Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.144. TERBAWA PERASAAN


__ADS_3

Hendrato tersenyum melihat Bima yang sepertinya kaget hal itu membuat Hendrato semakin bersemangat melanjutkan ucapannya.


"Sudah, saya bilang kan mas, Ningsih itu tidak bisa jauh dari saya dia sangat mencintai saya, belum juga ku tinggal lama, dia sudah datang mencari saya, sampai sampai di belain Naik Bis, nah itu dia yang kita bicarakan sudah datang." seru Hendrato sambil melambaikan tangan ke arah Ningsih.


Bima menatap Ningsih dengan tatapan sayu, hatinya begitu perih melihat istri tercintanya di perhatikan dan di kagumi orang, ingin marah tapi pada siapa, permainan takdir begitu sangat menyakitkan membuat nya menjadi lemah, seolah mimpi baru beberapa bulan yang lalu Seila ada dalam dekapan dan pelukan nya kini hanya dalam beberapa bulan juga dia jauh bahkan telah menjadi kekasih orang apa yang bisa ku lakukan untuk mengatasi semua ini apa yang bisa kulakukan agar cintaku dan istriku kembali, Bima menyunggingkan senyum kecut menerima semua kenyataan ini.


"Ningsih..!" kenapa kau menyusulku kesini."


"Mas, aku....


"Stop..! jangan teruskan aku tau kamu pasti merindukan aku."


Ningsih tersenyum getir mendengar ucapan Hendrato, diam diam di lirik nya laki laki yang berdiri di samping calon suaminya.


"Dia membuang muka, kenapa?" pertanyaan itulah yang sedang bermain dalam lamunan Ningsih.


"Ningsih, ini ada mas Bima, kau tidak menyapa nya."tanya Hendrato pada Ningsih


Ningsih menatap sekilas wajah Bima yang kala itu juga lagi menatapnya, cepat cepat Ningsih membuang muka hatinya masih sakit dengan ucapan Bima kala di telpon ketiika tanpa basa basi menggatakan dia tidak penting.


"Tidak perlu mas, tidak penting," ucap Ningsih sambil melirik ke arah Bima yang mana ketika itu Bima langsung melotot kepadanya, Ningsih pun langsung menjulur kan lidahnya sebagai tanda meledek.


"Ngak, baik begitu Sayang, kan dia Boss kamu!"


Ningsih sempat mendelik ke arah Hendrato ketiika berani memanggil nya sayang, sementara Bima yang mendengar itupun semakin kesal di tekannya dengan kuat kakinya yang memakai sepatu olahraga ke tanah hinga tanah itu membentuk suatu lobang kecil.


"Mas, kita kan belum resmi menikah jangan panggil sayang dulu."tolak Ningsih.


"Emang kenapa, bagus kok orang memanggil sayang calon istrinya itu justru bisa membuat kita semakin dekat dan mesra bukankah begitu mas Bima?"


Bima yang tidak menyangka akan di ajak bicara menjadi gelagapan dengan asal Bima menjawab.


"I-iya."


"Tuh..! mas Bima saja juga bilang iya," membut Ningsih mengerucutkan bibirnya.


"Tapi, Ningsih maunya di panggil Ningsih saja mas, kalau sudah jadi istri baru boleh."


"ya, baiklah."

__ADS_1


Merasa semakin sesak dan kesal Bima memilih melangkah pergi tapi belum dua langkah Hendrato menghentikan nya.


"Mas, Bima mau kemana?"


"Aku, mau, melihat lihat pantai dari dekat."


"Tunggu!" mas Bima tolong temani Ningsih dulu sebentar aku mau ke kamar kecil."


Tanpa menunggu jawaban Hendrato segera pergi meninggalkan Bima dan Ningsih, setelah kepergian Hendrato Bima baru berani bicara.


"Kenapa, ke sini, apa kau mencari ku?"


"Enak, saja mencarimu, buat apa tidak penting tauk," sungut Ningsih kesal, hatinya masih marah dan sakit hati dengan ucapan Bima ketiika memutuskan sambungan telepon.


"Kamu, masih marah dengan perkataan ku pagi tadi?"


"Sudah, tau, nanya."ucap Ningsih dingin.


Bima menelan ludahnya dengan kasar.


"Maaf, aku tidak punya pilihan lain, ku harap kamu mengerti."


"Enak, saja nyuruh orang bisa mengerti, seharusnya kamu tuh pak yang harus mengerti, gara-gara kamu uangku habis juga."


"Ya, karena mencari mu ke sini uang dua ratus ribu ku melayang."


Bima tertawa mendengar ucapan Ningsih.


