
Iqbal yang mendengar kan cerita Bondet mangut mangut tanda mengerti.
"Kamu benar, Ndet, Takdir yang membuat
kamu, bisa menemukan Kak Bima lagi,
sungguh Ndet, dunia serasa mau runtuh
ketika aku putus asa setelah satu hari
lebih, Kak Bima belum ketemu. Aku dan
Non Seila sudah sangat putus asa,
kami berfikir kak Bima pasti sudah mati,
tapi Allah benar benar maha kuasa atas
segalanya pasti Non Seila akan senang
ketika bangun mendapati kak Bima ada
disampingnya lagi,"
"Iya, Bal, aku juga senang, hati ku juga ikut
meronta ronta ketika aku tidak mendapat
titik terang di mana keberadaan kak Bima,
kini aku sudah bisa bernafas dengan lega."
"Bondet..!"aku juga senang bisa ketemu
dengan kamu lagi," Ucap Iqbal seraya
merentangkan kedua tangannya.
"Aku juga Bal, aku juga sangat senang
bisa ketemu kamu lagi,"Ucap Bondet
seraya menerima pelukan sahabat nya.
Mereka berpelukan bagaikan sepasang
kekasih yang lama tidak bertemu
Kedua nya larut dalam kerinduan yang
dalam, sungguh hanya kuasa Allah
yang bisa mempertemukan mereka
kembali.
Dalam keheningan malam ketika semua
telah tertidur dengan pulas dengan seulas
senyum kebahagiaan, di mana dua hari
terakhir mereka seakan hidup dalam
kesedihan, bagaikan hidup segan mati
tak mau membuat hidup serasa tak
berarah, kini cahaya terang telah bersinar
kembali kesedihan kini telah berganti
bahagia, ketegangan dan kegelisahan
kini terobati sudah, janji Allah yang
selalu pasti kepada hamba hamba-nya
yang mau berusaha, sabar dan berdoa
pastilah segala doa yang kita pinta akan
di kabulkan nya, apa yang tidak mungkin
akan menjadi mungkin di tangannya.
Inilah saat saat dimana sebuah penantian
panjang dari sebuah cinta tulus yang
penuh dengan segala pengorbanan
kini membuahkan hasil yang sangat
menggembirakan.
Perlahan lahan Seila mulai membuka
matanya, alangkah terkejutnya dia ketika
netranya melihat sosok tubuh yang sedang
tertelungkup tidur di samping ranjang nya.
sosok orang yang tidak asing baginya,
Seila mrngerjap ngerjapkan matanya seolah
olah ingin memastikan, apakah penglihatan
__ADS_1
nya sudah benar ataukah salah.
Bahkan kali ini Seila mengucek matanya
dengan punggung tangan, apa yang tadi
dia lihat dan yang sekarang terlihat tidak
berubah itu artinya penglihatan nya tidak
salah.
"Bima...!"Seru nya lirih.
Meskipun seruan itu terdengar sangat lirih
namun Bima bisa mendengar nya dengan
jelas. Bima mulai membuka matanya
seketika, senyuman nya menggembang
ketika mendapati Seila sudah bangun.
"Seila...!"kau sudah bangun sayang,"Ucap
Bima dengan mata berbinar hatinya
bernyayi senang gadis nya sudah bagun.
"Apa, aku tidak salah lihat ?"Benarkah ini
kamu Kak Bima."
Bima tersenyum seraya membelai lembut rambut Seila.
"Tentu saja, ini benar !"masak aku kamu
sangka hantu," Ucap Bima sambil terkekeh.
"Tapi..i!"kok tau aku ada disini, lalu kamu
tidak apa apa ? kamu tidak Amnesia atau
terluka begitu,"Tanya Seila beruntun.
"Idih, masak aku kamu harapkan Amnesia
bisa bisa kamu cari suami lagi, kalau aku
sampai Amnesia."Ucap Bima sambil
terkekeh.
