
"Mari, silahkan duduk?"
Laki-laki paruh baya itu segera duduk tapi sebelum itu tatapan matanya tertuju pada kamar lantai atas di mana di kamar itu Seila berada . Laki-laki paruh baya itu menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan sangat kasar ada rasa sedih yang tergurat dari raut wajahnya yang kemudian tatapan nya beralih pada Bima yang duduk di depan nya dengan menunduk kan kepala.
"Kenapa tidak kau ceritakan semua dari dulu, apa kau pikir semua akan baik-baik saja, kehidupan putri ku begitu kacau kamu diam saja, kami tidak pernah tau apa yang sedang terjadi, Kenapa kamu harus menyembunyikan ini,"
"Maafkan, aku Ayah! aku tidak memiliki keberanian apapun terlebih ketika itu Seila belum sembuh dari hilang ingatan nya."
"Ya, sudah lah, aku mau kamu secepat nya menyelesaikan semua ini, aku tidak mau wanita itu ada di rumah ini lagi."
"Baik, Ayah, aku pastikan ini terakhir dia ada di rumah ini dan menjadi pengganggu kehidupan rumah tangga kami."ucap Bima menyakinkan.
"Baiklah,kamu urus semuanya aku akan temui putriku."
"Silahkan,Ayah!"
Dengan langkah tegap laki-laki paruh baya itupun masuk ke dalam dan menaiki anak Tangga menuju kamar Seila.
Di balik kelambu dapur Seila yang sebenarnya Arina menatap binggung dengan apa yang dilihatnya.
"Kenapa laki-laki buaya itu pergi ke kamar atas? dan kenapa Bima tidak mencegahnya siapa dia sebenarnya?" desis Arina dalam hati yang tatapan matanya juga tertuju pada kamar lantai atas, tanpa Arina sadari Bima sudah ada di sampingnya menatap dengan tatapan mata yang sinis.
"Apa kau tak mengenali laki-laki itu?" tanya Bima kemudian, Arina yang tidak mengetahui kedatangan Bima sedikit kaget.
"Mas Bima! sejak kapan ada di sini?' tanya Arina.
"Sudah sejak tadi karena kamu melamun makanya kamu tidak tau."
__ADS_1
"Iya, maaf, aku tidak tau mas Bima sudah ada di sini, apa ada sesuatu yang ingin Mas Bima butuhkan, kenapa masuk dapur tanpa memberi tau.'
'Iya aku butuh sesuatu"
"Apa itu mas?
"Tolong duduk di ruang tamu, kita semua akan kedatangan Dokter beliau akan memeriksa kesehatan kita satu persatu."
"Tapi, aku tidak sakit mas."
"Sama lah, aku juga tidak sakit tapi kita butuh imun yang tinggi kamu tau kan di negara kita lagi banyak virus jadi untuk itu kita butuh benar benar sehat.
Tanpa membantah akhirnya Seila yang sebenarnya Arina berjalan ke ruang tamu di mana Bima baru saja kedatangan beberapa Dokter setelah Ayah Seila pergi ke kamar atas. Arina sedikit bergidik melihat para Dokter itu membuka peralatan medisnya, sejak kecil Arina sangat takut dengan jarun suntik dan hari ini Arina yang berpura pura menjadi istri sah nya Bima terpaksa harus menerima suntikan demi mendapatkan penggalian kesehatan.
Bima menyediakan satu kamar khusus untuk para Dokter yang akan memeriksa seluruh keluarga.
"Bisa, Dok, tapi tunggu sebentar istriku yang berada di kamar atas belum turun, kita tunggu mereka beberapa saat lagi."
"Baiklah, kami siap menunggu.'
"Ok,sambil menunggu mari kita nikmati hidangan yang sudah ada."Ajak Bima kepada para Dokter.
Arina yang sudah sejak tadi bergetar ketakutan mendekati Bima dan memegang tangan Bima dengan kuat.
"Mas..!" aku yang paling akhir saja ya?" aku takut dengan jarum suntik."Keluh Seila yang sebenarnya Arina.
Bima Tersenyum smrik tanpa memberikan jawaban Bima hanya . mengagguk, sedangkan alam pikiran nya sibuk bertanya tanya apa yang terjadi di kamar atas, bagaimana sikap dan reaksi Seila bertemu dengan Ayahnya, ingin ikut ke atas dan melihat apa yang terjadi Bima masih punya tugas untuk selalu mengawasi Seila palsunya dia khawatir Seila akan kabur dan ini lebih berbahaya lagi karena rencananya bisa kacau.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar atas, laki-laki paruh baya membuka pintu kamar dengan perlahan lahan dan terlihat lah seorang gadis lagi tertelungkup di atas ranjang sambil terisak. Melihat itu laki-laki paruh baya pun menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan dan dengan sangat pelan dan hati-hati laki-laki paruh baya itu duduk di tepi ranjang dan tangan tua nya menyentuh rambut Seila.
