Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab 93.LANGKAH SERIBU


__ADS_3

Langkah nya yang begitu cepat dengan menggunakan pintu belakang membuat Bima dan Arina tidak mengetahui jika ada sepasang mata yang telah memperhatikan mereka berdua.


Pintu kamar Nomor tujuh tidak terkunci, sehingga memudahkan siapapun yang berkunjung untuk menjenguk teman atau sanak saudaranya yang sedang sakit. Ketika pintu di buka dengan perlahan lahan Iqbal dan Bondet yang berada di dalam kamar segera menoleh ke arah pintu.


"Non Seila..!"masuk Non," ucap Iqbal ramah, begitu juga dengan Bondet senyumnya langsung yang mengembang Karena yang di tunggu sudah datang.


"Iqbal, bagaimana keadaan mu,?"


"Alhamdulillah, Non, sudah lebih baik, ayo, duduk, ini tadi Bondet bawain makanan pesanan Kak Bima, untuk Non Seila, ayo Non di makan," tawar iqbal.


"Iya, Non, ayo, di makan dulu, tadi aku bersama kak Bima yang membelikan nya,"sahut Bondet.


"Oh, jadi ini makanan yang di pesan kak Bima?"tanya Seila dingin.


"Iya, Non, enak rasanya, ayo makan, aku baru saja selesai makan," ucap Iqbal mantap.


Seila tersenyum, tapi senyuman Seila kali ini di nilai Bondet dan iqbal, seperti senyuman yang menghina atau meremehkan.


"Non Seila kok senyumnya begitu?" tanya Bondet yang melihat Seila tersenyum tapi bukan senyuman tulus.


"Aku, ngak lapar, Oh,ya, aku bawa buah segar untuk kamu Bal, di makan ya, biar cepat sembuh, aku pamit pergi dulu,"


"lho, Non Seila kok buru buru, kak Bima kan belum datang," tanya iqbal.


"Iya, Non, kak Bima kan belum datang, kok sudah mau pergi, kalau kak Bima tanya gimana?"tanya Bondet penasaran.


"Aku, sudah ketemu Kak Bima kok,"


"Oh, sudah ketemu!" tapi kok ngak bareng kesini nya, lha kak Bima mana?"tanya Iqbal.


"Kak Bima lagi...lagi ada urusan, jadi aku ke sini duluan,ya sudah aku pergi dulu ya,"


Iqbal dan Bondet saling berpandangan kemudian sama sama mengagguk. Seila melangkah kan kakinya keluar dari Rumah Sakit Sehat Sentosa. Sementara di tempat lain Bima dan Arina sudah berada di dalam kamar ruang perawatan.


"Bagaimana dok, apa sakitnya serius," tanya Bima khawatir.


"Tidak, pak!bapak jangan khawatir istri anda cuma kecapean saja,"


"Istri!" dia bukan istri saya dok,"

__ADS_1


Arina yang berada di dalam ruang perawatan menelan ludahnya dengan kasar, ketiika Bima mengatakan kalau dirinya bukan istrinya, ada rasa sakit yang tiba-tiba menjalar masuk ke dalam relung hatinya.


Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter Bima segera menemui Arina.


"Arin..!"dokter bilang kamu tidak apa-apa, cuma kecapean saja, mungkin kamu terlalu bekerja keras sehingga kamu sampai jatuh sakit, sebentar lagi dokter akan datang memeriksa kamu kembali, kamu tunggu di sini ya, aku mau ke kamar tempat temanku di rawat di sini, istriku sebentar lagi datang, kalau aku tidak ada takutnya dia mencari,"


"istri..!"biarkan saja dia yang menunggu kamu temani aku di sini,"


Bima terkekeh mendengar permintaan Arina, yang di nilai sangat aneh dan konyol.


"Aku, Suaminya, jadi aku lebih baik menunggu nya, bukan dia yang menunggu ku,"


"lalu aku Bagaimana?"


"Kamu kan ngak papa, jadi kamu bisa langsung pulang."


"Apa?"kamu menyuruh ku pulang, pulang ke mana Bima?" aku tidak punya siapa siapa di sini,"Seru Arina, berharap Bima mau mengerti.


Bima menarik nafas dalam dalam dan menghebuskan nya dengan kasar, sedetik kemudian Bima memberikan satu lembar kertas.


"Ambil, ini, di sini kamu bisa menuliskan berasa saja uang yang kau butuhkan, kamu bisa memilih tinggal di apartemen atau di hotel."


"Maaf, Arin, aku tidak bisa berlama lama aku tidak mau istriku menunggu ku terlalu lama, aku pergi dulu, lekas sembuh ya," ucap Bima seraya pergi dari tempat itu.


Arina menatap kepergian Bima dengan tatapan sayu, ada rasa kesal dan benci yang tiba-tiba menyeruak di dalam kalbu.


