Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.115.BERI AKU SATU KESEMPATAN


__ADS_3

Di dalam kamar Seila Bondet dan Iqbal duduk dan ngobrol manis penuh dengan tawa canda di mana di dalam kamar Bondet lagi menertawakan tingkah laku Bima.


"Tau, gak Non Kak Bima langsung bergembira setelah Non Seila huek...huek, karena berfikir Non Seila sedang hamil."


"Ah, masak,"


"Iya, Non, bahkan meledek Wina yang belum merasakan surga Dunia,"


"Kak Bima, ada ada saja ya,"sahut Seila sambil tersenyum.


"Kak Bima ngebet banget Non, ingin punya baby masak Non Seila ngak paham juga,"


"Iya, ngerti sih tapi aku belum siap nih,"


"Lalu ,kak Bima suru menunggu begitu,"


"Ngak, papa lah Ndet aku menunggu aku orangnya sabar kok,"sahut Bima yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.


Kehadiran Bima yang tiba-tiba membuat Seila dan Bondet sedikit kaget.


"Kak Bima!"


"Bagaimana keadaan mu sayang, apakah kamu sudah merasa baikkan,"sapa Bima meskipun hati terasa sakit ketika ingat kalau Seila tega diam diam minum obat anti hamil.


"Iya, kak, ini sudah lebih baik,"


"ya, sudah sehabis ini kita pulang,"


Seila mengangguk tanda setuju.


*****


Sementara Arina yang sudah tiba di bandara luar negri segera mencari taksi untuk tujuan Rumah sakit, langkah nya yg riang dan pasti seakan akan habis mendapatkan sebuah hadiah lotre serta wajah cantiknya sangat ceria dan sumringah. Sampai di depan pintu dokter wiliam Arina segera menghentikan langkah nya dan mengetuk pintu.


"Tok.. Tok...Tok..!"


"Masuk....!"


"Permisi pak, saya Arina ingin bertemu dengan Dokter wiliam,"

__ADS_1


"Saya, sendiri, silahkan duduk,"


"Trimakasih, pak!"


"Apakah, Nona sudah memikirkan dengan matang, tentang keinginan Nona itu,"


"Sudah, Dok, saya harus berkorban demi menyelamatkan kejiwaan kakak ipar saya,"ucap Arina bohong.


"Baiklah, kita butuh waktu satu bulan lebih dan apakah anda sudah siap,"


"Saya, siap Dokter,"


"Ok, besok kita mulai,"


Hari berganti waktupun berlalu kehidupan Bima dan Seila semakin mesra dan harmonis tak lagi Bima merasa khawatir jika Seila akan meninggalkan nya dan tak lagi Bima memaksakan keinginan nya agar Seila bisa cepat hamil Bima sudah merasa yakin jika Seila sudah sepenuhnya mencintai dirinya dan menerima Bima sebagai Suaminya, tawa dan canda serta kemesraan yang sering mereka pamerkan baik di dalam rumah maupun di luar Rumah terkadang membuat orang yang memandang merasa iri di buatnya.


Namun di balik semua kebahagiaan yang sedang Bima dan Seila nikmati ada beberapa pasang mata yang selalu mengawasi gerak gerik mereka, tatapan tajam dan dingin seolah olah siap menerkam tak pernah Bima sadari karena buaian cinta yang sedang bermekaran sedang melanda sudut sudut kosong dalam relung hatinya sehingga kewaspadaannya mengendur.


*******


Senja mulai muncul dan mulai menyapa kepada sang raja siang agar segera undur diri dari tatah nya karena sudah waktunya sang putri senja memgantikan posisi sang saja siang. Sinarnya yang terang berwarna kemerahan telah berhasil menembus kaca akan tetapi tak membuat Sang penghuni kamar yang sedang di mabuk cinta untuk berhenti dari kegiatan nya.


Suara ******* dan lenguhan sering kali keluar dari bibir manis milik Ratna yang sudah beberapa kali mencapai puncak kenikmatan karena perbuatan teman sekaligus kekasih nya, yang bermain dengan sangat sempurna entah berapa lama mereka bergulat dalam mencari sebuah kenikmatan sehingga mereka tidak menyadari ada suara sepatu yang tengah berjalan mendekati kamar itu.


Dengan menggepal kan kedua tangan serta dengan wajah yang merah padam sang pemilik sepatu itupun segera mendobrak kamar yang masih tertutup rapat.


