
Seharian mondar mandir dengan berbagai macam kegiatan tak juga membuat hati Arina tenang sebentar bentar Mengintip hape yang belum juga ada pesan masuk.
"Sial, kenapa tidak ada pesan masuk, jangan jangan aku di bohongin preman jelek itu."
Tak lama kemudian sebuah telpon berdering
"Halo..!"
"Halo, boss! apa si boss sudah siap tunggu sepuluh menit boss pesannya akan segera terkirim." ucap laki-laki dari sebrang sambil menutup telponnya. Apa yang dikatakan preman itu ternyata benar tidak menunggu berapa lama terdengar sebuah pesan masuk dengan cepat Arina membuka pesan. Alangkah terkejutnya Arina ketiika yang muncul di dalam ponsel pesannya wajah seorang gadis yang tidak asing baginya.
"Ningsih..! apa preman itu tidak salah kirim, ini kan Ningsih dasar preman bodoh, aku harus bertanya lagi apa maksud dari ini semua. Kembali tangan lembut Arina memencet nomor telpon tak lama kemudian terdengar suara dari sebrang.
"Halo, ada apa lagi boss?"
"Kenapa kamu kirim foto wanita ini, bukankah aku menyuruhmu mencari informasi tentang wanita yang mengalami kecelakaan."
"Boss, wanita itu yang mengalami kecelakaan."
"Apa? wanita itu yang mengalami kecelakaan? kamu jangan bercanda wajahnya tidak seperti itu, jangan coba coba kamu membohongi ku."
"Boss, dengar dulu penjelasan ku! wanita yang mengalami kecelakaan itu wajahnya rusak parah dia ditemukan seorang warga desa yang kemudian merawat nya dan membawa ke rumah sakit terkenal untuk melakukan operasi wajah."
"Jadi, informasi kamu ini benar?"
"Tentu saja benar,"
"Baiklah, trimakasih infonya."
"Ok, sama-sama boss jangan lupa selalu menghubungi kami jika membutuhkan bantuan karena kami akan dengan senang hati siap membantu cukup boss siapkan danannya."ucap laki-laki preman dari sebrang dengan di sertai tawa yang keras keras yang kemudian menutup hubungan panggilan telpon mereka.
Arina menggigit Saliva nya sambil mondar mandir di dalam ruang tamu.
"Ningsih..! jadi Ningsih itu adalah Seila, pantas saja Bima Begitu perhatian dan dekat dengan nya, apakah Bima tau kalau Ningsih itu Seila? tidak tidak mungkin Bima tau, kalau Bima tau sudah pasti Ningsih tidak akan bekerja sebagai karyawan kantor, mungkin karena ikatan hati dari cinta Bima kepada Seila sangat besar dan kuat maka Bima begitu perhatian padanya, lalu sekarang apa yang harus aku lakukan, aku tidak mau semua rencanaku sia-sia belaka, bersusah payah aku merubah wajahku demi mendapatkan Bima jika pada akhirnya Bima cuma mencintai Seila alangkah baiknya jika aku sendiri yang akan melenyapkan Seila dari kehidupan Bima. Mulai saat ini aku harus mengawasi gerak gerik Ningsih tak kan kubiarkan mereka bersatu dan bahagia selama Nafas masih di kandung badan selama itu Bima tidak boleh di miliki siapapun selain aku."
***
Cahaya lampu kota berkerlap-kelip indah di sudut sudut kota menandakan hari mulai malam, kala itu seperti janjinya , Bima mengajak Ningsih untuk jalan-jalan, Ningsih yang sudah bersiap dari sore menyambut kedatangan Bima dengan senyum bahagia. Melihat Ningsih sudah berada di depan rumah dan menunggunya hati Bima bersorak bahagia, setelah sekian lama tidak keluar berdua dengan istrinya kini dia bisa keluar bersama lagi meskipun dalam keadaan yang berbeda di mana Ningsih tidak tau jika Bima adalah Suaminya.
"Kau, sudah siap,"
Ningsih mengangguk.
"Ayo, kita berangkat."
__ADS_1
Ningsih dan Bima yang hendak melangkah tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ketiika sebuah suara dari dalam memanggilnya.
"Apa, kamu mau pergi ke luar Ning?"
Sontak saja Ningsih dan Bima menoleh ke arah pintu di mana telah berdiri bapak Ningsih, dengan cepat NIngsih segera menghampiri bapaknya.
"Bapak..! iya pak Ningsih mau keluar sebentar."
"Apa, itu boss mu?"
Dengan senyum ramah dan santun Bima memberikan salam kepada Bapak Ningsih.
"Selamat malam, pak!
