
Mendengar perkataan Bima Seila merasa
kedua pipinya terasa ada percikan api
Sehingga rasa dingin dari Es Doger nya
tiba-tiba raib entah kemana.
"Kamu, ngomong apaan sih ?"
"Aku bicara tentang kita, apa kamu ngak
merasa kalau kita ini, bagaikan dua laut
yang bertemu tapi airnya tidak tercampur,"
"Sudah, makan sendiri saja, ini rasanya enak
dan segar, jangan bicara pribahasa yang
aku tidak mengerti dan paham maksud nya.
"Kamu, bukanya tidak paham sayang, tapi
kamu tidak mau memahami, bayangkan
saja kita tinggal satu atap berdua, tapi
di antara kita seolah olah ada jarak yang
sengaja kamu ciptakan, aku tidak masalah
seandainya kamu memang tidak memiliki
rasa padaku, tapi sepertinya kamupun juga
mencintaiku kan ?" lalu kenapa harus kamu
tahan bahkan jika kau mampu mungkin
akan kau buang,"
"Sapa, bilang aku ada rasa sama kamu?"
kamu saja yang ke G R an," Ucap Seila
dingin.
"Yakin, ngak ada ?
Seila mengagguk dengan mantap.
"Tentu saja, yakin,"
"Baiklah kita lihat saja nanti, sekarang, ayo,
kita pulang,"
"Acara belum, selesai, lagi pula Wina pulang
nya masih nanti malam,"
"Aku tidak mau tau , pulang sekarang juga,
aku tuh, dari kemarin malam belum tidur..!"
capek ngatuk,"Ucap Bima menjelaskan.
"Kok bisa, ngak tidur !"memangnya kamu
lagi ngapain ? berduaan gitu, sama cewek
sampai lupa waktu,"Sunggut Seila kesal.
"Nah .. nah kan...!"apa aku bilang, katanya
ngak ada rasa, ngak cinta, ngak suka,
baru juga bilang ngak tidur semalaman
dah di tuduh yang bukan bukan,"
Wajah Seila kembali merah merona, karena
ketahuan, kalau sebenarnya respek juga
sama Suami nya.
Dengan gugup Seila menepis tuduhan
Bima, gengsilah kalau ketahuan ada rasa
suka juga.
"Kan, biasanya begitu, itu juga aku tau dari
baca novel, kalau suami ngak pulang
biasanya dia kelayapan bersama cewek
simpananya, menghabiskan malam trus...
mereka..berdua.....
Belum juga Seila sempat melanjutkan ucapannya, tangan Bima sudah membekap
__ADS_1
bibir Seila.
"Mau, ngomong apa itu..?"
"Lepaskan...! ngapain sih, ngelarang aku
bicara kenyataan, memang begitu kok yang
ada pada cerita Novel,"Ucap Seila setelah dengan kasar melepaskan bekapan tangan
Bima.
"Cerita Novel..!" itu cuma cerita halu yang
tidak benar, masak kamu percaya, bahkan
aku kamu sama kan dengan yang ada di
Novel, itu ngak benar sayang,"
"Ngak benar gimana ?"Dimana mana
suami ngak pulang itu begitu, selingkuh..!"
Ucap Seila mantap dengan penekanan
nada yang pas di tangga nada mayor
sangat keras, sehingga mampu, sukses
membuat wajah Tampan Bima merah
padam.
Dengan kasar di tariknya tubuh Seila
sehingga wajah mereka sangat dekat
hanya berjarak kurang lebih sepuluh
senti meter, bahkan nafas hangat Bima
begitu sangat terasa menyapu seluruh
wajah Seila, yang kini bak kepiting rebus
di hadapan Bima, tak mampu membalas
tatapan tajam sang Suami, Seila memilih
membuang muka.
"Tatap aku..!" dan katakan apa aku tipe laki
laki yang begitu ?"
Suami, Seila memilih menjawab dengan
tetap membuang muka.
"Di Novel, begitu kok,"
"Di Novel...di Novel !"sudah ku bilang Novel
hanya cerita halu, sudah sehabis dari sini
aku mau lihat buku buku Novel apa saja
yang kamu baca, bikin orang emosi saja."
"Tapi, di Novel ada yang benar lho,"
"Brner apaan ?"
"Tuh mbak mesya, suaminya ngak pulang
ternyata di luar ada selingkuhan nya,
bahkan selingkuhan nya di bawa pulang
dan akhirnya mereka berbagi cinta,"
"Ya Ampun Seila....!"itu cuma kebetulan
ngak semua laki laki itu begitu,"
Dengan lembut tangan Bima menyentuh
wajah cantik Seila agar wajah Seila
menatap wajahnya, kali ini tentu saja
Seila tidak bisa membuang muka lagi,
karena kedua tangan kekar Bima tepat
berada di dagu dan pipinya.
Mau tidak mau Seila harus menatap wajah
Bima, mau tidak mau, pandangan mata
mereka beradu, kedua nafas hangat
saling menyapu wajah masing-masing
__ADS_1
dari kedua nya.
Tidak di pungkiri degup jantung yang
tadinya normal mendadak konslet.
Bagaikan lampu diskotik, kelap kelip
yang terkadang terang terkadang juga
meredup, bagaikan seorang yang
sedang berlari pagi, debar debar aneh
kembali muncul ke permukaan setelah
beberapa lama tenggelam.
"Aku mencintaimu," Ucap Bima lembut
Dua kalimat yang singkat dan sederhana.
Namun memiliki makna yang sangat luar
biasa, dimana dan siapapun yang mendengarnya pastilah suka, terlebih
kalimat itu di ucapkan oleh orang yang
diam diam kita suka.
Seila tidak bisa bicara apa apa hanya
Dengus nafas yang tiba-tiba muncul tak
beraturan.
Terdengar kembali suara Bima melanjutkan
ucapan nya.
"Aku tidak bisa tidur, bukan karena aku lagi
bersama wanita lain, mobil kami mogok
di tepi jembatan, dan ketiika aku menelpon
hape kamu tidak aktif, aku telpon rumah
kamu tidak mau menjawab, aku resah
jadi aku tidak bisa tidur,"
"Lalu .. kenapa saat, sore hari aku menelpon
hape kamu tidak aktif?"
"Itu karena...karena.,"Bima sedikit binggung
memberikan jawaban, pasalnya dia juga
tidak tau, kenapa tiba-tiba hapenya mati
dan tiba-tiba ada di saku jaket Bondet,
demi mencari aman, takut sang istri
ngambek lagi, marah marah lagi, cuek dan
dingin lagi, untuk kali ini gak papa lah
berbohong demi kebaikan.
"Itu karena Bondet... ngerjain aku, dia
matikan hapeku,"
"Bondet?"Tanya Seila.
"Iya, Bondet,"Ucap Bima membenarkan.
"Masak sih..!"dia bisa ngelakuin begitu,"
"Iya, bisalah buktinya hape aku mati,"
Ucap Bima dalam hati terkekeh karena
telah berbohong.
"Sudah jangan marah lagi ya, jangan juga
sering sering baca Novel, itu semua
cuma cerita hiburan, jangan di anggap
benar,"
"Tapi, ada yang benar,"
"Iya, itu cuma kebetulan, percayalah aku
hanya mencintai mu,"
Ucap Bima seraya mendekatkan bibirnya
ke bibir mungil Seila dalam hitungan
__ADS_1
detik bibir Seila sudah berada dalam
tawanan penjara bibir Bima.