
Karena terlempar dan tidak terencana
Acara bakaran yang seharusnya dua malam
menjadi empat malam, acara yang seharusnya berkesan indah menjadi kisah yang menegangkan, karena beberapa
kejadian yang tidak pernah terduga, kini
mereka semua bisa bernafas lega, karena
hari ini semua pulang ke rumah masing-masing
Antik dan unik itulah satu makna kata yang tepat, untuk situasi saat ini satu mobil berduaan tanpa ada yang menggaggu,
namun suasana nya hening bagaikan kuburan.
Tidak ada percakapan ataupun obrolan di
antara mereka, Bima yang berusaha mencairkan suasana pun menjadi habis
akal, mau memulai percakapan yang di ajak
ngobrol malah memejamkan mata tidur.
Bima tidak habis pikir kenapa Seila di dalam
mobil cepat tertidur, padahal baru juga mobil
berjalan keluar.
Berkali kali Bima harus menelan kepahitan
di cuekin istri, kalau dahulu Bima ngak masalah
dan merasa sudah terbiasa, tapi kini hari ini
rasanya jatung ikut berhenti, ada rasa ketakutan jika Seila ngambek nya lama, takut
kalau tiba tiba cinta Seila kepadanya kembali
menghilang, hubungan mereka berdua bagai
kan dua orang asing yang tak saling menggenal
lagi, rasanya tidak sanggup kalau harus mengulang cerita lama, susah payah berjuang
mendapatkan hatinya, kini dapat haruskah
kehilangan lagi.
Bima menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan kasar, mati akal kalau
yang ngambek tidur.
"Apa lebih baik, aku arahkan ke pantai saja
tidak langsung pulang kerumah, baiklah
aku arahkan ke pantai saja, lagi pula ini akan
sangat menyenangkan jika nanti bisa melihat
pemandangan matahari terbenam dari pantai.
"Sambil menunggu Seila bangun, aku turun
membeli makanan kecil saja, buat teman
mulutku yang pahit.
Setelah sampai di pantai Bima segera turun
dari mobilnya.
"Aku harus kunci, ini mobil takut ada orang jahat yang jahil, lagipula Seila masih tidur
itu sangat berbahaya kalau tidak ada yang menjaganya.
Bima turun dari mobil dan menguncinya dari
luar, sebelum melangkah pergi ke toko toko
kecil yang ada di sekitar pantai.
Sementara Seila yang ada di dalam mobil
merasa aneh.
"Kenapa aku merasa ini mobil tidak berjalan ya!
Seila membuka matanya sedikit, ingin tau
apa sudah sampai di rumah, kok mobilnya
tidak berjalan.
Ketika mata indahnya terbuka, alangkah
terkejutnya Seila.
"Astaga...!di mana aku, kenapa mobil Bima
berhenti di sini."
Seila yang tadinya cuma sekedar memicingkan
matanya kini netranya terbelalak dengan sempurna, terlebih tidak mendapati Bima
ada di sampingnya.
"Bima, kemana, ya? bukankah di depan itu
pantai, ngapain Bima membawaku ke pantai
lalu di mana dia sekarang, coba aku turun
saja.
Seila membuka pintu mobil, namun gagal.
"Busyet, aku di kunci dari luar, bener bener
kelewatan awas kalau kau kembali nanti, ancam Seila dalam hati.
Raut wajahnya menampakkan kekesalan yang
dalam, jenuh, lapar, dan bosan campur jadi
satu.
Sementara Bima, yang keluar mencari makanan
__ADS_1
kecil, terpaksa duduk dan ngobrol dengan
teman lamanya yang tak sengaja di jumpainya.
"Aku tidak menyangka kita bertemu disini, setelah sekian lama kita tidak pernah berjumpa,
bagaimana kabarmu Bima?
"Alhamdulillah, aku baik, kamu sendiri bagaimana kabar mu Rom.?
" Baik, juga kita lama tidak bertemu ya, sekarang apa kegiatan mu, dan apa pekerjaan mu?
"Aku, cuma guru karate, dan tidak ada kegiatan
lain,"Ucap Bima kalem.
"Wah..., keren menjadi guru karate pasti kamu
pandai dalam bela diri, apa kamu tidak ingin
bekerja di tempat lain, selain menjadi guru
karate,"
"Mau, sih, tapi siapa yang mau memperkerjakan
orang seperti aku ini."
"kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa gabung
kerja di perusahaan ku."
"Ah, yang benar,"
"Aku, serius, ini kartu namaku jika kamu mau,
datang ya, pintu kantor ku terbuka untukmu."
"Wah, ini suatu kehormatan, baiklah nanti
aku akan datang menemuimu, sekarang aku
harus balik ke mobil, tadi istriku sedang tidur
jadi ku kunci dari luar, aku takut dia sudah bagun."
"Baiklah, sampai ketemu lagi ya,"
Bima melambaikan tangan sebelum melangkah
pergi, dengan riang Bima membuka pintu
mobil, ketika pintu nya terbuka, Bima mendapati Seila sudah bagun dengan kedua
tangan menyilang di depan dada.
"Eh, sudah bagun, sayang,"
"Kamu, dari mana?kenapa mengunciku, kamu tau di dalam mobil sesak dan aku lapar tidak
ada makanan apapun."
