
Bima menghentikan langkahnya dan merogoh
telpon yang ada di sakunya.
Dengan sedikit bergetar Bima mulai
mencari satu nomor yang ada di kotak
telpon, setelah menemukan dengan segera
Bima memencet Nomor melakukan panggilan
video call, berharap bisa melihat wajah
cantik istrinya.Setelah menunggu beberapa saat terdengar suara.
"Maaf, Nomor yang anda tuju sedang sibuk.
"Lho, Ndet...! Kok Nomor nya ngak aktif
bagaimana ini?"Tanya Bima Binggung.
"Mungkin kehabisan batre Kak,"Jawab
Bondet.
"Lalu bagaimana, kita bisa menemukan
mereka ?"Keluh Bima putus asa.
"Kita lihat ke mobil yuk kak, siapa tau
mereka ada di dalam mobil,"
"Ya, sudah, ayo cepet,"Ucap Bima cepat
seraya berlari ke tempat di mana mobil
nya di parkir.
Sampai di depan mobil Bima tersenyum
senang, ketika melihat lampu mobil di dalam
menyala dan mobilnya pun masih ada disana
itu artinya Seila masih ada di pantai laut ini.
Bergegas Bima melangkah menuju mobil,
namun tiba tiba senyum di bibirnya lenyap
ketika melihat mobil dalam keadaan kosong
tanpa penghuni dengan lampu di dalam
masih tetap menyala.
"Mereka kemana?"Kenapa tidak ada disini
juga," Keluh Bima putus asa.
Anganya ingin segera bertemu sang istri
pupus sudah, istri yang di cari tidak ada
berbagai pikiran buruk terlintas dalam
otaknya.
"Jangan jangan, ada apa apa dengan Seila?"
Jangan jangan terjadi sesuatu yang buruk
padanya, oh, Tidak, jangan sampai
terjadi sesuatu yang buruk pada istriku
ya Allah !"
Seila, kau di mana ?"Keluh Bima putus asa.
Wajahnya yang tampan dan yang tadinya
berseri ceria, kini mendadak mendung
Bima menjatuhkan dirinya di samping
mobil dan berkali kali mengacak acak
rambutnya yang tidak gatal. Bondet yang
melihat Bima berwajah mendung ikut
sedih, ikut prihatin dan iba.
Sungguh takdir kehidupan itu tidak bisa
di tebak, berharap indah dan baik namun
ternyata tak sesuai dengan kenyataan.
__ADS_1
ketika rindu dan harapan bisa lagi
berkumpul dengan keluarga tiba tiba
sirna lenyap di telan bumi bersama
hadirnya sebuah kenyataan pahit yang
harus kita trima.
Bondet segera berlari pergi dan menemui
para penyelam yang ada di post.
Dalam pikirannya dia yakin pasti ada yang
mengetahui di mana Seila dan Iqbal
berada.
langkahnya terhenti ketika di depannya
sudah berdiri sosok penyelam muda
yang sempat membuat nya bertengkar
karena dia lah yang tidak mengizinkan
Bondet mencari Bima ketika itu, dengan
alasan malam telah tiba.
Rasa kesal dan marah yang masih ada
membuat Bondet gengsi dan tidak mau
bertanya pada orang itu, sehingga tanpa
bicara Bondet segera berlalu meninggalkan
nya dan masuk ke dalam post.
Di dalam post hanya terlihat beberapa orang
yang sedang bersiap siap untuk kembali
pulang.
"Maaf, pak ! saya mau tanya, apakah Bapak
melihat teman saya dan seorang wanita
pantai untuk menolong anak remaja kecil
yang terpeleset dari batu karang ?"
"Maaf, Nak! Kami tidak tau," Ucap salah satu
di antara mereka, yang kemudian di jawab
juga oleh beberapa temannya yang lain.
Dengan langkah gontai Bondet keluar
dari post, wajahnya ikut murung dan sedih.
"Pasti, kak Bima sedih sekali, mendengar
ini, kemana lagi aku harus mencari dan
pada siapa lagi aku harus bertanya."Ucap
Bondet dalam hati.
Pikiran Bondet pun menjadi ikut resah, ada
rasa bersalah yang tiba tiba menyeruak
ke dalam hatinya, seandainya Bondet
tidak melarang Bima untuk menelpon
Seila pasti tidak akan begini jadinya.
Bondet merutuki kebodohan nya, yang
kini tinggal penyesalan.
Bondet melangkah dengan wajah menunduk
sangat terlihat sekali jika dia juga sedang
berduka, dan sedih dengan apa yang terjadi
saat ini.
"Hey.., orang sombong !"Kenapa berjalan
menunduk begitu apa uangmu ada yang
jatuh," Seru seorang penyelam muda yang
__ADS_1
sempat beradu mulut dengan nya.
Dengan cepat, Bondet menengadakan
kepala nya, dia menatap tajam wajah
sang penyelam dengan tatapan yang
dingin. Tanpa berniat menjawab maupun
berdebat Bondet mempercepat langkahnya
tidak menghiraukan sang penyelam muda
yang lagi meledek nya.
"Hey..,Tunggu..!"aku bicara padamu kenapa
kau tidak menghiraukan ku,"
Bondet tersenyum simpul.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, jadi
jangan mengagguku," Ucap Bondet menggingatkan.
Laki laki muda itu tersenyum mendengar
ucapan Bondet.
"Kau, yakin, tak ingin bicara padaku,"
Tanpa menjawab Bondet melangkah pergi
namun laki laki muda itu berteriak.
"Apa, kamu tidak ingin bertanya, dimana
temanmu sekarang," Teriak sang laki laki
muda penyelam itu kepada Bondet.
Mendengar nama temanmu, Bondet
menghentikan langkahnya dan berpaling
menghadap laki laki muda penyelam itu.
"Apa kau tau, di mana mereka?"
Pemuda itu mengagguk dengan pasti.
"Benarkah, kamu tau," Ucap Bondet ingin
memastikan.
"Tentu saja aku tau, karna akulah yang
menyarankan mereka untuk pergi
ke pukesmas yang ada di desa dekat
pantai ini,"
"Ke pukesmas !"memang nya kenapa ?
mengapa harus pergi ke pukesmas,"
"Yang cewek, sering pingsan dan kondisinya
sangat lemah,"
"Apa..?"Non Seila pingsan, apakah desa
itu jauh dari sini ?"
"Tidak, hanya satu kilo dari sini,"
"Baiklah, trimakasih, aku pergi dulu,"Bergegas
Bondet menghampiri Bima yang masih
ada di sekitar mobil.
"Kak Bima..!Ayo pergi cepat,"
"Kemana?"
"Ke pukesmas, Non Seila ada di sana,"
"Apa..?"Seila ada di sana, baiklah ayo, cepat kita pergi,"
"Tunggu..!" aku lihat mobil ini terkunci apa tidak,"
Setelah memeriksa beberapa saat ternyata
mobil tidak terkunci, maka bergegas Bima
membawa mobil itu ke pukesmas terdekat
yang ada di desa dekat sekitar pantai.
__ADS_1