
Dengan senyum yang tersungging Arina, merebahkan dirinya di ranjang dan tidur dengan
nyeyak.
Ke esokan harinya, Arina bergegas mandi tanpa
membersihkan apapun yang ada di dalam rumah.
Hari ini, Arina, berniat pergi lebih pagi, karena khawatir jika tiba tiba Arya sudah nonggol di depan pintu, seperti waktu waktu sebelumnya.
Hari masih sedikit gelap karena waktu baru menunjukkan pukul 5.00 pagi, dengan nafas lega Arina cepat meninggalkan rumah kontrakan itu.
"Syukur lah, Arya belum datang."
Sambil menunggu waktu beranjak siang, Arina
memasuki mini market, suasana masih sangat sepi dan sunyi.
"Untuk sarapan pagi lebih baik, aku beli mie dan makan disini saja, dari pada nanti kelaparan,
Arina segera memilih pop mie yang hanya di kasih air panas, di tutup lalu matang.
Tidak menunggu lama mie buatannya sendiri sudah siap di makan.
Mini market jaman sekarang seperti Alfa Maret atau Indo Maret sama sama sudah maju, sudah
menyajikan air panas bagi siapa saja yang ingin
menikmati mie atau kopi di tempat.
Ketika Arina lagi Asik menikmati makanannya
Matanya menangkap sosok yang seperti nya
tidak asing baginnya, tapi Arina lupa sispa nama orang itu.
Orang itu juga membuat mie yang sama seperti nya dan rupanya dia juga hendak makan disini.
Tanpa sadar Arina yang sedari awal memperhatikan orang itu, ternyata orang itu
merasakan nya.
"Kenapa Nona memandangi saya terus, ada apa?"
Mendengar sapaan pemuda yang tiba tiba ada di depannya, cukup membuat nya gugup, yang
pertanyaan nya sangat memerahkan telinga,
membuat Arina menelan ludah nya dengan kasar dan cepat cepat menggalihkan perhatian nya.
"Itu, hanya perasaan kamu saja,"
Ucap Arina datar.
Pemuda itu terkekeh kecil, kemudian membawa mie buatannya mendekati tempat
duduk Arina, di mana Arina asik menikmati
pop mie nya.
Melihat pemuda itu berjalan ke arahnya dengan
cepat cepat Arina menghabiskan pop mie nya
dia ingin segera keluar dari tempat itu,
sungguh tak mampu jika di tanya yang tidak tidak, pasalnya Arina cuma merasa dan menduga duga seperti nya dia mengenal orang
itu.
"Jangan di paksakan, kalau mulutnya tidak cukup muat, untuk melahap semua mie itu,"
__ADS_1
Mendengar ucapan pemuda itu
Arina jadi terbatuk kecil.
"Aku, lagi buru buru, jadi harus cepat makannya." Elak Arina.
"Memangnya mau kemana kok buru buru,"
"Aku, ada janji dengan perusahaan Roti Bakri,
mungkin lamaran kerja ku di trima disana,"
"Oh, lagi mencari pekerjaan ya?
Arina tersipu seraya mengagguk.
"Oh, ya, tadi kenapa menatapku, apa ada yang aneh dariku,"
Arina membulatkan kedua matanya dengan sempurna berharap orang yang ada di depannya nengakui telah salah bicara, namun
seperti nya dugaan Arina kliru dan salah justru
pemuda yang ada di depannya menatapnya dengan tatapan tajam, membuat Arina harus
cepat cepat membuang muka.
"Kenapa diam,"
Tanya pemuda itu lagi.
"Tidak, aku cuma seperti pernah melihat mu,
tapi sudah lah bisa juga aku salah lihat."
Ucap Arina kemudian.
Pemuda itu mengeryitkan dahinya dan kemudian menggulurkan tangannya.
"Arina."
"Kau butuh pekerjaan kah?"
"Iya, aku disini, pengangguran jadi aku mau mencari kerja."
"Apa kau mau, bekerja padaku?"
"Jika cocok dengan kemampuan ku kenapa tidak?"
"Baiklah, ini kartu namaku, datanglah jika kau
butuh pekerjaan."
