
Mereka berempat Tertawa riang bersama,
tak ada lagi kesedihan dan kegelisahan
kini semua berbuah bahagia.
"Non Seila !Kak Bima, kok bisa jatuh kenapa
dia?"Tanya Iqbal penasaran.
"Coba, kamu tanya, kak Bima sendiri kenapa
dia bisa jatuh begitu,"Jawab Seila kepada
iqbal.
"Ya, payah, masak di tanya, jawabannya balik
nanya," Sunggut iqbal kecewa.
"Yaelah, Bal !" gitu saja kamu kok ngak
ngerti aku yang jomblo tanpa cewek saja
ngerti,"Sahut Bondet cepat.
"Emang kamu ngerti Ndet, kenapa coba?"
Tanya Iqbal penasaran.
"Tapi, ngak bagus di ucapkan Bal, jadi biar
kusimpan dalam hati,"Ucap Bondet
menjelaskan sambil crngar cengir.
Iqbal yang gemas dengan ucapan Bondet
segera mendekati Bondet dan menjitak
kepala Bondet dengan pelan.
Melihat ulah Bondet dan iqbal Seila dan
Bima sama sama Tersenyum.
Ketika tatapan mata Seila dan Bima
bertemu buru buru Seila membuang muka
"Alamak, jantung juga ikut berdisko ria
entah sejak kapan rasa itu ada namun
untuk mencurahkan nya rasanya sangat
malu dan terasa gimana begitu, sungguh
sulit di katakan ataupun di lukiskan dengan
puisi manapun.
"Ok, stop..! tertawanya, sayang, kamu
besok sudah boleh pulang kan?"Tanya
Bima lembut.
Seila hanya mengagguk sebagai tanda
jawaban.
"Ndet, aku kan sudah bawa mobil, aku
langsung pulang saja ya?"tawar Bima.
"Enak, saja pulang, mobil aku masih di
pantai kak, bagaimana mengambilnya.
"Kan bisa naik ojek,"Jawab Bima asal.
"Busyet..!"Masak kita di suruh ke pantai
naik ojek sih," Keluh Bondet pada Bima.
"Ya, kalian tanya sama Non Seila, dia
mau kembali ngatar kalian ke pantai
apa tidak,"Jawab Bima.
"Yaelah, pasti mau lah, ya kan Non?"Tanya Bondet kepada Seila.
Seila tersenyum melihat mimik lucu
Bondet ketiika merajuk.
"Iya, nanti kita ke pantai dulu ambil mobil
kamu,"
"Tuh, kan, kak Bima apa kataku, Non Seila
pasti mau."
"Iya, percaya deh, lagi pula mana tega aku
nyuruh kamu beneran naik ojek," Ucap Bima
sambil tertawa.
***
Pagi itu setelah membayar semua biaya
administrasi di puskesmas, Bondet, iqbal
Bima dan Seila kembali ke pantai untuk
mengambil mobil. Karena jarak puskesmas
dengan pantai tidak terlalu jauh hanya satu
kilo meter saja maka mereka sudah cepat
sampai di pantai, Bondet dan Iqbal segera
turun dari mobil, mereka segera ketempat
di mana mobil mereka di parkir.
Setelah semua selesai mereka pun langsung
bersama sama berangkat pulang ke rumah
masing masing. Bondet dan Iqbal memilih
jalan di depan sedangkan mobil Bima dan
Seila berjalan di belakang nya.
__ADS_1
Bima, menatap Seila yang sejak tadi diam
tanpa bicara apa apa.
"Seila..!kamu ngak kangen sama aku?"
Tanya Bima tiba tiba.
Pertanyaan yang bikin kaget hingga
membuat Seila menelan ludahnya dengan
kasar.
"Kenapa bertanya begitu,"
"Karena kamu aneh, masak sejak ketemu
aku di cuekin terus,"Keluh Bima pura pura
kesal.
"Idih, siapa yang cuek, kamu nya saja yang
perasa,"Ucap Seila membela diri.
"Memang fakta nya begitu, masak suami
selamat tidak ada sambutan apapun,
bahkan sekedar kiss aja, juga Zonk."
"Suamiku sayang, ini kita lagi berkendara
jadi bahaya kalau bermesraan disini,"
"Jadi, kalau tidak lagi berkendaraan boleh
dong," Tanya Bima serius.
"Ya,...iya..!gak papa, boleh,"Ucap Seila
sekenanya.
Dengan tiba tiba Bima menginjak rem
mobil dengan mendadak. Membuat
Seila terpekik.
"Astagfirullahaladhim, Bima !Ada apa?"
Tanya Seila gugup karena dengan tiba
tiba Bima menginjak rem mobil dengan
mendadak.
"Ngak ada apa apa, tadi katanya boleh
kalau tidak lagi berkendaraan, makanya
aku hentikan mobilnya, biar kita tidak lagi
berkendaraan,"Ucap Bima enteng.
