Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.180.TERHARU


__ADS_3

Novi buru buru mengambil satu lembar koran dan berjalan lebih cepat menuju kamar nya.


"Nov...!" apa yang kau bawa itu?'tanya Arya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, tubunya memang terlihat segar akan tetapi wajahnya begitu kusut dan seperti tiada sinar cahaya keceriaan. Novi yang tidak menyangka jika Arya akan cepat keluar dan memergoki nya, buru buru Novi menyembunyikan lembaran koran itu di balik punggung nya sambil tersenyum.


"Arya...kau sudah selesai mandi?"


"Aku bertanya padamu kenapa kau tidak menjawab nya." tanya Arya dengan tatapan penuh selidik, membuat Novi menelan ludahnya dengan kasar.


"Aku, tidak ada, memang nya aku harus menyembunyikan apa nih, aku lagi menyapu jangan lupa ya aku di gaji lho menyapu tidak gratis," seru Novi sambil senyum senyum, sengaja semua itu Novi lakukan agar bisa mengalihkan perhatian Arya.


"Ya, sudah lanjutkan kerja mu."ucap Arya kemudian.


Tanpa menjawab Novi mengagguk kemudian buru buru pergi, sedangkan Arya memicingkan matanya menatap bepergian Novi yang mencurigakan.


"Sangat aneh apa jangan jangan Novi juga tau tentang Arina?"desis. Arya dalam hati. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Arina sampai berbuat senekat itu, apa hebatnya laki-laki yang di kejar nya itu, Arya masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan cermin.


"Apakah aku masih kurang gagah, wajahku cukup tampan kan dan permainan ranjang ku juga sangat kuat uangku juga bayak apalagi yang wanita itu butuh kan,"Arya mengaruk kepalanya yang tidak gatal dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa yang kau mau Arina," desis Arya dalam hati.


Suasana siang hari yang cerah langit berwarna biru dan tanpa mendung yang menggantung membulatkan tekat Novi untuk segera pergi menemui Arina di dalam penjara, bagaimana pun juga Arina adalah temannya dan bagaimana pun juga Novi yang juga seorang wanita bisa memahami bagaimana perasaan seorang wanita yang terobsesi akan cintanya dia bisa melakukan apa saja dan siap menanggung segala resiko yang akan terjadi pada nya.


Novi buru buru memasukkan segala sesuatu yang di perlukan ke dalam tas kecil dengan buru buru dia keluar kamar dan berjalan menuju pintu.


"Kau mau ke mana?" tanya Arya ketika melihat Novi buru buru dengan baju sudah rapi dan tas terslempang di pundak.


"Aku...aku mau menemui Ayah di rumah sakit sudah lama aku tidak menengoknya semenjak aku harus menjadi perawat pribadi kamu." ucap Novi memberikan penjelasan, karena tidak mungkin Novi bicara jujur hendak ke penjara untuk menemui Arina.

__ADS_1


"Oh, apa mau aku mengantarmu?tawar Arya pada Novi, sebuah tawaran yang sebenarnya membuat hati Novi senang akan tetapi ini bukan waktu yang tepat karena tujuan Novi pergi kali ini ingin menemui Arina di dalam penjara dan tentu saja hal itu harus di lakukan dengan sembuyi sembuyi karena Novi tidak ingin Arya tau di mana Arina kini berada.


"Tidak usah Arya trimakasih, aku pergi dulu takut kesiangan dan rasanya aku sudah rindu dengan Ayah."Ucap Novi seraya membuka pintu dan melangkah pergi.


"Baiklah, hati-hati ya."


Novi mengangguk, setelah kepergian Novi, Arya pun bersiap siap untuk pergi ke penjara guna menemui Arina.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya Arya sudah sampai. Ada rasa haru dan kesal setelah sekian lama terpisah hari ini Arya akan kembali bertemu dengan istrinya, pertemuan yang sangat memprihatinkan di mana harus berada di ruang tunggu dan sang istri menggunakan baju resmi seorang narapidana. Arya menunggu dengan hati yang gelisah menatap pintu yang akan di buka dari luar, rasa gelisah dan resah semakin menjadi ketika tiba-tiba handel pintu bergerak dan terbuka, yang perlahan lahan menampilkan wajah seorang wanita dengan tubuh yang sedikit kurus berjalan memasuki ruangan itu. Sangat terlihat jelas jika gadis itu awalnya sangat terkejut ketika menggetahui siapa yang datang menjenguknya.


