Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.192.MINUM


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan kencang bagaikan dia sedang di kejar setan bayangan, dalam hitungan menit jarak yang cukup lumayan jauh hanya di tempuh dalam jangka waktu satu jam.


Mobil berwarna putih berhenti di depan sebuah hotel berbintang lima di mana di dalam hotel sudah penuh pengunjung. Pintu hotel pun seakan akan tak bisa terlihat karena tertutup banyaknya orang yang lalu lalang keluar masuk.


Bima yang kala itu hanya berpenampilan seadanya, tidak segera masuk ke dalam pikirannya tiba-tiba merasa bersalah pada istrinya bukan salah istrinya Jika dia menolak ikut, bukankah Bima sendiri yang tadinya bicara kalau istrinya tidak ingin ikut.


Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, perasaan bersalah yang tiba-tiba hadir membuat nya tidak nyaman untuk menghadiri pesta mewah ini tanpa sang istri.


Ketika Bima sibuk dengan lamunannya tiba-tiba telpon yang ada di dalam sakunya berbunyi, dengan berat hati Bima pun akhirnya mengangkat telepon itu.


"Halo...!"


"Halo, kak sudah berangkat belum aku tidak akan memulai Acaraku jika kak Bima tidak datang."


"Kenapa begitu, kau mulai saja Acara nya nanti aku akan datang dengan terlambat."


"Kak ..tanpa hadirmu aku merasa hampa pokoknya kak Bima harus cepat datang kalau tidak lebih baik aku batalkan saja Perta pertunangan ini."


"Huss...kok kamu ngomong nya begitu sih."


"Tidak mau tau pokoknya datang aku tunggu lima belas menit lagi." seru gadis dalam Telpon yang kemudian langsung mematikan sambungan telpon nya."


Bima menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Tidak ada jalan lain aku harus masuk tapi mengapa perasaan ku sangat tidak enak begini ada apa ini, apakah di rumah Seila baik-baik saja ataukah dia sedang marah marah." Bima bermonolog sendiri.


Dengan berat hati Bima masuk ke dalam ruangan di mana, ketiika langkah kakinya berada dii depan pintu Bima bertemu dengan sosok gadis cantik dengan berpakaian yang sangat indah layaknya seorang putri raja, Bima tersentak kaget ketika mereka bertemu di depan pintu.


gadis yang melihat Bima di depan pintu matanya berbinar senang dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Kak Bima...! katanya masih lama ternyata sudah ada di sini kak Bima mau ngasih kejutan ya?" seru gadis cantik berpakaian sangat indah tanpa merasa malu dan canggung gadis itu langsung menggandeng Bima masuk ke dalam.


"Nafa..! lepaskan tanganmu jangan begini malu di lihat orang."tolak Bima dengan perlahan lahan melepaskan genggaman tangan Manja sang gadis yang ada di sampingnya.


"Baiklah, kak! untuk kali ini aku akan menuruti mu," ucap Nafa dengan suara yang sangat berat dan serak seolah olah menahan sesuatu yang ada di dalam hatinya.


Nafa melepaskan genggaman tangannya dan berjalan menuju ke atas panggung di mana di sana terdapat satu panggung kecil yang sengaja Nafa persiapkan khusus untuk siapa saja yang ingin memberikan hadiah sumbangan sebuah lagu kepada nya.


Setelah berbisik sedikit pada salah satu pemain band pengiring lagu, Nafa turun dan terdengar lah sebuah lagu syahdu penghantar untuk para pengunjung agar bisa berdansa.


Nafa bersama calon pasangan nya berdansa dengan sangat manis sampai akhirnya Nafa memutar mutar tubunya yang indah dengan sangat cepat hingga membuat para pengunjung terpesona akan kelincahan dan indahnya tarian dansanya sang pasangan pun terlihat kwalahan mengimbangi gerakan tariannya.


Nafa terus memutar mutar tubuh indahnya, gadis berdarah campuran itu terlihat sengaja memutar mutar tubunya menjauh dari pasangan nya, mungkin karena terlalu cepat dalam gerakan memutarnya Nafa terlihat tidak stabil dan ambruk di depan Bima.


Entah suatu kesengajaan ataukah kebetulan tapi yang pasti Bima yang ahli dan pintar dalam bidang silat dengan gerakan refleks menangkup tubuh Nafa sehingga tak jadi jatuh ke tanah.

__ADS_1


Merasa Tangan Bima membantu nya dengan gerakan cepat Nafa menarik Bima keras hingga tubuh Bima bergerak.


