
Perlahan lahan Seila menengadahkan
kepalanya, meskipun sedikit gugup dan
kikuk, Seila mulai menatap wajah Bima.
Semenjak hatinya memiliki rasa lebih pada
laki laki di sampingnya ini, semenjak itu pula
Seila sering di buat salah tingkah.Angan
nya mulai melayang ke masa silam.
Pernikahan mereka sudah mencapai dua
tahun, namun penyatuan hati mereka baru
di mulai dalam beberapa bulan terakhir,
semua tidak lah mudah bagi Seila yang
awal mula tidak pernah memiliki rasa
cinta sedikit pun pada Bima, kehadiran
Bima dalam kehidupan nya dia anggap
hanya sebagai suatu perwujudan rasa
kasian, dari sebuah permainan takdir
pahit yang telah menimpa dirinya kala
itu, dimana dia sedang terpuruk jatuh
dalam kenistaan permainan cinta dunia
dimana orang yang telah merengut
kehormatan nya justru meninggalkan
nya tanpa perduli dengan nya.
Sebagai seorang putri kepala desa yang
sangat di hormati oleh warganya tentulah
keadaan Seila merupakan suatu Aib, yang
sangat mencoreng nama baik keluarga.
Suatu hal yang menguntungkan bagi Seila
dia terlahir menjadi seorang gadis yang
cantik, bahkan bisa di sebut bunga desa
banyak sekali pria yang tertarik dan tergila
gila padanya kala itu.
Namun Seila tetaplah gadis desa yang
memiliki perasaan yang sama seperti gadis
gadis desa pada umumnya, dia lebih tertarik
pada pemuda kota, maka berlabuh lah
hatinya pada pemuda kota.
Lagi lagi harapan tak seindah kenyataan
mimpinya, cintanya, harus berakhir dalam
sebuah penghianatan, di mana sang kekasih
memilih menerima di jodhokan dengan gadis
lain, sedangkan kala itu kehormatan nya
telah terenggut.
Apa yang dialami Seila tidak membuat
sang Ayah murka, seorang Ayah yang sangat
mencintai Anaknya rela melakukan apa saja
demi menjaga agar putri tunggal nya tidak
lebih terpuruk jatuh.
Dibuatlah sebuah pengumuman siapa yang
bersedia menjadi menantunya.
banyak sekali para pemuda desa yang datang
melamar namun tak satupun Ayahnya trima
dan semua yang datang juga di berikan
penjelasan bahwa putrinya sudah tiada
suci lagi, ada yang tiba tiba pergi mundur
dari lamaran ada yang tetap maju melamar.
Namun semua di tolak sang Ayah entah
dengan alasan apa kala itu hati Seila sudah
lega, karena tidak ada satu pemuda pun
yang menarik hati sang Ayah sehingga
Seila bebas dari kata di nikahkan.
Seila berfikir akan pergi jauh dari desa itu
dia akan menjalani sisa hidupnya dengan
jauh dari keluarga karena tidak mungkin
menetap di desa dengan Aib yang dia bawa.
Namun ketika hari mulai senja datang lah
seorang pemuda kerumah dan dengan
tegas mau menerima Seila dan mau
menikahinya meskipun tau Seila sudah
bukan gadis suci lagi.
Pucuk di cinta ulampun tiba begitu kira
kira pepatah yang tepat untuk hati Ayah
nya, jauh sebelum Seila dengan pemuda
__ADS_1
kota sang Ayah sering memuji dan sudah
tertarik serta dia selalu membanggakan
salah satu pemuda desa yang menurut
nya lebih cocok dan pantas jadi kekasih
nya di bandingkan dengan pemuda kota
yang Seila banggakan.
Ketika itu sang Ayah selalu saja memuji
muji Bima, entah apa yang dilakukan
Bima kepada Ayahnya saat itu, sang Ayah
tak henti hentinya memuji membuat Seila
muak dan jengah, tidak di meja makan
tidak di ruang tamu, bahkan ketika Seila
lagi asik main game pun sang Ayah selalu
membicarakan Bima , Bima dan Bima
Membuat dirinya kala itu berteiak dengan
kasar.
"Aku sudah punya pacar Ayah !"dan dia
yang Ayah bangga kan bukan tipeku,"
Ucapku kala itu, yang mampu membuat
sang Ayah terdiam, tak pernah lagi Ayah
bicara dan membanggakan Bima lagi.
Akupun senang sudah tidak mendapat
kan dorongan agar dekat dengan Bima.
Bima dan Bima lagi aku sudah bebas
dengan pilihan hatiku hanya empat
kalimat yang Ayah ucap ketika itu.
"Smoga kau bahagia Nak."
Aku berfikir pilihanku yang terbaik orang
yang aku bangga kan dia yang terbaik
Tapi ternyata aku salah, kini aku terpuruk
dalam duka membuat nama baik keluarga
hancur dan reputasi Ayah di mata warga
desanya kini di pertanyakan.
