
Wajah Ningsih tiba-tiba berubah menjadi pucat ketiika Bima duduk di sampingnya dengan sempurna, Bima yang melihat perubahan mimik wajah Ningsih justru tersenyum mengoda, rasanya menyenangkan jika bisa membuat gadis di sampingnya ini salah Tingkah, entah mengapa Bima terkadang merasa Ningsih juga punya perasaan suka padanya akan tetapi faktanya yang harus dia trima isi dari perasaan nya adalah salah, karena Ningsih mencintai dan mau menjadi istri orang, mungkin sikap Ningsih yang cemas adalah hal yang wajar bagi seorang karyawan kepada atasannya takut dan khawatir jika boss atasnya akan bersikap kurang ajar seperti adegan adegan yang ada di film, mendekati merayu lalu melampiaskan hasrat dari naf fsu nya. Bima menarik Nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Tegang amat, sih!" nih minum, biar ngak pingsan, aku cuma duduk di sampingmu saja dah bikin kamu pucat begitu, coba kalau kamu jatuh dalam dekapan pelukanku pasti kamu sudah pingsan, kan aku Boss yang cukup tampan."ucapan Bima yang kepedean membuat Ningsih yang ketika itu sedang minum langsung terbatuk-batuk.
"Uhuk..uhuk.. uhuk.
Melihat Ningsih batuk dengan gerakan refleks Bima menepuk nepuk punggung Ningsih dengan lembut agar batuk Ningsih berkurang.
"Pelan pelan minumnya, masak sudah gede begini masih seperti bayi minum saja tersedak." ucap Bima yang masih dengan gerakan menepuk-nepuk punggung Ningsih. Merasa ulah Boss nya yang kelewatan Ningsih segera mendorong tubuh Bima sedikit menjauh dari tubuhnya.
"Bapak, jangan kurang ajar, ya!" cari kesempatan saja." dengus Ningsih kesal dengan mimik bibir yang menggemaskan bagi siapa saja yang memandang.
"Aku kan cuma membantu, bukannya bilang terimakasih justru mendorong begini, sekarang siapa yang kurang ajar aku apa kamu? coba kamu hati-hati ngak bakalan kan aku nyentuh punggung kamu." ucap Bima dingin pura-pura kesal dengan sikap Ningsih. Apa yang Bima katakan tidak salah dan tepat membuat Ningsih terdiam dia memang salah minum air putih saja tidak hati-hati jadi bukan salah boss nya kan Bossmya cuma berniat menolong.
Melihat Ningsih diam Bima yakin Ningsih membenarkan ucapannya dan ini kesempatan Bima untuk mengoda dan mengkoyak Hati Ningsih.
"Kalau mau minum itu berdoa dulu agar tidak tersedak, lagi pula jangan kampungan lah masak duduk di dekat boss cakep seperti aku wajah kamu pucat begitu."Bima memberikan ceramah panjang lebar kali tinggi yang sukses membuat gadis yang di ceramahinya mendelik dengan sempurna.
"Bapak! jangan kepedean begitu dong, aku pucat bukan karena bapak duduk di samping ku, tapi karena bapak belum mengajakku makan, aku lapar !"tapi bapak boss tampan yang pelit sedunia tanpa perasaan justru mengajakku melihat lihat buku novel, buku mana bisa buat perutku kenyang pak?"
Bima tertegun dengan ucapan gadis yang ada di sampingnya, senyumnya yang ceria dan sangat berantusias meledek kini bagaikan mendung hitam yang tebal, tiba-tiba wajahnya sendu, sangat terlihat jelas ada kekhawatiran dan kecemasan di sana. Ningsih yang melihat wajah Boss nya berubah seratus delapan puluh derajat dari posisi awal mula bersorak senang dalam hati.
"Yes..!" bisa buat boss galak cemas juga, rasain tuh...hi...hi...hi..." Gumam Ningsih dalam hati terkekeh.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? maaf aku lupa, ayo cepat kita cari makan."Bima segera membuka pintu mobil belakang dan berpindah duduk di depan siap mengemudikan mobilnya.
"Kamu, duduk di depan apa belakang?" ini aku mau bawa mobil nya kencang lho, aku khawatir kamu takut, cepat duduk di depan."
"Ngak, pak! aku duduk di belakang saja."
"Ya, sudah pegangan yang kuat.
