Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.81.SEPERTI DI NOVEL


__ADS_3

Mendengar perkataan Bima Seila merasa


kedua pipinya terasa ada percikan api


Sehingga rasa dingin dari Es Doger nya


tiba-tiba raib entah kemana.


"Kamu, ngomong apaan sih ?"


"Aku bicara tentang kita, apa kamu ngak


merasa kalau kita ini, bagaikan dua laut


yang bertemu tapi airnya tidak tercampur,"


"Sudah, makan sendiri saja, ini rasanya enak


dan segar, jangan bicara pribahasa yang


aku tidak mengerti dan paham maksud nya.


"Kamu, bukanya tidak paham sayang, tapi


kamu tidak mau memahami, bayangkan


saja kita tinggal satu atap berdua, tapi


di antara kita seolah olah ada jarak yang


sengaja kamu ciptakan, aku tidak masalah


seandainya kamu memang tidak memiliki


rasa padaku, tapi sepertinya kamupun juga


mencintaiku kan ?" lalu kenapa harus kamu


tahan bahkan jika kau mampu mungkin


akan kau buang,"


"Sapa, bilang aku ada rasa sama kamu?"


kamu saja yang ke G R an," Ucap Seila


dingin.


"Yakin, ngak ada ?


Seila mengagguk dengan mantap.


"Tentu saja, yakin,"


"Baiklah kita lihat saja nanti, sekarang, ayo,


kita pulang,"


"Acara belum, selesai, lagi pula Wina pulang


nya masih nanti malam,"


"Aku tidak mau tau , pulang sekarang juga,


aku tuh, dari kemarin malam belum tidur..!"


capek ngatuk,"Ucap Bima menjelaskan.


"Kok bisa, ngak tidur !"memangnya kamu


lagi ngapain ? berduaan gitu, sama cewek


sampai lupa waktu,"Sunggut Seila kesal.


"Nah .. nah kan...!"apa aku bilang, katanya


ngak ada rasa, ngak cinta, ngak suka,


baru juga bilang ngak tidur semalaman


dah di tuduh yang bukan bukan,"


Wajah Seila kembali merah merona, karena


ketahuan, kalau sebenarnya respek juga


sama Suami nya.


Dengan gugup Seila menepis tuduhan


Bima, gengsilah kalau ketahuan ada rasa


suka juga.


"Kan, biasanya begitu, itu juga aku tau dari


baca novel, kalau suami ngak pulang


biasanya dia kelayapan bersama cewek


simpananya, menghabiskan malam trus...


mereka..berdua.....


Belum juga Seila sempat melanjutkan ucapannya, tangan Bima sudah membekap

__ADS_1


bibir Seila.


"Mau, ngomong apa itu..?"


"Lepaskan...! ngapain sih, ngelarang aku


bicara kenyataan, memang begitu kok yang


ada pada cerita Novel,"Ucap Seila setelah dengan kasar melepaskan bekapan tangan


Bima.


"Cerita Novel..!" itu cuma cerita halu yang


tidak benar, masak kamu percaya, bahkan


aku kamu sama kan dengan yang ada di


Novel, itu ngak benar sayang,"


"Ngak benar gimana ?"Dimana mana


suami ngak pulang itu begitu, selingkuh..!"


Ucap Seila mantap dengan penekanan


nada yang pas di tangga nada mayor


sangat keras, sehingga mampu, sukses


membuat wajah Tampan Bima merah


padam.


Dengan kasar di tariknya tubuh Seila


sehingga wajah mereka sangat dekat


hanya berjarak kurang lebih sepuluh


senti meter, bahkan nafas hangat Bima


begitu sangat terasa menyapu seluruh


wajah Seila, yang kini bak kepiting rebus


di hadapan Bima, tak mampu membalas


tatapan tajam sang Suami, Seila memilih


membuang muka.


"Tatap aku..!" dan katakan apa aku tipe laki


laki yang begitu ?"


Suami, Seila memilih menjawab dengan


tetap membuang muka.


"Di Novel, begitu kok,"


"Di Novel...di Novel !"sudah ku bilang Novel


hanya cerita halu, sudah sehabis dari sini


aku mau lihat buku buku Novel apa saja


yang kamu baca, bikin orang emosi saja."


"Tapi, di Novel ada yang benar lho,"


"Brner apaan ?"


"Tuh mbak mesya, suaminya ngak pulang


ternyata di luar ada selingkuhan nya,


bahkan selingkuhan nya di bawa pulang


dan akhirnya mereka berbagi cinta,"


"Ya Ampun Seila....!"itu cuma kebetulan


ngak semua laki laki itu begitu,"


Dengan lembut tangan Bima menyentuh


wajah cantik Seila agar wajah Seila


menatap wajahnya, kali ini tentu saja


Seila tidak bisa membuang muka lagi,


karena kedua tangan kekar Bima tepat


berada di dagu dan pipinya.


Mau tidak mau Seila harus menatap wajah


Bima, mau tidak mau, pandangan mata


mereka beradu, kedua nafas hangat


saling menyapu wajah masing-masing

__ADS_1


dari kedua nya.


Tidak di pungkiri degup jantung yang


tadinya normal mendadak konslet.


Bagaikan lampu diskotik, kelap kelip


yang terkadang terang terkadang juga


meredup, bagaikan seorang yang


sedang berlari pagi, debar debar aneh


kembali muncul ke permukaan setelah


beberapa lama tenggelam.


"Aku mencintaimu," Ucap Bima lembut


Dua kalimat yang singkat dan sederhana.


Namun memiliki makna yang sangat luar


biasa, dimana dan siapapun yang mendengarnya pastilah suka, terlebih


kalimat itu di ucapkan oleh orang yang


diam diam kita suka.


Seila tidak bisa bicara apa apa hanya


Dengus nafas yang tiba-tiba muncul tak


beraturan.


Terdengar kembali suara Bima melanjutkan


ucapan nya.


"Aku tidak bisa tidur, bukan karena aku lagi


bersama wanita lain, mobil kami mogok


di tepi jembatan, dan ketiika aku menelpon


hape kamu tidak aktif, aku telpon rumah


kamu tidak mau menjawab, aku resah


jadi aku tidak bisa tidur,"


"Lalu .. kenapa saat, sore hari aku menelpon


hape kamu tidak aktif?"


"Itu karena...karena.,"Bima sedikit binggung


memberikan jawaban, pasalnya dia juga


tidak tau, kenapa tiba-tiba hapenya mati


dan tiba-tiba ada di saku jaket Bondet,


demi mencari aman, takut sang istri


ngambek lagi, marah marah lagi, cuek dan


dingin lagi, untuk kali ini gak papa lah


berbohong demi kebaikan.


"Itu karena Bondet... ngerjain aku, dia


matikan hapeku,"


"Bondet?"Tanya Seila.


"Iya, Bondet,"Ucap Bima membenarkan.


"Masak sih..!"dia bisa ngelakuin begitu,"


"Iya, bisalah buktinya hape aku mati,"


Ucap Bima dalam hati terkekeh karena


telah berbohong.


"Sudah jangan marah lagi ya, jangan juga


sering sering baca Novel, itu semua


cuma cerita hiburan, jangan di anggap


benar,"


"Tapi, ada yang benar,"


"Iya, itu cuma kebetulan, percayalah aku


hanya mencintai mu,"


Ucap Bima seraya mendekatkan bibirnya


ke bibir mungil Seila dalam hitungan

__ADS_1


detik bibir Seila sudah berada dalam


tawanan penjara bibir Bima.


__ADS_2