Kabut Cinta

Kabut Cinta
16. Mau Apa Dia?


__ADS_3

Arin dan Laras baru saja sampai di rumah makan milik Arin lagi, saat terlihat dua mobil minibus juga masuk ke area parkir dalam waktu yang nyaris bersamaan, dua mobil dengan plat luar kota itu tampaknya membawa rombongan dalam jumlah orang yang cukup banyak,


"Wah, tampaknya hari pertama kerja kamu akan langsung sibuk Ras, ada tamu besar tuh Ras,"


Kata Arin pada Laras sambil memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang memang disediakan untuk Arin sebagai pemilik rumah makan tersebut,


Laras tampak memandangi dua mobil minibus yang kini mulai tampak turun para penumpangnya, dan benar, dari satu mobil saja, ada lebih dari enam orang dewasa yang turun, belum lagi anak-anaknya,


"Baguslah, kalau setiap hari sibuk malah aku senang, ayok kita sambut rejeki besar,"


Kata Laras semangat, Arin tampak tersenyum lebar melihat Laras yang terlihat antusias mendapati para tamu yang datang.


Arin dan Laras pun turun dari mobil, keduanya lantas cepat masuk ke rumah makan melewati pintu samping yang menghubungkannya langsung ke dapur utama, di mana di sanalah semua lauk pesanan diolah.


"Aku langsung ke depan ya Ras,"


Kata Arin pada Laras yang tentu saja langsung mengiyakan,


"Ya, pergilah, aku membantu di sini,"


Kata Laras, tampak Arin pun mengangguk, dan setelah itu langsung keluar dari dapur.


"Apa yang harus saya bantu Bu?"


Tanya Laras pada Bu Hasmi yang terlihat sibuk sendirian menggoreng ayam.


"Oh kebetulan ini, tolong dibantu menyiapkan lalapan dan sambal, si Lastri sedang sibuk membuat cah kangkung,"


Kata Bu Hasmi. "Oh ya siap Bu Hasmi,"


Sahut Laras cepat, yang seketika tampak disambut Bu Hasmi dengan tersenyum sambil mengangguk,


Bersamaan dengan itu, seorang pelayan masuk ke dalam dapur, ia membawa banyak sekali catatan, yang lantas diambil Hasmi dan kemudian dibaca dan di catat ulang dengan cepat lalu dibaca dengan suara keras sambil membagi tugas,


"Cah kangkung lima porsi, ayam bakar madu dua porsi, pesmol ikan mas, ayam goreng sepuluh porsi, tiga tidak pakai lalap daun kemangi, tahu goreng empat porsi, lele goreng satu porsi..."


Hasmi mencatat dengan cekatan seraya membagi tugasnya,


Para pekerja yang sudah terampil dan tahu tugas masing-masing bekerja dengan fokus, Laras juga terlihat langsung sibuk membantu menyiapkan lalap dan menyiapkan sambal untuk beberapa lauk,


"Minuman, es jeruk, es teh..."


Suara Hasmi kembali terdengar, ia sebagai kepala dapur sudah macam panglima perang yang mengatur strategi,


"Nasi berapa porsi?"


Tanya bagian nasi,


"Ayam bakar madu siap,"


Bagian ayam bakar masuk dari pintu belakang, karena memang untuk pembakaran ayam, sate, ikan dan lainnya sengaja diletakkan di tempat terbuka,

__ADS_1


Belum lagi selesai, seorang pelayan masuk lagi membawa catatan pesanan,


Laras yang baru kali pertama bekerja terlihat sangat bersemangat, urusan capek toh dia sudah biasa capek, tapi berbeda pastinya jika capek itu dihargai dan terutama diberi bayaran,


Ah Laras jadi ingin suatu hari juga bisa seperti Arin, membuka tempat makan sendiri, punya pelanggan sendiri,


Tak usah sebesar rumah makan Arin ini, karena pasti modalnya tak cukup satu dua juta,


Buat Laras, yang penting bisa untuk mencukupi kebutuhannya dan Angga, bisa untuk biaya sekolah Angga hingga kelak ia sekolah agar bisa sukses dan punya kehidupan yang jauh lebih baik daripada orangtuanya.


"Mbak Laras, kalau sudah bantu Bu Hasmi, bantu saya buat pesanan minuman Mbak,"


Kata seorang perempuan yang bertugas membuat minuman,


"Oh siap Mbak Yuni, siap,"


Sahut Laras sambil menoleh sebentar, lalu kembali fokus untuk menyelesaikan tugas pertamanya.


