
Yoga tampak terlentang di atas kasur kamarnya, matanya terpejam tapi mulutnya terus mengoceh tak jelas,
Temmi yang masuk ke dalam kamar sang kakak karena tak kuat mencium aroma alkohol langsung menutup hidungnya dengan lengannya, mual rasanya perutnya, dan kepalanya pun jadi ikut pusing pula,
Tampak Temmi menghela nafas, melihat kakaknya yang benar-benar macam laki-laki tak berguna membuat Temmi merasa kesal,
Ini jelas hasil dari Ibu memanjakannya sejak kecil, tak terbiasa kerja keras, apa-apa selalu Ibu yang lakukan karena alasan kakaknya dulu mudah sakit,
Berbeda dengan Temmi yang sejak kecil selalu di bawah pengawasan Ayah, yang semua harus dilakukan dengan maksimal, Yoga sama sekali tidak begitu,
Hingga kemudian begitu akhirnya telah sama-sama dewasa, keduanya pun memetik hasil yang berbeda,
Temmi tahu, sekalipun Ibunya selalu membanggakannya sekarang, tapi Ibu tetap terlihat masih memanjakan Yoga dengan selalu memaklumi apapun yang Yoga perbuat,
Seperti saat Yoga memutuskan resign dan otomatis menjadi suami dan Ayah yang lepas dari tanggungjawab secara finansial kepada anak dan isterinya, Ibu pun bukannya memarahi Yoga, malah lebih memilih menyalahkan menantunya,
Temmi tampak berjalan ke arah Yoga yang berbaring di atas tempat tidur,
"Bangun Mas,"
Kata Temmi,
"Hmm..."
Terdengar Yoga hanya bergumam,
"Bangun,"
Kata Temmi mengulang sambil menarik tangan sang kakak agar bangun dari posisinya,
Mendengar suara Temmi, tampak pelahan Yoga membuka matanya,
"Bangunlah! Aku benci melihatmu seperti ini!"
Kata Temmi,
Yoga tampak bangun dari posisinya, ia duduk dengan posisi yang masih belum bisa stabil, masih agak sempoyongan karena untuknya saat ini semua berputar-putar,
Temmi yang berdiri di dekat tempat tidur bisa dilihatnya pula, tapi sosoknya juga ikut berputar-putar di mata Yoga,
"Setelah mengamuk hingga nyaris menghancurkan seluruh rumah, sekarang kau pulang mabuk, apa kau gila hah!"
Kata Temmi kesal sampai ke ubun-ubun rasanya,
Yoga terdiam, ia hanya mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap adiknya lebih jelas,
"Kamu mau sampai kapan hidup tak berguna begini? Kamu ini laki-laki Mas, kamu harusnya malu dengan kelakuanmu!"
__ADS_1
Kata Temmi dengan nada benar-benar marah,
"Haiish... Berisik!"
Sahut Yoga pula, tak kalah marah,
Yoga yang masih di bawah pengaruh alkohol itu berusaha bangun dan berdiri, ditatapnya sang adik dengan tajam,
"Kamu, lagi-lagi kamu Tem, sekarang kamu berani bicara kasar padaku! Kamu adik tak tahu diri!"
"Aku bukan tidak tahu diri, aku melakukan ini agar kamu bisa berubah! Kamu membuat semua orang terluka, apa kamu tak sadar!"
"Apa! Siapa yang terluka! Akulah yang paling terluka sekarang, hidupku hancur, isteri dan anakku pergi di saat aku tak punya apa-apa, kamu pikir ini tidak menyakitkan?!"
"Semua karena salahmu sendiri, perempuan mana yang bisa bertahan hidup bersama suami yang sehari-hari hanya dihabiskan untuk tidur, mereka juga punya kebutuhan yang harus kamu penuhi Mas!"
"Kamu pikir ini mauku hanya tidur saja! Aku juga sudah berusaha mendaftar kerja ke sana kemari, jaman sekarang itu bukan jaman dulu, yang mencari kerja harus keluar rumah!"
Yoga benar-benar tak mau disalahkan,
"Semua ada di hp, kalau aku keluar rumah, harus ada uang yang keluar lagi untuk modal, sementara hasilnya belum tentu ada!"
