Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.148.TIDUR DI RUANG TAMU


__ADS_3

Bima yang melihat Seila sudah tertidur bernafas lega dengan santainya kini Bima masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian berada di luar dengan segala aktivitas yang melelahkan meskipun semua terasa indah. Duapuluh menit sudah Bima menyelesaikan ritual mandinya Bima keluar dengan wajah segar dan rambut basah Aroma harum sabun yang di gunakan Bima tercium hidung mancung Seila yang membuatnya terusik sudah tidak tahan untuk berpura-pura sudah tidur. Di singkapkan nya selimut yang menutupi tubuhnya.


"Kau sudah pulang mas?"


Bima yang asik mengenakan kaos terkejut ketika orang yang di sangka sudah tidur ternyata belum tidur.


"Kau belum tidur?"


"Bagaimana mungkin aku bisa tidur jika seharian kau kurung aku disini tidur melulu."


Bima tersenyum simpul kemudian naik ke ranjang hendak merebahkan tubuhnya untuk beristirahat yang tak lama kemudian di ikuti Seila yang juga naik ke atas ranjang Bima. Melihat Seila Naik ke atas ranjang nya Bima melotot dan menatap tajam Seila.


"Kau mau apa?"


"Tidur, bersama Suamiku."


"Ish....!" sembarangan saja kalau ngomong sejak kapan aku menikahimu, pergi sana tidur di tempat mu."


"Aku tidak mau, bukankah kamu bilang sama Bik inah aku kelelahan karena habis melayanimu kenapa berbohong, ayo, sekarang kita lakukan, agar ucapanmu bukan dusta belaka."


Bima segera mendelik, mendengar ucapan konyol Seila.


"Jangan macam-macam kau!"


Bima beringsut mundur ketika Seila terus maju mendekati Bima.


"Kenapa? apa aku tidak cukup cantik bukan kah wajahku dan Seila tidak jauh berbeda kulit ku dan kulit nya juga sama dan ini dadaku pasti juga sama."


"Ish..!"


Bima bergegas turun dari Ranjang tak tahan dengan celoteh gadis yang ada di dekatnya.


" kamu benar benar sudah tidak waras."


"Aku gila karena cinta mu, aku gila karena mencintaimu dan aku juga gila karena penghianat mu."


"Hei..! apa yang kamu katakan, penghianatan bahkan aku tidak tau siapa kamu..!"tunggu apakah kau terlibat dalam kecelakaan istriku atau jangan jangan kau yang menyebabkan semua itu."


"Ha .ha..ha..ha .!"kalau iya, kau mau apa? melaporkan aku ke polisi, buktinya mana, jangan bergerak jika kau tak miliki bukti apapun, karena tidak ada pengaduan tanpa bukti."


"Dasar wanita gi..la, secepatnya aku akan menemukan bukti itu."

__ADS_1


"Cari saja dan lakukan jika kau bisa, aku tidak takut karena kamu tak kan menemukan bukti apapun."


"Oh, ya..?" terlalu percaya diri itu tidak baik Nona dan akan sakit jika kepercayaan mu kandas."Bima segera melangkah pergi dari kamar yang kini harus di huni orang lain.


"Hei..! mas Bima, kau mau kemana?"


"Tidur di ruang tamu, karena aku tidak akan tidur satu ruangan dengan orang yang bukan istriku."


"Kau akan membuat pembantu mu curiga."Teriak Seila.


"Aku tidak perduli lebih baik dia tau yang sebenarnya."


"Kau, tidak akan berani melakukan itu?"


"Oh, ya, turun dan lihat apakah aku tidak berani melakukan nya."


Bima menuruni anak tangga dan berteriak.


"Bik inah..!"Bik..!"


Suara Bima yang keras sampai terdengar pula di kamar atas membuat Seila membuka pintu kamar dan melihat Bima sedang berteiak teriak.


"Dia tidak main-main dengan ancamannya, aku harus bagaimana jika semua tau kedokku, mereka boleh tau tapi mereka tetap tidak bisa menggusirku dari sini, karena tidak ada bukti kalau aku bukan Seila jadi untuk apa aku takut, lakukan saja mas Bima ku sayang, karena apapun itu, kau tidak akan bisa menggusirku."


Bik Inah keluar dengan tergopoh-gopoh.


"Ada apa, Den?"


"Non Seila, mau tidur di ruang tamu mulai hari ini, katanya ingin bisa selalu dekat dengan Vira jadi tolong Bibik bantu mengangkat semua barang miliknya."


