Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.64.KOMPAK SEPERTI PADUAN SUARA.


__ADS_3

Iqbal yang mendengar kan cerita Bondet mangut mangut tanda mengerti.


"Kamu benar, Ndet, Takdir yang membuat


kamu, bisa menemukan Kak Bima lagi,


sungguh Ndet, dunia serasa mau runtuh


ketika aku putus asa setelah satu hari


lebih, Kak Bima belum ketemu. Aku dan


Non Seila sudah sangat putus asa,


kami berfikir kak Bima pasti sudah mati,


tapi Allah benar benar maha kuasa atas


segalanya pasti Non Seila akan senang


ketika bangun mendapati kak Bima ada


disampingnya lagi,"


"Iya, Bal, aku juga senang, hati ku juga ikut


meronta ronta ketika aku tidak mendapat


titik terang di mana keberadaan kak Bima,


kini aku sudah bisa bernafas dengan lega."


"Bondet..!"aku juga senang bisa ketemu


dengan kamu lagi," Ucap Iqbal seraya


merentangkan kedua tangannya.


"Aku juga Bal, aku juga sangat senang


bisa ketemu kamu lagi,"Ucap Bondet


seraya menerima pelukan sahabat nya.


Mereka berpelukan bagaikan sepasang


kekasih yang lama tidak bertemu


Kedua nya larut dalam kerinduan yang


dalam, sungguh hanya kuasa Allah


yang bisa mempertemukan mereka


kembali.


Dalam keheningan malam ketika semua


telah tertidur dengan pulas dengan seulas


senyum kebahagiaan, di mana dua hari


terakhir mereka seakan hidup dalam


kesedihan, bagaikan hidup segan mati


tak mau membuat hidup serasa tak


berarah, kini cahaya terang telah bersinar


kembali kesedihan kini telah berganti


bahagia, ketegangan dan kegelisahan


kini terobati sudah, janji Allah yang


selalu pasti kepada hamba hamba-nya


yang mau berusaha, sabar dan berdoa


pastilah segala doa yang kita pinta akan


di kabulkan nya, apa yang tidak mungkin


akan menjadi mungkin di tangannya.


Inilah saat saat dimana sebuah penantian


panjang dari sebuah cinta tulus yang


penuh dengan segala pengorbanan


kini membuahkan hasil yang sangat


menggembirakan.


Perlahan lahan Seila mulai membuka


matanya, alangkah terkejutnya dia ketika


netranya melihat sosok tubuh yang sedang


tertelungkup tidur di samping ranjang nya.


sosok orang yang tidak asing baginya,


Seila mrngerjap ngerjapkan matanya seolah


olah ingin memastikan, apakah penglihatan

__ADS_1


nya sudah benar ataukah salah.


Bahkan kali ini Seila mengucek matanya


dengan punggung tangan, apa yang tadi


dia lihat dan yang sekarang terlihat tidak


berubah itu artinya penglihatan nya tidak


salah.


"Bima...!"Seru nya lirih.


Meskipun seruan itu terdengar sangat lirih


namun Bima bisa mendengar nya dengan


jelas. Bima mulai membuka matanya


seketika, senyuman nya menggembang


ketika mendapati Seila sudah bangun.


"Seila...!"kau sudah bangun sayang,"Ucap


Bima dengan mata berbinar hatinya


bernyayi senang gadis nya sudah bagun.


"Apa, aku tidak salah lihat ?"Benarkah ini


kamu Kak Bima."


Bima tersenyum seraya membelai lembut rambut Seila.


"Tentu saja, ini benar !"masak aku kamu


sangka hantu," Ucap Bima sambil terkekeh.


"Tapi..i!"kok tau aku ada disini, lalu kamu


tidak apa apa ? kamu tidak Amnesia atau


terluka begitu,"Tanya Seila beruntun.


"Idih, masak aku kamu harapkan Amnesia


bisa bisa kamu cari suami lagi, kalau aku


sampai Amnesia."Ucap Bima sambil


terkekeh.


