
Laras yang menelepon Arin akhirnya dijemput oleh salah satu karyawan rumah makan Arin yang kebetulan sekalian mengantar pesanan,
Sedangkan Yoga yang diamankan oleh penjaga sekolah Angga tampak masih berada di pos jaga,
Ia menatap penuh amarah pada Laras yang begitu akan pergi menemuinya dan menyampaikan keinginannya untuk bercerai,
"Laras! Laras!!"
Yoga bahkan masih berusaha meneriaki Laras agar tak pergi, namun Laras tak bergeming, ia sama sekali tak lagi ingin kembali ke pelukan laki-laki seperti Yoga,
"Mau ke klinik dulu Mbak Laras?"
Tanya Kiki, karyawan yang bertugas mengantar pesanan dan kini sekalian menjemput Laras dan Angga ke sekolahan,
Laras yang wajahnya ada sedikit luka dari kuku milik Yoga tampak menggeleng,
"Tidak usah Mas, langsung ke rumah makan saja,"
Kata Laras,
Angga sendiri yang baru berhenti menangis masih terlihat diam saja di sebelah Laras,
"Baik Mbak,"
Sahut Kiki sigap dan langsung melajukan mobil milik rumah makan yang ia kemudikan dengan cepat,
Sepanjang jalan menuju rumah makan, Laras pun tak banyak bicara lagi, ia hanya menatap nanar keluar kaca mobil, memandangi jalanan yang tampak begitu berdebu karena panas terik matahari mulai memuncak,
Dadanya sudah begitu sesak, mendapati Yoga sang suami yang begitu ia tinggalkan bukannya insaf malah justeru semakin menjadi, benar-benar membuat hati Laras hancur berkeping-keping,
Sudah tak ada harapan, apalagi Yoga sudah mau melakukan kekerasan secara fisik, ini tentu tak lagi bisa dengan mudah dimaafkan,
Apapun alasannya, perempuan tak bisa diam saja saat suami mulai melakukan kekerasan secara fisik sementara isteri dalam posisi tak melakukan kesalahan apapun,
Laras menarik nafas dalam-dalam, keputusannya semakin bulan sekarang untuk mengurus cerai dari Yoga,
Ya...
Tak apa...
Tak apa ia menjadi singel parent, toh ia sudah biasa memikirkan semuanya sendirian untuk kepentingan Angga, ia juga sudah biasa mengurus kebutuhan Angga sendirian,
__ADS_1
Ada dan tidaknya Yoga nyatanya juga tak banyak berpengaruh pada sang anak, jadi Laras sudah semestinya tak perlu ragu lagi untuk mengurus perceraian mereka,
Sesampainya di rumah makan, Kiki memarkirkan mobil rumah makan di dekat pintu samping agar mudah nantinya jika ada nasi-nasi box lain yang harus ia antar,
Laras turun dari mobil dan langsung menggendong Angga yang tampak mengantuk karena habis menangis,
Dengan menggendong Angga, tampak Laras masuk ke dalam rumah makan melewati pintu samping rumah makan,
Kiki yang melihat Laras seperti kesulitan menggendong Angga, sebetulnya sempat menawarkan bantuan, namun Laras menolak dengan halus, karena Angga pasti nanti tidak mau,
"Angga sakit Mbak?"
Tanya Mbak Lastri begitu Laras masuk dan menggendong Angga yang dalam gendongan tampak melingkarkan kedua tangannya ke leher Laras dan wajahnya disembunyikan di bahu,
Laras menggeleng,
"Ngantuk dia Mbak,"
Kata Laras dengan suara lirih,
Mbak Lastri pun tersenyum sambil mengangguk,
Arin yang berada di belakang meja kasir begitu melihat Laras lewat langsung memanggil Indri, seorang karyawati yang biasa menggantikannya menjaga meja kasir,
"Meja nomor tiga dan enam ya Ndri,"
Kata Arin pada anak buahnya,
Tampak Indri mengangguk mengerti dan langsung duduk menggantikan atasannya,
Arin menyusul Laras ke lantai dua, di sana Laras tengah membaringkan Angga, anaknya,
"Ras,"
Panggil Arin hati-hati dari pintu kamar,
Laras menoleh ke arah Arin, matanya yang berkaca-kaca begitu mendapati Arin berdiri di sana langsung tampak menangis,
Arin pun yang tak tega akhirnya masuk ke kamar dan meraih Laras dalam pelukan,
"Aku akan bercerai saja Rin, aku akan bercerai saja,"
__ADS_1
Lirih Laras di sela isak tangisnya di dalam pelukan Arin,
"Ya Ras, aku ngerti,"
"Mas Yoga sudah tidak bisa berubah, aku rasa dia tidak akan pernah benar-benar insaf dan memperbaiki semuanya,"
Kata Laras lagi,
Arin menepuk-nepuk punggung sahabatnya agar bisa lebih tenang,
"Ya Ras, aku benar-benar mengerti, jangan khawatir Ras, jika memang bercerai menurutmu adalah pilihan yang terbaik maka cerailah, toh sekarang kamu kan punya aku, sahabat mu, yang akan selalu ada dan mendukungmu, kamu tak sendirian lagi Ras,"
Kata Arin menguatkan Laras,
"Ya Rin, terimakasih Rin,"
Isak Laras kemudian,
Arin lantas merenggangkan pelukannya, lalu berkata pada Laras,
"Uruslah, soal biaya aku akan bantu,"
Kata Arin,
Laras tampak mengusap air matanya,
"Besok akan aku antar bertemu pengacara teman saudara, kita akan meminta bantuannya mengurus perceraian mu,"
Kata Arin pula menambahkan,
"Terimakasih Rin, aku benar-benar tidak tahu bagaimana membalas semua budi baikmu Rin, soal biaya nanti, hitunglah sebagai hutang Rin, biar aku tidak terlalu merasa telah menjadi beban untukmu,"
Ujar Laras,
Arin terlihat tersenyum tipis,
"Tak ada yang menganggapmu sebagai beban Ras, tak perlu merasa sungkan, buatku sejak dulu kamu bukan hanya teman, bukan hanya sahabat, tapi lebih dari itu Ras, kamu itu saudara,"
Ujar Arin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1