"Tapi, Den!"


"Turuti saja, apa kataku Bik, bukankah Bik Inah juga tau, jika Non Seila punya kemauan tidak di turuti Nanti nganbek, lebih susah lagi nanti jadi nya, Seila lagi ngambek Bik kan seharian terkunci di dalam kamar."


"Oh, iya, Den! Bibik mengerti sekarang."


"Cepat, ya Bik! keburu tambah ngambek Nanti."


Bik Inah langsung menunjukkan jempol jarinya kemudian dengan cepat melangkah menuju kamar atas di mana Seila sedang berfikir apa yang harus dia lakukan jika semua orang di rumah ini telah tau siapa dirinya sementara Bima tersenyum penuh kemenangan.


"Permisi, Non!

__ADS_1


Seila yang ketika itu dalam mode melamun terperanjat kaget melihat kedatangan Bik Inah di dalam kamar nya.


"Bibik..!"kau..


"Maaf Non , Bibik terlambat datang, sekarang mari saya bantu berkemas."


"A-apa?" berkemas! kalian tidak punya bukti apapun untuk menggusirku dari sini."


"Non Seila ini bicara apa? siapa yang mau mengusir Non Seila."


"Lalu kenapa aku harus berkemas."


"Bibik, tau Non Seila lagi marah jadi Den Bima mengginjinkan Non Seila tidur di ruang tamu sesuka Non Seila."


"Apa....?" Tidur di ruang tamu."


"iya, Non, permisi saya bantu membawa ini, Non Seila bawa yang lain ya?"


Seila kebinggungan dengan tingkah laku Bik inah yang tiba-tiba membawa semua barang miliknya bahkan tidak ada satu bjupun yang tertinggal di sana.


"Kenapa bisa jadi begini?"


Bima yang juga sudah Naik ke atas tersenyum simpul.


"Sudah, ku bilang! kalau bukan istriku tidak akan bisa tidur satu ruangan dengan ku, selamat tidur di ruang tamu Nona?"


"Busyet, jadi semua karena ulahmu."


"Tentu saja, ini kamarku dengan istriku bukan dengan wanita asing seperti mu, silahkan Nikmati hari harimu di Rumah ini sebelum kamu ku usir dari tempat ini, kau mengginginkan bukti kan, jangan khawatir tunggu saja bukti itu akan segera ku berikan padamu."


"Sial, awas, akan ku balas kau." ucap Seila sengit yang kemudian menuruni tangga dengan membawa sisa barang barang nya, kini dia harus menempati tidur di ruang tamu yang pasti nya kamarnya tidak seluas dan seindah kamar pribadi Bima di atas.


Di dalam kamar Seila memaki maki kelicikan Bima.


"bisa bisanya dia menggusirku dari dalam kamar nya, akan ku balas kau." Sungut Seila kesal.


******


Di sebuah Rumah megah dengan beraneka ragam perabotan mahal Hendrato mondar mandir di ruang tamu, hatinya begitu kacau dan resah, bukan tidak mengerti akan situasi yang terjadi pada Bima dan Ningsih calon istrinya, Hendrato tau, NIngsih ada rasa sama Bima Begitu juga dengan Bima terlebih Bima tau kalau Ningsih adalah istrinya.


Sungguh Hendrato merasa menyesal telah memberi tau Bima, jika Ningsih adalah Seila, ketiika itu Hendrato tidak tau jika Bima adalah suami Seila, Hendrato baru menyadari dan menggetahui setelah beberapa waktu lalu pergi ke Rumah Ningsih dan mengecek semua barang temuan Ibu Ningsih di mana di dalam dompet terdapat sebuah foto mesra Bima dan Seila dan satu buah ponsel yang tak terlempar tak jauh dari Seila ketiika di temukan.

__ADS_1


Hapenya memang sudah hancur tapi memori nya masih bisa di aktifkan, Seperti petir yang menyambar nyambar ketiika memori hape Seila di putar semua tentang Bima dan Seila kemesraan mereka kebersamaan mereka menambah sakit hati Hendrato di mana dengan tulus mempercayai Bima hanya lah orang yang baik padanya tapi ternyata Bima lah orang yang telah mencuri hati kekasihnya.


Untuk itu Hendrrto meminta kepada Ibu dan Ayah NIngsih untuk mempercepat proses pernikahan nya Bima harus merasakan sakitnya sebuah ketidak jujuran.


__ADS_2