
Siapa?"
Tanya Arin di perjalanan menuju rumah makan lagi, urusan dengan pengacara Hendrawan gagal total karena Laras memilih pulang,
"Temmi, adik iparku,"
Jawab Laras tanpa menoleh ke arah Arin,
Perasaannya kini tak menentu, irama detak jantungnya terasa begitu berantakan,
Mata Laras tampak sedang memandangi suasana jalanan di luar sana, melihatnya dari balik kaca mobil, namun sebetulnya dalam pandangannya saat ini yang terlihat justeru wajah Temmi yang penuh luka dan lebam di beberapa sudut wajahnya,
Kenapa dia sebetulnya?
Kenapa menemui pengacara Hendrawan?
Apa dia terlibat sebuah masalah dengan seseorang?
Atau...
"Oh adik ipar, aku pikir dia seseorang yang punya perasaan padamu,"
Kata Arin sambil tersenyum-senyum penuh arti, yang kemudian membuat Laras jadi menoleh ke arah Arin,
Arin yang sadar Laras memandang ke arahnya jadi menyempatkan diri menoleh ke arah Laras juga sambil nyengir,
Laras yang tahu Arin sepertinya sedang memikirkan sesuatu yang aneh akhirnya terpaksa menabok lengan sahabatnya itu,
Perlakuan Laras itu malah jadi membuat Arin makin ingin tertawa,
__ADS_1
"Kamu ini Rin, masih saja suka iseng kayak dulu,"
Kesal Laras membuat Arin makin menjadi tawanya,
"Apa sih Ras, biasa aja dong,"
Kata Arin,
"Bukan gitu Arin, itu Temmi adik suamiku, jadi dia juga adikku,"
Laras berusaha memastikan hubungannya dengan Temmi yang tak lain hanyalah kakak dan adik ipar saja,
"Tapi kalau kamu dan suamimu bercerai, dia sudah bukan adikmu lagi dong,"
Ujar Arin,
Laras menghela nafas,
Arin melirik Laras yang saat menjelaskan terlihat begitu gugup dan suaranya juga terdengar tergetar,
Arin tersenyum-senyum lagi,
"Dia selama ini baik sekali padaku, sejak aku masuk rumah itu, dia yang bisa membuatku bertahan hingga beberapa tahun ini,"
Lirih Laras sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil dan kini tatapannya berubah lurus ke jalan di depan sana,
"Dia berbeda dengan yang lain yang selalu melihatku sebelah mata, dia juga yang lebih sering membelaku dibanding Mas Yoga yang merupakan suamiku,"
Tambah Laras pula seperti malah jadi terkenang, Arin melihat wajah Laras sepintas lalu kembali, melihat raut wajah sahabatnya yang kini memerah,
__ADS_1
Terbayang lagi di benak Arin saat tadi ia keluar dari kantor pengacara Hendrawan dan melihat Laras yang tengah direngkuh Temmi,
Terbayang lagi di benak Arin bagaimana saat kedua orang itu saling menatap beberapa saat hingga seperti kehilangan kesadaran atas situasi dan kondisi di sekitar mereka,
Arin, entah kenapa merasa yakin jika di antara kedua orang itu ada sesuatu yang sebetulnya lebih dari perasaan kakak dan adik ipar, namun karena keduanya masing-masing sama menyadari posisinya, masing-masing sama mampu menjaga perasaannya, maka mereka tetap menjalin hubungan baik sampai sekarang,
Namun...
"Aku lihat dia memang laki-laki yang baik,"
Kata Arin,
Laras mengangguk kecil, namun tatapan matanya berusaha menghindari Arin dengan menoleh ke arah kirinya menatap jalanan di luar sana lagi,
Arin kembali tersenyum,
Ia sangat memahami situasi yang serba tak enak ini untuk Laras, jadi ia pun memutuskan untuk tidak mengajak Laras membahas Temmi lagi.
"Jadi, bagaimana rencanamu sekarang? Besok mau menemui Pengacara Hendrawan lagi?"
Tanya Arin mengalihkan pembahasan,
Laras menghela nafas,
"Mungkin lebih baik kita cari orang lain saja Rin,"
Jawan Laras lirih, Arin pun mengangguk mengiyakan.
Ya tentu saja, sebagai seorang sahabat yang telah berjanji akan selalu ada untuk Laras sebagaimana dulu Laras juga begitu untuk Arin saat masih sekolah, Arin tentu harus selalu mendukung apapun keputusan Laras selama itu baik.
__ADS_1
****************