
Dengan senyum mengembang Bima
melangkah mendekati pantai.
"Akhirnya, turun juga,"Gumam bima dalam hati
sambil senyum senyum.
Bima mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya
ia membuka kamera, dan mengarahkan nya
ke laut, dia mencoba memotret keindahan
laut yang ada di pantai itu.
Namun ternyata kamera yang di gunakan untuk
memotret keindahan laut yang ada di depannya
ia rubah posisi nya dengan camera depan.
Cara dan gayanya memotret pun sangat
cangih terkadang lurus, terkadang juga
miring ke samping kanan dan kiri.
Aih..Aih Bima bukannya memotret indahnya
pemandangan laut yang ada di pantai, tapi
dia sedang memotret gambar istrinya yang
berjalan ke arahnya.
tentu saja sang istri tidak akan tau dan tidak
akan menyadari kalau Bima sedang menggambil gambarnya.
Gayanya yang benar benar bak fotografer
yang sudah profesional.
Melihat hasil dari bidikan gambar fotonya
Bima senyum senyum sendiri.
"Cantik juga, kalau Seila mayun begini,
rambutnya yang tergerai tersapu angin
membuat dirinya semakin cantik, juga
yang ini bikin gemes, saat dia menggigit
bibir bawahnya, rasanya ingin menikmati nya
lagi, gumam Bima dalam hati.
Melihat Seila sudah hampir dekat, cepat
cepat Bima mengganti posisi kamera dari
yang tadinya kamera depan menjadi kamera
belakang lagi.
Bima pun pura pura cuek tidak tau kehadiran
Seila.
"Aku, mau pulang,"
"Ya, Sebentar, aku mau melihat matahari
terbenam, aku mau memotret nya, kamu
sabar sebentar ya, tidak lama lagi matahari
akan terbenam.
Dengan lesu Seila mendudukan dirinya di atas
pasir.
Melihat istrinya yang masih memasang muka
tidak bersahabat, Bima duduk di samping nya
"Aku minta maaf, jika sudah membuat mu
kesal, apa bisa, kau memaafkan ku?"
"Tidak ada yang perlu di maafkan, kamu
tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf,"
Ucap Seila masih dengan nada datar.
Bima menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan kasar, direbahkan
nya tubuhnya yang kekar di atas pasir dengan
kedua tangan sebagai bantal di bawah kepala.
Beberapa saat kemudian Bima memejamkan
kedua matanya.
"Tolong...!Tolong...Tolong...!
Sebuah suara teriakan keras terdengar membuat Bima yang memejamkan kedua matanya bangun dan berdiri begitu juga dengan Seila.
Dilihatnya beberapa orang berlarian menuju
pantai.
"pak..!maaf, apa apa?"
"ada anak yang terjatuh dari pingir batu karang."
"Di mana itu pak .?"
"Di, sana !"
"Ayo, Seila kita lihat,"
Bergegas Bima menarik lengan Seila menuju
sumber suara dan gerombolan beberapa
orang yang berdiri di dekat batu karang
__ADS_1
tempat sang anak jatuh.
"Dengan terburu buru Bima meyibak kerumunan orang dengan tangan kanannya
sedangkan tangan kirinya masih menggengam
tangan Seila.
"Maaf, permisi...! permisi. !"
Dengan sendirinya orang orang yang bergerombol itu memberikan jalan agar Bima
dan Seila bisa melihat lebih dekat.
"Di mana jatuhnya..?Tanya Bima kepada
beberapa orang yang ada disana.
"Ini, disini !'Teriak salah seorang yang ada disana
Bima dengan cepat melepaskan genggaman
tangannya.
"Kamu, tunggu disini Sebentar,"
Setelah mengucapkan itu tanpa menunggu
jawaban dari Seila, Bima langsung pergi
ke tempat orang yang memberikan petunjuk.
"Bima, kau, mau kemana ?"
Karena tidak ada jawaban, Seila, menggikuti
langkah Bima dari belakang.
Dilihatnya Bima melepaskan celana panjang
yang di pakainya, melihat itu Seila gusar.
"Kau, mau apa ?"
Karena Bima tidak menjawab, Seila mengulang
kembali pertanyaan nya.
"Bima, kau mau apa ?"
"Kamu, tunggu disini Sebentar, aku mau
melihat kesana."
Setelah mengucapkan itu Bima dengan cepat
meluncur ke bawah.
"Bima....!"jangan..!"
"Byuuuuuurrrrr...!" Tubuh Bima sudah meluncur jatuh ke laut.
Tanpa sadar Seila menitikkan air mata.
Di sela isak tangisnya Seila bergumam.
"Lautnya dalam, kenapa kamu tidak memikirkan
dirimu sendiri.
dari permukaan laut.
lima menit, sepuluh menit, lima belas menit
bahkan sekarang hampir tiga puluh menit
tapi Bima belum muncul ke permukaan,
membuat hatinya semakin gusar dan khawatir.
