
Bima menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan tatapan matanya kini kembali lurus ke depan, apa yang sedang Bima pikirkan hanya dia yang tau, Ningsih sesekali melirik orang yang ada di sampingnya, hari ini sikap Boss nya Begitu aneh tidak ada keceriaan bahkan sekedar senyum pun sedari berangkat dari rumah dan di dalam mobil pun belum Ningsih lihat entah apa yang ada dalam pikirannya boss nya yang jelas ini pertama kali Ningsih melihat sikap aneh boss nya.
"Jika orang tuamu melarang kita untuk pergi bersama lagi, apa yang akan kau lakukan? apakah kau akan mematuhi perintah nya."
"Pak Bima !ini bicara' apa sih, Ningsih ngak ngerti deh."
"Kamu kan sebentar lagi menikah, apakah calon suamimu mengijinkan kita pergi bersama dan apa kamu yakin kamu benar benar mencintai nya."
"pertanyaan pak Bima banyak banget, aku binggung harus jawab yang mana."
"Apa kamu mencintai calon suamimu?"
Deg ...!"
pertanyaan yang sangat membuat Ningsih salah tingkah, mau jujur bilang belum ada rasa cinta itu sudah pasti akan di tertawakan, kalau bilang iya, sejujurnya belum ada, tapi itu lebih baik dari pada Nanti di tertawakan boss nya pikir Ningsih dalam hati.
"Iya! aku mencintainya pak."
Deg..!"pyarrr...hati Bima langsung ambyar pecah berkeping keping. Pupus sudah kini harapannya untuk mendapatkan cinta nya kembali, sia sia memperjuangkan segala sesuatu apabila yang akan di perjuangkan sudah sangat mencintai orang lain.
Bima menghela nafas panjang dan menghebuskan nya dengan kasar.
"Ayo, kita turun aku akan belikan kado untuk pernikahan mu."
Bima dan Ningsih turun dari mobil menuju ke toko swalayan, Ningsih mengira Bima akan membelikannya baju cantik tapi ternyata Bima tidak membawanya masuk ke dalam swalayan itu, Bima mengajak Ningsih masuk ke dalam toko buku di mana di dalam nya banyak terdapat bermacam buku dan Novel.
"Pak..!" ngapain kita kesini?
"Membelikan hadiah untuk pernikahan kamu."
Jawaban Bima, sepontan saja membuat Ningsih langsung mendelik dan menghentikan langkah kakinya.
"Jangan bilang bapak, mau membelikan aku buku."
__ADS_1
Bima pun menghentikan langkah kakinya dan menatap gadis yang ada di depannya dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Kenapa? aku memang mau membelikan kamu hadiah buku."
"Pak, pelit amat sih, kan seharusnya bapak tuh, membelikan aku baju yang mahal dan cantik atau memberikan aku tiket bulan madu begitu, ini malah mau ngasih buku, buku buat apaan pak,"
"Sudah pasti buat bacaan bukan buat bantal,"
"Ih, nyebelin amat sih punya boss kaya tapi pelit nya Amit amit,"
Mendengar perkataan Ningsih, Bima lngsung menghentikan langkah kakinya.
"Kamu tadi bilang apa?"
"Tidak, aku tidak bilang apa apa," sahut NIngsih berusaha secuek mungkin padahal di dalam hatinya sedang bergemuruh ombak badai berharap akan mendapatkan sebuah hadiah yang sangat istimewa tapi kenyataannya justru cuma mau di belikan buku yang harganya tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah bener bener boss pelit seluruh Dunia," Grutu Ningsih dalam hati.
Bima melangkah dan memilih milih buku yang di anggap cocok buat NIngsih.
Ketika Bima menoleh meminta pendapat Ningsih, Bima terkejut lantaran Ningsih tidak ada di sampingnya, sontak saja membuat nya panik dan segera mencari.
"Ternyata dia di sana?"Ningsih benar benar tidak ingat segala nya bahkan tempat inipun dia tak merasa pernah dekat sama sekali jika tempat kesukaan nya saja dia tidak ingat bagaimana mungkin dia ingat kalau aku adalah suaminya terlebih Ningsih terang terangan bilang mencintai Hendrato, apalah aku yang hanya hadir dalam perjalanan cintanya yang kedua sedangkan cinta pertama nya memang milik Hendrato, sekarang apa yang harus aku lakukan bagaimana aku bisa mendapatkannya kembali.
