
Setelah menyelesaikan ritual mandi Bima melangkah ke ruang makan di mana Bapak dan ibu Ningsih sudah menunggu.
"Baru selesai mandinya Nak Bima."
"Iya Bu..!"
"Ayo, makan, Ningsih..!"kamu ambilkan Pak Bima nasi dan sayurnya."
"Baik, Bu!" Pak nasi segini cukup tidak?"
"Cukup."ucap Bima sambil tersenyum smrik tapi di bawah meja tangannya mengepal kuat, rasanya kesal dan ingin mengebrak meja saja istrinya memangil namanya dengan sebutan pak, bukankah seharusnya mas atau sayang begitu huufp.., menyebalkan keluhnya dalam hati.
Acara makan hening untuk sesaat, tangan sibuk makan dan menikmati hidangan yang ada tapi kaki Bima lagi aktif bermain di bawah meja menyetuh kaki Ningsih dari bawah kemudian merayap naik ke atas membuat hati Ningsih tiba-tiba berdesir, beberapa kali Ningsih menatap Bima dengan tatapan memohon agar kakinya tidak jahil tapi balasan Tatapan Bima cuek tanpa dosa membuat Ningsih kesal dan merasa tidak tahan dengan sensasi rasa geli yang ada, Ningsih bangkit dari duduknya.
"Maaf, saya sudah kenyang."ucap Ningsih sambil membawa piring kotornya ke dapur dan mencucinya.
Bima menatap Ningsih dengan tatapan sendu tapi tak lama kemudian Bima pun pergi menyusul ke dapur.
"Saya juga sudah kenang, biar saya bantu Ningsih membawa piring kotor ini."
"Oh, ya, silahkan Nak!"ucap Bu Ningsih.
Bergegas Bima masuk ke dapur dilihat nya Ningsih sedang mencuci piring dengan perlahan lahan Bima mendekati Ningsih dan memeluknya dari belakang membuat Ningsih kaget dan hampir berteriak jika Bima tidak segera membungkam bibinya sambil menggelengkan kepalanya memberi kode agar Ningsih tidak berteriak.
"Kak Bima! apaan sih lepasin jangan begini nanti ada yang lihat."
"Bodoh, kamu kan istriku."
"Iya, tapi jangan begini kan ibu dan Bapak ngak tau kalau kak Bima suamiku."
"Kasih tau yuh..aku sudah ngak tahan." rengek Bima dengan tatapan mata sayunya.
"Jangan...!" Ibu dan Bapak pasti belum siap."
"Kamu pikir aku siap, tolong ngertiin perasaan ku juga, aku sudah puasa lama ini kapan boleh buka puasanya udah ngak tahan lah."
"Sabar, nanti juga ada waktu nya."
"Terserah kamu, bikin senang dan jaga perasaan mereka tak perlu kamu jaga perasaan ku dan pikirkan aku."ucap Bima kesal yang kemudian melepaskan pelukannya dan pergi.
"Kak..!"
Bima tak menoleh maupun menjawab panggilan Seila dia terus berjalan menuju ke ruang tamu dan duduk di kursi dengan wajah kusut.
Bapak dan ibu Ningsih yang kebetulan melihat tingkah Bima saling berpandangan.
"Ikut aku pak!"
"Kemana?'
__ADS_1
Tanpa menjawab Ibu Ningsih langsung menarik tangan Bapak Ningsih masuk ke dalam kamar nya yang kemudian menutup dan mengunci nya khawatir kalau ada yang nylonong masuk ke dalam.
"Apa Bapak tega melihat Nak Bima begitu, dia terlihat marah dan sedih."
"Ya, kasian Bu, tapi kan aku mau buat kejutan dan mau bantu Nak Hendrato juga, jadi tega ngak tega terpaksa aku tegain."
"Terserah kamu lah pak!" tapi kalau sampai hubungan mereka nanti kacau Bapak sendiri yang harus bertanggung jawab."
"Tenang...!" Ibu percaya kan saja padaku."
Di dapur setelah mencuci piring Seila segera keluar menemui Bima dia tau Bima pergi dengan kecewa di lihatnya Bima sedang duduk dengan membaca koran. Seila keluar sambil membawa secangkir kopi.
"Kopi..!Pak."
"Ya, trimakasih." ucap Bima dingin tanpa mau menatap lawan bicaranya bahkan Bima lebih fokus pada koran yang ada di tangan nya.
"Di minum pak, kopi nya nanti ke buru dingin lho." seru Seila berharap Bima menaruh korannya dan meminum kopi buatan nya.
"Tidak apa-apa, aku belum haus."ucap Bima cuek. Mendengar Jawaban Bima dan sikap Bima yang cuek, sifat keaslian Seila muncul.
