
Perubahan hari dan waktu begitu cepat terhitung satu Minggu sudah Ningsih bekerja sebagai pelayan kopi dan bersih bersih di kantor Bima. hari dan waktu yang terlewati bersama membuat Bima semakin merasa nyaman dan dekat. Namun tanpa Bima dan Ningsih sadari kedekatan mereka tertangkap mata indah Seila yang diam diam selalu menggikuti gerak gerik mereka.
"Rupanya, gadis itu, yang sudah membuat Bima berubah dingin kepadaku benar benar mau cari mati dia, lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu."
Dengan wajah kesal Seila pergi meninggalkan tempat dimana Seila melihat Bima dan Ningsih lagi tertawa bersama hatinya begitu sakit dan kesal, Seila tidak menyangka jika Bima juga laki-laki yang mudah berpaling.
"Sia sia aku merubah wajah sialan ini, jika akhirnya Bima juga meninggalkan ku, Kenapa aku bisa se bodoh ini, ku pikir Bima cinta mati pada Seila tapi ternyata semua laki-laki sama saja, melihat daun muda yang masih baru dan segar langsung hijau dan tergoda hatinya."
Diam diam Seila meninggalkan kantor Bima, tak tahan rasaanya dia melihat pemandangan yang mengores hati, di mana Bima dan Ningsih tertawa bahagia di sana.
Bima yang tak bisa menahan tawanya terus saja tertawa dan bertanya.
"Lalu, apa lagi yang kau katakan pada Pak umar."
"Ngak, ada pak umar tetap marah marah dan meminta aku untuk menganti kopinya."
"Makanya jangan semua kamu kasih kopi pahit untung pak umar ngak pingsan, nih lihat aku juga simpan gula cadangan agar kalau kamu memberikan aku, bisa meminum kopi buatan mu."
"Kasih stok kopi, langsung saji saja pak, biar ngak ada yang komplin lagi."
"Ya, sudah Nanti ikut aku ke supermarket."
"Baik, pak!
Di supermarket Bima mengajak Ningsih untuk membeli semua yang di butuhkan di kantor, ketiika Bima sudah menaruh semua di troli kranjang dan sudah berada di barisan antrian kasir tiba-tiba Ningsih meminta ijin untuk keluar sebentar.
"Maaf, pak! saya keluar sebentar."
Bima mengagguk tanda memberikan ijin kepada Ningsih.
"Halo..!ada apa Mas?"
"Kamu, di mana Ning, mas sudah pulang nih."
"Yang bener,mas! sudah pulang mas jangan bercanda deh."
"Bercanda bagaimana, ini beneran mas Sudah pulang, sekarang katakan Ningsih ada di mana?
Dengan wajah berbinar ceria Ningsih memberikan alamat dia yang sedang berada di supermarket.
__ADS_1
"Tunggu, mas akan datang dalam tiga puluh menit, tunggu ya."
"Iya, mas."
Sementara Bima yang masih antri berdiri dengan kaki pegal dan jenuh.
"Lama, sekali, ngapain sih di luar, masak aku yang harus antri sendiri, ini yang jadi boss nya aku apa dia, benar benar nih anak," sungut Bima kesal.
Sampai antrian sudah dekat Ningsih belum juga masuk dan menemui Bima hal itu membuat Bima resah dan kesal, setelah menyelesaikan administrasi pembayaran, Bima segera memasukkan semua bahan yang di belinya ke dalam jok bagasi belakang sendiri dan menutupnya dengan rapat kemudian Bima mengarahkan pandangan nya ke semua penjuru tempat, akan tetapi belum juga terlihat sosok wajah Ningsih.
Ketika Bima sedang di landa resah karena mencari sosok Ningsih, tiba-tiba Netranya melihat sebuah mobil di pinggir jalan dengan seorang gadis ada di depannya.
"Bukankah itu Ningsih? bicara dengan siapa dia?"
Ketika Bima berjalan hendak mendekati langkah kakinya tiba tiba terhenti, hati Bima tiba-tiba sakit dan kesal ketika melihat Ningsih bergelayut manja melingkar kan tangannya pada leher seorang pemuda yang ada di depannya, sontak saja membuat Bima cepat cepat memalingkan muka ada perasaan geram dan kesal yang tiba-tiba datang mengusik relung hatinya, dengan langkah cepat Bima kembali dan masuk kedalam mobilnya, di tunggu nya Ningsih di dalam mobil dengan perasaan yang tidak menentu.
"Ningsih, ayo kita pulang."
Kata kata Hendrato yang mengajak Ningsih pulang tiba-tiba menggingatkan Ningsih jika dia pergi ke supermarket dengan Bossmya.
"Aduh, aku lupa, aku kemari bersama boss, mas Hen pulang dulu saja aku bareng dengan boss takut nanti dia mencari ku."
"Ya, baiklah kita bertemu di rumah saja, ingat nanti aku datang dan kita akan jalan-jalan."
