Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.112.BERAT DI ONGKOS.


__ADS_3

Setelah semua di rasa cukup Seila dan Bima menuruni anak tangga kamarnya sampai di tengah tangga Seila menghentikan langkah kakinya, Seila berhenti otomatis Bima pun ikut berhenti.


"Kenapa berhenti sayang,"


"Kak Bima lebay amat sih, lepasin tanganku Masak turun tangga saja pakai acara bergandeng tangan segala, kita bukan lagi pengantin baru kan?"


"Emangnya, kenapa? kalau bergandengan tangan,"


"Malu,sama Bik Inah kak,"


"Ya...!sama Bik Inah saja malu, tuh yang kita bicarain sudah melihat kita," Ucap Bima.


Melihat Bik Inah senyum senyum, wajah cantik Seila berubah menjadi merah merona karena malu, dengan langkah cepat Seila menepis gengaman tangan Bima dan langsung mendahului menuruni tangga, sementara Bima melihat sikap Seila ikut tersenyum sambil memberikan tanda dengan menunjukkan jempol jarinya kepada Bik Inah. Ketika Bima sampai di bawah tangga Seila yang tadi mendahului berjalan keluar pintu berbalik lagi dengan tampang yang lucu menurut Bima karena bibir Seila sedikit di kerucutkan.


"Kak Bima, kenapa di depan ada mobil taksi?"


"Oh, itu, kita kan mau keluar sayang, jadi aku panggil taksi untuk mengantar kita."


"lho, kenapa ngak pakai mobil kita sendiri saja,"


"Enak kan Naik taksi biar bisa pegang dan mesra mesraan sama kamu, kalau bawa mobil mana bisa tanganku kan harus fokus nyetir jadi mesra mesraannya susah,"


"iih. ., nyebelin kak Bima tuh," ucap Seila sambil kembali berjalan menuju pintu.


Sementara Bima menghampiri Baik inah yang tersenyum bahagia melihat anak asuhnya itu bahagia.


"Bik, aku pergi mengantar Seila, titip Vira sebentar ya?


"baik Den, silahkan bersenang senang, kalau bisa Den Bima ajak Non Seila berbulan madu saja ke luar Negeri, Non Seila pasti seneng.


"itu, ide yang bagus juga nanti kalau ada waktu aku akan ajak Seila pergi sekarang aku pergi dulu ya Bik,"


"Iya, Den hati-hati."


Di dalam mobil taksi Bima sengaja merentangkan kedua tangannya di atas kursi duduk, Seila yang melihat itu memberikan isyarat agar Bima menurunkan kedua tangannya tapi Bima tidak mau mendengar nya


bahkan tanpa malu malu Bima melingkar kan tangannya di bahu Seila.


"Kak, jangan,"


"Sudah, nurut saja, lebih enak menikmati perjalanan dengan begini,"


Bosan beradu debat dengan Suami di tambah dengan kurang tidur karena Bima selalu mengajaknya bertempur membuat Seila memilih diam dan merebahkan kepalanya di dada bidang milik Bima, merasa menang Bima pun tersenyum penuh dengan kepuasan di belainya rambut indah dan panjang milik Seila.


"Sayang, coba lihat jarinya, kau masih memaki cincin pernikahan kita kan?"


"Iya, ini ada, kak Bima jangan beisik aku mau bobo sebentar,"

__ADS_1


"Ya, baiklah tidurlah sayang, nanti kalau sudah sampai akan aku bangunin,"ucap Bima sambil mengecup lembut kening Seila.


Tidak berapa lama Seila pun sudah tertidur dalam dekapan dada Bidang milik Bima, sementara pak sopir taksi yang sedari tadi menjadi CCTV kemesraan mereka berdua rupanya sudah tidak tahan untuk bicara mengungkapkan apa yang ada di dalam pemikiran nya.


"Wah, mesra sekali mas pada istri, kalian pengantin baru ya?" tanya pak sopir taksi penasaran, dengan cepat Bima pun menjawab.


"Iya, pak baru dua hari,"


"Wah, pantesan saja mesra begitu,"


Bima terkekeh mendengar perkataan pak sopir yang langsung percaya dengan ucapannya.


"Iya, maksudnya sudah dua tahun lebih dua hari pak,"


"Dua tahun, lebih dua hari! wah hebat sekali masih mesra begitu, Kalau saya boro boro, istri saya suka ngomel ngomel dan bikin kesal saja, resepnya apa sih mas, biar bisa di sayang istri."tanya pak sopir penasaran.


"Ngak, ada resep apa-apa pak, cuma apapun yang istri kita mau kita turuti saja, biar hatinya senang,"


"Kalau istri minta di belikan emas berlian apa juga harus di turuti mas!"


"Ya, di turuti saja pak, itu akan membuat nya senang,"


"Wah, tips yang mas kasih berat di ongkos dong,"


Bima dan pak sopir pun akhirnya sana sama tertawa.


