Kabut Cinta

Kabut Cinta
Bab.161.BERDEBAT.


__ADS_3

Wina muncul dari balik pintu dengan senyum tersungging di bibir.


"Ayo, Seila..di minum jus nya."


"Trimakasih, win! kamu masih ingat saja kesukaan minuman ku."


"Tentu saja, masak bisa cepat lupa, oh ya Seila aku ingin bertanya sesuatu tapi kamu jangan tersinggung ya?"


"Bertanya lah, aku janji tidak akan tersinggung."


"Tadi , Rocky bilang kamu mau bunuh diri, apa bener itu, kamu mau bunuh diri?'


"Ha...ha..ha...Wina....Wina, kamu pikir aku akan berbuat sepicik itu apa ?" tentu saja tidak."


"Tapi, Rocky melihat mu berdiri mematung di pinggir sungai."


"Apa orang yang berdiri di pinggir sungai semua mau bunuh diri, tidak kan."


"Ya, tidak sih!" tapi kenapa kau diam saja saat Rocky menggikatmu."


"Lagi malas dan ingin beristirahat jadi ada mobil yang bawa lumayan buat beristirahat.""


"Ya ampun Seila, bikin orang khawatir saja, gimana kamu sudah ketemu kak Bima belum?"


"Belum,?"


"kenapa kamu ngak menemuinya?"


"Dia tidak akan menggenaliku lagi pula pasti dia sibuk dengan istri nya, aku dengar dari kak Bondet istri kak Bima ada di rumah, katanya."


"Apa kamu akan biarkan istri palsu nya menemani suamimu."


"Biarkan saja."


"Seila..!" apa kamu ngak kangen suamimu."


"Entahlah, aku belum tau, sudah jangan ngomongin mereka saja, ayo, antar aku melihat lihat baju koleksi terbaru mu, sapa tau aku suka kan bisa hutang ha ..ha ..ha."


"Ya, kok di hutang sih, kan jadinya aku ngak bisa ambil barang baru lagi." ucap Wina sambil terkekeh rasanya senang melihat Seila ada di dekatnya nya serasa ramai.


Wina mengantar Seila melihat lihat baju terbaru yang ada di lantai atas.


"Wah...bagus bagus...ini cantik!" seru Seila sambil menenteng baju bermotif bunga dengan bagian depan berdada rendah jika di pakai pasti memperlihatkan lekuk tubuh dengan jelas. Seila langsung membawanya ke dekat ceemin yang ada di sekitar tempat itu.


"Bagus, meskipun wajahku berubah seperti ini ku rasa manis juga." Desis Seila sambil senyum senyum.


Wina yang melihat sahabatnya menenteng baju bermotif bunga dan sedikit terbuka langsung merampas dari tangan Seila.


"Bisa mampus, aku, kalau ketahuan Bima Seila mau memakai baju begitu, aku harus cepat menyembunyikan nya.Gumam Wina dalam hati.


"Seila.! mana bajunya ini jelek tidak cocok buat kamu,"ucap Wina sambil mengambil baju yang di pegang Seila.

__ADS_1


"Eiiih, ini bagus aku mau ini!"


"Tidak bisa, baju ini sudah di pesan orang jadi kamu pilih yang lain ya?" rayu Wina.


"Ogah, aku mau itu, berikan!"


"Tidak!"


"Kenapa, sih?"


"wajah mu sekarang jelek ngak pantas pakai baju model begitu."ledek Wina agar Seila sedih dan memberikan baju itu kepada nya.


"Oh, ya! ini wajah manis juga, kamu saja yang ngak bisa nilai kecantikan orang, sama tuh sama kak Bondet yang menjengkelkan itu, sini." Seila langsung menyambar baju yang di pegang Wina dan dengan sigap berlari masuk ke dalam kamar ganti.


"Gawat, bagaimana ini mana Bima juga sudah hampir sampai katanya, bisa jadi perang dunia ke dua ini nanti mereka, Araaaaaagggghhhh ...pusing, aduh Bima sudah telpon dan dia ada di lantai bawah, aku harus segera turun dan bilang Seila di kamar mandi jangan sampai mereka bertemu saat ini bisa kacau nanti."


Bergegas Wina turun ke lantai bawah dan terlihat lah pemuda tampan dengan senyum khasnya bersama dengan seorang laki-laki yang tidak terlalu tinggi yang dulunya gendut sekarang sudah tidak.


"Wina, Seila di mana?"


"Iya, Win di mana Non Seila aku sudah kangen banget."


"Seenaknya saja bilang kangen sama istri orang aku getok kepala mu baru tau rasa loe."ucap Bima sambil tersenyum.


"Seila lagi ada di kamar mandi, kamu tinggal saja deh, Nanti aku yang akan antar Seila pulang."


