Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.50.JANGAN MEMANCING EMOSI KU


__ADS_3

Karena terlempar dan tidak terencana


Acara bakaran yang seharusnya dua malam


menjadi empat malam, acara yang seharusnya berkesan indah menjadi kisah yang menegangkan, karena beberapa


kejadian yang tidak pernah terduga, kini


mereka semua bisa bernafas lega, karena


hari ini semua pulang ke rumah masing-masing


Antik dan unik itulah satu makna kata yang tepat, untuk situasi saat ini satu mobil berduaan tanpa ada yang menggaggu,


namun suasana nya hening bagaikan kuburan.


Tidak ada percakapan ataupun obrolan di


antara mereka, Bima yang berusaha mencairkan suasana pun menjadi habis


akal, mau memulai percakapan yang di ajak


ngobrol malah memejamkan mata tidur.


Bima tidak habis pikir kenapa Seila di dalam


mobil cepat tertidur, padahal baru juga mobil


berjalan keluar.


Berkali kali Bima harus menelan kepahitan


di cuekin istri, kalau dahulu Bima ngak masalah


dan merasa sudah terbiasa, tapi kini hari ini


rasanya jatung ikut berhenti, ada rasa ketakutan jika Seila ngambek nya lama, takut


kalau tiba tiba cinta Seila kepadanya kembali


menghilang, hubungan mereka berdua bagai


kan dua orang asing yang tak saling menggenal


lagi, rasanya tidak sanggup kalau harus mengulang cerita lama, susah payah berjuang


mendapatkan hatinya, kini dapat haruskah


kehilangan lagi.


Bima menarik nafas dalam dalam dan membuangnya dengan kasar, mati akal kalau


yang ngambek tidur.


"Apa lebih baik, aku arahkan ke pantai saja


tidak langsung pulang kerumah, baiklah


aku arahkan ke pantai saja, lagi pula ini akan


sangat menyenangkan jika nanti bisa melihat


pemandangan matahari terbenam dari pantai.


"Sambil menunggu Seila bangun, aku turun


membeli makanan kecil saja, buat teman


mulutku yang pahit.


Setelah sampai di pantai Bima segera turun


dari mobilnya.


"Aku harus kunci, ini mobil takut ada orang jahat yang jahil, lagipula Seila masih tidur


itu sangat berbahaya kalau tidak ada yang menjaganya.


Bima turun dari mobil dan menguncinya dari


luar, sebelum melangkah pergi ke toko toko


kecil yang ada di sekitar pantai.


Sementara Seila yang ada di dalam mobil


merasa aneh.


"Kenapa aku merasa ini mobil tidak berjalan ya!


Seila membuka matanya sedikit, ingin tau


apa sudah sampai di rumah, kok mobilnya


tidak berjalan.


Ketika mata indahnya terbuka, alangkah


terkejutnya Seila.


"Astaga...!di mana aku, kenapa mobil Bima


berhenti di sini."


Seila yang tadinya cuma sekedar memicingkan


matanya kini netranya terbelalak dengan sempurna, terlebih tidak mendapati Bima


ada di sampingnya.


"Bima, kemana, ya? bukankah di depan itu


pantai, ngapain Bima membawaku ke pantai


lalu di mana dia sekarang, coba aku turun


saja.


Seila membuka pintu mobil, namun gagal.


"Busyet, aku di kunci dari luar, bener bener


kelewatan awas kalau kau kembali nanti, ancam Seila dalam hati.


Raut wajahnya menampakkan kekesalan yang


dalam, jenuh, lapar, dan bosan campur jadi


satu.


Sementara Bima, yang keluar mencari makanan

__ADS_1


kecil, terpaksa duduk dan ngobrol dengan


teman lamanya yang tak sengaja di jumpainya.


"Aku tidak menyangka kita bertemu disini, setelah sekian lama kita tidak pernah berjumpa,


bagaimana kabarmu Bima?


"Alhamdulillah, aku baik, kamu sendiri bagaimana kabar mu Rom.?


" Baik, juga kita lama tidak bertemu ya, sekarang apa kegiatan mu, dan apa pekerjaan mu?


"Aku, cuma guru karate, dan tidak ada kegiatan


lain,"Ucap Bima kalem.


"Wah..., keren menjadi guru karate pasti kamu


pandai dalam bela diri, apa kamu tidak ingin


bekerja di tempat lain, selain menjadi guru


karate,"


"Mau, sih, tapi siapa yang mau memperkerjakan


orang seperti aku ini."


"kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa gabung


kerja di perusahaan ku."


"Ah, yang benar,"


"Aku, serius, ini kartu namaku jika kamu mau,


datang ya, pintu kantor ku terbuka untukmu."


"Wah, ini suatu kehormatan, baiklah nanti


aku akan datang menemuimu, sekarang aku


harus balik ke mobil, tadi istriku sedang tidur


jadi ku kunci dari luar, aku takut dia sudah bagun."


"Baiklah, sampai ketemu lagi ya,"


Bima melambaikan tangan sebelum melangkah


pergi, dengan riang Bima membuka pintu


mobil, ketika pintu nya terbuka, Bima mendapati Seila sudah bagun dengan kedua


tangan menyilang di depan dada.


"Eh, sudah bagun, sayang,"


"Kamu, dari mana?kenapa mengunciku, kamu tau di dalam mobil sesak dan aku lapar tidak


ada makanan apapun."