Hendrato tersenyum senang melihat keceriaan yang terpancar dari raut wajah kekasih nya di usap dengan lembut rambut indah Ningsih sebelum mengecup keningnya. Bima yang melihat dari kaca spion tanpa sadar mengepalkan tangannya dan memukulnya pada mobil.
"Norak, sekali mereka apa ngak bisa tidak bermesraan di tempat umum." sungut Bima kesal.
Ningsih melambaikan tangan sebelum dia berjalan menghampiri mobil di mana Bima sudah menunggu.
"Maaf, pak! menunggu lama," ucap Ningsih sambil membuka pintu mobil belakang.
"Sudah, selesai mesra mesraanya?" sinis Bima sambil tersenyum miring.
"Bapak, kok ngomong nya Begitu sih."
Bima tidak menjawab tapi rasa kesalnya, tidak bisa dia tahan dengan begitu saja, Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Ningsih berteriak ketakutan.
"Pak, pelan pelan, saya takut."
__ADS_1
Bima diam tidak menjawab pertanyaan dan permintaan Ningsih.
"Ini Pak Bima, kenapa sih, jadi aneh begini tadi di kantor sudah cool eh sekarang kok seperti monster lagi." Gumam Ningsih dalam hati sambil berpegangan kuat kuat mata indahnya yang menyapu luar jendela sedikit terkejut.
"Pak, kita mau kemana?" ini kan bukan jalan menuju pulang ke kantor."
Mendapati Bima tetap diam Ningsih kembali bertanya.
"Pak! kita mau kemana?
Tidak ada jawaban lagi, kali ini Ningsih bertanya sambil berteriak.
"Bapak....?mau bawa saya kemana."
"Diam, jangan brisik Nanti kamu juga tau."
Mobil yang melaju dengan kencang berhenti di sebuah pinggiran pantai dengan ombak laut yang tidak terlalu tinggi.
"Turun..!"seru Bima pada Ningsih yang duduk di belakang.
Dengan perasaan tak menentu Ningsih turun dari dalam mobil Sementara Bima sudah turun lebih dulu dan berada tepat di depan pintu mobil belakang ketika pintu terbuka dan Ningsih hendak turun tiba-tiba tangan Bima menariknya dengan sangat kasar dan kuat sehingga tubuh Ningsih yang di tarik langsung meluncur menerjang dada Bidang milik Bima.
"Kenapa? kenapa kau lakukan ini padaku."
Ningsih yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Bima membuatnya bergidik dan takut lebih lebih tatapan mata tajam Bima yang seolah olah Ingin memakannya hidup hidup.
"Ba-bapak, Kenapa?
"Masih bertanya kenapa, jangan pura-pura bodoh kamu,"sinis Bima dingin tanpa melepaskan cengkraman tangannya yang kini mulai menekan pingang ramping Ningsih agar semakin dekat dengan nya.
Ningsih yang merasa risih dengan sikap boss nya yang di nilai sudah kurang ajar berani memegang pinggang nya dengan paksa berusaha melepaskan diri dengan tatapan mata yang tak kalah sinisnya Ningsih menatap Bima dengan tatapan mata meledek.
"Lepaskan saya..!"Bapak tidak punya sopan santun, berani pegang pegang begini."ucapnya dengan penuh penekanan tanda marah.
Bima tertawa sinis mendengar ucapan gadis yang dalam beberapa Minggu terakhir ini menggikat hatinya tapi tak juga Bima melepaskan tangannya yang masih melingkar erat dan menekan pingang ramping itu.
"Apa kau bilang, sopan santun? apa kamu ngerti apa itu sopan santun, bukankah kamu lebih tidak memiliki sopan santun bermesraan di tempat umum, sekarang bertanya sopan santun."cibir Bima sambil tersenyum miring.
"Oh...! jadi Bapak mempermasalahkan sikap saya pada pacar saya, begitu,?Bapak sadar tidak sih, dia itu pacar saya, kekasih saya sedangkan bapak itu boss saya yang juga sudah beristri apa pantas Bapak bersikap seperti ini kepada karyawan bapak, sadarlah yang tidak sopan itu bapak karena bapak sudah beristri." teriak Ningsih berapi api karena tersulut emosi di bilang tidak sopan yang pastinya akan di nilai sebagai wanita yang tidak baik.
__ADS_1
Bima tertegun dengan ucapan Ningsih perlahan lahan Bima melepaskan gengaman tangannya pada pinggang Ningsih, wajah ceria dan amarahnya mulai mengendur, Bima menunduk dia mengakui apa yang di lakukan Ningsih itu benar dia laki-laki yang sudah beristri, tidak pantas dan tidak layak bersikap seperti itu Bima pun tidak mengerti mengapa sakit dan kesal melihat Ningsih bermesraan dengan laki-laki lain sehingga Bima lepas kendali.
"Maafkan, aku," ucap Bima lirih yang kemudian melangkah menjauh pergi dan duduk di bangku yang ada di pinggir pantai.