Bima mengeryitkan dahinya mendengar perkataan Wina.


"Kamu, ngak sakit kan Win!" bersusah payah kami datang setelah sampai kok disuruh pergi, aku tunggu di sini saja."


"Wina, benar kak Bima kita pulang saja aku khawatir Non Seila akan semakin lari dan tidak menemui kita."


"Benarkah?" jika Seila ingatan nya sudah kembali, tidak ada kamus cerita nya dia itu cengeng lembek dan serba takut, yang ada pasti keras kepala nya dan ke egoisan nya itu yang muncul ngak bakalan juga dia nangisi apalagi ngeluh wajahnya berubah bahkan yang aku takutkan dia cuekin aku, berbuat sesukanya lagi."


"Engak itu ngak benar Kak Bima, Seila yang sekarang itu memang sangat lembut dan perasa."


"Kak Bima, Wina kan sudah ketemu sama Seila sedangkan Kak Bima belum harus nya kak Bima percaya ucapannya Wina."


"Betul tuh, kata Bondet."sela Wina memastikan.


"Baiklah, aku akan pulang, tapi tunggu duapuluh menit dulu aku mau istirahat sebentar capek,"


"Ha...!" masih mau menunggu."


"Sebentar saja Win, masak pelit cuma numpang istirahat sebentar doang."


"Baiklah, jangan lama-lama."


"Khawatir amat, sebentar doang."


Bima langsung mendudukkan bokong nya di kursi sofa dan memejamkan mata.

__ADS_1


Seila yang sudah selesai menganti baju dengan baju pilihan nya keluar karena tidak melihat Wina ada di lantai atas Seila mencari Wina di lantai bawah.


"Baju bagus begini di bilang jelek ngak cocok dengan ku, apa aku tanya orang itu saja ah.. tidak.. tidak itu tidak pantas tidak butuh lah penilaian orang kalau menurut ku sudah bagus ya bagus, nah itu Wina.


"Win...!" lihat bajunya bagus kok."


Suara seorang gadis yang sangat Familiar di telinga Bima membuat Bima langsung membuka mata, begitu juga dengan Wina yang namanya sedang di panggil sontak saja mendelik jantung nya serasa mau copot.


"Aduh, kenapa ke sini!"


"Win, nih lihat bagus kan?"


Seila memutar baju nya di depan Wina yang mana di situ juga ada Bima dan Bondet, Melihat baju yang di kenakan Seila Bima dengan cepat bangkit dan mendorong tubuh Bondet.


"Pergi, ke luar...!"jangan ada di sini."


"Lho kenapa kak?"


"Apa kau mau lihat tubuh istriku, pergi sana dan kau ngapain pakai baju kurang bahan begini apa tidak ada yang lain dan kau Win sudah tau aku tidak suka istriku memakai baju yang kurang bahan kenapa pula kau biarkan hah"


"iiissh baju bagus begini di bilang baju kurang bahan."


"Pokoknya, ganti ?"


"Ngak, mau,!" ini bagus kok."ucap Seila sambil mengkrucutkan bibirnya.


Bima tak lagi banyak bicara dengan cepat di genggam dan di tariknya tangan Seila masuk ke dalam ruangan, entah ruangan apa yang penting tertutup sambil tangan satunya menyambar satu baju yang mengantung di ruangan itu.


"Lepaskan..!" kau mau apa?"


"Tukar dan ganti baju kamu itu dengan baju ini."


Bima melempar kan satu potong baju setelan mendorong Seila masuk ke dalam kamar dan menutupnya dari luar dan di luar Bima masih marahi Wina.


"Kok, kamu diam saja Seila pakai baju bgitu."


"Sudah, ku larang tapi ngak mau."


"Kan aku sudah bilang berkali kali kalau istri ku ke sini baju baju yang tanpa bahan kamu buang semua, maksudku sembunyikan semua."


"Aduh, Kak Bima, baju cuma kurang bahan dikit saja ribut."


"Ya, kan aku tidak mau milikku di nikmati orang juga,"


"Tuh, Seila udah keluar."


"Nah, gitu kan. cantik."Seru Bima memuji.


"Cantik mana dengan istri yang ada di rumahmu itu."


"Tentu saja cantik kamu lah,"

__ADS_1


"Oh, ya! jadi wajahku yang dulu itu jelek begitu."seru Seila sambil menjewer telinga Bima membuat Bima meringis menahan sakit tak jauh dari tempat mereka bersenda gurau tampak seorang berkacamata hitam di samping beberapa baju yang terpajang menatap dengan tatapan mata yang sendu.


"Mereka terlihat sangat bahagia, lalu aku apa yang harus aku lakukan."desisnya dalam hati yang kemudian melangkah pergi meninggalkan butik milik Wina.


__ADS_2