...****************...


Jam sepuluh waktu Indonesia Barat,


Yoga tampak berdiri bersandar di tembok pagar sekolah Angga, anaknya.


Sekolah sudah tampak sepi, anak-anak mulai pulang satu persatu bersama wali mereka,


"Angga tidak mau pulang dengan Papa, Angga takut dengan Papa,"


Ibu Guru tampak dengan sabar mengelus kepala Angga,


"Angga mau di sini saja?"


Tanya Bu Guru,


Angga mengangguk,


"Angga mau tunggu Mama saja,"


Kata Angga pula,


Bu Guru pun mengangguk mengiyakan,


"Baiklah, Angga di sini dulu ya, Ibu akan telfon Mama Angga sebentar, nanti kalau Mama tidak bisa menjemput, Angga pulang dengan Papa ya,"


Ujar Bu Guru yang lantas kemudian meraih hp nya dan kemudian menghubungi Laras selaku Mamanya Angga,


Sekolah sudah sepi dan kini tinggal Angga seorang diri dan beberapa Guru saja, sedangkan di luar sana Yoga tampak masih berdiri dan sesekali memanggil Angga agar cepat keluar,


Untungnya di pagar depan ada satpam sekolah yang berjaga, hingga Yoga tak bisa seenaknya nyelonong masuk,


Mungkin, kalaulah tak ada satpam di sana, ia sudah masuk sendiri ke area sekolah dan mencari Angga,

__ADS_1


Angga di pojok kelas yang letaknya memang dekat sekali dengan pagar utama terlihat ketakutan,


Ia berjongkok sambil memeluk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di lutut,


Melihat hal itu tentu Bu Guru jadi merasa jika Papa nya Angga sepertinya bukan orangtua yang bisa dipercaya jika nantinya Angga pulang bersama dia,


Tuuuut... Tuuuut...


Suara panggilan terhubung ke nomor Laras terdengar,


Bu Guru menunggu dengan gelisah,


Panggilan pertama terlewatkan, Bu Guru menghela nafas,


Tapi ia tak menyerah, ia kembali menghubungi Laras lagi,


Ini sudah jam sepuluh lebih, pastinya Laras tahu ini sudah lewat dari jam pulang sekolah anaknya,


Ibu yang satu itu bahkan biasanya seharian menunggu Angga di sekolah, tapi hari ini ia bilang sudah mulai bekerja, jadi ia akan mengantar dan menjemput Angga saja dan tidak bisa menunggui sepanjang hari anaknya bersekolah,


Tuuut... Tuuuuuut...


Terdengar kembali nada terhubung ke nomor Laras,


Hingga akhirnya,


"Oh Bu Guru, maaf Bu, ini sudah sampai pertigaan Bu, sebentar lagi sampai, tadi bannya kurang angin, mampir isi angin lebih dulu,"


Suara Laras lamat-lamat terdengar diantara deru suara kendaraan di jalan yang lalu lalang,


"Oh baiklah Bu Laras, ini sebetulnya Papa Angga ada di depan sekolah mau jemput Angga pulang, tapi..."


"Apa Bu? Pa... Papanya? Oh jangan... jangan... saya mohon jangan ijinkan Angga pulang dengan Papanya, saya sebentar lagi sampai,"


Langsung terdengar suara panik Laras begitu mendengar Bu Guru menyebutkan Papa Angga,


Setelah itu Laras pun langsung memutus panggilan sang ibu guru, lupa ia memohon diri memutus pembicaraan agar bisa kembali melanjutkan perjalanan,


Ah yah, ini sudah terlalu siang, sudah jam sepuluh lewat, di mana biasanya Laras bahkan sudah sampai di rumah bersama Angga,


Tapi, hari ini memang rumah makan Arin sangat ramai, bahkan andai tadi Laras tidak diingatkan oleh Ibu Hasmi untuk menjemput Angga, pasti Laras masih berkutat di dapur rumah makan untuk membantu menyiapkan pesanan,


Laras cepat membawa motornya menuju sekolah Angga,


Mau apa Mas Yoga sebetulnya?


Apa dia tidak ingat betapa setiap hari diminta mengantar dan menjemput Angga ke sekolah saja banyak alasan, padahal dia hanya sibuk tidur dan main hp.


Batin Laras sembari menambah kecepatan laju motornya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2