"Ya, ngaklah, aku mana tega ninggalin orang


sambil tertawa, membuat Bima gemas


melihat nya.


"Coba saja, kalau berani selingkuh di


belakangku, entar tau sendiri hukuman


apa yang akan aku berikan kepada mu,"


Ucap Bima sambil ngedipin matanya.


"Ngak takut, wek..!"Ucap Seila ngeledek


dengan memainkan bibir dan lidahnya


membuat Bima semakin gemas.


Bima mendekatkan wajahnya ke Seila


membuat Seila menelan ludahnya dengan


kasar, sedikit kikuk dan rikuh mendapati


tatapan Bima yang seolah olah mau


menerkamnya membuat Seila beringsut


mundur dan duduk, Bima pun menggikuti


gerakan Seila jika Seila mundur Bima


maju Sehingga wajah mereka tetap


sangat dekat.


"Bima..!"jauh sedikit kenapa sih !"jangan


dekat dekat,"Ucap Seila komplin.


"Memangnya kenapa kalau aku dekat, masa


ngak boleh,"Goda Bima membuat Seila


semakin seperti kepiting rebus wajah


cantik nya sudah berubah merah merona


seperti buah apel.


"Bu..bukan begitu, tapi kan ngobrol nya


bisa jauhan dikit,"Ucap Seila terbata bata.

__ADS_1


"Mau, minta kiss disini,"Ucap Bima sambil


menunjuk bibirnya.


Mendengar ucapan Bima Seila semakin


gugup, rasanya sudah seperti ada api


yang meletup letup dalam kalbunya


bahkan rasanya pipi kanan dan kiri


terasa panas.


"Awas, saja, kalau berani macam macam,"


Ancam Seila sekenanya.


Bima tidak memperdulikan ancaman Seila


dia semakin mendekatkan bibirnya,


semakin lama semakin dekat, jarak


diantara kedua nya hanya tinggal beberapa


inci saja. Ketika bibir Bima hendak


mendarat tiba tiba tangan Seila mendorong


nya dengan sangat keras.


Sehingga tubuh Bima terdorong jatuh di


lantai, karena Seila termasuk wanita yang


memiliki ilmu bela diri yang cukup bagus


maka dorongan nya pun sangat bertenaga


sehingga menimbulkan bunyi seperti Guntur.


"Buugh..!"


Bima terjatuh ke lantai. Sementara Bondet


dan Iqbal yang tidur di luar pun di buat


kaget sehingga keduanya meloncat


masuk ke dalam kamar dengan tergesa


gesa khawatir terjadi apa apa dengan


Sahabat tersayang nya.


"Ndet..!"cepat, Non Seila jatuh,"Seru Iqbal.


"Iya,, ayo kita lihat..!"


Bergegas Bondet dan iqbal masuk ke dalam


kamar dan kedua nya terperanjat kaget


ketika mendapati Bima di lantai sedang


meringis menahan sakit, sementara Seila


tersenyum melihat nya.


"Astagfirullahaladhim," Seru Bondet dan Iqbal


bersamaan seperti paduan suara yang


sangat kompak, yang kemudian membuat


kedua nya tertawa terbahak bahak.


Melihat kehadiran Bondet dan iqbal yang


justru juga menertawakan nya membuat


Bima bangkit dan menarik krah Bondet


karna yang tertangkap Bondet bukan iqbal.


"Ampun..!" kak, Ampun..!"


"Ayo, tertawa lagi, ku pastikan putus jatah


gajian kamu,"Ancam Bima.


"Ampun, kak..! jangan nanti aku tidak bisa


traktir cewek, aku tidak dapat jodho


kasianilah hidupku ini,"Ucap Bondet


menelas membuat Bima simpati juga


akhirnya di lepaskan nya juga cengkraman


nya dari krah Bondet, Bima pun ikut tertawa.


"Ya Allah, ijinkanlah kami tetap bahagia


seperti ini selamanya, Amin, Gumam Bima


dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2