
Malam itu juga, Bondet dan iqbal segera
pergi ke Pantai Asri x.
Dengan wajah masih layu karena rasa capek yang di rasakan setelah Acara bakaran yang melelahkan, dimana bukan hanya rasa cemas dan ketakutan namun juga harus begadang
membuat Bondet menggikuti iqbal dengan sedikit mata terpejam.
"Ndet, jangan molor saja, temani aku , gelap ini,"
"Gelap, nyalahin semua lampu mobilnya Bal biar terang, dan biarkan aku tidur sebentar saja,"
"Kamu ini benar benar, tidak khawatir sama sekali, kak Bima Ndet....Kak Bima tengelam di laut," Seru iqbal menjelaskan.
Dengan mata yang masih terpejam dan tubuh bersandar di mobil depan di samping Iqbal yang mengemudikan mobil dengan tenang Bondet menjawab.
"Tengelam apaan, yang ada menyelam, Bal,"
Ucap Bondet santai.
"Kamu memang tidak bisa di ajak bicara serius, Ndet, sudahlah, kalau mau tidurlah aku malas lagi bicara dengan mu,"Ucap Iqbal kesal.
"Halah, Bal, lagakmu sok mampu saja, paling nanti juga aku yang akan ubek ubek laut mencari kak Bima bukan kamu, jadi biarkan aku beristirahat sebentar, siapa tau bermimpi ketemu kak Bima, jadi bisa gampang mencarinya,"
"Terserah kamu sajalah malas aku, nangepin ocehanmu," ucap iqbal memutus percakapan nya dengan Bondet.
Untuk beberapa saat semua jadi hening, iqbal melirik kesamping nya di mana Bondet bersandar di kursi depan dengan memejamkan kedua matanya.
"Yaa, beneran molor ini Bondet, tapi ada benarnya juga aku harus berikan dia kesempatan untuk beristirahat , meskipun Gendut dan terlihat cuek, sebenarnya Bondet lah yang selalu ada di sisi Bima, smoga kak Bima bisa cepat di temukan."Desis Iqbal lirih.
Satu jam kemudian tibalah Iqbal dan Bondet di pantai Asri x di mana Seila sudah menunggu kedatangan mereka.
Iqbal memarkirkan mobilnya di dekat mobil Bima.
"Yaa, Bondet masih molor saja, bagaimana ini, aku bangunin apa tidak ya, lebih baik aku bagunin saja,"
"Ndet..!bagun kita sudah sampai,"Ucap Iqbal sambil mengoyang goyangkan tubuh Bondet.
"Apa, kita sudah sampai,"
"Sudah, ayo, turun kita temui Non Seila,"
Bondet dan iqbal turun dari mobil, keduanya segera mencari keberadaan Seila.
"Lihat..."itu Non Seila, ayo cepat kita kesana,"
bergegas Bondet dan Iqbal menemui Seila.
"Non Seila...!"
Mendengar suaranya di panggil dengan cepat Seila menoleh ke sumber suara itu.
"Bondet....! Iqbal...!"
Seila segera bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Non Seila, kenapa kusut begini, cletuk Bondet
"Bondet ! ngomong apa sih kamu,"Tegur Iqbal khawatir Seila tersinggung.
Bondet cuma crngar cengir, sedangkan Seila
justru bisa tersenyum melihat ulah mereka.
"Non apa yang kamu bawa itu,"Tanya Bondet.
"Ini, ponsel nya Bima dan dompet yang baru
saja di temukan petugas penyelam, tapi mereka tidak melihat dan tidak mengetahui keberadaan Bima," Ucap Seila lesu.
"Berikan pada ku,"Pinta Bondet kepada Seila.
Sedangkan iqbal yang merasa Bondet bersikap tidak baik dan tidak pada tempatnya segera menegur Bondet.
"Ndet, ngapain kamu minta ponselnya Kak Bima segala ,"
"Diam sajalah bal jika kamu ngak ngerti,"
"kamu, jangan aneh aneh kasian Non Seila lagi sedih, kamu bukannya menghibur dan menenangkan hatinya tapi malah justru membuat hatinya tambah resah,"Cetus Iqbal menggingatkan.
"Tenang, dan slow saja Bal,"
"Mana Non, ponselnya kak Bima dan dompetnya," Kembali Bondet meminta pada
Seila.
"Ini,"Ucap Seila seraya menggulurkan dompet dan ponselnya Bima.
"Bal, ajak Non Seila makan dulu, kurasa dari tadi sore dia. Belum makan,"
"Iya, kalau mau, kalau menolak bagaimana?
