Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.65. SLOW SAJA.


__ADS_3

Mereka berempat Tertawa riang bersama,


tak ada lagi kesedihan dan kegelisahan


kini semua berbuah bahagia.


"Non Seila !Kak Bima, kok bisa jatuh kenapa


dia?"Tanya Iqbal penasaran.


"Coba, kamu tanya, kak Bima sendiri kenapa


dia bisa jatuh begitu,"Jawab Seila kepada


iqbal.


"Ya, payah, masak di tanya, jawabannya balik


nanya," Sunggut iqbal kecewa.


"Yaelah, Bal !" gitu saja kamu kok ngak


ngerti aku yang jomblo tanpa cewek saja


ngerti,"Sahut Bondet cepat.


"Emang kamu ngerti Ndet, kenapa coba?"


Tanya Iqbal penasaran.


"Tapi, ngak bagus di ucapkan Bal, jadi biar


kusimpan dalam hati,"Ucap Bondet


menjelaskan sambil crngar cengir.


Iqbal yang gemas dengan ucapan Bondet


segera mendekati Bondet dan menjitak


kepala Bondet dengan pelan.


Melihat ulah Bondet dan iqbal Seila dan


Bima sama sama Tersenyum.


Ketika tatapan mata Seila dan Bima


bertemu buru buru Seila membuang muka


"Alamak, jantung juga ikut berdisko ria


entah sejak kapan rasa itu ada namun


untuk mencurahkan nya rasanya sangat


malu dan terasa gimana begitu, sungguh


sulit di katakan ataupun di lukiskan dengan


puisi manapun.


"Ok, stop..! tertawanya, sayang, kamu


besok sudah boleh pulang kan?"Tanya


Bima lembut.


Seila hanya mengagguk sebagai tanda


jawaban.


"Ndet, aku kan sudah bawa mobil, aku


langsung pulang saja ya?"tawar Bima.


"Enak, saja pulang, mobil aku masih di


pantai kak, bagaimana mengambilnya.


"Kan bisa naik ojek,"Jawab Bima asal.


"Busyet..!"Masak kita di suruh ke pantai


naik ojek sih," Keluh Bondet pada Bima.


"Ya, kalian tanya sama Non Seila, dia


mau kembali ngatar kalian ke pantai


apa tidak,"Jawab Bima.


"Yaelah, pasti mau lah, ya kan Non?"Tanya Bondet kepada Seila.


Seila tersenyum melihat mimik lucu


Bondet ketiika merajuk.


"Iya, nanti kita ke pantai dulu ambil mobil


kamu,"


"Tuh, kan, kak Bima apa kataku, Non Seila


pasti mau."


"Iya, percaya deh, lagi pula mana tega aku


nyuruh kamu beneran naik ojek," Ucap Bima


sambil tertawa.


***


Pagi itu setelah membayar semua biaya


administrasi di puskesmas, Bondet, iqbal


Bima dan Seila kembali ke pantai untuk


mengambil mobil. Karena jarak puskesmas


dengan pantai tidak terlalu jauh hanya satu


kilo meter saja maka mereka sudah cepat


sampai di pantai, Bondet dan Iqbal segera


turun dari mobil, mereka segera ketempat


di mana mobil mereka di parkir.


Setelah semua selesai mereka pun langsung


bersama sama berangkat pulang ke rumah


masing masing. Bondet dan Iqbal memilih


jalan di depan sedangkan mobil Bima dan


Seila berjalan di belakang nya.

__ADS_1


Bima, menatap Seila yang sejak tadi diam


tanpa bicara apa apa.


"Seila..!kamu ngak kangen sama aku?"


Tanya Bima tiba tiba.


Pertanyaan yang bikin kaget hingga


membuat Seila menelan ludahnya dengan


kasar.


"Kenapa bertanya begitu,"


"Karena kamu aneh, masak sejak ketemu


aku di cuekin terus,"Keluh Bima pura pura


kesal.


"Idih, siapa yang cuek, kamu nya saja yang


perasa,"Ucap Seila membela diri.


"Memang fakta nya begitu, masak suami


selamat tidak ada sambutan apapun,


bahkan sekedar kiss aja, juga Zonk."


"Suamiku sayang, ini kita lagi berkendara


jadi bahaya kalau bermesraan disini,"


"Jadi, kalau tidak lagi berkendaraan boleh


dong," Tanya Bima serius.


"Ya,...iya..!gak papa, boleh,"Ucap Seila


sekenanya.


Dengan tiba tiba Bima menginjak rem


mobil dengan mendadak. Membuat


Seila terpekik.


"Astagfirullahaladhim, Bima !Ada apa?"


Tanya Seila gugup karena dengan tiba


tiba Bima menginjak rem mobil dengan


mendadak.


"Ngak ada apa apa, tadi katanya boleh


kalau tidak lagi berkendaraan, makanya


aku hentikan mobilnya, biar kita tidak lagi


berkendaraan,"Ucap Bima enteng.