"Lho, katanya tadi ngak mencariku kok sekarang bilang gara gara mencari ku uang kamu habis."


"Ya, ngak mau tau pokoknya gantiin uangku yang habis."


"Lho, kok minta aku, kan bisa minta calon suami kamu."


"Kamu, kan punya hutang sama aku pak, uang gajian ku belum kamu berikan juga."


"Kerja baru tiga Minggu sudah minta gaji, gimana sih?"


"Ngak mau tau, mana uang untuk ku."ucap Ningsih sambil menadahkan tangan.

__ADS_1


Bima tersenyum geli melihat tingkah Ningsih yang menggemaskan andai saja tidak di tempat umum dan tidak bersama Hendrato sudah pasti merengkuh gadis ini untuk masuk kedalam dekapan nya. Bima segera merogoh sakunya dan menggeluarkan uang lembaran berwarna merah tiga .


"Nih, ada tambahan seratus ribu, nah aku baik hati dan dermawan kan?"


Ningsih tidak menjawab tapi langsung memasukkan ke dalam tas selempang nya.


"Kamu yang mencari aku juga yang rugi."


"Hei.. memberi itu harus ihklas tidak boleh mendongkol di belakang."


"Ini bukan di belakang! tapi di depan mu juga,"


"Salah sendiri bicara nyakitin hati." dengus Ningsih kesal.


"Aku, kan harus menjaga perasaan calon suamimu."


"Lalu, perasaan ku?" ngak kamu jaga begitu dasar Boss menyebalkan."


Bima mengeryitkan dahinya menatap lekat lekat gadis yang ada di depannya.


"Kenapa perasaan kamu harus ku jaga, bukankan itu hal yang wajar sesakit itukah hatimu jika ku katakan kamu tidak penting?


"Apaan, sih!


"Apa, kau memiliki perasaan lebih padaku?"


Wajah Ningsih seketika merah merona ketika Bima menanyakan perasaan hatinya.


"Ngomong, apaan sih aku ngak ngerti."ucap Ningsih seraya melangkah sedikit menjauh, Ningsih tidak mau sampai ketahuan kalau hatinya lagi berirama tak karuan terlebih tatapan Bima bikin jantung ngak lagi berjalan berfungsi dengan normal.


Bima mendekati Ningsih dan meraih tangannya


membalikkan badan Ningsih hingga menghadap padanya, sontak saja hal itu membuat Ningsih kaget dan jatung nya semakin berdegup dengan kencang, wajah mereka kini saling berhadapan entah apa yang membuat Bima berani melingkar kan tangannya di pinggang ramping milik Ningsih


tidak ada kata kata yang terucap dari keduanya tidak tau kenapa Ningsih pun tidak menolak ketika tangan Bima melingkar di pinggang nya. Bima sedikit menundukkan wajahnya sehingga wajah mereka semakin dekat deru nafas hangat pun terasa dekat menyapu wajah keduanya, aliran darah mulai terasa panas bagaikan sengatan listrik.


Entah setan apa yang sedang merasuki keduanya seakan terhipnotis dengan perasaan hati masing-masing meminta lebih dari sekedar memandang, bibir mereka kini mulai berpangutan, Ningsih yang tidak melawan dan membiarkan membuat Bima semakin berani bermain di bibir tipis ranum yang mengoda sesekali menyesap dan mengigit kecil, Ningsih yang ikut terbawa arus perasaan pun mulai berani melingkar kan tangannya pada leher Bima. untuk beberapa saat lamanya mereka hanyut dalam buaian cinta.


Sementara Hendrato yang tadi ijin pergi ke kamar kecil ternyata tidak. Hendrato tidak pergi ke kamar kecil melainkan pergi ketempat parkir di mana mobilnya dan mobil Bima di parkir.

__ADS_1


"Aku akan buat Ban mobil ku kempes sehingga aku dan Ningsih bisa ikut mobil Bima, sehingga akan sangat menyenangkan jika aku pamerkan kemesraan ku pada istrinya tepat di hadapannya. Sudah cukup kau merampas apa yang jadi milikku dan aku tidak bisa membohongi hatiku aku masih mencintai dan mengginginkan Seila untuk jadi istriku, aku bukannya tidak tau maksud kamu ingin bicara penting padaku tapi aku tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun untuk Seila bisa menjadi milikmu kembali dan selama itu Seila tidak pernah tau jika kamu itu adalah suaminya untuk itu aku mempercepat pernikahan ini.


"Ha....ha...ha ..! maafkan aku mas Bima yang malang bukankah semua halal dalam cinta.


__ADS_2