Seila membulatkan kedua bola matanya
Dia tidak menyangka jika Bima menanggapi
ucapan nya dengan serius, sehingga
mobil yang lagi melaju.
"jangan berhenti, Bondet nanti mencari
kita, jika mobil kita tidak terlihat oleh nya,"
Ucap Seila menjelaskan.
"Tenang, aku akan kirimkan pesan
untuk nya."
Dengan cepat Bima merogoh saku nya
di ambilnya ponsel dan dia segera
mengirimkan sebuah pesan.
"Ndet, kamu pulang dulu, aku dan Seila
menyusul nanti,"
"Ting..!"Satu pesan terkirim.
Tak lama kemudian Bima menerima balasan
dari Bondet.
"Ting..!Bima membuka isi pesan itu.
"Jangan macam macam, cepat pulang
kak, nanti bikin masalah lagi, seperti
kejadian di pantai,"
Kemudian Bima menjawab isi pesan itu.
"Jangan khawatir, aku tidak kemana mana
cuma mampir di warung kopi,"
"Ting..!"Satu pesan balasannya Bima kirim
ke Bondet.
Tak lama kemudian datang lagi satu pesan
"Ting..!"Cepat cepat Bima membuka nya.
"Wah...!"Kak Bima curang giliran urusan
makan aku dan iqbal tidak di ingat, awas
ya, aku doain kalau makan tersedak."
Dengan segera Bima membalas pesan
Bondet.
"Ting..!"satu pesan terkirim.
"Jangan mendoakan hal yang buruk, nanti
kamu masuk Neraka lho, ingat di Neraka
itu sangat panas.
Bondet terpingkal pingkal membaca
__ADS_1
balasan pesan dari Bima.
Yang kemudian Bondet mengirimkan
balasan pesan.
"Ting...!"Satu pesan di trima Bima
"Baiklah, biar aku tidak masuk Neraka
aku doain habis makan kenyang.
Bima mengelengkan kepalanya membaca
balasan pesan dari Bondet.
Sementara Seila yang melihat Bima sibuk
berkirim pesan dengan Bondet dia
menggunakan kesempatan ini untuk tidur
direbahkan nya kepalanya bersandar di
kursi mobil.a Bima yang sudah selesai
berbalas pesan melihat Seila menyandarkan
kepalanya pada kursi menghela nafas
panjang dan menghembuskan nya dengan
perlahan.
Di dekat kannya wajahnya dengan wajah
Seila dengan sedikit berbisik Bima berucap
"Sayang, kamu belum tidur kan !"
Ucapan Bima yang begitu dekat dengan
nya sampai nafas hangat Bima menyapu
wajahnya membuat Seila membuka
matanya dan ketika matanya terbuka di
lihat nya Bima sudah sangat dekat.
Dengan gugup, Seila berucap.
"Jauh sedikit,"
Bima menghela nafas panjang dan
nenghembusan nya dengan kasar kali
ini dia menurut, Bima beringsut menjauh
dari Seila tanpa bicara apa apa.
Disandarkan nya kepalanya pada kursi
mobil kemudian Bima pun memejamkan
matanya. Melihat sikap Bima yang tiba tiba
menurut tanpa komplin dan tanpa bicara
membuat hati Seila di landa gunda gulana
was was dan khawatir kalau Bima marah.
Seila mengerti Bima lagi kesal, cuma
dia diam.
Dengan agak malu dan sedikit bergetar
Seila mendekatkan wajahnya pada Bima
secepat angin yang berhembus Seila
mendekatkan bibirnya pada pipi halus
Bima.
"Cup," sebuah kecupan singkat mendarat
di sana.
Bima yang tidak menyangka akan
mendapatkan kecupan dari orang yang
sangat dia cintai, Bima segera membuka
kedua matanya dan mendudukkan dirinya
dengan benar, ditatapnya Seiila dengan
tatapan tak percaya namun yang ditatap
justru menunduk dengan kedua pipi
yang merah merona seperti buah apel.
"Kenapa tidak menatap ku?"
Apa aku boleh membalas apa yang sudah
kamu beri padaku,"
Sebagai jawaban Seila hanya mengagguk.
"Bagaimana bisa membalas jika kamu
menunduk begitu, tatap aku.
Dengan sedikit gugup, malu, dengan irama
jantung yang tak beraturan, Seila menatap
Bima dengan menggigit bibir bawahnya
sebagai ungkapan rasa hati yang lagi
tak beraturan.
Melihat Seila seperti itu Bima tersenyum
gemas.
"Jangan tegang begitu, slow saja, kalau
kamu ngak ihklas dan ngak boleh aku tidak
apa apa," Ucap Bima yang memahami istri
galaknya kini hatinya lagi tidak karu karuan.
__ADS_1