Berfikir sang Ayah akan marah dan dia
akan menghukum kelakuan ku namun
tidak dengan sabar dan penuh kasih
sayang Ayah justru mencari kan jalan
keluar yang baik untuk kondisi ku.
kala itu aku tidak bisa berbuat apa apa
selain harus patuh dan menerima.
Sangat senang ketika para pemuda
yang berdatangan melamar ke rumah
banyak yang tiba tiba mundur ataupun
di tolak sang Ayah.
Aku berfikir semua sudah selesai, namun
ternyata semua belum selesai ketika
sore itu, Aku melihat Bima datang
ke rumah dengan motornya.
Aku tidak habis pikir kenapa, ada orang
sebodoh Bima, dia bukanlah pemuda
miskin juga bukan pemuda yang sepi
pengemar cewek, tapi kenapa justru
datang kerumah datang melamar.
Dan seperti pepatah lama pucuk di
cinta ulampun tiba, sudah lama Ayah
sangat suka dan tertarik padanya tentu
saja tanpa A, B, C di tanya tanya Bima
langsung di terima.
Kala itu aku berdoa agar Bima mundur
dan menjauh pergi ketika sang Ayah
menceritakan bahwa aku sudah bukan
gadis lagi. Aku sangat yakin dia akan
pergi siapapun tidak akan sudih menerima
sisa orang lain, untuk itu aku dengan santai
nya tidak keberatan ketika sang Ayah
memintaku untuk membuat kan secangkir
kopi, karena permintaan Bima juga pada
sang Ayah, katanya Bima ingin bicara sendiri
maksud nya Bima mau memberikan jawaban
sendiri kepadaku, dia tetap menerima atau
menolak ketika dia sudah tau aku sudah
tidak suci lagi.
__ADS_1
"Sudah cepat di minum kopinya, lalu
pergi," titah ku kala itu.
yang di sambut dengan tatapan tajam
dari Bima.
"Kau, mengusirku,"Ucapnya kala itu.
Ku berikan senyum ku yang paling manis
untuk nya.
"Meskipun aku tidak mengusirmu, kamu
pasti juga akan pergi," Jawabku enteng.
"Tapi, aku belum memberikan jawaban,"Ucap
Bima ketika itu.
Aku duduk tepat di hadapannya aku tatap
dia dengan tatapan tajam.
Bagiku Bima bukan orang asing kami sudah
sama sama mengenal meskipun tidak
begitu dekat, Bima adalah teman satu
sekolah yang cuma berbeda kelas kala itu.
"Tidak perlu menjelaskan aku sudah tau
jawabanmu, jadi cepat habiskan kopimu
lalu pergi."
Bima semakin tajam menatapku entah apa
yang tersembunyi di sana mungkin
kesal dan marah dengan caraku atau
entahlah aku tidak bisa menerkanya.
"Memang apa jawaban ku untuk mu," Tanya Bima tiba tiba kala itu.
mendengar ucapan nya aku tertawa karena
aku merasa Bima sangat lucu yang berpura
pura bodoh.
"Apa iya, harus kujelaskan, Tuan Bima yang
terhormat, di mana mana itu, jawaban nya
sama , mana ada orang mau menerima
bekas sisa orang, jadi ngak perlu di jelaskan
lagi sudah pasti kamu juga akan memilih
mundur dan pergi, tapi tenang slow saja
tidak apa apa, habiskan dulu kopimu baru
kau pergi," Ucapku sambil tersenyum.
"Kopi buatan kamu ngak enak hambar sama
dengan ucapan kamu," Ucap Bima membalas
ledekan ku.
"Ya, sudah, ngak usah di minum, pulang
sana nanti minta sama calon istrimu
yang enak buatnya, ya," ucapku sambil
terus tersenyum.
"Kamu, Kenapa terlihat pucat,"Tanya Bima
mengalihkan pembicaraan.
Dengan enteng tanpa malu dan tidak
berniat menutupi apapun ku jawab.
"Habis keguguran," Jawabku singkat
Ketika aku mengucapkan habis keguguran
Bima menatapku dengan tatapan aneh
seperti orang yang kasian tatapan nya
tiba tiba begitu sendu, kopi yang tadi
sudah terangkat dan hendak di minum
mendadak tidak jadi.
"Pasti, sakit ya, harus banyak istirahat,"
Ucap Bima kala itu.
"Kamu, benar, kalau begitu kamu cepat
pulang sana,"
Bima menelan ludahnya dengan kasar
melihat sikapku yang super dingin,
sedangkan sang Ayah yang mengintip
dari kejauhan Kulihat memegangi kepala
nya mungkin kesal juga dengan ketidak
sopananku terhadap tamu istimewa nya.
"Tapi, aku belum memberikan jawaban,"
"Sudahlah, ngak perlu di ulang aku sudah
tau jawabannya, jadi pergilah, aku sudah
capek, mau istirahat."
"Baiklah, aku akan, pulang katakan pada
Ayahmu, suru cepat menentukan tanggal
pernikahan kita,"
Seketika aku membulatkan kedua bola
__ADS_1
mataku tak percaya dengan apa yang
ku dengar.