dengan


jauh dari keluarga karena tidak mungkin


menetap di desa dengan Aib yang dia bawa.


Namun ketika hari mulai senja datang lah


seorang pemuda kerumah dan dengan


tegas mau menerima Seila dan mau


menikahinya meskipun tau Seila sudah


bukan gadis suci lagi.


Pucuk di cinta ulampun tiba begitu kira


kira pepatah yang tepat untuk hati Ayah


nya, jauh sebelum Seila dengan pemuda

__ADS_1


kota sang Ayah sering memuji dan sudah


tertarik serta dia selalu membanggakan


salah satu pemuda desa yang menurut


nya lebih cocok dan pantas jadi kekasih


nya di bandingkan dengan pemuda kota


yang Seila banggakan.


Ketika itu sang Ayah selalu saja memuji


muji Bima, entah apa yang dilakukan


Bima kepada Ayahnya saat itu, sang Ayah


tak henti hentinya memuji membuat Seila


muak dan jengah, tidak di meja makan


tidak di ruang tamu, bahkan ketika Seila


lagi asik main game pun sang Ayah selalu


membicarakan Bima , Bima dan Bima


Membuat dirinya kala itu berteiak dengan


kasar.


"Aku sudah punya pacar Ayah !"dan dia


yang Ayah bangga kan bukan tipeku,"


Ucapku kala itu, yang mampu membuat


sang Ayah terdiam, tak pernah lagi Ayah


bicara dan membanggakan Bima lagi.


Akupun senang sudah tidak mendapat


kan dorongan agar dekat dengan Bima.


Bima dan Bima lagi aku sudah bebas


dengan pilihan hatiku hanya empat


kalimat yang Ayah ucap ketika itu.


"Smoga kau bahagia Nak."


Aku berfikir pilihanku yang terbaik orang


yang aku bangga kan dia yang terbaik


Tapi ternyata aku salah, kini aku terpuruk


dalam duka membuat nama baik keluarga


hancur dan reputasi Ayah di mata warga


desanya kini di pertanyakan.


Berfikir sang Ayah akan marah dan dia


akan menghukum kelakuan ku namun


tidak dengan sabar dan penuh kasih


sayang Ayah justru mencari kan jalan


keluar yang baik untuk kondisi ku.


kala itu aku tidak bisa berbuat apa apa


selain harus patuh dan menerima.


Sangat senang ketika para pemuda


yang berdatangan melamar ke rumah


banyak yang tiba tiba mundur ataupun


di tolak sang Ayah.


Aku berfikir semua sudah selesai, namun


ternyata semua belum selesai ketika


sore itu, Aku melihat Bima datang


ke rumah dengan motornya.


Aku tidak habis pikir kenapa, ada orang


sebodoh Bima, dia bukanlah pemuda


miskin juga bukan pemuda yang sepi


pengemar cewek, tapi kenapa justru


datang kerumah datang melamar.


Dan seperti pepatah lama pucuk di


cinta ulampun tiba, sudah lama Ayah


sangat suka dan tertarik padanya tentu


saja tanpa A, B, C di tanya tanya Bima


langsung di terima.


Kala itu aku berdoa agar Bima mundur


dan menjauh pergi ketika sang Ayah


menceritakan bahwa aku sudah bukan


gadis lagi. Aku sangat yakin dia akan


pergi siapapun tidak akan sudih menerima


sisa orang lain, untuk itu aku dengan santai


nya tidak keberatan ketika sang Ayah


memintaku untuk membuat kan secangkir


kopi, karena permintaan Bima juga pada


sang Ayah, katanya Bima ingin bicara sendiri


maksud nya Bima mau memberikan jawaban


sendiri kepadaku, dia tetap menerima atau


menolak ketika dia sudah tau aku sudah


tidak suci lagi.

__ADS_1


"Sudah cepat di minum kopinya, lalu


pergi," titah ku kala itu.


yang di sambut dengan tatapan tajam


dari Bima.


"Kau, mengusirku,"Ucapnya kala itu.


Ku berikan senyum ku yang paling manis


untuk nya.


"Meskipun aku tidak mengusirmu, kamu


pasti juga akan pergi," Jawabku enteng.


"Tapi, aku belum memberikan jawaban,"Ucap


Bima ketika itu.


Aku duduk tepat di hadapannya aku tatap


dia dengan tatapan tajam.


Bagiku Bima bukan orang asing kami sudah


sama sama mengenal meskipun tidak


begitu dekat, Bima adalah teman satu


sekolah yang cuma berbeda kelas kala itu.


"Tidak perlu menjelaskan aku sudah tau


jawabanmu, jadi cepat habiskan kopimu


lalu pergi."


Bima semakin tajam menatapku entah apa


yang tersembunyi di sana mungkin


kesal dan marah dengan caraku atau


entahlah aku tidak bisa menerkanya.


"Memang apa jawaban ku untuk mu," Tanya Bima tiba tiba kala itu.


mendengar ucapan nya aku tertawa karena


aku merasa Bima sangat lucu yang berpura


pura bodoh.


"Apa iya, harus kujelaskan, Tuan Bima yang


terhormat, di mana mana itu, jawaban nya


sama , mana ada orang mau menerima


bekas sisa orang, jadi ngak perlu di jelaskan


lagi sudah pasti kamu juga akan memilih


mundur dan pergi, tapi tenang slow saja


tidak apa apa, habiskan dulu kopimu baru


kau pergi," Ucapku sambil tersenyum.


"Kopi buatan kamu ngak enak hambar sama


dengan ucapan kamu," Ucap Bima membalas


ledekan ku.


"Ya, sudah, ngak usah di minum, pulang


sana nanti minta sama calon istrimu


yang enak buatnya, ya," ucapku sambil


terus tersenyum.


"Kamu, Kenapa terlihat pucat,"Tanya Bima


mengalihkan pembicaraan.


Dengan enteng tanpa malu dan tidak


berniat menutupi apapun ku jawab.


"Habis keguguran," Jawabku singkat


Ketika aku mengucapkan habis keguguran


Bima menatapku dengan tatapan aneh


seperti orang yang kasian tatapan nya


tiba tiba begitu sendu, kopi yang tadi


sudah terangkat dan hendak di minum


mendadak tidak jadi.


"Pasti, sakit ya, harus banyak istirahat,"


Ucap Bima kala itu.


"Kamu, benar, kalau begitu kamu cepat


pulang sana,"


Bima menelan ludahnya dengan kasar


melihat sikapku yang super dingin,


sedangkan sang Ayah yang mengintip


dari kejauhan Kulihat memegangi kepala


nya mungkin kesal juga dengan ketidak


sopananku terhadap tamu istimewa nya.


"Tapi, aku belum memberikan jawaban,"


"Sudahlah, ngak perlu di ulang aku sudah


tau jawabannya, jadi pergilah, aku sudah


capek, mau istirahat."


"Baiklah, aku akan, pulang katakan pada


Ayahmu, suru cepat menentukan tanggal


pernikahan kita,"


Seketika aku membulatkan kedua bola

__ADS_1


mataku tak percaya dengan apa yang


ku dengar.


__ADS_2