Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.44.INGIN MEMINANG


__ADS_3

Seila yang berlari dengan rasa takut dan was was, beberapa kali terjatuh.


Sehingga meninggalkan bekas luka lecet lecet


disekitar kaki dan lutut nya.


Dengan nafas yang tidak teratur Seila berlari dan terus berlari.


Hingga mencapai ujung goa, Seila sudah berada di luar goa.


Namun Seila Binggung, harus ke arah mana


dia berjalan lagi.


Di tengah kebinggungan nya Seila melihat


Iqbal yang menuju ke arahnya.


karena takut masih di kejar preman, Seila


segera berlari menghampiri Iqbal.


Iqbal yang melihat kehadiran Seila tersenyum bahagia.


"Non Seila ..!"


Dengan mata berbinar bahagia Iqbal, mendekati.


"Non Seila, tidak apa apa kan ?"


Seila tidak menjawab pertanyaan Iqbal , Namum mengajak Iqbal segera pergi.


"Ayo, pergi..!"


"Non, ada apa? Kenapa wajah Non Seila begitu


ketakutan."


"Sudah , jangan banyak tanya, kita pergi dari sini,"


Iqbal yang tidak mengerti maksud Seila terpaksa menggikuti.


"Kita kemana Non ?"


"Menjauh dari tempat goa itu !"


"Tapi, kenapa..?"


"Sudah ayo, nanti ku jelaskan,"


"Mana ponsel hape kamu, aku mau menghubungi Bima,"


"Jatuh,di sana ?"


"Kenapa, tidak kau ambil?"


"Aduh Non, ada uler nya, ngak berani aku,"


"Ular, Bal...bukan uler !"


Iqbal Meringis,


"Iya, ular,"


Ucapnya sambil terkekeh.


"Lalu sekarang kita bagaimana?"


"Sebentar, kita diam disini dulu beberapa saat, takut nya orang orang itu mengejar, nanti kalau sudah aman, kita cari hape kamu.


Di Keluarga Hendrato.


Ratih tampak tegang dengan pertanyaan suami nya, dia Binggung harus menjawab apa, dan kini pikiran nya lagi sibuk mencari alasan agar


sang suami tidak curiga.


"Ma...!kenapa diam, ini jam tangan milik siapa Ma?"


Ratih menelan ludahnya dengan kasar.


menata hati agar tidak terlihat kalau dirinya sedang gugup.


"Anu Pa...",


Itu jam tangan milik nya Nunik.


"Masak Nunik suka pakai jam tangan pria si Ma ?


Aduh, kenapa jadi salah ngomong, gumam Ratih dalam hati.


"Ya..,Nunik lagi memakai jam tangan milik suaminya karena jam miliknya rusak.


"Oh, begitu,"


Hendrato mangut mangut mencoba memahami


meskipun sedikit terasa aneh, masak orang


kaya seperti Nunik hanya punya jam tangan satu dan kalau jam tangan milik suaminya dia pakai lalu suaminya pakai apa? Mungkin suaminya jam tangan nya banyak hibur


Hendrato dalam hati.


"Tapi Ma...! kenapa bisa ada di kamar kita?"


Bagaikan sengatan listrik yang sedang menggalir tiba tiba mampu seketika menghentikan segala kerja denyut jantung nya.


Deg....!


Ratih mulai pusing harus memberikan alasan


apalagi.


Karena tidak menemukan satu katapun yang


cocok, untuk sebagai sebuah jawaban.


Ratih berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


Dengan nada keras justru Ratih, marah marah.


"Papa...ini kenapa sih ?"


ini meja makan pa ! tempat makan, bukan tempat


untuk bertanya tanya, menghilang kan selera


makan saja, sudah, aku sudah kenyang ngak jadi makan malas.


Ucap Ratih dengan nada keras dan bersungut


lalu mengeloyor pergi.


"Tunggu...!"


Hendrato pun berdiri dari tempat duduknya.


"Aku kan cuma bertanya, kenapa mama yang marah marah lagipula kurasa itu pertanyaan yang wajar.


Ratih tidak memperdulikan ucapan suaminya,


dia langsung ngeloyor ke kamar.


Sedangkan Hendrato menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan kasar.


malam itu tidak ada pembicaraan diantara mereka, keduanya diam, tidur pun satu hadap


kanan satu hadap kiri.


Ratih yang tidak tenang akhirnya memulai


pembicaraan.


"Pa...!"


Karena tidak ada jawaban akhirnya Ratih menggeser tidur nya, sedikit lebih dekat kepada


suaminya dan mengulangi panggilan nya.


"Pa..!"


Kembali tidak ada jawaban, Ratih dengan hati hati menyentuh lengan suaminya dan sedikit


menarik lengan kekar itu, ketika wajah Hendrato sudah terlihat jelas dan tidak lagi


membelakangi nya Ratih mendapati suaminya


menutup mata,


"Yaaa...."Sudah tidur!"


Akhirnya Ratih merebahkan tubuhnya kembali dan memejamkan mata.


