
Hendrato menuangkan air putih ke dalam gelasnya dan meminumnya dengan sekali teguk.
"Tak kan ku biarkan Seila kembali padamu, dia kekasihku dan akan kembali kepada ku."Gumam Hendrato dalam hati.
Hari berganti pagi ketika mentari sudah menampakkan diri meskipun masih malu malu
Ningsih yang membantu sang ibu menjemur baju di kejutkan dengan kehadiran sang Bapak yang tiba-tiba muncul dari Balik pintu.
"Ningsih..!"
"Eh, Bapak! ada apa pak?"
"Hari ini, Ningsih ada janji sama orang apa tidak?"
"Memangnya kenapa Pak?"
"Ngak, ada apa-apa, cuma mau menggingat kan kalau bisa perginya kemana mana sama Nak Hendrato saja dia kan calon suamimu."
"iya, pak!"ucap Ningsih sambil tersenyum kecut.
Hari ini Ningsih berniat ingin pergi bersama Bima tapi Ningsih malu jika harus dia yang mengajak lebih dulu untuk itu Ningsih menunggu Bima menelpon dan menjemput nya , tapi sampai hari sudah siang Bima tidak telpon juga tidak berkirim pesan hati Ningsih semakin kacau dan mendung.
Untuk menghilangkan rasa kesal yang tiba-tiba hadir di dalam jiwa nya Ningsih pergi ke toko baju untuk melihat lihat siapa tau ada yang cocok dan menarik untuk di beli.
Rindu yang tiba-tiba datang mengusik di relung hatinya Ningsih tahan, tidak boleh seorang wanita lebih dulu menghubungi seorang pria.
"Kenapa pak Bima tidak menelpon ku ya?"apa dia lagi sibuk di rumah."
Ningsih memilih baju dengan hati terus bertanya taya tanpa sengaja karena melamun Ningsih menabrak orang di depannya.
"Maaf..! Maaf mbak!" tidak sengaja."
"Kalau jalan tuh lihat lihat dong."
"Iya, maaf mbak!" ucap Ningsih menunduk sambil berlalu pergi.
"Hei...!" tunggu."
"I-iya mbak, saya minta maaf."
"Bukan itu!" apa kau karyawan nya Mas Bima?aku seperti pernah melihat mu apa kamu yang bernama Ningsih."
"Iya, mbak Benar!"
"Bagus!" ada yang ingin aku bicarakan kepada mu, kita bicara di luar tunggu aku di sana aku mau bayar baju ini dulu."
Ningsih mengangguk sebelum dia melangkah ke luar.
Setelah menyelesaikan administrasi pembayaran gadis yang di tabrak Ningsih itu langsung keluar dan mencari di mana Ningsih menunggu nya, setelah melihat Ningsih bergegas gadis itu menghampiri.
__ADS_1
"Hei..! apa kau menggenalku?"
"Tidak, mbak!"
"Pernah melihat wajahku?"
"Tidak, mbak!"
"Bagus, berarti kau tidak tau siapa aku."
"Aku, tidak tau."
"lihat dan pandang baik baik, apa menurutmu aku cantik?"
"iya, mbak sangat cantik."
gadis yang mendapat pujian itupun tersenyum sumbang mendengar ucapan Ningsih.
"Apa kau ingin tau siapa aku."
"Iya,"
"Dari tadi Jawaban nya iya dan tidak... melulu apa tidak punya pikiran sendiri selain itu." bentak gadis yang ada di depannya.
"Memang apa lagi yang harus saya pikir mbk, apa iya saya jawab tidak lalu ku jawab tidak pasti mbknya tersinggung jadi ku jawab iya saja biar mbknya seneng."
Sebuah tangan siap melayang menampar wajah Ningsih tapi dengan sigap Ningsih langsung menangkap tangan itu
"Cukup...!" sudah cukup dari tadi aku mengalah dan diam saja dengan segala ucapan mbk nya yang aku tidak tau maksud mbak nya itu apa?"
"Kau ingin tau, maksud ku."
"iya, katakan jangan membuang buang waktuku."ucap Ningsih sengit dia sudah mulai kesal dengan tingkah gadis di depannya.
"Aku, mau! mulai hari ini kau jauhi Bima, dia itu Suamiku, paham...?"ucapan yang penuh dengan nada penekanan.
Ningsih yang tidak menyangka jika gadis di depannya adalah istri dari Bima tiba-tiba hatinya Keluh, sikapnya yang tadi berani melawan kini diam membisu.
