Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.91.INGIN JUJUR


__ADS_3

Dengan langkah gontai, karena menahan rasa sakit yang teramat sangat di sekitar area sensitif nya Arina berusaha mencapai kamar mandi, Arya yang tertidur pulas dengan penuh kepuasan tidak mengetahui jika istrinya, lagi bersusah payah mencapai kamar mandi, tidur Arya sangat pulas.


Sampai di kamar mandi, Arina mengunci pintu nya dari dalam, di hidupkan nya shower hangat,


di sela sela guyuran air yang mengucur Arina melampiaskan kekesalannya berteriak menjerit dan menangis sejadi jadinya. perjalanan hidup yang sama sekali tidak Arina inginkan, bersusah payah menjaga kehormatan nya agar selalu terjaga dengan rapi hanya untuk satu Nama hanya untuk seseorang yang sangat dia cintai, kini hilang sudah.Cinta nya hancur dan kandas hanya karena sang Ayah yang telah egois menjodohkan nya dengan anak dari sahabatnya, dalam perjodohan nya Arina mampu membohongi sang susmi, hingga mereka tidak melakukan hubungan suami istri, Arina berbohong pada suaminya kalau dia sudah tidak suci lagi, bahkan dengan bangga mengatakan kekasihnya berulang kali menyentuh nya, ucapan Arina yang mengatakan dirinya tak suci lagi membuat sang suami muak, murka dan marah tanpa menunggu lama dalam satu bulan pernikahan, Sang suami menceraikan nya, Arina tersenyum bahagia ketika dia mampu lepas dari orang yang tidak dia cintai, Arina hanya mau memberikan apa yang paling berharga darinya hanya untuk kekasihnya, kekasih yang sangat Arina cintai.


Bima, ya Bima adalah kekasihnya.Tapi takdir kehidupan mempermainkan nya lagi, ketika dia datang, ternyata Bima sudah beristri, meskipun begitu Arina sangat yakin jika Bima hanya mencintai nya. Tapi keyakinan itu tinggalah sebuah mimpi, di mana ketiika awal dia datang Bima begitu serasa asing, meskipun Arina mencairkan nya, dulu Arina berfikir Bima adalah pemuda yang santun sehingga dalam masa pacaran pun tidak pernah sekalipun Bima mencium bibir nya, berpegang tangan itu pun Arina yang mulai, dari sikap Bima Arina menarik kesimpulan mungkin kah saat mereka menjadi pasangan kekasih, Bima tidak benar benar mencintai nya, tapi apapun itu Arina tidak akan perduli apa yang dulu menjadi miliknya, kini harus kembali kepadanya itu tujuan utamanya, tidak akan pernah dia membiarkan siapapun memiliki Bima. Kembali suara kucur air mengalir dengan deras bercampur suara Isak tangis yang sangat keras.


Hampir empat puluh menit lamanya Arina berada di dalam kamar mandi, setelah merasa cukup segar dan bersih Arina keluar dari dalam kamar mandi, dia berdiri di depan cermin, di pandangnya wajahnya yang kusut bibirnya mengatup penuh kesedihan, mimpi dan harapan nya agar orang yang pertama memiliki nya dan mendapatkan mahkota kesucian nya adalah kekasih hatinya kini sirna sudah, tidak pernah Arina harapkan bahwa dia akan menikah lagi yang untuk kedua kalinya dengan orang yang tidak dia cinta.


"Aku tidak akan menerima garis takdir ku, aku akan merubah segalanya, mimpiku, harapan ku, itu yang akan menjadi tujuan dalam hidupku,"desis Arina dalam hati sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis tapi yang melambangkan sebuah kesakitan dari sebuah hati.


Dengan langkah sedikit tertatih tatih Karena masih menahan rasa sakit di area sensitif nya Arina kembali, berjalan mendekati ranjang, di rebahkan nya tubuhnya di samping suaminya yang masih tertidur pulas dengan penuh kepuasan.


Pagi hari.


Arya mulai terbangun dan di lihatnya sang istri sudah duduk manis di sofa kecil yang ada di dalam kamarnya, Arya turun dari ranjangnya serta mendekati sang istri yang entah apa yang sedang di pikirkan nya sehingga tak terlihat keceriaan di wajah nya, Arya menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Pagi sekali bagun kamu, apa kamu semalam tidak tidur,"tanya Arya.