"Setidaknya lakukanlah apa yang kamu bisa, sekalipun itu hanya menghasilkan satu rupiah!"
"Haiiish, kamu benar-benar berisik!"
Yoga yang dalam kondisi emosi dan juga masih setengah mabuk langsung melayangkan bogem mentahnya ke arah wajah Temmi,
Temmi yang tak siap dan jelas tak menyangka kakaknya akan melakukan serangan fisik tampak terhuyung ke belakang,
Tak puas melihat sang adik terhuyung, Yoga memburu Temmi untuk menarik kaos Temmi, dan pukulan itu kembali melayang ke arah Temmi lagi,
Temmi tersungkur ke lantai,
"Ya... Kamu Tem, kamu yang membuat Laras jadi tak menghargai aku lagi, kamu pikir aku tidak tahu hah!"
Yoga kemudian mendekati Temmi lagi,
Tampak Temmi beringsut sambil berusaha bangun,
"Kalian, pasti ada apa-apa di antara kalian bukan? Pasti ada sesuatu di antara kalian bukan?"
Yoga mencecar Temmi yang kini tengah berusaha bangun sembari berusaha menyanggah apa yang kini tengah Yoga coba tuduhkan,
"Apa yang kamu bicarakan Mas? Aku tidak mengerti arah bicaramu ke mana!"
"Jujur saja kalau kalian main gila di belakangku!"
__ADS_1
"Siapa? Aku dan Mbak Laras? Apa kamu gila?"
Temmi sungguh tak habis pikir dengan otak kakaknya,
"Isterimu tak bisa melayanimu dengan baik, itu sebabnya kamu dekati Laras, iya kan?"
Yoga berusaha meraih kaos Temmi lagi untuk menariknya dan akan menghajar adiknya lagi,
Tapi kali ini Temmi sigap menghindar,
"Kamu gila Mas, kamu benar-benar gila! Aku masih terlalu waras untuk melakukan hal sebodoh itu, Mbak Laras adalah isteri Kakakku, yang otomatis dia juga berarti kakak perempuanku!!"
"Halah, mana ada maling yang mengaku!"
"Mas! Tuduhanmu sudah keterlaluan, sadarlah!"
"Kamu yang harusnya sadar karena telah merusak rumah tanggaku! Menusukku dari belakang, merayu isteriku saat aku tak punya uang!"
"Mbak Laras bukan perempuan serendah itu! Sadarlah!"
"Dia bukan perempuan rendahan, tapi kamu dengan uang bisa membuatnya seperti itu!"
"Mas Yoga, berhentilah bicara yang tak benar!"
Temmi yang tak lagi bisa bersabar pun jadi ikut memuncak, tampak ia menerjang kakaknya, dan perkelahian keduanya pun tak bisa terelakkan lagi,
Suara berisik dari keributan keduanya pun tentu terdengar dari kamar sang Ibu,
Tampak Ibu keluar dari kamar yang letaknya tak jauh dari kamar Yoga,
Berjalan tergopoh-gopoh ke arah kamar sang putra dengan wajah panik, Ibu terlihat matanya sudah sembab karena menangisi anaknya,
Dan...
"Astaga, Yoga, sudaaah... Yogaa... Tolooong... Tolooong,"
Ibu berteriak histeris,
Husin asisten Temmi yang berada di lantai satu karena mendengar suara Ibu majikannya berteriak, maka ia pun langsung berlari ke arah lantai dua,
Ibu tampak terduduk lemas di depan kamar Yoga yang pintunya terbuka, ia menatap Husin sambil menunjuk ke dalam kamar Yoga,
Husin panik langsung berlari masuk ke dalam kamar kakak Tuannya, yang kini tampak Temmi, sang Tuannya tergeletak tak sadarkan dengan darah di mana-mana,
Sementara, Yoga kakaknya yang mengamuk kalap, terlihat terduduk di samping tubuh Temmi sambil bersandar tak berdaya pula,
"Kalian, apa yang kalian lakukan? kenapa jadi seperti ini? Kenapa? kenapaaa?"
__ADS_1
Ibu histeris luar biasa, lalu berakhir dengan pingsan karena merasa terlalu sesak dadanya mendapatkan semua kekacauan di dalam rumahnya.
...****************...