"istri..istri!" selalu saja nama itu yang dia sebut, seperti apa sih istri Bima itu, kenapa Bima begitu perhatian sama dia," Arina melempar bantal yang ada di kamar rumah sakit.


Sementara Bima yang sudah sampai di depan pintu kamar Iqbal segera masuk ke dalam tidak sabar rasanya ingin bertemu dengan istri tercintanya, sampai di dalam kamar Bima mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan.


"Kok, sepi, tidak ada siapa-siapa, kemana mereka dan Seila kok tidak ada," keluh Bima dalam hati.


Dari dalam kamar mandi keluar lah Iqbal dan Bondet.


"Eh, Kak Bima, sudah datang, maaf aku baru mengantar Bondet ke kamar mandi,"ucap Bondet.


"Seila mana ?" apa dia belum datang?"


"Oh, Non Seila, baru saja pergi,*

__ADS_1


"Apa ..?"pergi, kok ngak nunggu aku sih,"


"Lho, Non Seila bilang tadi sudah ketemu dengan kak Bima,"


"Sudah ketemu!"engak tuh, aku belum ketemu Seila sama sekali,"


"Kok, aneh ya?'kalau tidak bertemu kenapa bilang sudah ketemu,"


"Iya, kak Bima Non Seila hari ini aneh, ini makanan yang kak Bima pesankan juga tidak di makan, pamit pergi juga seperti orang sedang marah, wajahnya cemberut saja dari tadi,"


Mendengar ucapan Bondet dan Iqbal, Bima berfikir keras.


"jangan jangan, Seila melihat aku dengan Arina, Oh tidak, kalau sampai melihat nya habislah aku, ya, sudah, aku cari Seila dulu,"


bagai langkah seribu Bima keluar dari kamar Bondet berlari keluar, pandangan nya menyapu seluruh area parkir mencari di mana Seila memarkir mobilnya dan ketemu, Bima melihat


mobil Seila dengan cepat Bima berlari menghampiri.


"Seila tunggu!"Teriak Bima dengan keras, karena teriakan Bima begitu keras Seila dapat mendengar, sekilas Seila menoleh dan melihat Bima berlari kearahnya. Namun dengan cepat Seila justru tancap gas, melihat Seila justru menancapkan gas dan melajukan mobilnya, Bima dengan sigap Naik ke Motor nya, di kejar nya Mobil Seila. Dari kaca spion mobil Seila dapat melihat Bima menggikuti nya melihat itu Seila menambah lebih tinggi kecepatan mobilnya.


"Busyet...kencang, sekali melajukan mobilnya ini pasti marah," Gumam Bima dalam hati.


Aku harus lebih cepat, Seila kalau mengendarai mobil jangan kencang kencang dong sayang, bikin aku khawatir tau gak, aku harus menambah kecepatan motorku."


Bima semakin mempercepat kecepatan Motonya dan mobil Seila hanya tinggal beberapa meter bisa di balap, tapi ketika hendak mendahului Bima dengan cepat menginjak rem mendadak.


"Sial, kenapa lampu merah," Bima terpaksa berhenti sementara Seila melaju di depan semakin jauh, ketiika lampu sudah mulai bewarna hijau, Bima segera menancap gas nya dengan kecepatan tinggi, tapi sayangnya mobil Seila tidak dia temukan, berputar putar dan berkeliling Berjam jam , mobil Seila tak juga kelihatan, hingga Bima merasa lelah dan putus asa.


"Kamu, pergi kemana sayang," Bima menarik nafas dalam dalam dan menghebuskan nya kasar, untuk meluapkan kekesalannya berkali-kali Bima meninju udara.


"Aku telpon, sajalah," dengan hati yang tidak karu karuan Bima segera memencet Nomor Seila, hati Bima begitu senang ketika panggilan telepon nya tersambung.


"Ayo, sayang, cepet angkat,"Desis Bima tidak sabar dan beberapa detik kemudian.


"Tit.,"


"Lho, Seila !" kok di matiin sih, coba lagi siapa tau kali ini mau mengangkat.


"Maaf, Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif,"Mendengar itu Bima mengepalkan tangannya dan memukul motor nya yang tak berdosa.

__ADS_1


"Sial...!"sial!"sial..!"ini yang aku tidak suka darimu, kalau ada, yang kamu ngak suka itu, ngomong, tanya, tidak main pergi pergi saja, bikin hatiku resah tau ngak, sekarang aku harus mencari kemana coba? apa kamu ngak mikir bagaimana sedih nya, khawatir nya aku, sikap keras kepala mu, di kurangin dong, aku tuh, lebih senang kalau kamu marah, pukul aku omel omelin aku, seperti ibu ibu sebelah dan kebanyakan cewek kalau tau kekasihnya berbuat salah langsung perang dan di marah marah, ini kamu apa? main pergi, main menghindar, sesuka hati pergi trus ngak mau melihat lagi, itu yang bikin hatiku sedih, inilah yang tidak ku suka darimu.


__ADS_2