"Bruuuuuaaaaakkk,"


Sebuah tendangan kaki menerjang pintu dengan sangat keras membuat pintu itu tak mampu menahannya lagi maka terbukalah pintu itu dengan mudah, suara yang sangat keras dan pintu yang tiba-tiba terbuka membuat kedua orang yang sedang bergulat dengan penuh gairah cinta terhenti, dengan cepat sang wanita meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya yang sudah berkali kali di buat mainan oleh seorang laki-laki yang tak lain teman sekolah nya yang juga kini merangkup menjadi kekasih gelapnya.


"Pa-pa..!" kau su-sudah pulang,"


"Kenapa..? Apakah kepulangku mengaggu kalian, dan kau? berani berani sekali bermain di kamarku pergi, atau ku hajar kau..!"


Dengan cepat laki-laki itu pun bergegas keluar dari dalam kamar hanya dengan menggenakan celana pendek, ketika laki-laki itu berada di dekat si pemilik sepatu dengan gerakan tendangan bebas kaki laki-laki ber sepatu menghantam punggung laki-laki itu sehingga laki-laki itupun terhuyung jatuh yang kemudian bangkit dan berlari keluar pintu.


Setelah kepergian laki-laki itu sang wanita dengan bibir bergetar turun dari ranjang dengan mengenakan selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.


"Pa..!

__ADS_1


"Stop...!" jangan dekati diriku, aku jijik melihat mu, dasar wanita kotor,"


"Pa....!"seru wanita itu dengan terisak.


"Bersihkan dirimu, kita bicara di bawah,"ucap laki-laki ber sepatu itu dengan tegas.


Tidak menunggu lama seorang wanita cantik turun dari tangga kamarnya dengan mengenakan baju bermotif bunga bunga dengan lengan pendek dan dada sedikit terbuka, sudah menjadi kebiasaan dan kesukaan nya menggenakan baju yang sedikit terbuka.


"Duduklah, seharusnya kau gunakan hotel untuk melakukan perbuatan bejadmu itu agar aku tidak pernah tau,"


"Pa..!aku khilaf! maafkan aku,"


"secepatnya kita urus perceraian kita,"


"Apa?", cerai! tidak, tidak bisa aku tidak mau bercerai darimu pa,"


"Kenapa, tidak, bukankah ini akan membuat mu bebas dariku dan kau bisa sepuasnya tidur dengan laki-laki manapun yang kamu suka, siapa tau jika bosan dengan si A kamu juga bisa bermain dengan si B," sindir laki-laki bersepatu yang tak lain adalah suami sang wanita itu yang memiliki nama Hendrato.


"Apa, kau pikir aku wanita serendah itu?"


"Bukan, lagi ku pikir, tapi kau memang wanita rendah yang entah kenapa harus ku nikahi,"


"Pa..?" jaga ucapanmu? apa kamu tidak tau atau pura-pura tidak tau, bukankah semua ini terjadi juga gara-gara kamu yang sangat dingin dan acuh padaku, kau sudah menikah dengan ku tapi kenapa? kenapa, wanita sialan itu masih ada di otakmu, apa tidak bisa kau lupakan dia hah,"ucap Ratna berapi api.


"Apa, kau bilang? wanita sialan, berani sekali kau mengatakan dia wanita sialan, justru kamulah wanita sialan itu,"seru hendrato dengan mencengkram keras bahu istrinya.


"Lepaskan, sakit, pa !"


"Apa, kau pikir, aku tidak sakit, aku sudah bersabar dan berusaha menjadi suami yang baik untuk mu, tapi kamu dengan sangat rendah menodai semua kepercayaan ku, kali ini kita akan bercerai itu sudah menjadi keputusan ku,"ucap Hendrato sambil mendorong tubuh istrinya hingga terjatuh ke lantai.


"Pa, maafkan aku, jangan ceraikan aku pa, aku khilaf, aku berjanji tidak akan melakukan lagi, aku cuma kesal aku mencintaimu pa.!" ucap wanita itu dengan air mata yang terus berderai.


Hendrato yang kesal segera mengemasi semua barang miliknya dan memasukkan ke dalam koper, melihat sikap Hendrato, Ratna semakin panik dia berjalan mendekati suaminya dan bersimpuh menyentuh kaki sang suami.


"Pa, jangan ceraikan aku, tolong berikan aku satu kesempatan lagi,"


Isakkan tangis dan permohonan sang istri tidak sekalipun Hendrato hiraukan dengan kasar di kibaskan nya kakinya dari gengaman tangan sang istri.


"Jangan, sentuh aku..!" menjauh kau dariku,"

__ADS_1


"Pa....!" tolong jangan berbuat seperti ini, padaku aku bisa di bunuh Nenek, jika kau sampai menceraikan ku,"


"Itu, urusanmu, bukan urusanku,"


__ADS_2