"Bujuk, sampai mau aku pergi dulu,"
"Kau, mau kemana ?"
"Sudah , jangan banyak tanya, nanti kau juga tau," Ucap Bondet seraya pergi menjauh dari
tempat itu.
"Ayo, Non Seila kita makan dulu," Tawar Iqbal kepada Seila.
"Aku tidak memiliki selera untuk makan,"
"Tapi, Non Seila tetap harus makan, percaya lah
kak Bima akan baik baik saja, percayalah pada kami, besok aku dan Bondet yang akan mencari langsung di mana kak Bima berada,"
"Tapi, Bal, apa mungkin Bima masih hidup, aku takut kalau Kalau Bima sudah mati dan kita hanya menemukan jasadnya.,"
"Hussstt, Non Seila jangan bicara begitu, kita harus yakin dan punya keyakinan Kalau kak Bima masih hidup,"
__ADS_1
"Sudah, ayo kita makan," Ajak iqbal kembali.
kali ini Seila menerima ajakan iqbal meski tidak bisa makan dengan lahap dan banyak.
di tempat lain Bondet yang menjauh dari Seila
dan Iqbal segera membuka ponsel Bima.
"Ada ada saja Kak Bima ini ponselnya pakai disandi lagi, kira kira apa sandinya ya,"
Bondet berusaha berfikir dengan keras. Kak Bima sangat cinta dengan Non Seila coba aku pakai nama Non Seila untuk membuka sandi ponselnya Kak Bima,"
Dengan cepat Bondet memasuki nama Seila dan..
"Yes...., berhasil, layar hpnya sudah bisa ku buka, kepo juga ada gambar gambar apa sih di dalam ponsel seorang guru karate itu,"
Bondet mulai membuka buka galeri ponsel hpnya Bima.
"Busyet..., Semuanya gambar foto dari Non Seila, kurang kerjaan amat nih kak Bima benar benar cinta mati nih Kak Bima, ya sudahlah aku lanjut ke geogel map setidaknya aku bisa cek rute keberadaan nya, pasti tidak akan jauh dari ponsel hp yang di temukan ini,"
Setelah menunggu beberapa saat Bondet baru
bisa melihat akhir rute dari keberadaan Bima.
"Busyet....!.jauh sekali, jika terlalu lama pasti kak Bima juga tidak mampu bertahan, ini kawasan air laut yang cukup dalam dan berbahaya, dan harus malam ini juga aku kesana kalau besok takutnya terlambat.
Segera Bondet berlari ke post dimana para
penyelam tadi sore berkumpul.
"Permisi, maaf menganggu, apa bisa saya minta bantuan dari bapak bapak disini sekarang," Ucap Bondet dengan wajah penuh kekalutan.
"Bantuan, apa !"
"Kita melakukan pencarian malam ini juga,"
"Apa...? melakukan pencarian malam ini juga, ini sudah malam gelap kita tidak akan menemukan apa apa, lagi pula pencarian di malam hari itu berbahaya, kau ingin menambah korban apa? Bentak petugas itu tegas.
"Tapi, kalau besok kita bisa terlambat,"Ucap Bondet tak kalah tingginya, suaranya juga mulai sedikit emosi dengan sikap para penyelam itu.
"Kami tidak mau mempertaruhkan lagi nyawa orang dan kami tidak mau," ucap seorang pimpinan penyelam itu.
"Pekerjaan mu adalah menyelamatkan nyawa orang, bukan menyelamatkan nyawa sendiri sehingga tidak perduli dengan keadaan orang lain, kalau kamu takut, buat apa kamu Menjadi kan dirimu sebagai tukang penyelamat, masuk saja kamu jadi tukang pedagang asongan biar kamu tidak usah memikirkan keselamatan orang."Ucap Bondet berapi api.
"Tutup mulut mu, berani sekali kau memerintahku dan menghinaku,"
"Maaf, pak, apa yang bapak ini, katakan adalah benar, tugas kita menyelamatkan orang maka kita harus siap dengan segala resikonya,"
Ucap salah seorang bapak yang sedikit lebih tua di banding kan dengan yang lainnya, dia berjalan mendekati Bondet.
"Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu mu?"
"Aku hanya mengginginkan satu kapal layar yang bisa menempuh perjalanan dengan kecepatan tinggi.
"Akan, aku sediakan, apa lagi yang kau butuhkan,"
__ADS_1
"dua orang untuk menemani perjalanan ku,"Ucap Bondet.
"Baiklah semua akan ku sediakan dalam sepuluh menit, silahkan di tunggu," ucap laki laki itu yang kemudian berlalu pergi.