Bima terkekeh


"Iya, aku tau, makanya, ini aku bawakan makanan untuk kamu,"


Tanpa bicara lagi Seila langsung merampas


cepat dan terburu buru, Seila melahap Roti


burger yang di beli Bima.


Melihat Seila makan dengan teruburu buru


Bima menatap Istri nya dengan tatapan


penuh rasa suka cita,


"Makanya pelan pelan saja? jangan buru buru begitu."


"Lapar, ngapain sih kamu ngeliatin terus, kalau


mau tuh, masih ada ambil sendiri, jangan


ngeliatin begitu,"


Bima tersenyum


"Aku suka melihat mu makan dengan lahap,


begitu, Rasanya aneh orang baru bagun tidur


tapi kelaparan nya seperti orang yang tidak


habis tidur."


"Memang aku tidak tidur,"


"Apa...?kamu tadi tidak tidur, itu artinya kamu


pura pura tidur begitu?"


Seila mengagguk sebagai tanda jawaban


pasalnya mau ngomong susah, mulutnya sudah penuh.


Seila merasa canggung saja Bima tak henti


hentinya menatap.


"Ihhh, jengah tauk, jangan menatapku begitu,"


Seru Seila melarang agar Bima tak menatapnya


terus.


Tapi yang di larang justru terkekeh,mata Seila


yang melihat gerakan tangan Bima yang mau


menyentuh pipinya dengan cepat, dia tanggap


tangan itu.


"kau, mau apa, awas kalau macam macam."


Ancam Seila.


"idih, galaknya, cuma mau ngusap itu lho, ada


sisa burger yang nempel di pipi, kan kamu

__ADS_1


makannya terburu buru begitu jadi tuh belepotan begitu, jadi kayak Vira."


Seila membulatkan kedua bola matanya.


"Enak saja menyamakan aku dengan vira,


kamu pikir aku anak kecil begitu.


Bima kembali terkekeh


"Habisin, makanannya lalu kita turun, kita lihat


pemandangan di pantai, pasti kamu suka,"


"Kenapa sih, kita ngak langsung pulang ke rumah?"


"Aku masih ingin berduaan dengan istriku, lagi


pula, acara bakaran yang harus nya kita seneng


aku jadi tegang dan ketakutan saat kamu


terperosok jatuh."


"Masa...?bukannya kamu lebih menghawatirkan


Nafa dari pada aku,"


"Seila stop, deh, bercanda nya, tentu saja


aku lebih menghawatirkan istriku."


"Bohong..!


"itu, benar,"


"Gombal, buktinya, langsung mau dan ngak ingat aku saat Nafa memelukmu,"


"Seila, sudah, deh, jangan memancing emosiku,"


"Memancing emosimu, bagaimana, memang


kenyataan nya juga begitu, kamu lebih perhatian pada Nafa dari pada aku,"


"Seila...!jangan bicara tentang Nafa dan Nafa,


disini kita berdua jangan bawa bawa nama orang luar."


Seila tersenyum sinis.


"Aku tau, semua laki laki juga begitu, gombal


cinta, gombal perhatian, gombal sayang, tapi


sebenernya dia juga menyukai orang."


"Seilaaa....! berhenti menuduh ku, aku bukan


seperti itu,"Suara Bima meninggi tanda dia lagi marah.


"Marah itu, tandanya ucapnku brnar,"


Ucap Seila santai.


Namun Seila tidak menyadari wajah Bima sudah merah padam.


Di tariknya Seila menghadap kewajahnya


mereka saling bertatapan.


Namun dengan cepat Seila membuang muka.


"Tatap, aku, dan katakan padaku bagaimana caranya agar aku bisa menyakinkan kamu


kalau aku hanya mencitaimu hanya untuk kamu."


"Bima, lepas, ngomong apa sih kamu,"


Kedua tangan Bima tetap mencengkram bahu


Seila dengan kuat.


"Katakan padaku, harus dengan cara apa dan


bagaimana aku bisa menyakinkan hatimu,


apa harus dengan begini."


Tangan Bima yang tadinya mencengkram bahu


Seila kini, tangannya berpindah meraih wajah


Seila, sehingga mau tidak mau, wajah mereka


bertatapan dan begitu dekat.


Belum sempat Seila bicara lagi , bibir bima sudah bermain disana dengan liar, untuk


beberapa saat permainan bibir Bima membuat


Seila hanya bisa membulatkan kedua bola


matanya.


Setelah merasa cukup puas, Bima mulai


mengurangi keliaran permainan lidahnya


kini dia memainkan dengan pelan dan lembut


kemudian melepaskan.


"Jangan lagi, memancing emosi ku, aku bisa


melakukan hal nekad yang lebih dari sekedar


ini, tidak ada larangan untuk kita, karena kamu


istri sahku, jadi aku bisa berbuat apa saja padamu, kalau kamu mau turunlah dan lihat


keindahan pantai ini, bersamaku kalau tidak


mau kamu boleh tetap berada di dalam mobil."


Setelah mengucapkan itu, Bima keluar dari


mobil, melangjah menuju pantai diliriknya,


apakah istrinya akan ikut turun juga, atau tetap


diam di dalam mobil, Senyum Bima mengembang ketika pintu mobil terbuka.

__ADS_1


__ADS_2