
Setelah mematikan ponsel hapenya Bondet segera pergi masuk kedalam tenda meskipun
pikiran nya tidak tenang dia mencoba untuk,
memejamkan mata, dalam resah dan tidur
yang tidak tenang terbersit beberapa rencana,
yang ingin esok dia lakukan.
Malam yang dingin, udara yang berdatangan
silih berganti menerpa dedaunan dan pohon
yang sesekali juga menerpa tenda membuat
keadaan tenda menjadi sangat dingin.
Bondet yang tidak bisa tidur dengan nyenyak
karena pikiran nya yang masih saja selalu
melayang layang mejelajahi seluruh alam
khayal berharap bisa menemukan setitik
cahaya tentang keberadaan Bima, namun
sampai matahari mau terbit dari ufuk timur
ternyata tetap saja, alam khayalan nya tidak
mampu menembus keberadaan Bima,
Bondet bangkit dari tidurnya dan keluar
tenda, di tengok nya kebelakang di mana
Bondet masih melihat para penyelam itu
tertidur dengan pulas, wajah mereka nampak
kelelahan.
Rasa kasian dan iba, tiba tiba hadir menyapa.
Bagaimana pun juga dia telah merepotkan
mereka, meskipun menyelamatkan orang
lain adalah tugas dan kewajiban mereka
namun bisa di pastikan juga keluarga
mereka cemas dan pastilah memikirkan
keselamatan mereka juga, terlebih jika
harus melakukan penyelaman dan pencarian
suatu hal yang sangat berbahaya bagi diri
mereka sendiri pula.
Bondet pergi ke mushola kecil yang ada di
pantai, bangunan yang tidak terlalu besar
namun keberadaan nya di tunjukkan bagi
orang orang muslim yang hendak melakukan
kewajiban sholat nya.
Setelah mengambil Air Wudhu segera Bondet
melakukan sholat subuh, dalam doa nya
Bondet meminta di berikan petunjuk agar
bisa menggetahui di mana Keberadaan
Bima sekarang, setelah selesai Bondet
berniat hendak meninggalkan tempat
musholla itu, namun langkahnya terhenti
ketika sayup sayup telinga nya yang tajam
mendengar suara isak tangis.
"Hizk....Hizk...Hizk...!"
Dengan rasa penasaran Bondet mencari
sumber suara tangis itu.
"Siapa pagi pagi subuh begini sudah
menangis,"Desis Bondet dalam hati.
Matanya yang tajam menyapu keseluruh
ruangan yang ada di tempat itu.
"Suaranya berasal dari tempat sebelah,
dengan cepat Bondet menengok dan dia
melihat seorang gadis yang sedang duduk
dengan menggunakan mukena.
"Oh, dia sedang menangis dalam doa,
macam macam ya orang meluapkan
kesedihan nya, andai aku juga wanita
aku juga mau menangis sayangnya aku
bukan lah wanita, sehingga rasa sedihku
hanya mampu ku simpan dalam dada.
Bondet yang tadinya ingin menghampiri
suara orang yang menangis itu tiba tiba
__ADS_1
dia batalkan niatnya, pasalnya tidak benar
menemui seorang wanita di saat dia
sedang berdoa, akhirnya Bondet memilih
menunggu saja di luar musholla.
Tidak berapa lama keluar lah gadis itu
Dengan segera Bondet berdiri dan dia
datang menghampiri.
"Permisi Nona, kalau boleh tau apa yang
membuat Nona menangis dengan begitu
keras."
Sang gadis yang tidak menyadari ada orang
yang sedang menunggu nya tidak mampu
menyembunyikan keterkejutan nya sehingga
yang keluar dari bibirnya ucapan istighfar.
"Astagfirullahaladhim..!" kamu siapa? kenapa
kamu menungguku disini,"
"Saya yang bertanya, kenapa justru kini
Nona yang bertanya balik," Jawab Bondet.
"Maaf, bang ! saya hanya sedih saja, jodho
saya, belum bangun dari tidurnya sampai
sekarang,"
"Oh, jodho Nona sedang sakit,"Tanya Bondet
yang di jawab dengan anggukan.
"Dari kemarin malam belum sadarkan diri
aku takut, terjadi apa apa padanya,"Ucap
gadis itu yang kemudian tangisnya pecah
lagi.
Melihat gadis di depannya menangis lagi
Bondet menjadi Binggung, tanpa sadar
Bondet merengkuh gadis itu ke dalam
pelukannya.