"Kenapa, diam, mau jadi pelakor di rumah tangga orang, jangan kau kira aku tidak tau apa yang kau lakukan dengan Suamiku hah..!lihat ini...!" bukankah ini kamu, apa kamu tidak punya malu bercinta dengan suami orang."
Tubuh Ningsih bergetar hebat ketika mata indahnya melihat sebuah vidoo yang tidak layak ketika dirinya terbuai dengan ciuman Bima membuatnya terlena sehingga membiarkan bahkan membalas ciuman itu sungguh sungguh suatu yang sangat memalukan, Air mata Ningsih lolos begitu saja, dirinya merasa sangat malu dan tak berharga.
"Untuk apa kau menangis, bukankah kau juga menikmati nya dasar wanita ja...laa ng, wanita tidak punya harga diri."
"Cukup..jangan katakan lagi, aku tidak tahan mendengar nya maafkan..aku," keluh nya sambil terisak.
"Sudahlah...kau memang wanita tidak tau diri, mulai hari ini, jauhi Suamiku jika tidak maka akan aku sebarkan vidio ini biar semua orang tau siapa dirimu."
"Ja-jangan, mbak!"Tolong jangan lakukan itu, iya aku akan menjauhinya aku tidak akan lagi menemuinya aku berjanji tapi tolong jangan sebarkan vidio itu, aku mohon!"ucap Ningsih sambil bersimpuh di kaki gadis di depannya yang tak lain adalah Seila.
__ADS_1
"Ciiih..!" jangan sentuh kakiku, aku tidak sudih, kalau sampai aku melihat mu bersama dengan Bima lagi, aku tidak akan segan segan menyebar luaskan Vidio kotor mu itu."
Seila yang kesal melihat wajah Ningsih yang berlutut memegang kakinya segera menendang tubuh Ningsih hingga jatuh terjerembab di tanah. Ningsih hanya bisa menangis sesenggukan hatinya begitu sakit dan malu sementara Seila tersenyum penuh kepuasan sambil melangkah pergi.
"Rasain loe!"Kali ini, Bima tidak akan bisa menemui Ningsih lagi, dan aku bisa memiliki Bima dengan seutuhnya."
Seila masuk kedalam mobilnya dengan hati berbunga-bunga karena dia yakin setelah ini Bima dan Ningsih tak kan pernah bisa bertemu lagi karena Ningsih pasti takut dengan ancamannya.
Di tempat lain Bima yang sudah berada dekat di rumah Hendrato memutuskan untuk berhenti sejenak hatinya merasa gelisah karena dari tadi belum memberi kabar kepada Ningsih. Di raihnya benda pipih yang ada di dalam saku baju nya, kemudian menekan nomor telpon Ningsih.
Suara telpon tersambung tapi tidak juga di angkat, kembali Bima menelpon lagi dan lagi lagi telpon nya tidak di angkat hati Bima semakin cemas dan resah khawatir ada apa apa dengan Ningsih tapi Bima harus bisa segera menyelesaikan permasalahan yang rumit ini Bima tidak mau Seila atau NIngsih istrinya sampai menikah dengan Hendrato.
Karena telpon berkali kali tidak ada Jawaban Bima memutuskan untuk menulis pesan kepada Ningsih setelah selesai Bima langsung mengirimkan nya berharap Ningsih bisa mengerti dan tidak marah padanya. Benda pipih sudah masuk kembali di dalam bajunya Bima segera turun dari mobil dan melangkah menuju Rumah Hendrato, Bima segera membunyikan bel rumah.
"Ting...Tong...Ting Tong...!"
Tak lama kemudian muncullah seorang wanita paruh baya datang membuka kan pintu.
"Apakah, Hendrato ada di Rumah?"
"Ada, Den! silahkan masuk."
"Trimakasih, Bik!"
Bima duduk di sofa panjang milik Hendrato, tak lama Hendrato keluar dari dalam , sangat terlihat Hendrato sedikit kaget' melihat kehadiran nya.
"Mas, Bima! ada apa kemari sepagi ini,"
"Tidak ada, apa apa cuma mau ngobrol ngobrol saja."
"Oh, ya! mas Bima mau ngobrolin soal apa?"
Tiba-tiba pembantu Hendrato keluar dengan secangkir minuman segar di atas nampan.
"Den, di minum jus jeruk nya!"
"Trimakasih, Bik!"
"Mari, mas! kita minum jusnya, biar seger."
"Iya."
"Mas Bima mau ngomongin apa sih!"
"Mau, bicara tentang Ningsih."
Mendengar Bima akan membicarakan tentang Ningsih Hendrato tiba-tiba tersedak.
"Uhuk..uhuk...!" Hendrato menjadi was was dan khawatir.
__ADS_1