Seila membulatkan kedua bola matanya


Dia tidak menyangka jika Bima menanggapi


ucapan nya dengan serius, sehingga


mobil yang lagi melaju.


"jangan berhenti, Bondet nanti mencari


kita, jika mobil kita tidak terlihat oleh nya,"


Ucap Seila menjelaskan.


"Tenang, aku akan kirimkan pesan


untuk nya."


Dengan cepat Bima merogoh saku nya


di ambilnya ponsel dan dia segera


mengirimkan sebuah pesan.


"Ndet, kamu pulang dulu, aku dan Seila


menyusul nanti,"


"Ting..!"Satu pesan terkirim.


Tak lama kemudian Bima menerima balasan


dari Bondet.


"Ting..!Bima membuka isi pesan itu.


"Jangan macam macam, cepat pulang


kak, nanti bikin masalah lagi, seperti


kejadian di pantai,"


Kemudian Bima menjawab isi pesan itu.


"Jangan khawatir, aku tidak kemana mana


cuma mampir di warung kopi,"


"Ting..!"Satu pesan balasannya Bima kirim


ke Bondet.


Tak lama kemudian datang lagi satu pesan


"Ting..!"Cepat cepat Bima membuka nya.


"Wah...!"Kak Bima curang giliran urusan


makan aku dan iqbal tidak di ingat, awas


ya, aku doain kalau makan tersedak."


Dengan segera Bima membalas pesan


Bondet.


"Ting..!"satu pesan terkirim.


"Jangan mendoakan hal yang buruk, nanti


kamu masuk Neraka lho, ingat di Neraka


itu sangat panas.


Bondet terpingkal pingkal membaca

__ADS_1


balasan pesan dari Bima.


Yang kemudian Bondet mengirimkan


balasan pesan.


"Ting...!"Satu pesan di trima Bima


"Baiklah, biar aku tidak masuk Neraka


aku doain habis makan kenyang.


Bima mengelengkan kepalanya membaca


balasan pesan dari Bondet.


Sementara Seila yang melihat Bima sibuk


berkirim pesan dengan Bondet dia


menggunakan kesempatan ini untuk tidur


direbahkan nya kepalanya bersandar di


kursi mobil.a Bima yang sudah selesai


berbalas pesan melihat Seila menyandarkan


kepalanya pada kursi menghela nafas


panjang dan menghembuskan nya dengan


perlahan.


Di dekat kannya wajahnya dengan wajah


Seila dengan sedikit berbisik Bima berucap


"Sayang, kamu belum tidur kan !"


Ucapan Bima yang begitu dekat dengan


nya sampai nafas hangat Bima menyapu


wajahnya membuat Seila membuka


matanya dan ketika matanya terbuka di


lihat nya Bima sudah sangat dekat.


Dengan gugup, Seila berucap.


"Jauh sedikit,"


Bima menghela nafas panjang dan


nenghembusan nya dengan kasar kali


ini dia menurut, Bima beringsut menjauh


dari Seila tanpa bicara apa apa.


Disandarkan nya kepalanya pada kursi


mobil kemudian Bima pun memejamkan


matanya. Melihat sikap Bima yang tiba tiba


menurut tanpa komplin dan tanpa bicara


membuat hati Seila di landa gunda gulana


was was dan khawatir kalau Bima marah.


Seila mengerti Bima lagi kesal, cuma


dia diam.


Dengan agak malu dan sedikit bergetar


Seila mendekatkan wajahnya pada Bima


secepat angin yang berhembus Seila


mendekatkan bibirnya pada pipi halus


Bima.


"Cup," sebuah kecupan singkat mendarat


di sana.


Bima yang tidak menyangka akan


mendapatkan kecupan dari orang yang


sangat dia cintai, Bima segera membuka


kedua matanya dan mendudukkan dirinya


dengan benar, ditatapnya Seiila dengan


tatapan tak percaya namun yang ditatap


justru menunduk dengan kedua pipi


yang merah merona seperti buah apel.


"Kenapa tidak menatap ku?"


Apa aku boleh membalas apa yang sudah


kamu beri padaku,"


Sebagai jawaban Seila hanya mengagguk.


"Bagaimana bisa membalas jika kamu


menunduk begitu, tatap aku.


Dengan sedikit gugup, malu, dengan irama


jantung yang tak beraturan, Seila menatap


Bima dengan menggigit bibir bawahnya


sebagai ungkapan rasa hati yang lagi


tak beraturan.


Melihat Seila seperti itu Bima tersenyum


gemas.


"Jangan tegang begitu, slow saja, kalau


kamu ngak ihklas dan ngak boleh aku tidak


apa apa," Ucap Bima yang memahami istri


galaknya kini hatinya lagi tidak karu karuan.

__ADS_1


__ADS_2