Arina hanya menatap sekilas wajah suaminya kemudian dia kembali melamun. Melihat sikap Arina yang dingin Arya mengaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan, kamu bukan di perkosa orang, kamu melakukan kewajiban mu sebagai seorang istri, jadi tidak perlu bermuram durja begitu, aku pergi mandi dulu setelah ini kita akan pergi,"ucap Arya kepada Arina. Kemudian Arya segera masuk ke dalam kamar mandi dan membasahi rambutnya, dua puluh menit kemudian Arya sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah segar setelah menganti baju dan menyisir rambut ikalnya Arya mendekati Arina.


"Ayo, kita berangkat?"seru Arya membuyarkan lamunan Arina.


"Aku tidak mau pergi!"


"Kenapa?"


"Masih,tanya kenapa?"gara gara ulah mu remuk semua badanku dan buat jalan sakit,"ucap Arina kesal. Namun Arya justru tertawa mendengar ucapan istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu begini saja,"tanpa banyak bicara arya segera menggendong tubuh Arina, berjalan menuruni tangga dan keluar rumah.


"Arya...!"turunkan, kamu apa apaan sih,"teriak Arina sambil memukul mukul dada bidang Arya. Sedangkan Arya pura pura tuli tidak mendengar kan apa yang Arina katakan, dengan sangat pelan dan hati-hati Arya membuka pintu mobil dan mendudukkan Arina dengan lembut.


"Kita jalan-jalan..!"


"Jalan-jalan gimana kakiku sakit buat jalan,"


"Tenang, ada aku suamimu," ucap Arya mantap.


****


Bima dan Bondet yang berada di rumah sakit sudah terbangun, mereka hendak keluar untuk mencari makan, Iqbal yang dari semalam tertidur dengan pulas pun kini mulai terjaga, netranya segera menangkap keberadaan Bima dan Bondet yang berdiri di samping ranjang.


"Kak Bima!" apa kak Bima semalam memang tidur disini?"tanya iqbal.


"iya, tentulah, Bal! orang kita juga baru bangun,"ucap Bondet yang tiba-tiba menjawab pertanyaan iqbal.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik kak, jika kak Bima di sini, Non Seila di mana?"


"Ada di Rumah, Nanti katanya menyusul."


"Cieee, kak Bima sekarang terlihat happy ya, Ndet?sudah benar benar bisa merebut hati Non Seila,"Ucap Iqbal sambil senyum senyum.


"Bukan hanya bisa menarik hati Non Seila saja ,Bal, tapi juga sudah bisa menjadikan Non Seila sebagai kapal pribadi nya," ucap Bondet sambil terkekeh, membuat Bima melotot dan dengan gemas mencubit lengan Bondet.


"Auuuuuhh, sakit kak, jangan cubit cubit aku tidak menyebarkan berita hoax ini fakta 'seru Bondet sambil menangkis cubitan Bima yang datang menghujaninya bertubi-tubi.


"Sudah, ayo, ikut aku cari makan atau tidak?" ajak Bima kepada Bondet.


Dengan sigap Bondet mengagguk

__ADS_1


"Siap,kak!" kalau soal makan gratis pasti ikut," jawab Bondet bersemangat.


"Bal, apa kamu mau di pesankan sesuatu, ingat makanan di rumah sakit itu ngak seenak makanan di luar."


"Boleh kak, Bungkus dua, kalau Non, Seila datang, biar ada makanan,"pinta Iqbal yang di jawab dengan anggukan oleh Bima.


Bima dan Bondet segera keluar mencari makan


untuk mengisi perut mereka pagi ini.


"Mau makan di mana Ndet ?"


"Di mana, saja, kak?"


"Ya, sudah, kita ke restoran dekat dekat sini saja baru ke supermarket sekalian mau beli makanan ringan untuk Seila, biar kalau sudah sampai ada yang dia cemil,"


"Wah..kak Bima sayang dan perhatian banget ya, sama Non Seila?"


"Ya, pastilah Ndet, semua suami itu sayang sama istrinya, makanya loe, cepet cari bini, jangan menjomlo saja.


"Kak, apa aku boleh jujur,"ucap Bondet ragu.


Bima terkekeh mendengar ucapan Bondet yang sok serius.


" Memangnya selama ini kamu kalau ngomong ngak jujur ya, kok bilang ijin mau bicara jujur segala,"ucap Bima dengan gelak tawa.


"Kak Bima terlalu sayang sama Non Seila, Aku takut, sikap kak Bima ini akan membuat kak Bima menangis pada akhirnya,"


"Aku ngak ngerti deh maksdmu, ngomong apaan sih kamu Ndet?"


Bondet tiba-tiba Tersenyum,

__ADS_1


"Ngak ada kak jangan di ambil hati ucapaku, yuk kak kita masuk, sudah lapar aku,"ucap Bondet mengalihkan pembicaraan.


__ADS_2