Rasa terkejut yang langsung dia sembunyikan dengan sangat apik dan rapi, hal itu dapat terlihat jelas ketika dia berusaha mengembangkan sebuah senyuman.


"Maaf, apakah anda yang ingin bertemu dengan saya, seperti nya saya tidak mengenal anda dan mungkin anda lagi salah orang." ucap Arina datar yang membuat laki-laki di depannya terkesiap dengan sikap gadis yang ada di depannya, raut wajah nya berubah merah padam dan kedua tangannya mengepal.


"Kau tidak menggenaliku."tanya Arya dengan suara berat Namum penuh penekanan dan gadis di depannya tetap berusaha tenang seolah olah benar benar mereka berdua adalah orang asing yang tak pernah saling mengenal.


"Maaf, saya tidak menggenali anda."ucap Arina menjelaskan.


Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar.


"Bagus...cukup bagus, sandiwara mu Arin...!kau lupa dengan suamimu sendiri, oh ya aku lupa jika kau juga mengginginkan kematianku kan, kau celaka kan aku hingga aku cacat lalu kau kuras hartaku setelah puas, kau kirim aku ke luar negeri dan kau dengan sangat bangga nya merubah wajahmu dengan melakukan operasi plastik."


Arina tertunduk, ada buliran bening yang jatuh di pipi halus nya.


"Aku siap menerima hukuman mu, kau boleh menuntut ku agar aku bertambah lama di penjara ini." ucapnya lirih yang kemudian hendak melangkah pergi, Namun tangan kekar milik Arya menariknya dengan kuat hingga Arina jatuh pada dada bidang laki-laki itu Arina sedikit tersentak kaget buru buru dia melepaskan diri.


"Maaf," ucapnya lirih.

__ADS_1


Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, Arya berusaha mengontrol emosi nya.


"Duduklah, dan makanlah aku membawa kan bekal makanan untuk mu."


"Aku, sudah makan tidak usah trimakasih."


"Duduk dan makanlah Arin...!" aku tidak mau orang yang ku tuntut badan nya kurus kering begitu, makanlah dan turuti perintah ku."


Dengan terpaksa Arin menuruti perintah dari Arya perlahan lahan Arin mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya beberapa kali kemudian berhenti.


"Kenapa berhenti, habiskan apa kurang enak sini biar ku coba"ucapn Arya.


"Jangan itu bekasku, kotor," elak Arina sambil menarik bungkus makanan yang ada di depannya.


"Apa salahnya makan bekas punya istri sendiri, sini, ku lihat rasanya tadi aku membeli di pinggir jalan yang ada di ujung itu."


"Itu kan dulu sekarang sudah beda, srkarang aku bukan istrimu aku hanya lah seorang narapidana,"


"Sejak kapan aku menceraikan mu."


"Tapi, aku sudah mencelakaka mu dan kau bilang akan memberikan hukuman padaku,"


"Benar aku akan memberikan hukuman padamu tapi dengan caraku sendiri, ini cukup enak habiskan,"


"Tidak perutku sudah kenyang."tolak Arina


"Badan sudah kurus begitu masih juga bilang kenyang, kamu habiskan dan tunggu aku disini aku akan segera kembali,"ucap Arya seraya bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi. Arina merasa terharu melihat kedatangan suami nya bahkan setelah apa yang telah dia perbuat padanya Arya masih mau membawakan bekal makanan untuk nya bahkan tidak jijik makan bekasnya pula, perlakuan Arya menggingat kan Arina pada kenangan masa silam di mana Arya begitu sangat baik dan perhatian padanya.

__ADS_1


__ADS_2