Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.51.BAU MOBIL ANGKOT.


__ADS_3

Dengan senyum mengembang Bima


melangkah mendekati pantai.


"Akhirnya, turun juga,"Gumam bima dalam hati


sambil senyum senyum.


Bima mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya


ia membuka kamera, dan mengarahkan nya


ke laut, dia mencoba memotret keindahan


laut yang ada di pantai itu.


Namun ternyata kamera yang di gunakan untuk


memotret keindahan laut yang ada di depannya


ia rubah posisi nya dengan camera depan.


Cara dan gayanya memotret pun sangat


cangih terkadang lurus, terkadang juga


miring ke samping kanan dan kiri.


Aih..Aih Bima bukannya memotret indahnya


pemandangan laut yang ada di pantai, tapi


dia sedang memotret gambar istrinya yang


berjalan ke arahnya.


tentu saja sang istri tidak akan tau dan tidak


akan menyadari kalau Bima sedang menggambil gambarnya.


Gayanya yang benar benar bak fotografer


yang sudah profesional.


Melihat hasil dari bidikan gambar fotonya


Bima senyum senyum sendiri.


"Cantik juga, kalau Seila mayun begini,


rambutnya yang tergerai tersapu angin


membuat dirinya semakin cantik, juga


yang ini bikin gemes, saat dia menggigit


bibir bawahnya, rasanya ingin menikmati nya


lagi, gumam Bima dalam hati.


Melihat Seila sudah hampir dekat, cepat


cepat Bima mengganti posisi kamera dari


yang tadinya kamera depan menjadi kamera


belakang lagi.


Bima pun pura pura cuek tidak tau kehadiran


Seila.


"Aku, mau pulang,"


"Ya, Sebentar, aku mau melihat matahari


terbenam, aku mau memotret nya, kamu


sabar sebentar ya, tidak lama lagi matahari


akan terbenam.


Dengan lesu Seila mendudukan dirinya di atas


pasir.


Melihat istrinya yang masih memasang muka


tidak bersahabat, Bima duduk di samping nya


"Aku minta maaf, jika sudah membuat mu


kesal, apa bisa, kau memaafkan ku?"


"Tidak ada yang perlu di maafkan, kamu


tidak salah, jadi tidak perlu minta maaf,"


Ucap Seila masih dengan nada datar.


Bima menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan kasar, direbahkan


nya tubuhnya yang kekar di atas pasir dengan


kedua tangan sebagai bantal di bawah kepala.


Beberapa saat kemudian Bima memejamkan


kedua matanya.


"Tolong...!Tolong...Tolong...!


Sebuah suara teriakan keras terdengar membuat Bima yang memejamkan kedua matanya bangun dan berdiri begitu juga dengan Seila.


Dilihatnya beberapa orang berlarian menuju


pantai.


"pak..!maaf, apa apa?"


"ada anak yang terjatuh dari pingir batu karang."


"Di mana itu pak .?"


"Di, sana !"


"Ayo, Seila kita lihat,"


Bergegas Bima menarik lengan Seila menuju


sumber suara dan gerombolan beberapa


orang yang berdiri di dekat batu karang

__ADS_1


tempat sang anak jatuh.


"Dengan terburu buru Bima meyibak kerumunan orang dengan tangan kanannya


sedangkan tangan kirinya masih menggengam


tangan Seila.


"Maaf, permisi...! permisi. !"


Dengan sendirinya orang orang yang bergerombol itu memberikan jalan agar Bima


dan Seila bisa melihat lebih dekat.


"Di mana jatuhnya..?Tanya Bima kepada


beberapa orang yang ada disana.


"Ini, disini !'Teriak salah seorang yang ada disana


Bima dengan cepat melepaskan genggaman


tangannya.


"Kamu, tunggu disini Sebentar,"


Setelah mengucapkan itu tanpa menunggu


jawaban dari Seila, Bima langsung pergi


ke tempat orang yang memberikan petunjuk.


"Bima, kau, mau kemana ?"


Karena tidak ada jawaban, Seila, menggikuti


langkah Bima dari belakang.


Dilihatnya Bima melepaskan celana panjang


yang di pakainya, melihat itu Seila gusar.


"Kau, mau apa ?"


Karena Bima tidak menjawab, Seila mengulang


kembali pertanyaan nya.


"Bima, kau mau apa ?"


"Kamu, tunggu disini Sebentar, aku mau


melihat kesana."


Setelah mengucapkan itu Bima dengan cepat


meluncur ke bawah.


"Bima....!"jangan..!"


"Byuuuuuurrrrr...!" Tubuh Bima sudah meluncur jatuh ke laut.


Tanpa sadar Seila menitikkan air mata.


Di sela isak tangisnya Seila bergumam.


"Lautnya dalam, kenapa kamu tidak memikirkan


dirimu sendiri.


dari permukaan laut.


lima menit, sepuluh menit, lima belas menit


bahkan sekarang hampir tiga puluh menit


tapi Bima belum muncul ke permukaan,


membuat hatinya semakin gusar dan khawatir.