"Pak..! sudah beli kado nya." Suara Ningsih yang tiba-tiba ada di sampingnya membuat Bima terkejut dari lamunannya.
"Be-belum, kamu ngagetin orang saja,"hampir bikin jantung ku copot.'
"Ha .ha..ha .ha..Bapak ini ada ada saja, cepet beli aku tunggu di sini."
"Seila..! apa benar kamu tak ingat apapun?"
"Seila...!siapa Seila?"tanya Ningsih.
Menyadari baru saja keceplosan Bima cepat cepat meralat ucapannya.
__ADS_1
"Maksud ku, kamu Ningsih begitu?
"Oh...! kirain ..
"Ning..! bisakah kamu atur pertemuan antara aku dan Calon suamimu Hendrato, aku tidak punya Nomor telpon nya tolong sampaikan aku ingin bertemu ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan nya."
"Oh, mau ngasih kado hadiah pernikahan juga ya? tapi jangan buku Novel ya pak, dia ngak suka itu."ucap Ningsih sambil tertawa membuat Bima mendelik sempurna, ada rasa gemas dan ingin sekali menjewer dan menghukum bibir ranum itu agar tak lagi bisa meledeknya, akan tetapi semua harus dia tahan yang ada di hadapannya ini memang Istrinya akan tetapi dia lagi hilang ingatan jika dia ceroboh yang ada bisa bisa di masukkan ke dalam sel penjara karena telah melakukan tindakan yang kurang sopan, ingin memeluk tak bisa ingin mencium pun susah serba harus di tahan dan entah sampai kapan harus menahan rasa seperti ini.
"Kamu jangan khawatir hadiah buku Novel hanya untuk gadis cantik seperti kamu saja yang lain tidak layak mendapatkan itu, mereka layak mendapatkan tiket berbulan madu, baju istimewa ataupun uang cek yang jumlahnya pasti fantastis, jadi hadiah buku Novel ini khusus untuk gadis seperti kamu,"ucap Bima sambil terkekeh yang sukses membuat wajah Ningsih merah padam karena tersinggung.
"Oh, begitu ya pak! benar pak harusnya aku bersyukur dan berterima kasih karena boss baik seperti bapak masih sudih memberikan hadiah pada seorang pelayan seperti ku, Bapak benar pelayan seperti ku tidak layak mendapatkan apalagi bermimpi mendapatkan hadiah yang sangat bagus dan indah dari Boss nya jadi sekali lagi trimakasih atas kebaikan Bapak ini,"
Ucapan Ningsih yang halus tapi nada dan makna nya begitu tajam yang mana menggambarkan jika seseorang itu dalam node marah akan tetapi dengan bentuk dan tutur bahasa pribahasa yang halus.
"Bu- bukan begitu maksdku."
"Sudahlah, pak! aku sadar diri kok."ucap Ningsih seraya pergi masuk ke dalam mobil Ningsih benar benar kesal, saking kesalnya dia langsung masuk mobil dan memilih duduk di belakang.
Sementara Bima merutuki kebodohan nya, dengan wajah panik Bima langsung berlari ke mobil tak jadi beli buku Novel, pikiran nya dan tujuan nya cuma satu meluluhkan hati Seila yang sifat keras kepala nya kambuh lagi, dulu Bima berkali-kali di buat pusing dan kelimpungan dengan Sikap istrinya kala ngambek. Sampai di mobil Bima mengeryitkan dahinya ketiika melihat Ningsih yang sebenarnya Seila istrinya sedang duduk di bangku belakang, dengan cepat Bima membuka pintu mobil belakang.
"Kau, marah padaku?"
Ningsih menoleh sekilas, lalu melemparkan sebuah senyuman yang siapapun pasti dapat merasakan jika senyuman itu sebuah senyum keterpaksaan.
"Tidak..!"
"Lalu, kenapa duduk di belakang?"
"Bapak, saya ini karyawan Bapak bukan istri bapak jadi tidak pantas jika saya duduk di depan dekat dengan Boss, kita tidak selevel."ucap Ningsih mantap karena berbicara dengan penuh penekanan.
Mendengar perkataan NIngsih Bima mengeryitkan dahinya yang kemudian Bima membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalamnya, membuat Ningsih mendelik, dengan sempurna serta panik ketika Bima juga menutup pintu mobil dan duduk disampingnya.
"Ba-bapak, mau apa ?"
__ADS_1