"Aku harus lihat, sendiri, aku tidak boleh hanya
menunggu disini.
Dengan cepat Seila mengambil posisi akan
melakukan penyelaman ke dasar laut,
namun ketika tubuhnya hendak jatuh, tiba
tiba sepasang tangan kekar menariknya
sehingga Seila gagal melakukan penyelaman.
"Hey..! lepaskan tanganku, suamiku ada
didasar laut sana!"
"Maaf, Nona, ini sangat berbahaya, lebih baik
Nona menunggu saja, biar kami kami yang
turun melihat keadaan disana."
"Tidak, lepaskan aku, biar aku sendiri yang
mencari suamiku."Teriak Seila histeris.
"Nona, jangan keras kepala."
"Aku, bisa menyelam, aku bisa berenang, biarkan aku mencari suamiku,"
Ucap Seila sambil terisak.
"Tenang, Nona, tenanglah, percaya kan semua
pada kami, kami tim penyelam akan bekerja
semaksimal mungkin."
"Hai...!bawa Nona ini ke post, tenangkan dia
disana,"
"Baik,"
"Mari, mbak !"ajak seorang wanita yang juga berbaju kuning.
"Aku tidak mau, aku mau menunggu suamiku
disini,"Ucap Seila tegas sambil berusaha melepaskan genggaman tangan wanita yang
ada di depannya.
__ADS_1
"Iya....ya, suami mbak nya akan segera kami
bawa kedaratan, mbak nya, yang tenang dan
sabar, mbaknya juga harus banyak berdoa,
mari mbak, percayalah pada kemampuan
tim kami."
Dengan berat hati dan masih dengan sesenggukan Seila menggikuti saran wanita
yang juga berbaju kuning.
"Ok.., apa semua sudah siap?"
"Siap, pak!
"Dalam hitungan ketiga kita besama sama
menyelam, satu..! Dua..! Tiga...!Go.....",
"Byuuuuuurrrrr...!"
Beberapa tim penyelam sudah meluncur
ke dasar laut.
****
Di tempat yang berbeda Arina, sudah sampai
di depan rumah kontrakan nya.
Setelah membayar uang pada sopir angkot,
Arina berjalan dengan riang menuju ke pintu
Rumah nya.
Setelah membuka kunci, Arina menghela
nafas panjang dan menghebuskan nya dengan
perlahan.
"Aku pulang sedikit kemalaman, sehingga
rumah ku gelap begini, Gumam Arina dalam
hati.
Dengan sedikit meraba raba, Arina berjalan
menuju tempat lampu yang biasa digunakan
untuk menyalakan.
"Parah juga, nih rumah kontrakan, masak tempat untuk menyalakan lampu, jauh dari
pintu masuk, jadinya susah nih, menemukan nya, akhirnya ketemu juga.
"Cetit....!Byarr, lampu menyala dengan terang.
Arina menghela nafas lega, karena capek,
tanpa pergi, ke kamar mandi lebih dulu,
Arina sudah mendudukkan dirinya di sofa
dengan selonjoran. Rasanya terbayar sudah
kecapekan ku hari ini.
"Enak, ya, habis pulang langsung duduk duduk
begitu !
Mendengar ada suara, spontan Arina menoleh ke samping nya dan.
"Astaga...!Arya...?Ngapain kamu disini, dan
sejak kapan kamu ada di rumah ini?"
Tanya Arina beruntun.
"Sudah, dari tadi siang lah,"
"Kenapa kamu, tidak menyalakan lampunya?"
tega ya, kamu melihat aku meraba raba mencari tombol tempat lampu di nyalakan,"
"Siapa suruh, kamu pulang malam,"Ucap Arya cuek.
"Yaelah...!,Aku kan lagi mencari kerja, biar
hidup ngak dari belas kasihan orang terus."
"Oh, begitu, jadi apa yang ku berikan kepadamu
suatu bentuk belas kasihan begitu?"
"Ya, ngak , juga sih, tapi sedikit banyak begitu,"Ucap Arina mantap dengan senyum
tanpa dosa.
"Sudah cepat, mandi sana !bau mobil angkot
tuh nyakut di badan mu, habis itu bikinkan
aku makan, aku lapar dari tadi siang cuma
makan mie rebus saja."
"Ha .ha..ha...!siapa suruh kamu dusini sampai
malam begini, kan kamu bisa langsung
pulang."
"Mana bisa, langsung pulang, kangen ku belum
terbayar,"
"Ha .ha..ha..! kalau belum terbayar boleh kok
ngutang."
"Huss...!sana pergi mandi cepat, aku tunggu
disini ingat ya, ngak pakai lama.
Arina tidak menjawab celotehan Arya, dia
__ADS_1
hanya sekedar menunjukkan jari jempolnya,
kemudian masuk kedalam.