"Besok akan ku kembalikan, jam tangan Reza, crobroh sekali dia,"Maafkan aku pa, terpaksa aku selingkuh di belakang mu, aku tidak tahan jika kau abaikan Gumam Ratih dalam hati.


Ratih pun mulai memejamkan matanya.


****


Arina sangat Binggung dengan tingkah laku


Arya yang di nilai aneh dan sok perhatian.


Hari ini Arina bangun lebih pagi, Karena dia


harus melakukan wawancara dengan salah


satu perusahaan yang ia datangi agar dia


bisa di terima kerja di sana.


Ketika Pintu di buka dan Arina hendak berangkat Matanya terbelalak kaget


melihat Sosok Arya sudah ada di depan pintu nya.


"Kau..!"


Mau apa, pagi pagi begini ke rumah ku ?"


"Tentu saja menemuimu ingin sarapan bareng dengan mu ? Jawab Arya enteng.


"Ya , Ampun, arya...!"


masak mau sarapan saja juga, datang kesini ?


memang nya, kenapa tidak sarapan di rumahmu saja,"


Sungut Arina kesal.


"Kan ingin makan denganmu?"


"Aku tidak ada waktu,"


Ucap Arina sambil menutup pintu dan menguncinya.


"Lho..mau kemana?"Tanya Arya penasaran.


"Cari pekerjaan lah?"


masak harus minta uang kamu terus buat membeli kebutuhan ku !"


"Ya, gak papa, aku ihklas kok, kan aku cowok yang berhati mulia.


Ucap Arya seraya terkekeh.


"Sudah minggir, aku bisa telat nanti,"


"Tunggu..!"


ayo ku antar?'


"Benar mau mengantar?"


Arya mengagguk.


Di bukannya pintu mobil depan untuk Arina.

__ADS_1


Arya benar benar sedang di mabuk cinta,


rasanya tidak bisa kalau harus, jauh dan


tidak bertemu dengan pujaan hatinya.


Hari ini, Arya berniat ingin menggutarakan


keinginannya untuk memperistri Arina, Namum


kelihatannya gagal lagi, karena Arina lagi ada


acara di luar yang pastinya akan sangat


marah jika di cegah.


Arya berfikir bagaimana kalau saat ini juga


dia utarakan niatnya untuk memperistri Arina,


agar Arina juga tidak perlu susah susah mencari pekerjaan.


Mungkin inilah saat yang tepat untuk membicarakan hal itu.


Arya berdehem sejenak menarik perhatian cewek yang ada di sampingnya,


yang duduk tenang bak patung Elisabeth yang


tak bergerak.


"Ehemm..Ar..!aku mau bicara sebentar dengan mu..!kita ngobrol di MC Donald itu ya, sekalian


kita sarapan pagi.


"Alah..." bicaranya disini saja, nanti aku terlambat tidak bisa di terima kerja,"


"Yaelah... ,cuma sebentar kok Ar, gini aja, kamu


kerja saja di tempat ku?


"Ok kalau begitu, aku setuju, entar ngasih gajinya yang gede ya ?"


Ucap Arina sambil tertawa.


Arya mengagguk, sampai di tempat tujuan segera Arya memarkir mobilnya.


Lalu masuk dan mencari tempat duduk yang


nyaman, suasana pagi dengan pengunjung yang masih


sepi ini sangat cocok.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pesanan mereka datang.


Arina melahap sarapan paginya dengan lahap,


sedangkan Arya hanya membolak balikkan


makanannya.


Arya lagi Binggung mau mulai dari mana, tapi


inilah kesempatan satu satunya yang tepat.


"Ar...aku mau bicara dengan mu,"


"Mau bicara, ngomong saja langsung ada apa?


kalau kamu mau meminta kembalian dari semua uang yang kamu berikan kepada ku,


aku minta maaf, aku belum punya uang untuk mengantinya,"


"Bukan itu, yang ingin ku bicarakan,"


"Lalu....soal apa ?"


Arya memberanikan diri mengenggam tangan


Arina.


Arina sedikit kaget, di tariknya kembali tangannya dari genggaman Arya.


"Kalau mau ngomong, langsung saja, ngak usah pakai pegang pegang bukan Muhrim,"


Namun dalam hati Arina tersenyum, biarpun bukan muhrim kalau yang pegang Bima,


pasti dengan senang hati aku berikan,. bukan


dengan orang seperti tikus ini, bisiknya dalam


hati sambil terkekeh kecil.


"Kok kamu, senyum senyum kenapa?


"Ngak ada apa apa, slow saja, sudah kamu


mau ngomong apa ?


"Ar...maukah kamu menjadi istriku ?


Arina yang dalam posisi minum hampir tersedak mendengar perkataan Arya.


Sebelum kemudian tertawa.


"kamu mabuk ya...?


"Ha..ha..ha..ha..! Sudah bayarin semua nya aku tunggu di mobil,"


Tanpa menunggu jawaban dari Arya Arina sudah melangkah pergi.


Tinggalah Arya yang bagaikan orang frustasi


dengan perasaan kesal.


mengacak acak rambutnya yang tidak gatal.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2