"Ya, ngaklah, aku mana tega ninggalin orang
sambil tertawa, membuat Bima gemas
melihat nya.
"Coba saja, kalau berani selingkuh di
belakangku, entar tau sendiri hukuman
apa yang akan aku berikan kepada mu,"
Ucap Bima sambil ngedipin matanya.
"Ngak takut, wek..!"Ucap Seila ngeledek
dengan memainkan bibir dan lidahnya
membuat Bima semakin gemas.
Bima mendekatkan wajahnya ke Seila
membuat Seila menelan ludahnya dengan
kasar, sedikit kikuk dan rikuh mendapati
tatapan Bima yang seolah olah mau
menerkamnya membuat Seila beringsut
mundur dan duduk, Bima pun menggikuti
gerakan Seila jika Seila mundur Bima
maju Sehingga wajah mereka tetap
sangat dekat.
"Bima..!"jauh sedikit kenapa sih !"jangan
dekat dekat,"Ucap Seila komplin.
"Memangnya kenapa kalau aku dekat, masa
ngak boleh,"Goda Bima membuat Seila
semakin seperti kepiting rebus wajah
cantik nya sudah berubah merah merona
seperti buah apel.
"Bu..bukan begitu, tapi kan ngobrol nya
bisa jauhan dikit,"Ucap Seila terbata bata.
__ADS_1
"Mau, minta kiss disini,"Ucap Bima sambil
menunjuk bibirnya.
Mendengar ucapan Bima Seila semakin
gugup, rasanya sudah seperti ada api
yang meletup letup dalam kalbunya
bahkan rasanya pipi kanan dan kiri
terasa panas.
"Awas, saja, kalau berani macam macam,"
Ancam Seila sekenanya.
Bima tidak memperdulikan ancaman Seila
dia semakin mendekatkan bibirnya,
semakin lama semakin dekat, jarak
diantara kedua nya hanya tinggal beberapa
inci saja. Ketika bibir Bima hendak
mendarat tiba tiba tangan Seila mendorong
nya dengan sangat keras.
Sehingga tubuh Bima terdorong jatuh di
lantai, karena Seila termasuk wanita yang
memiliki ilmu bela diri yang cukup bagus
maka dorongan nya pun sangat bertenaga
sehingga menimbulkan bunyi seperti Guntur.
"Buugh..!"
Bima terjatuh ke lantai. Sementara Bondet
dan Iqbal yang tidur di luar pun di buat
kaget sehingga keduanya meloncat
masuk ke dalam kamar dengan tergesa
gesa khawatir terjadi apa apa dengan
Sahabat tersayang nya.
"Ndet..!"cepat, Non Seila jatuh,"Seru Iqbal.
"Iya,, ayo kita lihat..!"
Bergegas Bondet dan iqbal masuk ke dalam
kamar dan kedua nya terperanjat kaget
ketika mendapati Bima di lantai sedang
meringis menahan sakit, sementara Seila
tersenyum melihat nya.
"Astagfirullahaladhim," Seru Bondet dan Iqbal
bersamaan seperti paduan suara yang
sangat kompak, yang kemudian membuat
kedua nya tertawa terbahak bahak.
Melihat kehadiran Bondet dan iqbal yang
justru juga menertawakan nya membuat
Bima bangkit dan menarik krah Bondet
karna yang tertangkap Bondet bukan iqbal.
"Ampun..!" kak, Ampun..!"
"Ayo, tertawa lagi, ku pastikan putus jatah
gajian kamu,"Ancam Bima.
"Ampun, kak..! jangan nanti aku tidak bisa
traktir cewek, aku tidak dapat jodho
kasianilah hidupku ini,"Ucap Bondet
menelas membuat Bima simpati juga
akhirnya di lepaskan nya juga cengkraman
nya dari krah Bondet, Bima pun ikut tertawa.
"Ya Allah, ijinkanlah kami tetap bahagia
seperti ini selamanya, Amin, Gumam Bima
dalam hati.
__ADS_1