"Ya, Malam..!"ucap Bapak Ningsih datar.
"Ning, bisa bapak bicara dengan boss kamu Sebentar, ajak boss mu masuk ada yang ingin aku bicarakan dengan nya."
"Baik, pak!"
Ningsih segera mendekati Bima dan mengajaknya masuk dulu ke dalam Rumah.
"pak! ayo masuk dulu bapak ingin bicara dengan pak Bima?"
"Oh, ya!
"Duduklah, Nak Bima! dan kau Ningsih tolong buatkan kopi untuk pak Bima."
"Baik, pak!"
Ningsih segera masuk kedalam untuk membuat kan secangkir kopi. Sementara Bapak Ningsih dan Bima kini tinggal berdua berada di ruang tamu.
"Nak, Bima mau ajak Ningsih kemana?"
Dengan malu-malu Bima bicara.
"Nonton sama makan di luar pak."
"Nak, Bima sudah tau apa belum kalau Ningsih itu sebentar lagi mau menikah?"
"Tau, pak! jawab Bima sambil menunduk.
"Kalau Nak Bima tau seharusnya mulai sekarang Nak Bima jauhi Ningsih,"
__ADS_1
Deg ...!"bagaikan ada sebuah batu besar yang tiba-tiba menghimpit dada Bima, dilarang jalan bersama dengan istrinya itu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan dan suatu kenyataan pahit yang sangat sakit dan sulit untuk di trima tapi apa yang bisa lakukan sekarang selain harus menerima dengan ikhlas, kembali suara dari bapak nya Ningsih terdengar.
"Nak, Bima mau kan, menjauhi Ningsih, bapak tidak mau kehadiran Nak Bima bisa mengacuhkan pesta pernikahan mereka, bapak memang sudah tua, tapi bapak dulu juga pernah muda, meskipun Nak Bima tidak menggatakan bapak bisa mengetahui kalau Nak Bima suka pada Ningsih putri bapak, Nak Bima mau berjanji kan?" jauhi Ningsih lagi pula Nak Bima harus ingat Nak Bima sudah beristri."
Mendengar permintaan bapak Ningsih Bima tersenyum kecut hatinya kini begitu sesak dan sakit, sebagai seorang suami harus menjauhi istrinya ini tidak mungkin Bima bisa lakukan tapi bagaimana caranya untuk menjelaskan semua itu selain Bima harus menerima permintaan dari Bapak Ningsih.
Ketika mereka asik dalam suatu obrolan Ningsih keluar dengan secangkir kopi panas.
"Pak..!" ayo kopinya di minum,"
Bima yang hatinya begitu kalut hanya tersenyum kecut .
"Ning!" iya pak Nanti pulangnya jangan malam malam?"
"Iya, pak!"
Ningsih melirik Bima yang diam menunduk tanpa ada reaksi apa-apa wajahnya terlihat muram Ningsih mengeryitkan dahinya.
"Pak, ayo, kita berangkat."
Bima memberikan senyuman tapi sangat terlihat jelas jika senyuman itu di paksakan.
Di dalam mobil sepanjang perjalanan Bima diam, tak seperti biasanya yang selalu jahil dan suka meledek kini bagaikan patung hidup, tatapan matanya lurus ke depan tanpa ekspresi apapun.
"Bapak, sakit! tanya Ningsih yang melihat sikap Bima tiba-tiba menjadi berubah aneh.
"Tidak..!"
"Apa, bapak menyesal telah mengajak saya keluar?"
"Tidak..!"
"Apa, ada yang salah pada diri saya sehingga bapak jadi banyak diam."
"Tidak !"
"Dari tadi Jawaban nya tidak melulu tapi sikap bapak terlihat aneh, seperti orang lagi kesal dan marah."
"Itu, hanya perasaan mu saja."
"Oh, ya! aku tuh bisa merasakan pak, jika bapak saat ini lagi sangat kesal, kalau tidak ihklas mengajakku jalan-jalan mendingan jangan mengajak dari pada di cuekin begini." Sungut NIngsih kesal yang membuat Bima tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan cara mendadak.
"Apakah, kamu tidak keberatan pergi dengan ku! dan apakah kamu tidak merasa terganggu dengan semua yang kulakukan padamu."
__ADS_1
"Bapak, bicara apa, aku tidak mengerti."ucap Ningsih sambil memalingkan wajahnya tatapan mata Bima betul betul membuat jantungnya serasa mau copot, debar debar aneh yang tak pernah dirasakan ketika bersama Hendrato membuat nya sedikit gugup ketika harus beradu pandang dengan tatapan mata Bima yang begitu teduh.