Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.59.ORABG SABAR DI SAYANG Allah


__ADS_3

Ketika Bima sedang asik berbincang


bincang dengan sang anak remaja kecil datanglah Lisa menghampiri.


"Abang..!Makanan sudah siap, ayuh makan."


Ajak lisa pada Bima.


"Ayuh, Ade kecil kita makan," Ajak Bima


kepada seorang bocah remaja.


"Akhirnya datang juga, kak Bima, aku


sudah lapar nih, tapi di suruh menunggu,"


Ucap Bondet mengeluh.


Bima tersenyum seraya duduk di samping


Bondet.


"Nah, sekarang kamu boleh ambil apa


yang kamu mau," Ucap lisa kepada


Bondet.


"Ini sangat istimewa, aku akan makan


banyak hari ini," Ucap Bondet.


Bima tersenyum melihat Bondet makan


dengan lahap begitu juga bocah remaja


yang ada disampingnya.


"Abang..!kenapa cuma diam saja, ayo di


makan, apa masakan ku kurang enak?"


Tanya Lisa pada Bima.


"Ngak kok, ini enak, aku juga sudah makan


kurasa cukup," Ucap Bima menjelaskan.


"Halah, Bohong itu !" Paling juga ngak


enak makan karena ingat istri," Ucap


Bondet kemudian.


Lisa yang mendengar kalimat istri tiba tiba


terbatuk kecil.


"Apa benar begitu Abang?" apa Abang selalu ingat istri?"


Bima tersenyum.


"Bondet sangat berlebihan, jadi jangan dengarkan ucapannya, ini karna aku


kenyang saja, jadi ini sudah cukup,


sekarang aku permisi dulu,"Ucap Bima


seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Kak Bima, mau kemana?"Tanya Bondet penasaran.


"Sebentar, mau Telpon Seila,"Ucap Bima


"Tuh...! kan, apa ku bilang kak Bima pasti


mikirin istri, sudah Jangan di telpon Kak,


kita buat kejutan untuk nya,"Ucap Bondet


memberikan saran.


"maksud mu bagaimana?"Tanya Bima


"Nanti, saja kalau kita sudah sampai


baru kita kabari Non Seila,"


"Jangan Ndet, kasian nanti dia sedih,"


"Sok, tau kak, kalau Non Seila sedih,"


"Tadi, kamu bilang bicara dari hati maka


akan sampai pada hati, jadi hatiku

__ADS_1


menggatakan, istriku kini lagi sedih


Ndet,"Ucap Bima menirukan ucapan


Bondet kepada nya.


Bondet terkekeh mendengar ucapan Bima


yang menirukannya.


Bima mendekati Bapak setengah baya


yang sedang duduk sambil tersenyum


menatap ulah Bondet.


'Bapak, Trimakasih, telah menolong saya,


tanpa bantuan Bapak mungkin aku


sudah mati,"


"anak muda, jangan berterima kasih kepada


saya tapi berterimakasih lah kepada Allah


karena dialah engkau bisa selamat,"


"Iya, bapak,"


"Apa, hari ini juga kau akan pulang?"


"Benar bapak, saya pulang hari ini juga,


kasian orang tua bocah ini, pasti sekarang


sedang cemas,"


"Baiklah, hati hati di jalan ya Nak,"


Bima mengagguk.


Ketika Bima, Bondet dan bocah kecil itu


hendak melangkah keluar pintu, di lihatnya


seorang gadis sedang berdiri di ambang


pintu. Bima segera menghampiri sambil


"Trimakasih, sudah menolong kami,"


"Sama sama, Abang ! apa Abang mau


pulang sekarang?"Tanya Lisa.


"iya, mumpung tidak hujan, sekali lagi


trimakasih ya, sudah menolong kami,"


"Iya, sama sama Abang !Oh ya ini ada


makanan buat istri Abang, biar dia juga


bisa merasakan rasanya masakanku."


"Aku, jadi malu, karena aku merepotkan mu,"


"Tidak usah sungkan, anggap saja aku


saudara mu jadi tidak perlu sungkan


menerima segala pemberian ku,"


"Baiklah, sekali lagi trimakasih."Ucap


Bima seraya menerima bingkisan


makanan dari gadis itu.


Bondet langsung merampas bingkisan


dari tangan Bima.


"Biar, aku yang Bawa kak,"Ucap Bondet


menawarkan diri.


"ingat, cuma membantu membawakan


ya , jangan di makan," Teriak lisa menggingatkan.


"Iya, ya...!Pelit amat, kak Bima saja ngak


komplin kok,"Ucap Bondet seraya tertawa.

__ADS_1


Bima, Bondet, dan bocah remaja itupun


melangkah pergi. Bondet mengajak Bima


berjalan ke tempat di mana Bondet


dan teman teman dari penyelam mendirikan


tenda untuk mereka bermalam.


Melihat kehadiran Bondet yang datang


tidak sendiri, membuat para penyelam


itu terheran heran, bahkan ada yang


dengan terus terang menggatakan Bondet


berbakat menjadi detektif, karena dia


telah berhasil menemukan Keberadaan


Korban tanpa bantuan mereka.


"mendengar pujian itu Bondet tersenyum


simpul.


"Mari, pak, sekarang kita pulang, ajak


Bondet kepada pimpinan penyelam paruh


baya yang dari awal mula selalu mendukung


keinginannya.


"Maaf, merepotkan bapak semua, saya


mengucapkan banyak terimakasih


atas semua bantuannya," Ucap Bima.


"Jangan bicara begitu, kami tidak melakukan


apa apa, justru pak Bondet lah yang sudah


bersusah payah menolong anda, mari


kita berangkat pulang sekarang."


Semua sudah bersiap naik ke dalam


kapal, tidak menunggu berapa lama


kapal pun sudah berlayar.


"Ndet, kamu telpon iqbal sekarang,"


"Ngapain telpon Iqbal kak toh Sebentar lagi


kita akan sampai,"


"Tapi kalau memberi tau Iqbal, setidaknya


dia tidak cemas lagi,"


"Cieeee, mau Telpon Iqbal apa ingin


lihat Non Seila ?"


"Bondet...!"


"Sekali lagi, berani bicara aku jewer


telinga kamu ! heran aku, kok tau saja


jalan pemikiran orang."


"Tuh, kan, jadi bener kan !"


"Iya, ya ! kamu benar di mana mana suami


itu pasti ke pikiran istrinya Ndet, makanya


loe cepat nikah, biar tau rasanya cinta.


"Aku juga maunya begitu kak, tapi entahlah


kapan Allah bermurah hati mau memberikan


aku jodho," Keluh Bondet.


Bima menepuk nepuk pundak Bondet


"Sabar, Ndet !" orang sabar itu di sayang

__ADS_1


Allah.


__ADS_2