"Aku harus lihat, sendiri, aku tidak boleh hanya


menunggu disini.


Dengan cepat Seila mengambil posisi akan


melakukan penyelaman ke dasar laut,


namun ketika tubuhnya hendak jatuh, tiba


tiba sepasang tangan kekar menariknya


sehingga Seila gagal melakukan penyelaman.


"Hey..! lepaskan tanganku, suamiku ada


didasar laut sana!"


"Maaf, Nona, ini sangat berbahaya, lebih baik


Nona menunggu saja, biar kami kami yang


turun melihat keadaan disana."


"Tidak, lepaskan aku, biar aku sendiri yang


mencari suamiku."Teriak Seila histeris.


"Nona, jangan keras kepala."


"Aku, bisa menyelam, aku bisa berenang, biarkan aku mencari suamiku,"


Ucap Seila sambil terisak.


"Tenang, Nona, tenanglah, percaya kan semua


pada kami, kami tim penyelam akan bekerja


semaksimal mungkin."


"Hai...!bawa Nona ini ke post, tenangkan dia


disana,"


"Baik,"


"Mari, mbak !"ajak seorang wanita yang juga berbaju kuning.


"Aku tidak mau, aku mau menunggu suamiku


disini,"Ucap Seila tegas sambil berusaha melepaskan genggaman tangan wanita yang


ada di depannya.

__ADS_1


"Iya....ya, suami mbak nya akan segera kami


bawa kedaratan, mbak nya, yang tenang dan


sabar, mbaknya juga harus banyak berdoa,


mari mbak, percayalah pada kemampuan


tim kami."


Dengan berat hati dan masih dengan sesenggukan Seila menggikuti saran wanita


yang juga berbaju kuning.


"Ok.., apa semua sudah siap?"


"Siap, pak!


"Dalam hitungan ketiga kita besama sama


menyelam, satu..! Dua..! Tiga...!Go.....",


"Byuuuuuurrrrr...!"


Beberapa tim penyelam sudah meluncur


ke dasar laut.


****


Di tempat yang berbeda Arina, sudah sampai


di depan rumah kontrakan nya.


Setelah membayar uang pada sopir angkot,


Arina berjalan dengan riang menuju ke pintu


Rumah nya.


Setelah membuka kunci, Arina menghela


nafas panjang dan menghebuskan nya dengan


perlahan.


"Aku pulang sedikit kemalaman, sehingga


rumah ku gelap begini, Gumam Arina dalam


hati.


Dengan sedikit meraba raba, Arina berjalan


menuju tempat lampu yang biasa digunakan


untuk menyalakan.


"Parah juga, nih rumah kontrakan, masak tempat untuk menyalakan lampu, jauh dari


pintu masuk, jadinya susah nih, menemukan nya, akhirnya ketemu juga.


"Cetit....!Byarr, lampu menyala dengan terang.


Arina menghela nafas lega, karena capek,


tanpa pergi, ke kamar mandi lebih dulu,


Arina sudah mendudukkan dirinya di sofa


dengan selonjoran. Rasanya terbayar sudah


kecapekan ku hari ini.


"Enak, ya, habis pulang langsung duduk duduk


begitu !


Mendengar ada suara, spontan Arina menoleh ke samping nya dan.


"Astaga...!Arya...?Ngapain kamu disini, dan


sejak kapan kamu ada di rumah ini?"


Tanya Arina beruntun.


"Sudah, dari tadi siang lah,"


"Kenapa kamu, tidak menyalakan lampunya?"


tega ya, kamu melihat aku meraba raba mencari tombol tempat lampu di nyalakan,"


"Siapa suruh, kamu pulang malam,"Ucap Arya cuek.


"Yaelah...!,Aku kan lagi mencari kerja, biar


hidup ngak dari belas kasihan orang terus."


"Oh, begitu, jadi apa yang ku berikan kepadamu


suatu bentuk belas kasihan begitu?"


"Ya, ngak , juga sih, tapi sedikit banyak begitu,"Ucap Arina mantap dengan senyum


tanpa dosa.


"Sudah cepat, mandi sana !bau mobil angkot


tuh nyakut di badan mu, habis itu bikinkan


aku makan, aku lapar dari tadi siang cuma


makan mie rebus saja."


"Ha .ha..ha...!siapa suruh kamu dusini sampai


malam begini, kan kamu bisa langsung


pulang."


"Mana bisa, langsung pulang, kangen ku belum


terbayar,"


"Ha .ha..ha..! kalau belum terbayar boleh kok


ngutang."


"Huss...!sana pergi mandi cepat, aku tunggu


disini ingat ya, ngak pakai lama.


Arina tidak menjawab celotehan Arya, dia

__ADS_1


hanya sekedar menunjukkan jari jempolnya,


kemudian masuk kedalam.


__ADS_2