Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.126.BERTEMU


__ADS_3

Bima menatap tajam ke arah gadis pelayan yang di nilai sudah kurang ajar kepadanya. Sementara gadis pelayan itupun tak mau kalah dia juga menatap dengan tajam sehingga pandangan mata mereka bertemu. Ketika tatapan mata mereka saling beradu entah mengapa Bima menjadi salah tingkah, merasa tidak mampu lagi membalas tatapan mata gadis yang ada di depannya Bima memilih membuang muka.


"Cepat bersihkan dan ganti dengan yang baru,"ucap Bima kemudian.


"Boleh, tapi kamu harus bayar juga yang tumpah ini."


Mendengar perkataan gadis di depannya Bima tersulut emosi kembali.


"Enak, saja, yang numpahin kan kamu jadi itu resikomu."


" Ini, bisa tumpah kan gara-gara aku mengantar kesini, jadi kamu yang harus ganti," ucap gadis itu tak mau kalah.


Seila yang melihat gadis itu terus memarahi suaminya dan menatap tajam kepada Bima, Seila mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis pelayan itu.


"Kamu jangan cari perhatian deh, dari tadi menatap suamiku terus, pergi sana dan ganti dengan yang baru, kami bukan orang miskin yang tidak mampu membayar kerugian mu bahkan aku akan minta kau di pecat hari ini juga."


Bima cukup terkejut dengan sikap Seila meskipun semua dia lakukan untuk membela nya tapi entah kenapa melihat mimik gadis pelayan yang ada di depannya tiba-tiba diam dan menunduk membuat Bima iba dan perkataan Seila yang menyakitkan gadis itu juga membuat Bima ikut merasa sakit. Tanpa berkata apapun lagi gadis pelayan itupun membersihkan semua kotoran makan yang berserakan di meja, mata teduh Bima menggikuti setiap gerak gadis yang ada di depannya tanpa dia sadari dengan sendirinya Bima ikut membantu membersihkan.


"Ini, ganti yang baru, nanti yang tumpah ini juga akan aku ganti,"ucap Bima yang tiba-tiba melembut.


"Trimakasih, tidak perlu, ini sudah resiko, biar gajiku yang di potong."jawab gadis itu dingin.


Perkataan yang seharusnya membuat Bima biasa saja dan senang tapi justru membuat hatinya sakit dan kesal.


"Memangnya, kau punya gaji banyak untuk membayar ini," tanya Bima saking kesalnya menghadapi sikap gadis yang ada di depannya.


"Itu, bukan urusan Tuan."


Lagi lagi Bima di buat melongo, hatinya terasa sangat sakit, terlebih menghadapi sikap dingin dari gadis di depannya. Setelah membersihkan semua makanan yang berserakan gadis itupun pergi, tak lama kemudian makanan pengganti yang tadi tumpah telah datang setelah Bima dan Seila menunggu selama lima belas menit.


Bima menatap binggung ketika yang menyajikan makanan kepada mereka berbeda orang.


"Mas, gadis pelayan tadi mana? kok mas yang menyajikan."


"Oh,dia sudah pulang?"


"Pulang?" kenapa cepat pulang apa dia di pecat." tanya Bima khawatir.


"Dia cuma bekerja sehari di sini, tadi katanya sudah bikin kerugian di cafe ini, jadi dia mengundurkan diri."


"Apa? mengundurkan diri,"


Pelayan laki-laki itupun pergi setelah mengagguk memberikan jawaban kepada Bima, entah mengapa hati Bima menjadi tidak tenang selera makan pun tiba-tiba menghilang.


"Seila .! aku mau ke toilet sebentar kamu makan saja," tanpa menunggu jawaban Bima Keluar. Dia bukan nya ke toilet tapi justru mencari sosok gadis pelayan yang tadi ada di restoran, hatinya serasa tidak tenang dan gelisah, terlebih mendapati sikap dingin dan acuh hal itu membuat Bima kelimpungan, tak karuan. Berlari mencari kesana kemari tak juga Bima menemukan gadis itu membuat Bima memutuskan kembali ke dalam restoran cafe. kegelisahan hatinya tak bisa juga redah.