"Sayang, apa kau tidak mau menyambut Ayahmu ini!" ucapnya parau.
Seila yang kala itu sedang menangis dengan telungkup di atas ranjang langsung membalikkan badannya, dengan kedua punggung tangannya Seila menghapus sisa sisa air mata yang menetes di pipinya.
"Apa, aku masih pantas jadi Putri Ayah?lihat... wajahku sudah berubah aku... tidak lagi seperti dulu, wajahku sudah jelek semua tidak suka padaku semua hanya pura-pura dan kasian padaku aku benci itu Ayah...!"teriak Seila histeris dengan air mata terus mengalir.
"Tenanglah, Nak."
Melihat putrinya menangis dan berteriak dengan histeris membuat laki-laki paruh baya hatinya semakin sakit, serasa ada banyak jarum yang sedang menusuk ke dalam jantung nya dengan air mata yang yang mencoba di tahan agar tidak jatuh sang Ayah merengkuh tubuh Seila ke dalam pelukannya.
"Tenanglah, tenang..!" jangan bersedih, aku tetap Ayahmu apapun wajahmu saat ini kamu tetap putri Ayah, lihat ..?Ayah datang membawa apa yang kamu suka.. lihat ini nak, Ayah bawakan Kiki untuk mu? Seila sayang masih ingat Kiki kan...? dia kangen lho sama mbak Seila nya yang dulu selalu memandikan, menyisir dan mengajaknya bermain...lihat tuh bajunya ngak pernah mbak Seila ganti, ayo ganti dan mandikan dia." seru sang Ayah sambil memberikan sebuah boneka plastik kecil yang dia simpan dari balik bajunya. Banyak boneka cantik dan mahal di toko tapi Seila menyukai dan menyayangi boneka yang terbilang sangat murah di toko dan sangat tidak di sukai anak anak karena bentuknya yang sangat biasa, ketiika itu Seila masih berusia 9 tahun sepulang sekolah di jalan dia menemukan boneka itu terbuang Begitu saja, entah apa yang membuat nya tertarik Seila menggambil nya dan merawat nya, Seila juga sering mendapatkan hadiah boneka mahal baik dari paman atau dari ibunya ketika masih hidup tapi Seila tak pernah memperlakukan boneka boneka itu seistimewa, dengan boneka yang di punggutnya di jalan dan nama Kiki Seila yang memberikan nya.
Kesal karena masih suka bermain dengan boneka di kala sudah dewasa sang Ayah pura-pura bersedih dan menyesal karena boneka Kiki nya hilang ketika di pinjam anak kecil, sedih marah dan menangis ketika itu tapi demi Seila bisa dewasa tidak selalu berkutat dengan boneka nya terpaksa Ayahnya lakukan lambat laun Seila mulai lupa dan kini. ketika Seila jatuh terpuruk dan sedih pasti lah dengan adanya boneka Kiki Seila bisa kembali ceria di depan orang orang terdekat nya dan tidak selalu memiliki pikiran buruk pada orang lain.
"Ayah.. apa kiki ngak takut lihat wajahku yang sudah berubah begini!"ucap Seila yang tiba-tiba tangisnya berhenti ketika melihat Kiki di depannya.
"Ha....ha...ha...!" sang Ayah tertawa meskipun dengan suara serak tertahan.
"Mana mungkin, Kiki lupa...kan mbak Seila kesayangan nya kiki, nih ambil dan mandiin dia biar seger dan ya....putri Ayah anak yang kuat tidak boleh lagi berfikir semua orang hanya menyayangi wajah Seila saja, Apapun wajah Seila Ayah tetap Sayang.
"Ayah.. !"
Seila memeluk erat Ayahnya, kesedihan nya kini mulai berkurang ada senyum ceria di sana dan sang Ayah pun mengusap lembut rambut panjang sang putri kesayangannya tangis haru dan bahagia terpancar dari Bapak dan anak.
Drama mengharu biru itupun tak lepas dari pandangan mata Bima yang kala itu diam diam juga berlari ke kamar atas melihat mertua dan Istri nya, ada rasa sesak melihat semua itu. "Andai saja Seila juga mau membuka hatinya untuk menerima nya dan tidak dingin pastilah aku akan sangat bahagia."Bima melangkah pergi dengan Tersenyum kecut mendapati kenyataan betapa susahnya mendapatkan sebuah kepercayaan dan cinta tulus dari istrinya. Bima dengan langkah gontai menuruni anak tangga.
__ADS_1