Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.62.HARAPAN TAK SEINDAH KENYATAAN


__ADS_3

Bima menghentikan langkahnya dan merogoh


telpon yang ada di sakunya.


Dengan sedikit bergetar Bima mulai


mencari satu nomor yang ada di kotak


telpon, setelah menemukan dengan segera


Bima memencet Nomor melakukan panggilan


video call, berharap bisa melihat wajah


cantik istrinya.Setelah menunggu beberapa saat terdengar suara.


"Maaf, Nomor yang anda tuju sedang sibuk.


"Lho, Ndet...! Kok Nomor nya ngak aktif


bagaimana ini?"Tanya Bima Binggung.


"Mungkin kehabisan batre Kak,"Jawab


Bondet.


"Lalu bagaimana, kita bisa menemukan


mereka ?"Keluh Bima putus asa.


"Kita lihat ke mobil yuk kak, siapa tau


mereka ada di dalam mobil,"


"Ya, sudah, ayo cepet,"Ucap Bima cepat


seraya berlari ke tempat di mana mobil


nya di parkir.


Sampai di depan mobil Bima tersenyum


senang, ketika melihat lampu mobil di dalam


menyala dan mobilnya pun masih ada disana


itu artinya Seila masih ada di pantai laut ini.


Bergegas Bima melangkah menuju mobil,


namun tiba tiba senyum di bibirnya lenyap


ketika melihat mobil dalam keadaan kosong


tanpa penghuni dengan lampu di dalam


masih tetap menyala.


"Mereka kemana?"Kenapa tidak ada disini


juga," Keluh Bima putus asa.


Anganya ingin segera bertemu sang istri


pupus sudah, istri yang di cari tidak ada


berbagai pikiran buruk terlintas dalam


otaknya.


"Jangan jangan, ada apa apa dengan Seila?"


Jangan jangan terjadi sesuatu yang buruk


padanya, oh, Tidak, jangan sampai


terjadi sesuatu yang buruk pada istriku


ya Allah !"


Seila, kau di mana ?"Keluh Bima putus asa.


Wajahnya yang tampan dan yang tadinya


berseri ceria, kini mendadak mendung


Bima menjatuhkan dirinya di samping


mobil dan berkali kali mengacak acak


rambutnya yang tidak gatal. Bondet yang


melihat Bima berwajah mendung ikut


sedih, ikut prihatin dan iba.


Sungguh takdir kehidupan itu tidak bisa


di tebak, berharap indah dan baik namun


ternyata tak sesuai dengan kenyataan.

__ADS_1


ketika rindu dan harapan bisa lagi


berkumpul dengan keluarga tiba tiba


sirna lenyap di telan bumi bersama


hadirnya sebuah kenyataan pahit yang


harus kita trima.


Bondet segera berlari pergi dan menemui


para penyelam yang ada di post.


Dalam pikirannya dia yakin pasti ada yang


mengetahui di mana Seila dan Iqbal


berada.


langkahnya terhenti ketika di depannya


sudah berdiri sosok penyelam muda


yang sempat membuat nya bertengkar


karena dia lah yang tidak mengizinkan


Bondet mencari Bima ketika itu, dengan


alasan malam telah tiba.


Rasa kesal dan marah yang masih ada


membuat Bondet gengsi dan tidak mau


bertanya pada orang itu, sehingga tanpa


bicara Bondet segera berlalu meninggalkan


nya dan masuk ke dalam post.


Di dalam post hanya terlihat beberapa orang


yang sedang bersiap siap untuk kembali


pulang.


"Maaf, pak ! saya mau tanya, apakah Bapak


melihat teman saya dan seorang wanita


pantai untuk menolong anak remaja kecil


yang terpeleset dari batu karang ?"


"Maaf, Nak! Kami tidak tau," Ucap salah satu


di antara mereka, yang kemudian di jawab


juga oleh beberapa temannya yang lain.


Dengan langkah gontai Bondet keluar


dari post, wajahnya ikut murung dan sedih.


"Pasti, kak Bima sedih sekali, mendengar


ini, kemana lagi aku harus mencari dan


pada siapa lagi aku harus bertanya."Ucap


Bondet dalam hati.


Pikiran Bondet pun menjadi ikut resah, ada


rasa bersalah yang tiba tiba menyeruak


ke dalam hatinya, seandainya Bondet


tidak melarang Bima untuk menelpon


Seila pasti tidak akan begini jadinya.


Bondet merutuki kebodohan nya, yang


kini tinggal penyesalan.


Bondet melangkah dengan wajah menunduk


sangat terlihat sekali jika dia juga sedang


berduka, dan sedih dengan apa yang terjadi


saat ini.


"Hey.., orang sombong !"Kenapa berjalan


menunduk begitu apa uangmu ada yang


jatuh," Seru seorang penyelam muda yang

__ADS_1


sempat beradu mulut dengan nya.


Dengan cepat, Bondet menengadakan


kepala nya, dia menatap tajam wajah


sang penyelam dengan tatapan yang


dingin. Tanpa berniat menjawab maupun


berdebat Bondet mempercepat langkahnya


tidak menghiraukan sang penyelam muda


yang lagi meledek nya.


"Hey..,Tunggu..!"aku bicara padamu kenapa


kau tidak menghiraukan ku,"


Bondet tersenyum simpul.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, jadi


jangan mengagguku," Ucap Bondet menggingatkan.


Laki laki muda itu tersenyum mendengar


ucapan Bondet.


"Kau, yakin, tak ingin bicara padaku,"


Tanpa menjawab Bondet melangkah pergi


namun laki laki muda itu berteriak.


"Apa, kamu tidak ingin bertanya, dimana


temanmu sekarang," Teriak sang laki laki


muda penyelam itu kepada Bondet.


Mendengar nama temanmu, Bondet


menghentikan langkahnya dan berpaling


menghadap laki laki muda penyelam itu.


"Apa kau tau, di mana mereka?"


Pemuda itu mengagguk dengan pasti.


"Benarkah, kamu tau," Ucap Bondet ingin


memastikan.


"Tentu saja aku tau, karna akulah yang


menyarankan mereka untuk pergi


ke pukesmas yang ada di desa dekat


pantai ini,"


"Ke pukesmas !"memang nya kenapa ?


mengapa harus pergi ke pukesmas,"


"Yang cewek, sering pingsan dan kondisinya


sangat lemah,"


"Apa..?"Non Seila pingsan, apakah desa


itu jauh dari sini ?"


"Tidak, hanya satu kilo dari sini,"


"Baiklah, trimakasih, aku pergi dulu,"Bergegas


Bondet menghampiri Bima yang masih


ada di sekitar mobil.


"Kak Bima..!Ayo pergi cepat,"


"Kemana?"


"Ke pukesmas, Non Seila ada di sana,"


"Apa..?"Seila ada di sana, baiklah ayo, cepat kita pergi,"


"Tunggu..!" aku lihat mobil ini terkunci apa tidak,"


Setelah memeriksa beberapa saat ternyata


mobil tidak terkunci, maka bergegas Bima


membawa mobil itu ke pukesmas terdekat


yang ada di desa dekat sekitar pantai.

__ADS_1


__ADS_2