Kabut Cinta

Kabut Cinta
30. Kesedihan Seorang Ibu


__ADS_3

Laras menghampiri tubuh suaminya yang kini terbujur kaku, wajahnya terlihat penuh luka,


Laras menangis tersedu, apalagi Angga di sampingnya,


"Papa kenapa Ma? Papa kenapa?"


Tanya Angga sambil menangis,


Laras pun lantas menatap anaknya dengan begitu sedih, ditariknya dengan lembut sang anak untuk kemudian ia peluk dan ia cium agar tangis anaknya berhenti,


"Papa sudah istirahat, tidak apa-apa, Papa sudah capek, ingin istirahat,"


Kata Laras,


Angga menatap Papanya yang matanya tertutup rapat sama sekali, tubuhnya pun telah kaku tak bergerak sama sekali,


"Aku sudah memaafkan kamu Mas, aku sudah maafkan, tidak apa-apa, aku terima semuanya, pergilah dengan tenang, semoga di kehidupanmu yang baru, kamu mendapatkan tempat yang lebih baik untukmu,"


Kata Laras sambil tetap memeluk Angga, air matanya yang bercucuran membasahi baju Angga yang juga menangis dalam pelukannya,


Suasana pun benar-benar penuh dengan kesedihan di ruangan yang serba putih itu,


Ya, tentu saja...


Apa lagi hal di dunia ini yang lebih menyedihkan selain ditinggal orang yang kita sayang?

__ADS_1


Meskipun Laras baru saja berencana akan menggugat cerai, meskipun Laras telah meninggalkan rumah yang ia telah lama tinggali bersama sang suami, meskipun ia sempat begitu terluka dengan kelakuan dan ucapan sang suami,


Tapi...


Pada akhirnya, mendapati Yoga, suaminya kini terbujur kaku, mendapati sosok laki-laki yang telah menikahinya sekian tahun itu kini tak lagi bernafas lagi, hati Laras pun menjadi benar-benar hancur,


Apalagi setelah Temmi, adik iparnya menyampaikan niat Yoga akan pergi kepada kedua orangtua Laras namun di tengah jalan ia justeru harus mengalami kecelakaan itu, membuat hati Laras semakin hancur saja,


Sementara itu, di saat Laras tengah tenggelam dalam kesedihan yang begitu menyakitkan, di tempat yang tak jauh dari ruangan jenazah, Ibunya Yoga tengah menatap Temmi dengan kesal,


Matanya yang basah karena air mata begitu penuh kemarahan terhadap Temmi,


"Kenapa kamu selalu membela dia, Temmi? Kenapa? Kenapa?!"


Tampak Temmi menggelengkan kepalanya,


"Bukan begitu Ibu, bukan begitu,"


"Bukan apa, kenyataannya kamu terus saja membelanya, dalam hal apapun kamu selalu saja pasang badan dan bahkan lebih memilih melawan Ibu jika berhubungan dengan Laras,"


"Ibu, sungguh, sadarlah Ibu, perlakuan Ibu pada Mbak Laras itu sudah keterlaluan selama ini Bu, aku membela Mbak Laras karena memang tidak semua kesalahan ada padanya tapi selalu saja ditimpakan padanya,"


"Tapi karena dia nyatanya hidup kakakmu jadi sial, bahkan dia jadi seperti sekarang,"


Ibu memukul-mukul dadanya yang sakit karena menahan kesedihan yang teramat sangat,

__ADS_1


Baginya, tak ada hati yang lebih hancur daripada hancurnya hati seorang Ibu yang kehilangan anaknya,


"Ibu, Temmi tahu Ibu sangat mencintai Mas Yoga, bahkan aku seringkali iri melihat Ibu yang selalu terkesan lebih mencintai Mas Yoga dibandingkan aku, saat ini Ibu pasti sangat terpukul dan sangat sedih atas kepergian Mas Yoga, tapi..."


Temmi membantu mengusap air mata Ibunya dengan lembut,


"Tapi Ibu, sungguh, percayalah jika Mbak Laras juga pasti sama sedihnya seperti Ibu, apalagi di antara mereka telah ada buah hati, pasti ini juga berat baginya,"


"Sedih apa? Berat apa? Dia telah jelas-jelas meninggalkan Yoga, dia tak peduli pada suaminya!"


Ibu begitu keras kepala, hingga membuat Temmi sampai menangis karena tak tahu lagi caranya membuat hati Ibunya lembut dan terbuka,


"Ibu, jangan seperti ini terus, aku mohon, kebencianmu pada Mbak Laras membuatmu jadi melampaui batas,"


Kata Temmi sedih.


Ibu terduduk lemas, ia memukul-mukul dadanya yang sakit,


"Aku yang mengandung kalian, menyusui kalian, menggendong kalian pagi sampai malam, terjaga setiap malam demi kalian, membesarkan kalian dari keadaan masih sulit hingga akhirnya Ayah kalian sukses, sakitnya kalian adalah sakitnya Ibu, ketidak bahagiaan kalian adalah kesedihan yang teramat sangat untuk Ibu,"


Lirih Ibu sambil menangisi nasib anak-anaknya yang baginya begitu tak beruntung, bahkan Temmi yang ia pikir telah mendapatkan perempuan yang begitu sempurna pun tiba-tiba saja harus memilih berpisah,


Ibu begitu sedih dan sakit. Sungguh... sungguh...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2