"Aku sudah buatkan capek capek kenapa tidak di minum." ucap Seila penuh dengan penekanan tanda dia juga kesal dengan sikap Bima yang di rasa sangat keterlaluan.
Bima menutup korannya dan menatap wajah gadis di depannya yang sedang cemberut, sebenarnya Bima tak tega dan tak kan bisa berbuat acuh dan dingin kepada gadis yang sudah sejak masa sekolah menjadi pujaan hatinya, tapi demi memberikan pelajaran biar bisa menghargai orang terpaksa Bima pun bersikap dingin biar gadis pujaan hatinya tau betapa sakit nya di cuekin terlebih saat gelora hati ingin kehangatan cinta.
"Aku tidak haus dan ya, hari ini aku ada keperluan mendadak jadi aku pergi dulu dan kopinya buang saja,"ucap Bima seraya berdiri dari duduknya.
"Apa?" di buang...! aku tuh capek capek membuat untuk kamu sekarang kamu minta di buang keterlaluan sekali sih, apa kamu ngak bisa menghargai perasaan ku dan...
"Aku tidak ingin berdebat..!"
Bima segera masuk ke dalam mencari Ayah dan Ibu Ningsih setelah bertemu dengan kedudukan Bima langsung pamit untuk pergi.
"pak, Bu saya permisi dulu karena hari sudah siang saya ada pekerjaan.'
"Oh, ya Nak Bima silahkan."
Setelah mendapat ijin Bima langsung melangkah keluar tanpa bicara maupun menoleh melihat Seila yang berdiri terpaku ketika Bima sudah berada di luar Seila mendekati Bapak dan Ibunya.
"Bu, Pak Ningsih pergi dulu juga ya, ada sesuatu yang ingin Ningsih beli sekalian mau numpang di mobil pak Bima kan lumayan gratis." ucap Ningsih mencari alasan yang tentu saja Bapak dan Ibunya tidak menolak.
"Ya.. hati-hati Nduk."
"Iya, Bu! permisi.
Setelah mencium tangan Bapak dan ibunya Ningsih melangkah pergi menyusul langkah Bima yang lebih dulu keluar. Sebelum Bima mengemudikan mobil nya Ningsih yang sebenarnya Seila sudah membuka pintu mobil depan dan duduk di samping Bima, Sang Bapak dan ibu mengantar kepergian mereka dengan senyum dan melambaikan tangan.
"Kenapa, ikut!"Tanya Bima sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Cari tumpangan gratis dari pada naik Bis harus nunggu Berjam jam...ya biasalah Pak, nasib istri yang di lupakan suami tiap hari naik Bis dia biarkan."
__ADS_1
"Kamu, ngledek aku?"
"Lho.....engak, kamu jangan GR dong pak!"ucap Seila menjelaskan.
Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. Tak lama kemudian hape telpon Bima berdering, sebelum Bima mengangkat telepon dia menatap ke arah Seila yang mana ketiika itu Seila juga sedang menatap nya.
"Angkat..tuh ada yang telpon."ucap Seila dingin.
"Halo...!"
"Halo..!Kak Bima aku cepat datang aku bosan di sini terus."seru seorang gadis dari sebrang.
"Ya..lima belas menit lagi aku sampai, kamu tunggu di sana."
Bima segera menutup telponnya.
"Aku ada urusan dengan orang, kamu mau ke mana biar ku antar."
Seila sedikit gelagapan dan bingung pasalnya dia tidak punya tujuan Kemana mana.
"berhenti di depan supermarket itu aku mau belanja."
"Ya sudah kamu pegang ini biar aku mudah menghubungimu jangan kemana-mana Nanti aku jemput." ucap Bima seraya menyerahkan hp dan kartu Debit.
"Untuk apa ini?"
"Kamu kan mau beli sesuatu jadi kamu bisa gunakan kartu ini, untuk pembayaran."
"Tidak usah, aku sudah punya sendiri."tolak Seila sambil keluar dari mobil.
"Pegang saja siapa tau di butuhkan."Seru Bima sambil memegang tangan Seila agar mau menerima.
"Aku bilang tidak usah ya tidak usah, kamu cepat pergi sans, katanya ada urusan."
"Baiklah, kalau begitu kamu pegang hp ku saja biar aku mudah menghubungimu."
"Itu juga tidak perlu."
"Terserah kamu, tapi ingat jangan kemana mana, tunggu aku di sini ya aku akan jemput satu jam lagi."
Seila mengagguk tanpa.
"Seila..!"
"Apa lagi?"
"Masak, suami ngak di kasih kiss sih."
"Ngak, salah sendiri di buatin kopi ngak di minum." Ucap Seila sambil melangkah pergi.
__ADS_1
Bima Hanya menggelengkan kepalanya menatap kepergian Seila dengan tersenyum, Seila terlihat menggemaskan baginya jika sedang ngambek.