
Ketika Bima sedang asik berbincang
bincang dengan sang anak remaja kecil datanglah Lisa menghampiri.
"Abang..!Makanan sudah siap, ayuh makan."
Ajak lisa pada Bima.
"Ayuh, Ade kecil kita makan," Ajak Bima
kepada seorang bocah remaja.
"Akhirnya datang juga, kak Bima, aku
sudah lapar nih, tapi di suruh menunggu,"
Ucap Bondet mengeluh.
Bima tersenyum seraya duduk di samping
Bondet.
"Nah, sekarang kamu boleh ambil apa
yang kamu mau," Ucap lisa kepada
Bondet.
"Ini sangat istimewa, aku akan makan
banyak hari ini," Ucap Bondet.
Bima tersenyum melihat Bondet makan
dengan lahap begitu juga bocah remaja
yang ada disampingnya.
"Abang..!kenapa cuma diam saja, ayo di
makan, apa masakan ku kurang enak?"
Tanya Lisa pada Bima.
"Ngak kok, ini enak, aku juga sudah makan
kurasa cukup," Ucap Bima menjelaskan.
"Halah, Bohong itu !" Paling juga ngak
enak makan karena ingat istri," Ucap
Bondet kemudian.
Lisa yang mendengar kalimat istri tiba tiba
terbatuk kecil.
"Apa benar begitu Abang?" apa Abang selalu ingat istri?"
Bima tersenyum.
"Bondet sangat berlebihan, jadi jangan dengarkan ucapannya, ini karna aku
kenyang saja, jadi ini sudah cukup,
sekarang aku permisi dulu,"Ucap Bima
seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Kak Bima, mau kemana?"Tanya Bondet penasaran.
"Sebentar, mau Telpon Seila,"Ucap Bima
"Tuh...! kan, apa ku bilang kak Bima pasti
mikirin istri, sudah Jangan di telpon Kak,
kita buat kejutan untuk nya,"Ucap Bondet
memberikan saran.
"maksud mu bagaimana?"Tanya Bima
"Nanti, saja kalau kita sudah sampai
baru kita kabari Non Seila,"
"Jangan Ndet, kasian nanti dia sedih,"
"Sok, tau kak, kalau Non Seila sedih,"
"Tadi, kamu bilang bicara dari hati maka
akan sampai pada hati, jadi hatiku
__ADS_1
menggatakan, istriku kini lagi sedih
Ndet,"Ucap Bima menirukan ucapan
Bondet kepada nya.
Bondet terkekeh mendengar ucapan Bima
yang menirukannya.
Bima mendekati Bapak setengah baya
yang sedang duduk sambil tersenyum
menatap ulah Bondet.
'Bapak, Trimakasih, telah menolong saya,
tanpa bantuan Bapak mungkin aku
sudah mati,"
"anak muda, jangan berterima kasih kepada
saya tapi berterimakasih lah kepada Allah
karena dialah engkau bisa selamat,"
"Iya, bapak,"
"Apa, hari ini juga kau akan pulang?"
"Benar bapak, saya pulang hari ini juga,
kasian orang tua bocah ini, pasti sekarang
sedang cemas,"
"Baiklah, hati hati di jalan ya Nak,"
Bima mengagguk.
Ketika Bima, Bondet dan bocah kecil itu
hendak melangkah keluar pintu, di lihatnya
seorang gadis sedang berdiri di ambang
pintu. Bima segera menghampiri sambil
"Trimakasih, sudah menolong kami,"
"Sama sama, Abang ! apa Abang mau
pulang sekarang?"Tanya Lisa.
"iya, mumpung tidak hujan, sekali lagi
trimakasih ya, sudah menolong kami,"
"Iya, sama sama Abang !Oh ya ini ada
makanan buat istri Abang, biar dia juga
bisa merasakan rasanya masakanku."
"Aku, jadi malu, karena aku merepotkan mu,"
"Tidak usah sungkan, anggap saja aku
saudara mu jadi tidak perlu sungkan
menerima segala pemberian ku,"
"Baiklah, sekali lagi trimakasih."Ucap
Bima seraya menerima bingkisan
makanan dari gadis itu.
Bondet langsung merampas bingkisan
dari tangan Bima.
"Biar, aku yang Bawa kak,"Ucap Bondet
menawarkan diri.
"ingat, cuma membantu membawakan
ya , jangan di makan," Teriak lisa menggingatkan.
"Iya, ya...!Pelit amat, kak Bima saja ngak
komplin kok,"Ucap Bondet seraya tertawa.
__ADS_1
Bima, Bondet, dan bocah remaja itupun
melangkah pergi. Bondet mengajak Bima
berjalan ke tempat di mana Bondet
dan teman teman dari penyelam mendirikan
tenda untuk mereka bermalam.
Melihat kehadiran Bondet yang datang
tidak sendiri, membuat para penyelam
itu terheran heran, bahkan ada yang
dengan terus terang menggatakan Bondet
berbakat menjadi detektif, karena dia
telah berhasil menemukan Keberadaan
Korban tanpa bantuan mereka.
"mendengar pujian itu Bondet tersenyum
simpul.
"Mari, pak, sekarang kita pulang, ajak
Bondet kepada pimpinan penyelam paruh
baya yang dari awal mula selalu mendukung
keinginannya.
"Maaf, merepotkan bapak semua, saya
mengucapkan banyak terimakasih
atas semua bantuannya," Ucap Bima.
"Jangan bicara begitu, kami tidak melakukan
apa apa, justru pak Bondet lah yang sudah
bersusah payah menolong anda, mari
kita berangkat pulang sekarang."
Semua sudah bersiap naik ke dalam
kapal, tidak menunggu berapa lama
kapal pun sudah berlayar.
"Ndet, kamu telpon iqbal sekarang,"
"Ngapain telpon Iqbal kak toh Sebentar lagi
kita akan sampai,"
"Tapi kalau memberi tau Iqbal, setidaknya
dia tidak cemas lagi,"
"Cieeee, mau Telpon Iqbal apa ingin
lihat Non Seila ?"
"Bondet...!"
"Sekali lagi, berani bicara aku jewer
telinga kamu ! heran aku, kok tau saja
jalan pemikiran orang."
"Tuh, kan, jadi bener kan !"
"Iya, ya ! kamu benar di mana mana suami
itu pasti ke pikiran istrinya Ndet, makanya
loe cepat nikah, biar tau rasanya cinta.
"Aku juga maunya begitu kak, tapi entahlah
kapan Allah bermurah hati mau memberikan
aku jodho," Keluh Bondet.
Bima menepuk nepuk pundak Bondet
"Sabar, Ndet !" orang sabar itu di sayang
__ADS_1
Allah.