"Sayang, kita balik pulang."


Seila mengerutkan dahinya seolah olah tak percaya dengan ucapan Bima.


"Kan kita belum jalan-jalan, mas Bima gimana sih."


"Kepala ku sakit, aku mau tidur."


"Sakit?' bukannya berantem sama gadis pelayan itu kuat kok sekarang bilang sakit,"


"Kalau kamu mau jalan-jalan, pergilah, aku akan pulang naik Taksi."


"Hei...!" kok begitu sih mas, ya sudah kita pulang," ucap Seila mengalah.


Sampai di Rumah, Bima langsung membanting kunci mobilnya di sembarang tempat dan berlari ke dalam kamar dan menutupnya dengan sangat keras, Bik Inah yang kebetulan ada di ruang tamu menatap Bima dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Den Bima, seperti lagi marah, kemarahan yang aneh, dulu Den Bima kalau bersikap seperti ini itu karena Non Seila yang mengacuhkan dan mendiamkan nya, Den Bima tidak bisa tahan kalau di diamkan Non Seila, aku harus cari tau kenapa, Den Bima begitu."

__ADS_1


Ketika Seila masuk rumah dan hendak melangkah menuju ke kamar nya dengan memberanikan diri Bik inah menghadang langkah kaki Seila.


"Maaf, Non Seila! ada apa dengan Den Bima kok seperti nya dia marah."


"Tau, Bik! tadi di restoran berantem sama salah satu pelayan restoran habis itu ngajak pulang katanya kepala nya sakit, sudah ya, Bik aku ke kamar dulu mau lihat Mas Bima."


"Oh, iya Non, tapi Non! Den Bima berantem nya sama cowok apa cewek,"


"Cewek, Bik," jawab Seila kesal.


ada apa sih nenek tua ini ingin tau, sudah tua masih kepo urusan anak muda bikin jengkel saja." sungut Seila kesal dalam hati sambil berlari ke dalam kamar.


Ketika pintu kamar di buka Seila melihat Bima merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dengan hati hati Seila pun naik ke atas ranjang dsn duduk di sampingnya.


"Coba, mas Bima kulihat apakah suhu badan Mas Bima panas "


Bima yang tidak sepenuhnya tidur segera menoleh dan menatap Seila.


"Aku tidak sakit," ucap Bima seraya bangkit dengan membawa bantal dan selimut turun dari ranjang meniju ke sofa.


"Tidurlah, aku tidur di sini."


Seila tak percaya dengan sikap Bima yang tiba-tiba terlihat aneh bahkan kali ini memilih tidur di sofa.


"Mas Bima, kok tidur di sofa, kan bisa tidur di sini ini ranjangnya cukup besar."


"Jangan ganggu aku mau beristirahat sendiri."


"Mas Bima, kenapa sih kok aneh begini."


"Stop! jangan brisik, kalau masih berisik aku akan tidur di ruang tamu."


Mata indah Seila langsung saja melotot mendengar ucapan Bima yang dirasa aneh, demi Bima tidak pergi dari dalam kamar terpaksa Seila diam, tapi hati dan pikirannya menjadi kacau dan kesal.


Menjelang pagi Bima sudah bangun dan langsung berangkat ke tempat kerja nya tanpa membangunkan Seila bahkan tanpa menikmati sarapan pagi. Wajah tampan nya masih terlihat mendung dan menyiratkan kemarahan yang masih tersisa.


Pukul 7.00 Bima sudah berada di dalam kantor nya duduk di kursi dengan pikiran masih memikirkan gadis pelayan restoran yang menyebalkan, hatinya masih merasa kesal dan tidak puas dengan sikap dingin yang tujukan kepada nya.


"Berani sekali dia bersikap dingin kepadaku memangnya siapa dia berani bersikap sombong di depan ku, lihat saja kalau ketemu lagi aku balas kau," Gumam Bima sambil mengepalkan tangannya dan meninju udara berkali-kali.