"Trimakasih, kalau begitu aku permisi dulu, aku ingin tau keputusan jawaban dari perusahaan
apa aku di trima kerja disana atau di tolak."
Arina keluar dari mini market seraya melambaikan tangannya kepada pemuda itu.
****
Sementara Bima yang berhasil menemukan Nafa dan melepaskan ikatan Nafa, hendak meninggalkan tempat itu, terpaksa harus berhenti karena, suara yang mengejutkan tiba tiba ada di depan mereka.
Bima menatap dengan seksama wajah yang ada di depannya itu.
"Manusia kelelawar," Desisnya.
Dengan suara yang lantang sambil tertawa
Sosok bertubuh tinggi itu berdiri tepat di hadapan mereka.
"Kembalikan Tawananku, atau kau kubunuh,"
__ADS_1
Dengan berkeringat dingin yang mulai membasahi pelipis nya, Nafa mengenggam erat tangan Bima.
"Kak Bima, aku takut,"
"Tenanglah, kau akan baik baik saja, tak kan kubiarkan dia melukaimu,"
"Tapi kak..!"
"Mundurlah, biar ku hadapi mahkluk yang ada di depan kita."
"Ini, sangat berbahaya, dia bisa terbang, kak
Bima bisa kalah dan terluka,"
"Tenanglah, kalau ada kesempatan kamu cepat berlari keluar goa, jangan hiraukan apapun yang terjadi, meskipun kamu melihat aku terluka, apa kau mengerti ?
"Nafa mengagguk,"
"Hey...Anak manusia, sudah cukup kalian bicara
trimalah kematian mu,"
Dengan kecepatan kilat kelelawar terbang menyabar nyambar, mangsa yang ada di depannya, untuk beberapa saat Bima harus
sigap merubah posisi kepala nya dari lurus mjdi ke kanan dan kekiri dengan sedikit seruan
Bima menyuruh Nafa untuk lari dan dan menghubungi Bondet.
"Cepat, lari... dan telpon Bondet sekarang juga, aku tidak akan bisa bertahan lama,"
"Tapi, kak...!"
"Cepat lari.,..!!!
Dengan berat hati Nafa segera berlari pergi, sambil menghubungi Bondet
Bondet yang mendapat telpon dan mendengar semua cerita Nafa dengan segera, berlari kearah di mana Bima berada.
"Bondet, cepat bantu Kak Bima menangkap mahkluk kelelawar disana,"
"Mahkluk kelelawar, jadi yang menangkapmu bukan manusia?"
"Sudah, cepetan, jangan banyak tanya,"
"Iya, baiklah, aku pergi dulu."
Bondet berlari menuju kearah di mana Bima berada dan Nafa berlari keluar goa, hatinya bertekad ingin meminta bantuan pada orang yang ada di sekitar goa, itu.
Ketika sampai di dalam goa yang paling dalam,
Bondet melihat Bima berkelit kelit dari Sambaran mahkluk kelelawar.
Bondet melihat Bima sudah hampir kehabisan tenaga sehingga kelitan dan cara Bima menghindar sudah sangat lemah dan pada detik berikutnya kelelawar itu hampir bisa
menghantam dan menangkap kepala Bima,
namun pada detik yang bersamaan, Bondet
melempar beberapa batu dengan kecepatan yang tinggi sehingga batu batu kecil itu, menerpa kelelawar dengan bertubi tubi bagaikan hujan.
Tubuh kelelawar yang di hujani dengan batu
ada yang tepat sasaran dan mampu mengalihkan perhatian kelelawar dari menyerang Bima berbalik menjadi menyerang
Bondet.
Dalam posisi yang tidak siap menghindar dengan mudah tubuh Bondet, di tangkap sang mahkluk kelelawar.
Bima yang menyadari Bondet dalam Bahaya, dengan cepat mengambil bambu yang berfungsi sebagai penerang ruangan yang biasa kita kenal dengan sebutan obor.
Dilemparkan nya obor yang ada apinya itu tepat ke arah mata sang kelelawar, akibat dari lemparan obor yang di lakukan Bima, dengan sendirinya gengaman tangan yang mencengkram Bondet pun lepas.
__ADS_1
Sang Mahkluk kelelawar semakin murka, dia menyerang dengan membabi buta.