
Mobil yang di kendarai oleh Arina dan Arya sudah memasuki halaman Rumahnya.
Arya, segera membuka pintu mobil dan berlari mengitari menuju pintu mobil Arina, dengan sigap Arya membukakan pintu.
"Sini aku bantu turun," tawar Arya
"Ngak, usah, aku bisa sendiri,"
Karena Arina menolak Arya membiarkan Arina berjalan sendiri. Rumah yang cukup luas dan megah ternyata tak mampu membuat hati Arina bahagia, meskipun perhatian dan kasih sayang yang di berikan suaminya kepadanya sangat besar, obsesinya yang terlalu tinggi ingin memiliki dan mendapatkan kembali cinta lamanya membuat nya hilang akal, satu rencana telah tersusun rapi, Arya yang telah menjadikan Arina sebagai seorang istri, tidak menyadari bahaya yang juga sedang mengincarnya.
***
Bima duduk di sebuah pohon rindang yang mana banyak berjajar anak anak remaja yang lagi duduk bersantai, sesekali tatapan matanya mengarah pada sebuah rumah yang ada di depannya, dengan mengenakan kaos putih dan berkacamata hitam Bima duduk dengan santainya, mata teduhnya dengan mudah mampu mengekplorasi semua gerak gerik yang ada di dalam rumah itu, Bima lagi mengawasi dan menunggu seseorang keluar dari Rumah itu, dengan sabar Bima terus menunggu, sampai pada akhirnya, sesuatu yang di tunggu telah muncul, dari balik pintu muncul lah dua orang gadis yan sedan keluar menuju mobilnya. Tidak menunggu berapa lama mobilpun berjalan meninggalkan area perumahan apartemen yang megah, diam diam Bima menggikuti kemana arah laju mobil itu berhenti.
Di sebuah restoran terbuka mereka menghentikan mobilnya, duduk di luar restoran dan makan di tempat yang cukup terbuka suatu pilihan yang nyaman bagi Wina dan Seila, Mereka tidak menyadari jika keberadaan mereka sudah di ketahui oleh Bima. Dalam kekalutan hatinya, Bima celingukan ke kanan dan ke kiri pikirannya berputar, bagaimana caranya agar bisa mendekati mereka tanpa mereka ketahui, timbullah ide konyol dalam otak pemikiran nya. Bima melihat seorang kakek tua tidak terlalu tua juga, tapi pantas di sebut bapak tua, dia sedang memakai pakaian badut menarik semua orang agar bersimpati dan rela dengan ihklas memberikan uang seikhlasnya. Timbullah ide untuk bergabung.
"Permisi, pak!" apakah saya boleh ikut bergabung,"tanya Bima.
"Bergabung, bagaimana Nak?"ini saja penghasilan nya tidak seberapa, jika di bagi dengan mu Nak, pastilah hari ini kami tidak cukup untuk beli beras,"
"Bapak, jangan khawatir, uang nya untuk bapak semua, saya tidak akan meminta sepeser pun,"ucap Bima.
"Yang, benar Nak!"
Bima mengagguk dengan pasti.
"Baiklah, Nak, kamu boleh ikut kami, tapi kamu pakai apa Nak?sudah tidak ada kostum badut lagi,"
"Tenang pak, aku bgini saja, cukup memakai cadar dan kacamata ini, bapak yang menari aku yang akan membuat atraksi."
"Baiklah, Nak !"
"Ayo, pak!"kita mulai, kita dekati tuh!" dua orang wanita yang duduk di sana itu, seperti nya mereka lagi patah hati kita hibur mereka,"
__ADS_1
"Jangan,Nak!" meskipun mereka duduk di luar itu masih di restoran, Nanti kita di usir,"
"Tenang kita tidak buat keributan, mereka tidak akan mengusir kita."
"Ya, sudah terserah kamu sajalah,"
Bima tersenyum senang mendapat kan persetujuan dari sang Bapak, bergegas Bima dan Sang Bapak berjalan mendekati, Wina dan Seila.
"Permisi, Non!"mau melakukan pertunjukan sebentar," tanpa menunggu jawaban Bima dan bapak sudah memulai atraksi nya, sang Bapak dengan iringan musik rancak bergoyang goyang, karena usianya yang cukup tua, membuat Sang bapak bergerak sangat lucu, Wina tertawa di buatnya sedangkan Seila mengeryitkan dahinya, dia justru merasa kasian.
"Stop..!"
Teriakkan Seila membuat sang bapak dan Bima menghentikan gerakan nya. Seila bangkit dari tempat duduknya dan menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada sang Bapak.
"Bapak, sudah tua, jadi Bapak duduk saja biarkan anak Bapak ini yang melanjutkan atraksi nya, kau sanggup,"
Bima tak berani bersuara takut ketahuan jadi dia hanya nmengaguk.