Sejurus kemudian Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat NIngsih
__ADS_1
berpegang sangat kuat.
"Busyet, ini boss aneh amat, cuma dengar bilang aku lapar saja paniknya seperti sikap suami yang sangat sayang dan perhatian ke istri, pasti istrinya pak Bima adalah orang yang sangat beruntung, meskipun terlihat galak sebenarnya dia sangat penyayang andai saja aku yang jadi istrinya..haiss..!" mikir apa sih otak ku kenapa jadi konslet begini, semakin sering bersama pak Bima aku semakin nyaman aduuuuuhhhh...!"
Ciiiiitttt,.... sebuah Rem mendadak Bima lakukan.
"Kamu, kenapa? sakit ya tanya Bima khawatir dan cemas."
"Justru , saya yang mau tanya kenapa bapak merem mendadak kaget tauuuk." sungut NIngsih kesal.
"Lho, aku rem mendadak karena mendengar kamu berteriak kesakitan."
"Apa? aku..!"Ningsih menujuk pada dirinya sendiri.
"Iya kamu tadi berteiak kesakitan."
"Bapak, kalau menghalu jangan siang siang begini ngak lucu."
"Kamu, yang berteriak tapi kamu juga yang menyangkal sekarang siapa yang menghalu kamu apa aku, jelas jelas aku mendengar kamu merintih aduuuuuhhhh begitu seperti orang yang mau melahirkan kok masih juga mengelak."
Ningsih mengeryitkan dahinya.
"perasaan aku tadi mengaduh dalam hati tapi kenapa pak Bima dengar jangan jangan aku tadi tidak mengaduh dalam hati aaaah malu," Triak Ningsih dalam hati sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bima yang melihat Ningsih menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Sudah, buka tuh tangannya, jangan di tutup begitu aku kan jadi ngak bisa puas memandang."ucap Bima lirih akan tetapi jelas terdengar di telinga Ningsih.
"Bapak, ngomong apa?" calon istri orang ini pak! jangan ngomong sembarangan." sungut NIngsih kesal sambil mengkrucutkan Bibirnya.
"Emang tadi aku ngomong apa?"
"Ta-tadi, bapak bilang....
__ADS_1
"Iya, aku bilang apa?"
Dengan sedikit malu Ningsih menjawab.
"Tidak bisa puas memandang ku." Ningsih bicara dengan wajah merah merona Karena malu agar Boss nya tidak melihat ekspresi wajahnya saat itu yang merah menahan malu Ningsih bicara dengan membuang muka.
Bima terkekeh mendengar Jawaban Ningsih.
"Kamu salah dengar itu, sejak kapan aku suka memandang wajah karyawan ku." jawab Bima datar.
"Masak, aku yang salah dengar sih." keluh Ningsih sambil menggigit Saliva nya.
Bima tersenyum penuh kepuasan sudah bisa ngerjain gadis di belakangnya, kembali Bima fokus melajukan mobilnya tak lama kemudian mobil pun berhenti. Setelah membuka pintu mobil belakang Bima mengajak Ningsih masuk ke sebuah restoran seafood yang terkenal di kota itu, Ningsih yang tak pernah masuk ke restoran menatap dengan tatapan mata kagum.
"Benar Bapak, mau mengajak saya makan di sini?"
"Tentu saja benar, kan kita sudah ada di sini."
Ningsih langsung menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa berhenti?"ayo masuk."
"Pak .!"makanan, di sini pasti sangat mahal lebih baik kita makan di warung yang ada pinggir jalan saja." tawar Ningsih.
"Sudah, ayo masuk,"
"Tapi, pak..!"
Bima tak mengindahkan ucapan Ningsih diraihnya tangan gadis itu dan digandeng nya masuk ke dalam, Ningsih yang tidak menyangka Bima akan mengandeng dan mengengam tangannya mau tidak mau harus menggikuti langkah kaki Bima dengan hati yang berdebar-debar.
"Oh, Tuhan!"apa, seperti ini rasanya orang yang sedang jatuh cinta, jatung serasa mau copot saja."Sepanjang perjalanan masuk Ningsih diam membisu tapi hatinya sibuk bicara sendiri.
Begitu juga dengan Bima." Seandainya saja kau tidak hilang ingatan sudah pasti kamu masuk dengan bergelayut manja padaku tidak seperti saat ini, sangat kaku."Gumam Bima dalam hati yang kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
__ADS_1