"Sudah, cup.....cup... , jangan menangis
lagi,"Ucap Bondet menenangkan.
bagaimana? aku tidak punya mobil untuk
membawa nya berobat ke kota dan aku
tidak mau Jodho ku mati,"
"Tenang Nona, aku akan bantu kamu,
aku kemari membawa mobil biar nanti
aku bantu membawa ke kota,"
"aku, tidak mau Nanti aku takut ke buru
jodhohku mati, aku mau sekarang," Ucap
gadis itu.
Bondet pun di buat kebinggungan dengan
kemauan gadis di depannya, Bondet harus
mencari keberadaan Bima, belum juga
menemukan titik terang datang lagi satu
masalah, mana yang harus aku dahulu
kan dalam kebinggungan nya terlintas
wajah kurus Iqbal menari nari dalam
otaknya.
"Aku tau, sekarang,"
"Nona kamu tunggu sebentar disini, aku
mau meminta solusi temanku,"Tanpa
menunggu jawaban Bondet segera pergi
meninggalkan gadis itu.
"Aku harus menghubungi Iqbal, tanpa
menunggu lama Bondet segera memencet
Nomor telpon iqbal dan tidak menunggu
lama telpon pun sudah tersambung.
"Kring....kring....kring...!
"Halo, " Terdengar suara jawaban dari
sebrang.
"Halo, Bal !ini aku Bondet."
"Iya, bagaimana, Ndet ?sudah menemukan
keberadaan kak Bima !"
__ADS_1
"Belum, Bal ! Sekarang malah aku dapat
masalah baru lagi,"
"Masalah apa lagi, Ndet !"
"Ada, cewek, Jodho nya sakit mau mati,
harus cepat cepat di bawah ke rumah
sakit di kota, sedangkan aku ngak bisa
ngambil mobil, lagi pula aku harus
mencari Kak Bima, kasian Non Seila
sekarang aku harus bagaimana Bal,
pusing aku coba kamu kasih aku solusi,"
"Ndet...!Ndet...!kapan kamu pintarnya,"
Ucap Iqbal sambil tertawa.
"Sudah, jangan meledek saja, cepat aku
harus bagaimana?"
" Kamu bawa itu jodohnya, ke kapal nah
suru mereka membawa kesini dan kamu
bisa dengan tenang mencari Kak Bima lagi,"
"Waoo, otakmu benar benar top Bal, ya sudah
aku pergi dulu bye."Tanpa menunggu lagi
Bondet segera mematikan telponya.
Dia bergegas menghampiri gadis yang ada
di depan musholla.
"Nona, ayo, tunjukkan di mana Rumahmu
kita bawa Jodho mu, sekarang juga,"Ucap
Bondet menjelaskan.
Dengan mata berbinar gadis itu mengangguk.
Bondet di bawa gadis itu menyusuri jalan
kecil dimana jalan itu seperti jalan pintas
yang jarang di lewati orang.
Di sekeliling jalan itu masih penuh dengan
tumbuhan liar dan pohon liar.
"Busyet...!'berani amat ini gadis sholat di
musholla ini dengan melewati jalan sepi
begini,"desis Bondet dalam hati.
"Aku, sudah terbiasa lewat jalan ini,
untuk itu aku berani melewati jalan ini,"
Ucap gadis itu tiba tiba.
"Ih, dari mana gadis ini tau, aku berfikir
begitu, jangan jangan dia bukan manusia
Bondet tiba tiba merasa merinding bulu
kudunya tiba tiba berdiri.
"Kamu jangan berfikir yang macam macam
tuh, disana rumahku ayo cepat,"Ucap gadis
itu menggingatkan.
"Bener bener ajaib ini gadis knapa bisa
membaca pikiran orang,,"Gumam Bondet
dalam hati.
"Ayo, silahkan masuk,"
"Siapa yang kau bawa itu nak,"Tanya seorang laki-laki setengah baya.
"Dia, yang akan membantu membawa dia
berobat ke kota dengan mobilnya ayah."
"Kalau begitu ajak saja dia langsung ke
kamar,"
"Baik, ayah,"
"Ayo, masuk, dia ada di dalam,"Ajak gadis
itu.
Ketika gadis itu membuka pintu dan Bondet
menggikuti masuk di belakang nya
tiba tiba Bondet meloncat mundur ke
belakang sambil berteriak.
"Astagfirullahaladhim..!'
"Astagfirullahaladhim...!'
Sang gadis pun kebinggungan melihat
ulah Bondet.
"Orang ini kenapa," Desisnya dalam hati.
__ADS_1