Bima mengambil jarak mundur memperluas area agar gerakan nya bisa lebih sempurna.
Berkali-kali Bima melakukan lompatan salto depan dan belakang membuat orang yang terkesima dengan atraksi yang Bima lakukan, sehingga, para pengunjung restoran berbondong bondong keluar untuk melihat, Mereka yang melihat langsung menaruh uang di tangan Bapak tua, kemudian dengan hikmat menyaksikan atraksi yang Bima lakukan.
Atraksi Bima cukup bagus dan mampu menghipnotis semua penonton yang ada akan tetapi tidak bagi Seila, atraksi Bima masih kurang menghibur dan masih jauh dari greget
ibarat seorang penulis cerita fill nya belum dapat, sehingga tatapan nya tetap tidak menunjukkan kegembiraan.
Tidak jauh dari tempat atraksi Bima berada nampak dua orang pemuda lagi menatap tajam ke Arah Bima.
"Kurang ajar,sekali, laki laki itu, berani beraninya dia merampas ladang tempat kita, lihat gara gara ulahnya semua orang pergi menonton nya,"
"Benar,kakak, kita harus memberikan pelajaran kepada pemuda itu, agar dia tidak bisa lagi pamer atraksi nya di sini,"
"Betul, itu, bisa bisa hari ini kita tidak dapat uang,"
__ADS_1
"Ayo, kakak, kita beri pelajaran pemuda itu,"
"Ayo, adek,"
Bergegas kedua pemuda kakak beradik itu mendekati tempat di mana Bima melakukan atraksi. Mereka berdua tiba-tiba ikut masuk ke tengah tengah area atraksi dengan menaruh kedua tangan di dada sebagai lambang ucapan salam pembukaan, Bima tertegun sesaat dengan kehadiran mereka berdua, Bima tidak mengerti kenapa mereka berdua tiba-tiba datang dan bergabung dengan nya, sementara Bima melihat raut wajah sang Bapak, tiba-tiba pucat seperti orang yang sedang ketakutan.
Beberapa detik kemudian kedua pemuda itu menyerang Bima, awal penyerangan biasa saja yang mampu di tepis dengan mudah, namun ketika kedua pemuda itu mengeluarkan pisau dari balik baju mereka Atraksi pun menjadi menegangkan, banyak yang berteriak histeris
bahkan Seila yang awalnya cuma melihat sepintas kini mulai ikut fokus dan tegang, pasalnya Seila bisa membedakan mana yang sekedar atraksi kelompok bermain main dan mana yang penyerangan serius dan sebenarnya, Begitupun dengan Bima kini dia menyadari bahwa sesungguhnya dirinya lagi di serang, meskipun di hadapan para penonton yang antusias dan histeris Bima harus bisa membawa perkelahian yang sebenarnya ini di mata mereka hanya lah pura pura. Berkali-kali Bima harus menghindari sabetan pisau pisau yang terus menerus di h,ujamkan kepada nya,
sungguh perlawanan yang tidak adil di mana tangan kosong melawan dua orang pemuda yang bersenjata.
Meskipun kemampuan Bima dalam olah kanuragan karate cukup bagus namun jika melawan dengan posisi yang tidak adil di mana
agar para penonton tidak curiga dan takut dia mempertontonkan pertujukan atraksi yang cuma pura pura meskipun keadaan yang sesungguhnya dia di serang, keringat mulai membasahi wajah tampan nya yang tertutup cadar, sesekali Bima melirik ke arah Seila, dan ternyata ketiika Bima dalam lengah Karena mencuri pandang pada istrinya, sebuah pisau
menggores lengan Bima dengan sempurna, sehingga darah mulai mengalir, melihat ada darah segar yang menetes dari lengan Bima
jeritan para penonton yang sangat keras membuat Seila menatap apa yang terjadi,
wajah cantik nya terlihat tegang dan mengeluarkan Teriakan histeris ketika pisau kedua pun ikut menggores, kini yang tergores adalah bagian dada Bima, tapi sebelum pisau kedua mengores dada Bima Seila sudah berteriak.
"Awas..!"
Dasar Bima ceroboh, bukannya mendengar kan teriakan Seila agar dia cepat menghindar, justru
Bima tertegun, mendengar suara kekhawatiran Seila, tak aya lagi pisau ke dua mengores di dada bidang Bima dengan sempurna. Melihat Bima terluka dengan cepat Seila melempar kan
pisau daging yang dia gunakan untuk motong stik.
"Trima ini..!"jatuhkan Mereka?"
Dengan cepat Bima melompat dan menangkap pisau yang Seila lemparkan kepada nya.
__ADS_1