Jauh di ujung kota seorang wanita sedang duduk berdua dengan seorang wanita lainnya untuk menikmati makan rujak cingur, cuaca yang begitu terik terlebih tanpa angin yang mampu membuat siapapun gerah lebih cocok di gunakan untuk menikmati makan rujak cingur yang sangat pedas pasti akan terasa nikmat nya .


"Apa!"kau sudah mengerti tugasmu,"


"Aku , mengerti, tapi bagaimana aku bisa bilang ke pada orang itu tentang anaknya."


" tenang, biar aku yang akan menjelaskan nya nanti, ayo cepat kamu habiskan setelah itu kita kesana,"


"Baik, mbak ,"ucap gadis itu seraya melahap rujak cingur nya .


Setelah mereka selesai menikmati makanan mereka pun langsung masuk ke dalam mobil dengan kecepatan sedang tak lama kemudian mobil pun berhenti di sebuah rumah sakit yang sangat besar.


"Ayo, kita masuk,"ajak sang gadis kepada gadis yang bersamanya.


Ketika salah satu ruangan Rumah sakit di buka pintunya tampak oleh mereka seorang lelaki tua paruh baya sedang terbaring dengan sebuah slang infus masih melekat pada tangannya.


"Permisi pak,"


"kamu siapa?" tanya lelaki paruh baya yang ternyata tidak menggenali seorang yang telah menjengguknya.


"Kenalkan, nama saya Arina pak, dan ini teman saya namanya yuli, kami kesini mau memberi tau bapak bahwa putri Bapak yang bernama Novi untuk beberapa bulan tidak akan bisa menjenguk bapak,"

__ADS_1


"Kenapa, tidak bisa apakah dia Sibuk!*


"Maaf, pak! saya meminta Novi untuk menemani teman saya yang sakit di luar negeri jadi Bapak tidak bisa di jenguk olehnya."


"Lalu, yang bayar semua biaya saya di Rumah sakit ini siapa?"


"Nanti, semua biaya Rumah sakit saya bayar Bapak tidak usah khawatir dan Nanti jika perlu apa-apa Bapak bisa meminta bantuan pada mbak Yuli ini karena dialah Nanti yang akan merawat Bapak."


"Apa, saya tidak merepotkan kalian,"


"Oh, tidak, jadi Bapak jangan sungkan sungkan pada kami anggap kami ini juga putri Bapak,"


Bapak paruh baya itu pun terssenyum penuh haru dan bahagia.


"Kalau, begitu kami permisi dulu ya pak, nanti kalau butuh apa apa telpon nomor mbak yuli saja."


"Baik, trimakasih Nak."


"Ya, sama sama pak, kalau begitu kami permisi dulu,"


Setelah berpamitan Arina dan yuli keluar dari dalam kamar ruangan Bapak paruh baya yang di rawat.


"Yul, kamu ingat baik-baik ya, selalu njenguk Bapak itu,"


"Iya, mbak, ngak usah khawatir aku ngerti kok tugasku,"


"Baguslah, kalau begitu kita berpisah di sini jangan khawatir ATM kamu akan selalu ada transferan uang dariku.


Di Rumah sakit itu Arina dan Yuli berpisah di dalam mobil Arina tersenyum penuh dengan kepuasan karena satu demi satu rencana nya sudah selesai dengan sempurna, kini langkah berikutnya Arina memberikan tugas kepada para pembunuh bayaran untuk menyelesaikan.


Seila. Telpon yang sudah terhubung tanpa berbelit belit Arina langsung memberikan tugas dan menanggung semua biaya pelaksanaan perencanaan itu.


"Kamu harus selesaikan tugasmu dengan sangat hati-hati dan bersih, jangan ada satupun ruang yang bisa mencium kecurigaan polisi, apa kau mengerti?"


"Jangan khawatir Nona, kami kami bukan para pembunuh kelas teri sehingga pekerjaan kami, akan mudah di ketahui polisi, percayalah pasti semua beres."


"Ok, baiklah, aku akan transfer uang muka ke kamu, kekurangan nya, tunggu sampai tugasmu benar benar beres dan rapi,"


"Ok, Nona, aku setuju,"


"Baiklah, silahkan kerjakan tugasmu smoga kau tidak gagal karena jika gagal kau sendiri yang akan ada di dalam jeruji besi bukan aku,"


"Tenang, aku sudah sangat berpengalaman jadi jangan ragukan kemampuan kami,"


"Baiklah, trimakasih, smoga kau sukses."


Tit...!"suara telpon di matikan, Arina semakin mengembangkan senyumannya untuk pekerjaan suaminya di kantor Arina sudah menyerahkan kepada Yuli beserta juga untuk mengawasi keadaan Ayah dari Novi, Arina sibuk mengemasi beberapa barang miliknya karena tujuannya kali ini dia akan pergi ke luar Negeri.

__ADS_1


__ADS_2