Bima terkekeh
"Iya, aku tau, makanya, ini aku bawakan makanan untuk kamu,"
Tanpa bicara lagi Seila langsung merampas
cepat dan terburu buru, Seila melahap Roti
burger yang di beli Bima.
Melihat Seila makan dengan teruburu buru
Bima menatap Istri nya dengan tatapan
penuh rasa suka cita,
"Makanya pelan pelan saja? jangan buru buru begitu."
"Lapar, ngapain sih kamu ngeliatin terus, kalau
mau tuh, masih ada ambil sendiri, jangan
ngeliatin begitu,"
Bima tersenyum
"Aku suka melihat mu makan dengan lahap,
begitu, Rasanya aneh orang baru bagun tidur
tapi kelaparan nya seperti orang yang tidak
habis tidur."
"Memang aku tidak tidur,"
"Apa...?kamu tadi tidak tidur, itu artinya kamu
pura pura tidur begitu?"
Seila mengagguk sebagai tanda jawaban
pasalnya mau ngomong susah, mulutnya sudah penuh.
Seila merasa canggung saja Bima tak henti
hentinya menatap.
"Ihhh, jengah tauk, jangan menatapku begitu,"
Seru Seila melarang agar Bima tak menatapnya
terus.
Tapi yang di larang justru terkekeh,mata Seila
yang melihat gerakan tangan Bima yang mau
menyentuh pipinya dengan cepat, dia tanggap
tangan itu.
"kau, mau apa, awas kalau macam macam."
Ancam Seila.
"idih, galaknya, cuma mau ngusap itu lho, ada
sisa burger yang nempel di pipi, kan kamu
__ADS_1
makannya terburu buru begitu jadi tuh belepotan begitu, jadi kayak Vira."
Seila membulatkan kedua bola matanya.
"Enak saja menyamakan aku dengan vira,
kamu pikir aku anak kecil begitu.
Bima kembali terkekeh
"Habisin, makanannya lalu kita turun, kita lihat
pemandangan di pantai, pasti kamu suka,"
"Kenapa sih, kita ngak langsung pulang ke rumah?"
"Aku masih ingin berduaan dengan istriku, lagi
pula, acara bakaran yang harus nya kita seneng
aku jadi tegang dan ketakutan saat kamu
terperosok jatuh."
"Masa...?bukannya kamu lebih menghawatirkan
Nafa dari pada aku,"
"Seila stop, deh, bercanda nya, tentu saja
aku lebih menghawatirkan istriku."
"Bohong..!
"itu, benar,"
"Gombal, buktinya, langsung mau dan ngak ingat aku saat Nafa memelukmu,"
"Seila, sudah, deh, jangan memancing emosiku,"
"Memancing emosimu, bagaimana, memang
kenyataan nya juga begitu, kamu lebih perhatian pada Nafa dari pada aku,"
"Seila...!jangan bicara tentang Nafa dan Nafa,
disini kita berdua jangan bawa bawa nama orang luar."
Seila tersenyum sinis.
"Aku tau, semua laki laki juga begitu, gombal
cinta, gombal perhatian, gombal sayang, tapi
sebenernya dia juga menyukai orang."
"Seilaaa....! berhenti menuduh ku, aku bukan
seperti itu,"Suara Bima meninggi tanda dia lagi marah.
"Marah itu, tandanya ucapnku brnar,"
Ucap Seila santai.
Namun Seila tidak menyadari wajah Bima sudah merah padam.
Di tariknya Seila menghadap kewajahnya
mereka saling bertatapan.
Namun dengan cepat Seila membuang muka.
"Tatap, aku, dan katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa menyakinkan kamu
kalau aku hanya mencitaimu hanya untuk kamu."
"Bima, lepas, ngomong apa sih kamu,"
Kedua tangan Bima tetap mencengkram bahu
Seila dengan kuat.
"Katakan padaku, harus dengan cara apa dan
bagaimana aku bisa menyakinkan hatimu,
apa harus dengan begini."
Tangan Bima yang tadinya mencengkram bahu
Seila kini, tangannya berpindah meraih wajah
Seila, sehingga mau tidak mau, wajah mereka
bertatapan dan begitu dekat.
Belum sempat Seila bicara lagi , bibir bima sudah bermain disana dengan liar, untuk
beberapa saat permainan bibir Bima membuat
Seila hanya bisa membulatkan kedua bola
matanya.
Setelah merasa cukup puas, Bima mulai
mengurangi keliaran permainan lidahnya
kini dia memainkan dengan pelan dan lembut
kemudian melepaskan.
"Jangan lagi, memancing emosi ku, aku bisa
melakukan hal nekad yang lebih dari sekedar
ini, tidak ada larangan untuk kita, karena kamu
istri sahku, jadi aku bisa berbuat apa saja padamu, kalau kamu mau turunlah dan lihat
keindahan pantai ini, bersamaku kalau tidak
mau kamu boleh tetap berada di dalam mobil."
Setelah mengucapkan itu, Bima keluar dari
mobil, melangjah menuju pantai diliriknya,
apakah istrinya akan ikut turun juga, atau tetap
diam di dalam mobil, Senyum Bima mengembang ketika pintu mobil terbuka.
__ADS_1