"Kak, Dansa,ayo."


"Tidak, Nafa,kau dengan calon suamimu saja." tolak Bima halus.


"Hadiah terakhir buat aku kak, Nanti aku akan memberikan hadiah juga pada Kak Bima, percaya lah hadiahku untuk mu akan sangat istimewa." bisik Nafa lembut pada telinga Bima.


Tak bisa menolak akhirnya Bima menuruti kemauan Nafa. Pertunjukan Dansa yang sangat menakjubkan dimana dua orang yang ahli dalam silat berdansa dengan gerakan gerakan yang sangat mendebarkan, di mana tak segan segan Nafa membisikan pada Bima agar gerakannya cepat dengan alasan menghibur pengunjung hotel.


Tapi sesungguhnya tanpa sepengetahuan Bima gerakan dansa mereka disiarkan secara live di televisi.


"Nafa menyunggingkan senyum penuh kepuasan.


Setelah dansa berakhir Nafa mengucapkan terimakasih.


"Trimakasih, kak! tunggu lah hadiah dariku."


"Tidak perlu FA, aku tidak ingin hadiah darimu."


"Tapi aku ingin sekali memberikan nya, Kaka Bima sabar ya."


"Fa, aku mau pulang aku tidak bisa lama lama karena aku meninggalkan istriku di rumah."


Nafa tersenyum.


Nafa berjalan mendekati pasangan nya.


"Aku mau bicara padamu."


"Apa, sayang kau mau minta hadiah apa padaku."


"Ayo, kita bicara di tempat yang tidak akan ada orang yang bisa mendengar."


Laki-laki calon tunangan Nafa pun menggikuti langkah kaki Nafa.


"Katakan sayang apa yang ingin kau bicarakan."


"Apa kau yakin mau menikah dengan ku."


"Tentu saja aku yakin karena aku sangat mencintai mu."


Nafa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Aku mau mengatakan padamu jika aku sudah tidak suci lagi, kau boleh mencari penganti ku."

__ADS_1


"Apa?" kau sedang bercanda kan sayang."


Nafa tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya.


"Pikiran lah jangan sampai kau menyesal di kemudian hari aku pergi dulu."


Sosok laki-laki yang menjadi calon tunangan Nafa pun hanya bisa tertegun melihat kepergian calon tunangan nya, hatinya yang berbunga bunga kini redup, sungguh tak pernah dia bayangkan jika gadis yang akan menjadi tunangan nya sudah tidak suci lagi.


Kesal, marah dan geram semua campur menjadi satu.


Sementara Nafa dengan senyum tersungging di bibir mendekati pelayan penyaji minuman.


"Hei, sini!


"Iya, Non ada yang bisa saya bantu."


"Kau lihat cowok yang ada di sana itu kan."


"Iya, Non!'


"Tolong berikan dia minuman ini dan jika kau melihat nya sedikit mabuk cepat bawa ke kamar no.73, apa kau mengerti.'


"Mengerti, Non!


"Cepat, lakukan."


Bergegas laki-laki itu,pergi menrmui sosok laki-laki yang di maksud.


"Mas, ini minum nya!"


"Trimakasih," tanpa curiga Bima menegak habis seluruh isi gelas itu bukan karena haus atau apa tapi Karena pikiran nya sedang kalut memikirkan istrinya.


lima belas menit kemudian Bima merasakan kepalanya sedikit pusing.


"Kenapa tiba-tiba pusing bagaimana aku bisa pulang, lebih baik aku minta Bondet menjrmputku."


Tak lama kemudian Bima menekan satu nomor telpon dan setelah telpon di angkat Bima menceritakan kalau kepala nya sangat pusing dan minta bantuan nya untuk di bawa pulang, dengan senang hati Bondet menerima dan bersedia menjemput.


Sementara Bima yang sedikit limbung akhirnya di bantu pelayan untuk di bawa beristirahat.


"Mari mas beristirahat dulu,"


Tanpa menolak Bima mengganguk dan menggikuti apa yang disarankan pelayan hotel.


Bima di bawa masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat luas dan megah.

__ADS_1


"Silahkan mas masuk."


Setelah pintu di buka Bima segera masuk kedalam dan pelayan itupun segera menutup pintu, ketika Bima hendak menjatuhkan tubuhnya di atas Ranjang Tiba-tiba netranya di kejutkan sosok gadis cantik yang sudah ada di Atas Ranjang dengan senyum tersungging di bibirnya.


__ADS_2