Karena pintu ruangan kantor tidak tertutup maka dengan sangat mudah seorang gadis masuk dengan membawa secangkir kopi, melihat seorang pemilik ruangan sedang meninju udara gadis itu mengkerutkan dahinya.


"Permisi..!" bapak lagi latihan tinju ya?"


Mendengar ada sebuah suara sapaan, dengan gerak refleks Bima berbalik dan menoleh ke arah sumber suara, tapi ketika tatapan mata mereka bertemu Bina serentak kaget sehingga berteriak.


"Kau..?"


Gadis itupun tak kalah terkejutnya, mata indahnya segera melotot dengan sempurna.


"Ka-kau? ucapnya tergagap.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Bima sinis, Bima masih kesal dengan sikap gadis yang ada di depannya dan berniat akan membalasnya.


"Sa-saya, di suruh memberikan kopi ini."


"Oh, kamu pekerja baru di sini,"


"Iya, pak!jawab gadis itu sambil menunduk.


"Aku, tidak suka pekerja seperti kamu."


Ucapan dingin Bima membuat gadis yang tadinya menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya dan langsung berlari keluar pintu. Melihat gadis itu Keluar dari dalam ruangannya dengan tiba-tiba membut hati Bima kembali kelimpungan.

__ADS_1


"Kok, langsung pergi sih, aku kan cuma bercanda." Bima mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


Dengan langkah pasti Bima mencari gadis itu.


"Di mana gadis yang baru bekerja itu," tanya Bima pada salah satu karyawan nya.


"Oh, dia minta ijin mengundurkan diri."


"Apa?" mengundurkan diri, kerja saja belum sudah mengundurkan diri, sensitif sekali dia, sudah aku tidak mau tau bawa gadis itu keruangan saya sekarang juga.


"Baik, Pak!"


Tidak menunggu lama gadis itupun di bawah masuk menemui Bima.


"Ini, dia pak."


"Trimakasih, tinggalkan kami berdua dan jangan lupa tutup pintunya."


"Baik, pak!"


Bima menatap gadis yang ada di depannya sedangkan gadis itu memilih menundukkan kepalanya.


"Kenapa mau mengundurkan diri,"


"Kan, bapak yang bilang tidak suka."


Mendengar jawaban gadis di depannya Bima menelan ludahnya dengan kasar.


"Siapa, namamu?"


"Ningsih, pak!


"pernah, punya pengalaman kerja?"


"Tidak, pak!"


"Tugasmu, di sini di suruh apa saja."


"Menyiapkan kopi dan bersih bersih."


"Ya, sudah kamu sekarang bekerja."


Gadis bernama Ningsih langsung melangkah menuju pintu keluar.


"Hai, tunggu! kamu mau kemana?"


"Bersih bersih di ruang sebelah pak."


"Ruangan ku juga sangat kotor kamu bersihkan dulu."


"Baik, pak!


"Yang bersih, ya! aku minum' kopi buatan kamu dulu."


Bima duduk sambil tersenyum miring, entah mengapa hatinya merasa senang dan tenang melihat gadis di depannya, di seruput nya kopi yang sudah terhidang di atas meja, tapi tak lama kemudian.


"Hoek . !" kopi buatan kamu pahit sekali, ini kamu mau meracuni aku ya?"seru Bima.


"kopi, yang baik itu memang seperti itu pak, biar tidak menimbulkan diabetes."


"Apa? biar tidak menimbulkan diabetes."


Bima menatap lekat lekat wajah gadis yang ada di depannya. Sedangkan gadis yang di tatap sedang sibuk dengan membersihkan kaca.

__ADS_1


"Dulu Seila, kalau membuat kopi juga begini sangat pahit jika ku tegur diapun menjawab agar tidak kena diabetes, apa benar Seila sudah tiada dan apa iya dia masuk kedalam jiwa gadis ini, Araaaaaagghhh... Kenapa pikiran ku jadi ngawur begini."Keluh Bima dalam hati.


__ADS_2